Pesona The Twins

Pesona The Twins
26 Kembali Bertemu


__ADS_3

Qiya sedang menunggu dokter Gede untuk memeriksa bahwa ia betul-betul sehat dan dinyatakan boleh pulang. Saat dokter muda itu datang, Ayra pun mencoba mencari kebenaran tentang feeling Bram pada dokter muda itu.


Pagi itu sang dokter tampak kurang sehat, namun ia tetap memaksakan untuk tetap bekerja. Ayra melihat jika dokter itu memang berusaha untuk tak memandang wajah putrinya.


Qiya pun dinyatakan boleh pulang.


"Baiklah sudah boleh pulang. Tapi tetap harus istirahat ya dok. Dan nanti tiga hari lagi kita kontrol ya." Ucap dokter Gede.


"Terimakasih dok. Apakah perlu surat izin untuk beberapa hari kedepan?" Ucap Qiya pelan.


"Tidak perlu. Semoga lekas sembuh ya. Saya permisi dulu." Ucap dokter Gede.


Dokter yang merupakan kelahiran kota Denpasar itu pun meninggalkan ruangan Qiya. Ayra pun menelpon Alan dan mengatakan jika ia sudah akan keluar. Bram pagi itu tak menemani Ayra karena harus menemui beberapa rekan bisnis.


Saat di dalam mobil. Qiya menempelkan kepalanya di lengan Ayra.


"Ma... " Ucap Qiya pelan sambil menatap ke arah jalan.


"Ada apa sayang? apa ada yang menganggu hati putri Mama? Apa dokter tadi membuat kamu terusik?" ucap Ayra sambil merangkul putrinya.

__ADS_1


"Mama... " Ucap Qiya sambil menarik tubuhnya dari pelukan sang ibu. Ia memandang wajah Ayra yang telah menyunggingkan senyumnya.


"Mama rada apa yang Papa mu katakan kemarin ada benarnya. Dokter itu ada rasa suka sama putri Mama ini. Tapi... " Belum selesai Ayra berkata, sang putri justru kembali ke dalam pelukan Ayra.


"Dokter Gede sudah menikah Ma.... Dia pengantin baru seprtinya." Ucap Qiya sambil memejamkan matanya.


Entah kenapa rasa sakit yang menjadi satu masih ada di hatinya. Belum sembuh rasa kecewa karena batal menikah. Ia justru harus menerima bahwa Bram memiliki wanita lain.


Ia hanya mampu menyimpan rasanya. Karena sedari kecil ia tak ingin membuat Mamanya bersedih, belum lagi ia tak ingin sang kakak yang akan berkelahi jika tahu dirinya di sakiti atau di ganggu orang lain. Namun hal itu membuat ia menjadi pribadi yang pandai menyimpan rasa. Ayra yang telah melahirkan nya pun hampir tak pernah mendengar keluh kesah putrinya. Berbeda dengan Ammar, putra sulungnya itu.


Lelaki itu akan menceritakan apapun pada Ayra. Bahkan ia yang begitu mencintai Ayra sengaja berkelahi berkali-kali ketika di pondok pesantren. Dan itu berakhir dengan Ayra menarik anak sulungnya dari pondok dan ia didik sendiri di rumah. Salah satu alasan sulung Bram itu adalah ketika ia duduk di kelas 1 SMP, ia yang sudah mondok. Saat itu ada seorang santri baru yang selalu menangis di malam hari. Karena penasaran ia bertanya dan ternyata lelaki itu adalah anak korban broken home.


Maka jalan satu-satunya membuat masalah agar para pengasuh Pondok Pesantren merasa tak sanggup mendidik dirinya. Dan ide cemerlang anak Ayra situ berhasil. Maka ia adalah satu-satunya anak Ayra yang tidak mondok sampai SMA. Namun untuk pemahaman agamanya jangan di anggap enteng. Walau penampilan sang anak kadang terlihat seperti anak band.


Anaknya itu bahkan akan mengenakan pakaian muslim atau sarung ketika akan shalat. Kesehariannya ia akan menggunakan celana jeans atau baju kaos. Bahkan rambut anak Ayra itu sedikit gondrong. Hal itu kadang sering membuat Bram dan Ammar berdebat. Tetapi Pesona Ammar tetap tak kalah dengan Bram. Walau ia sedikit berambut panjang. Ia tetap tampan dengan jas dan gayanya ketika mewakili Bram untuk menjalankan bisnisnya.


Seperti pagi itu. Mau tidak mau ia harus pergi ke sebuah hotel yang menuruti undangan dari salah satu relasi bisnis Bram. Akan tetapi Ammar yang telah mengerti kemana tujuan Miss Alyyne. Ia mengajak asisten pribadinya bertukar posisi. Ia menjadi asisten pribadi sedangkan Marvin menjadi dirinya sebagai putra dari Bramantyo Pradipta.


"Tapi Bos nanti kalau dia tahu....." Ucap Marvin sedikit khawatir.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Tidak ada yang pernah bertemu dengan aku. Dan kamu akan aku tambah insentif mu setiap bulan. Jadi selama menjalin kerjasama dengan Miss Alyyne ini. Dan kita di negara kangguru ini. Kamu adalah Mr. Ammar. dan aku adalah Mr. Marvin. Oke? Atau kamu mengundurkan diri Sekarang?" Ancam Ammar pada sang asisten.


Ia betul-betul risih dengan rekan kerja yang selalu memakai cara-cara licik hanya untuk mendapatkan tender kerjasama dengan perusahaannya. Marvin hanya diam tak bisa membantah. Ia tahu di surat itu bahwa jika ia mengundurkan diri selama kontrak 3 tahun pertama itu, maka ia harus membayar denda. Belum lagi ijazah aslinya tak bisa diambil.


Karena semenjak Ammar mengambil tampuk kepemimpinan Mikel Group walau Bram tak terlalu lepas tangan, Ia merasa jengah dengan beberapa karyawan yang berhenti belum setahun karena merasa tertekan dengan tuntutan pekerjaan. Maka ia pun menerapkan untuk menahan Ijazah buat mereka yang diterima bekerja dengan jabatan penting. Dan kontrak kerja pun ia buat cukup lama yaitu 3 tahun.


"Ingat, jangan minum apa-apa disana. Aku tidak tanggungjawab jika kamu minum apa yang disuguhkan." Ucap Ammar.


Marvin hanya mengangguk. Saat pintu lift terbuka, dua lelaki yang bertukar posisi itu pun harus bergegas ke kamar yang telah terdapat seorang perempuan yang muda nan cantik dengan sebuah dress berwarna merah mawar. Ia adalah salah satu Pemilik dari Rose Company yang bergerak di bidang pengolahan kernel sawit.


Kernel sawit adalah sebutan lain dari inti atau biji buah kelapa sawit. Kernel sawit ini bisa dimakan dan juga bisa di olah menjadi palm kernel oil. Manfaat atau kegunaan kernel sawit ini sangat banyak sekali. Contoh nya seperti palm kernel oil bisa di gunakan untuk bahan baku dari makanan seperti minyak goreng, mentega.


MIKEL group yang begitu terkenal di Asia sebagai perusahaan penghasil sawit terbaik membuat Miss Alyyne merasa ia tertarik. Namun yang membuat Miss Allyne begitu berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan yang dulu hampir bangkrut itu adalah desas desus tampannya Putra Sulung.


Bukan Ammar jika tak selalu pandai membuat rencana. Ia bahkan dua tahun yang lalu sudah dengan sengaja membuat media sosialnya dengan foto Marvin. Sehingga ketika beberapa orang akan menganggap Marvin lah putra Bram. Itu ia lakukan ketika ia pernah di jebak di salah satu restoran bersama relasi Bram. Beruntung putra Ayra itu cepat pergi dari tempat itu dan segera menelpon adiknya ketika sang adik sedang Koas di rumah sakit. Jika tidak mungkin ia bisa melakukan zina. Satu hal yang begitu Ayra tekankan pada anak-anaknya. Jangan pernah mendekati zina apalagi melakukannya.


Saat pintu kamar diketuk oleh Marvin. Ammar yang berdiri di belakang Marvin sedang melihat ke arah kanan kamar. Namun Ia melihat perempuan bercadar yang tak bisa ia lupakan jika syal yang dikenakan perempuan itu adalah syal miliknya. Karena Ayra sendiri yang merajutnya. Bahkan tulisan pada syal itu membuat Ammar tersenyum dalam hatinya.


"Kita berjodoh sepertinya. Apakah kamu jodoh ku? Hhh... Menoleh lah... jika kamu menoleh aku berani pastikan bahwa kita akan kembali bertemu." Batin Ammar sambil menoleh ke arah Perempuan yang tampak sedang menggendong balita dan berusaha membuka pintu kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2