Pesona The Twins

Pesona The Twins
139 Kesedihan Ammar


__ADS_3

Pesawat yang membawa Pak Subroto sekeluarga telah tiba di Australia. Mereka telah ditunggu oleh sebuah ambulan dan satu mobil yang dari tadi menunggu Pak Subroto. Saat mereka tiba, Ammar menolak naik mobil hitam yang akan membawa mereka ke rumah sakit.


“Aku ingin ikut bersama Arumi Pa,” Ucap Ammar sambil menatap tubuh istrinya yang sedang di pindahkan ke dalam ambulan.


“Ya sudah, kita akan bertemu di ambulan. Pakaian mu akan dibawa ke apartemen milik Arumi. Dia punya apartemen disini dulu. Papa sudah meminta anak buah papa mengeceknya tadi.” Ucap Pak Subroto.


Ammar mengangguk, tubuhnya sedikit lemah, hidungnya sebenarnya mulai mengeluarkan cairan. Sinusnya Kembali kumat disaat yang harusnya ia kuat dan sehat. Tetapi cinta yang begitu besar untuk sang istri membuat sulung Ayra itu tak menghiraukan rasa sakit pada dahinya dan rasa sakit pada hidungnya.


Selama di dalam ambulan, Ammar memegang tangan Arumi. Ie menempelkan tangan itu pada pipinya. Air mata Ammar menetes di punggung tangan istrinya. Ia begitu mencintai Arumi. Baginya sang istri sedang bermetamorfosis untuk menjadi perempuan yang memiliki high Value sebagai seorang perempuan. Ia bisa melihat semangat sang istri yang begitu besar. Bahkan di ponsel sang istri terdapat banyak quotes dari Ning-ning yang memberikan motivasinya, juga Bu Nyai yang bisa ia ambil semangat dan nasihatnya bagaimana seorang istri, seorang anak bersikap.


Bahkan kajian-kajian seputar perempuan dan fiqih yang salah satu Ning yang begitu hampir tak pernah Arumi lewatkan akhir-akhir ini adalah Ning Imaz, salah seorang putri dari pasangan KH. Abdul Khaliq Ridwan dan Bu Nyai HJ. Eeng Sukaenah, yang merupakan pengasuh pondok pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Bahkan salah satu Background di halaman ponsel Arumi, ia menjadikan salah satu quotes Ning Imaz menjadi backgroundnya. Ammar menatap ponsel istrinya yang tampak berdering dari tadi. Kedua netra Ammar menatap Qoutes yang disana.


...“***Jadilah Wanita dengan high value. Memiliki nilai yang tidak digantungkan padda fisik, tetapi pada prinsip yang diapegang yaitu ilmu, akhlak dan hati yang baik. Fokuskan pada pengembangan diri. Nanti akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan frekuensi yang kita radiasi kan.”...


...(Ning Imaz-PP.Al Ihsan Lirboyo Kediri***)...


Dan sudut bibir Ammar tertarik kala ia melihat satu teks yang ditambahkan oleh istrinya.


“Alhamdulilah saya menemukan pasangan yang satu frekuensi dan tidak hanya menafkahi lahir saja. Tapi batin saya selalu di cukupi oleh suami saya,”


Ammar Kembali dibuat menitikkan air mata semua memori indahnya akhir-akhir ini Kembali muncul di ingatannya. Ia tahu apa yang dimaksud sang istri. Nafkah batin bagi Sebagian orang mungkin sudah mengarah ke urusan ranjang. Termasuk Ammar kala itu menggoda sang istri. Ammar memejamkan mata mengingat masa-masa indah saat hubunganya begitu hangat dengan istrinya.


Flashback On


Saat itu Ammar pulang bekerja. Arumi yang sedang hamil muda, tubuhnya sering merasa Lelah di sore hari atau siang hari. Karena pagi hari akan menjadi waktu dimana ia harus berjuang untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Maka siang hari menjadi waktu yang sangat nyaman bagi Arumi untuk tidur siang. Dan saat itu Ammar pulang lebih awal yang membawakan pecel yang diminta Arumi.


Saat tiba di kamar, ia melihat istrinya tidur dengan baju yang cukup seksi. Ammar yang tadi bertanya dimana Arumi, Mamanya megatakan jika Arumi tak keluar kamar dari jam dua belas. Ammar melirik jam di dinding kamarnya.


Pukul sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia melihat tak ada mukenah atau sajadah di kamar mereka. Biasanya Arumi akan menggantungkan sajadahnya di atas kursi atau hanger yang menjadi kebiasaan istrinya saat ia merasa lemah untuk turun ikut berjamaah.

__ADS_1


Ammar mengganggu istrinya.


“Ar, bangun Ar…” Ucap Ammar.


Arumi tampak melenguh karena hidungnya di pencet oleh Ammar.


“Apa sih mas….” Ucapnya dengan suara khas bangun tidur. Namun kedua matanya masih terpejam.


Ammar Kembali memencet hidung sang istri dan Kembali ia membisikan sesuatu yang spontan membuat kedua netra Arumi terbuka sempurna.


“Ayo taka jak nafkah batin…” Ucap Ammar.


Arumi membelalakan matanya. Wajahnya ia buat se memelas mungkin sambil menyipitkan kedua matanya.


Ammar mengusap hidung mancung istrinya dengan hidungnya. Sehingga terlihat kepala Ammar geleng-geleng. Suami Arumi itu tertawa terkekeh. Ia lalu memegang kedua pipi Arumi.


“Pikirannya… udah ke ranjang aja… Memangnya nafkah batin suami itu Cuma urusan ranjang?” Ucap Ammar.


“Kalau nikah Cuma urusan nafkah batin yang di ranjang, kucing aja bisa sayang mau berapa kali… Kamu piker suami mu ini Cuma mikirin itu saja. Itulah kadang orang itu baru di bilang nafkah batin, yang di bayangkan sudah urusan ranjang.” Ucap Ammar sambil mengikuti istrinya yang tampak duduk di hadapan cermin. Arumi menyisir rambutnya.


Tiba-tiba Ammar mengambil sisir itu.


“Ada apa lagi….” Ucap Arumi yang kaget suaminya tiba-tiba mengambil sisir dari tangannya.


“Sisirnya udah rusak, ga boleh pakai sisir yang sudah rusak karena akan menyebabkan kefakiran.” Ucap Ammar. Ia pun mengambil satu sisir di dalam laci yang di meja lain.


{Kitab Ta’limul Muta’alim Karya Al Zarnuji. Bab Terdapat 34 penyebab kemiskinan}


Saat Amma menyerahkan sisir tersebut pada Arumi, istrinya justru merengek manja. Hal yang Ammar senangi dari sang istri semenjak istrinya hamil.

__ADS_1


“Sisirin…” Ucap Arumi manja.


“Manja…” Ucap Ammar sambil menoleh pipi istrinya.


Saat Ammar menyisir rambut istrinya. Arumi bertanya.


“Memang nafkah batin yang mas katakan tadi apa?” Tanya Arumi.


“Nanti ya… sekarang cepat wudhu. Belum shalat Dzuhur kan?” Tanya Arumi.


“Astaghfirullah.. Aku ketiduran tadi mas… “ Istrinya itu terburu-buru mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Ammar menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya.


Jika dulu ia akan menjawab dengan ketus saat diingatkan akan shalat, ia akan marah dan mengomel. Sekarang, istrinya akan begitu khawatir jika telat shalat. Seperti saat ini, ia tertidur dan belum melaksanakan shalat Dzuhur yang sudah hampir habis waktunya. Setelah selesai shalat dzuhur. Ammar mengatakan jika pesanan istrinya tadi ada. Arumi pun ingin memakan pecel lontong sayur tersebut di gazebo belakang rumah.


Saat ia menghabiskan satu piring lontong sayur tersebut. Ia pun bertanya.


"Memangnya nafkah batin apa yang mas maksud tadi?" Tanya Arumi manja.


"Hehe... " Ammar menutup ponselnya. Ia duduk di sisi istrinya. Ia menggenggam tangan istrinya.


"Nafkah batin itu bukan hanya tentang urusan ranjang Arumi sayang. Kalau kita mengartikan nafkah batin cuma sebatas urusan ranjang. Kucing aja bisa, mau disamakan dengan hewan? artinya nafkah batin itu, kita menghidupkan batin keluarga kita dengan ilmu agama, nilai agama. Mengisi hati istri kita, anak kita dengan ilmu agama. Karena nafkah itu sebagian besarnya ada pada ilmu agama. Tanggung jawab sebagai lelaki tidak hal keduniaan saja. Besok apakah kita bisa berkumpul seperti ini? Apa aku bisa bahagia jika nanti disana, kita tidak bersama di surga. Sedangkan melihat kamu sakit sepetti kemarin saja aku sudah khawatir. Apalagi jika kita terpisah saat di akhirat nanti." Ucap Ammar sambil mengecup punggung tangan Arumi.


"Jadi shalat termasuk nafkah batin?" Tanya Arumi.


"Ya mengajak istri mas ini shalat, menghadiri majelis-majelis ilmu. Itu juga nafkah batin... " Ucap Ammar.


Arumi tersipu malu. Karena tadi ia sudah tak habis pikir bagaimana suaminya meminta haknya yang ia pikir nafkah batin disaat siang hari dan ia sedang sangat lelah. Karena Ammar suami yang begitu pengertian. Ia lelaki yang penyayang.


Flashback Off.

__ADS_1


"Semoga dengan musibah yang menimpa kamu, Allah mengangkat dosa-dosa mu di masalalu Ar... Mas menyayangi kamu Ar...." Ucap Ammar seraya mengecup punggung tangan istrinya.


Ia sadar bahwa sebuah musibah atau kondisi sakit bagi seorang adalah satu dimana dosa-dosa berguguran disaat yang mendapatkan penyakit itu mampu bersabar dan tawakal.


__ADS_2