Pesona The Twins

Pesona The Twins
134 Kebenaran Untuk Arumi


__ADS_3

Sepasang suami istri yang sudah berjalan menyusuri hutan tersebut hampir sampai di villa Pak Subroto. Ammar tampak berkeringat. Arumi mengelap keringat sang suami dengan jari jemarinya.


"Ga mau istirahat dulu?" Tanya Arumi. Ammar menggeleng.


"Tanggung. Kamu bilang berapa puluh meter lagi sampai." Ucap Ammar.


Arumi masih berada di gendongan suaminya.


"Aku turun saja. Kamu lelah mas." Ucap Arumi.


"Tidak. Kamu lagi hamil Ar. Nanti kalau jatuh , kalau kenapa-napa dengan janin mu. Aku akan menyesal." Ucap Ammar.


Saat hampir tiba di dekat Villa, istri Ammar itu kembali menunjukkan aslinya.


"Mas.... aku mau buah itu." Ucap Arumi sambil berteriak histeris.


Ammar melihat arah telunjuk istrinya. Ia melihat ada banyak buah yang berwarna merah,


"Kamu baru makan madu Arumi..." Ucap Ammar sambil menoleh ke arah istrinya.


Arumi tersenyum menatap sang suami yang tengah menatapnya tak percaya. Bukan Arumi jika tak punya jawaban untuk membuat suaminya mengabulkan keinginannya.


"Ini aku lagi hamil lo mas, katanya ibu hamil harus bahagia. Masa' cuma minta ambilin rambutan aja ga mau. Atau aku naik sendiri seperti tadi? tadi dibilang seperti tadi... habitat... " Ucap Arumi yang memanyunkan bibirnya. Ammar menghela napasnya pelan. Ia sudah tak bisa menolak jika alasan ibu hamil, janin dan ngidam.


Ia pun melepas sepatunya dan menggulung baju kaos panjangnya. Arumi tersenyum sumringah. Kali ini Arumi kembali mengerti kenapa ia berjodoh dengan Ammar. Dari tubuh sang suami, cara Ammar menaiki pohon rambutan itu, ia bisa memastikan bahwa suaminya memiliki hobi yang sama. Dulu ia ingat jika Gede untun naik pohon jambu di Villa miliknya saja, sangat kesulitan. Bahkan semut di pohon jambu bisa membuat dokter itu bergidik. Sedangkan Ammar, ia terlihat santai saja saat rambutan itu terdapat banyak semut hitamnya.


"Ternyata Allah tahu yang cocok dan yang terbaik untuk hambanya." Ucap Arumi sambil menanti Ammar turun dari pohon tersebut.


Saat tiba di bawah, Ammar menyerahkan buah-buahan itu kepada Arumi. Ammar membuka satu kulit rambutan dan ia singkirkan semut-semut yang menempel pada buah tersebut. Arumi memperhatikan Ammar dengan tatapan penuh cinta.


"Sekarang coba kenapa semut dilarang di konsumsi dan di bunuuh?" Tanya Ammar sambil mengarahkan buah rambutan yang telah ia kupas ke mulut istrinya.

__ADS_1


Arumi membuka mulutnya. Ia memakan buah tersebut sambil mengucapkan basmalah. Setelah itu ia buang bijinya.


"Ayo tunjukan pesonamu?" Ucap Ammar sambil membuka satu buah lagi.


Arumi pun menjawab pertanyaan suaminya.


“Ada satu hadist dimana Rasulullah melarang membunuh burung shurad, kodok, semut dan burung hud-hud.”


Ucap Arumi.


“Lalu kalau semut itu menyakiti kita atau merusak makanan?” Tanya Ammar sambil menaik turunkan alisnya.


Arumi yang gemas mencubit kedua pipi suaminya.


“I… gemes,” Ucap Arumi.


Ammar Kembali meyuapi istrinya buah rambutan. Kali ini tanpa bijinya. Ia sudah membuang bijinya terlebih


dahulu.


membunuh semut, juga tidak memakan semut itu Ketika kita melihatnya di makanan yang akan kita makan. Sama seperti gula. Mama aku pernah lihat berkali-kali mengoreksi cara asisten rumah tangga menutup toples gula di dapur, hanya karena kemasukan semut.” Jelas Arumi.


Kini giliran Ammar yang mencubit kedua pipi istrinya.


“Masyaallah… Mas tambah cinta dan sayang sama kamu Ar… tambah hari tambah mempesona saja….” Ucap Ammar.


“Sakit mas….” Rintih Arumi yang bibirnya terlihat meringis karena tarikan dari tangan Ammar.


Sepasang suami istri itu pun menikmati manisnya buah rambutan. Ammar pun Kembali menggendong tubuh istrinya. Tak butuh waktu lama, mereka hanya  tiba di Villa tempat pukul dua belas siang. Bahkan Melisa telah menyiapkan Steak bakar untuk Arumi. Namun saat Arumi tiba di ruangan depan, kedua netranya seakan tak percaya, Ia melihat foto pernikahan Ibunya dengan Pak Subroto. Hampir disetiap sudut ruangan tersebut terdapat foto kemesraaan Ibunya dan Pak Subroto. Dan satu foto yang menarik perhatian Arumi adalah Foto yang berada di atas foto pernikahan kedua orang tuanya, yaitu foto Ibunya dan ayahnya yang mengapit Melisa.  Melisa menyambut Arumi dengan menyapanya.


“Bagaimana Ar, menyenangkan Kembali ke dunia mu yang dulu?” Tanya Melisa.

__ADS_1


Arumi menoleh kea rah Melisa, Ibu sambung yang merupakan sahabat dari ibunya itu tampak berkeringat.


“Cukup menarik, tapi apakah tante takt ahu jika aku sedang hamil.” Ucap Arumi santai, ia duduk di sofa dengan menjulurkan kedua kakinya yang kram.


“Kamu Arumi Mayang Dahayu, yang jarang mengeluh, yang menyukai tantangan bukan lari dari kenyataan.’ Ucap Melisa.


“Ma… Aku tidak akan mengizinkan lagi jika itu membahayakan istri dan calon akan ku.” Ucap Ammar.


Arumi melirik Ammar. Ia bingung bagaiamana bibir suaminya itu dengan lancer memanggil Melisa yang dia sendiri susah untuk memulainya.


“Istri mu mantan intelegen ahli lapangan Am… selagi kamu bersamanya, maka jangan khawatir untuk hidup di hutan atau sekedar terjun dari helicopter.” Ucap Pak Subroto yang masuk membawa satu piring daging Kambing dan Sapi yang ia panggang.


 “Hem, Ayo Ar kita makan, papa mu special memanggangnya sendiri.” Ucap Melisa.


Ammar menatap Arumi, Istri Ammar itu mau tidak mau mengikuti kemauan sauminya. Walau sebenarnya ia tak merasakan lagi lapar. Saat dimeja makan Arumi hanya makan daging steak saja. Entah kenapa Ketika memasuki Villa itu, melihat foto kebahagiaan ibunya masih tersimpan dengan baik, ia tak mampu untuk mengecewakan Papanya. Pak Subroto tampak senang Ketika Arumi memakan satu iris steak yang ia panggang.


 Saat tiba di kamar pun, Arumi begitu terharu, dikamar itu masihterdapat banyak foto ibunya. Tampak ibunya masih gadis di foto itu, ada sebuah foto dimana ibunya menggunakan baju putih abu-abu. Lalu Arumi mendekati foto


itu, ada satu tulisan di secarik kertas.


“Mungkin dia sudah tiada, tapi dia tetap ada di hati ku Arumi, cinta ku dari pertama untuk Ibu mu, sampai saat ini cinta itu masih ada. Bukalah satu otak di lemari tepat di sebelah foto ini.” Tulisan tangan Pak Subroto. Arumi cepat membuka kotak yang dimaksud.


Ia melihat banyak surat dari Pak Subroto untuk Ibunya, begitupun banyak surat dari Ibunya untuk Pak Subroto. Dan satu surat dimana tulisan tangan ibunya, dimana isi surat itu menyatakan jika Ibunya meminta Melisa menikah dengan Pak Subroto demi melindungi Mayang, ia khawatir jika perempuan lain yang menikah dengan mantan suaminya, Mayang akan mendapatkan kasih sayang hanya dari Pak Subroto. Ibu Pak Subroto yang menyukai Melisa pun akhirnya memfasilitasi pernikahan mereka. Arumi terdiam menatap surat itu. Ia bisa memastikan jika tulisan itu ditulis langsung oleh ibunya.


“Kamu beruntung Mayang, karena Ibu betul-betul memikirkan kamu, tapi aku lebih beruntung, aku bisa merasakan kasih sayang dari prang-orang yang mencintai kita.” Ucap Arumi sambil menitikkan airmatanya.


 Ammar yang baru keluar dari kamar mandi bingung melihat istrinya menangis.


 “Ada apa Ar.” Ucap Ammar.


“Manusia hanya bisa berburuk sangka… Aku selama ini terlalu egois… Hhhh…” Ucap Arumi sambil menangis.

__ADS_1


Ammar yang melihat tumpukan surat lawas, ia pun paham apa yang dimaksud istrinya.


“Belum terlambat Ar… Kamu masih punya Papa, Mama Melisa walau tak merawat mu, tak melahirkan mu, tapi beliau menemani papa mu selama ini, membesarkan kakak mu, ok.. Bukalah lembaran baru, setidaknya, Ibu akan senang karena kamu mampu berbakti pada Papa mu disaat beliau sudah tidak ada. Itu bisa membanggakannya bahwa didikannya berhasil. Kamu yang menjadi istri sholehah juga anak sholehah untuk Papa mu.” Ucap Ammar sambil memeluk istrinya.


__ADS_2