Pesona The Twins

Pesona The Twins
105 Arumi Dan Ammar


__ADS_3

Ba'da Isya, Ammar pulang. Ia membawa sebuket bunga. Bunga mawar merah. Ia pulang disambut Ayra. Tapi ia tak bersedih. Ia sudah hapal siapa istrinya.


"Jangan di bahas lagi masalah kemarin Nak... Cukup diam kalau istrimu sedang marah." Ucap Ayra saat Ammar melangkah menaiki anak tangga.


Ammar masuk kedalam kamar. Ia melihat kamar itu sedikit aneh seperti biasanya. Jika biasanya akan banyak mainan, meja rias yang berantakan. Malam itu semua tertata rapi. Ammar mendekati Arumi yang asyik dengan ponselnya. Ia melihat Ammar pulang dengan sebuket bunga.


"Arumi. Aku minta maaf semalam membentak mu. Bukan maksud hati membentak. Aku khilaf." Ucap Ammar sambil menyerahkan sebuket mawar merah.


Arumi hanya menerima bunga itu. Ia mengganti bunga yang ada di cas sebelah tempat tidurnya dengan bunga tadi. Ammar tersenyum, ia lega setidaknya pemberiannya di terima. Jika selama ini apa saja selalu di abaikan oleh Arumi. Malam ini bunga itu bahkan di letakkan di sisi tempat tidur.


Ammar meletakkan tas nya. Ia juga mencharger ponselnya. Ia membersihkan diri di kamar mandi. Namun ponsel yang di charger itu berdenting. Arumi kembali penasaran karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam namun ponsel itu berdenting beberapa kali. Itu tentu pesan dari perempuan Chu by.


Ia melangkah dan melihat pesan yang betul dugaannya. Namun tak bisa melihat jelas mode layang pesan itu. Ia hanya bisa melihat pesan terakhir yang dikirim.


[Gimana kak Arum suka sama bunganya?]


Kedua mata Arumi membesar. Ia sedikit merasa kesal. Namun ia teringat apa yang dikatakan oleh Ayra. Ia coba tenang. Ia duduk kembali di posisinya semula dan membuka ponsel. Ia buka grub keluarga dimana disana ada foto terbaru dari Qiya yang menampakkan foto gede yang memang bertambah gemuk. Terlihat Gede sedang makan dengan senyum.


"Apa Mama benar... Aku tak merasakan panasnya hati saat melihat Gede bersama Qiya. Apakah selama ini aku hanya terlalu fokus dengan rasa sakit dan Ifah." Batin Arumi.


Ammar keluar dari kamar. Setelah rapih, ia pun duduk di sofa yang biasa ia jadikan tempat tidur. Jika biasanya ada Ifah dikamar itu, balita yang akan memecah ke kebingungan di kamar itu. Kini bocah itu sudah di bawa orang tuanya. Arumi bahkan satu hari ini tak tahu apa yang harus ia kerjakan sehingga ia hanya membuka media sosialnya. Dan masih menangisi Ifah yang telah tidak ada lagi disisinya.


"Ar.... Dua Minggu lagi aku akan ke Australia. Untuk bisnis sekalian aku mau menjadi pemateri dan donatur di acara mahasiswa. Kamu mau ikut atau dirumah? kalau mau ikut aku minta Marvin pesankan tiket." Ucap Ammar menyelidiki bagaimana raut wajah istrinya.


"Aku dirumah saja." Ucap nya singkat.


Ammar pun kembali ke layar laptopnya. Ia pun berkirim pesan pada Bilqis tentang beberapa konsep interior dan beberapa saran tempat yang akan dipilih. Namun Bilqis tiba-tiba menelpon. Ammar melirik Arumi. Ia mengangkat telepon dari Bilqis.


"Ia By."


"....."


"Ya intinya besok itu semua kakak yang cover. Kamu cukup kerja sama tim kamu bagaimana konsepnya bisa diterima sesuai ide kakak kemarin. Ingat disana kita hanya terkesan duduk menikmati lagu tanpa memberitahu atau berceramah. Kita bawa Islam dalam diri kita. Bukan lewat kata-kata tapi sikap kita. Maka disini penting nya orang-orang tadi kita training dulu By.. " Ucap Ammar pelan.


"....."


"Kakak mungkin sendiri, ya boleh. Istri kakak. sepertinya ga ikut." Ucap Ammar.


"...."


"Oke Bilqis AZ Zahra." Ucap Ammar lalu menjawab salam dari seberang.

__ADS_1


"Oh... jadi sepi Chu by itu Bilqis. Hhhh... jadi dia juga yang memilihkan bunga. Sudah seperti artis saja." Ucap Arumi yang tadi sempat mengikuti berita di medsos bahwa ada artis selingkuh dan istrinya ternyata selama ini diberikan hadiah dimana selingkuhan nya yang membelikannya. Ia jadi memiliki pemikiran yang sama jika ia juga diperlakukan sama.


Itulah Arumi,andai ia menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bisa menjadikan diri mendapatkan ilmu mungkin akan lebih bisa menjadi perempuan yang memiliki pesona. Tapi Ia masih belum bisa memancarkan pesona. Ia masih sibuk di zona nyaman. Zona rebahan sambil scrolling media sosial dan lalu merasa insecure sendiri saat merasa ada kisah yang sama dengan dirinya.


"Ar, besok boleh tiketnya barengan dengan Bilqis?" Tanya Ammar.


"O jadi karena ada perempuan lain mau ikut jadi kamu tanya aku tadi mau ikut jika tidak kamu tidak akan ajak aku. Begitu?" Ucap Arumi kesal.


"Yes. Berhasil. Mama betul, Arumi sepertinya cemburu. Itu tanda kamu cinta Arumi. Aku lebih suka kamu cemburu daripada seperti kemarin. Aku pastikan ada cinta di hatimu Ar. Untuk ku." Batin Ammar senang.


"Maksudnya?," Tanya Ammar pura-pura.


"Tau ah... aku ngantuk. Terserah mau kemana sama siapa. Aku mau dirumah saja. Jangan berisik matikan lampunya dan kalau mau teleponan di balkon." Ucap Arumi kesal.


Namun saat lampu sudah dimatikan Ammar. Ia malah kesal sendiri. Ia tak bisa tidur. Ia justru pusing dan penasaran juga menyesal. Hingga jam berganti jam ia masih tak mampu memejamkan matanya. Ada rasa panas di hatinya. Akhirnya ia bangun, Ammar melirik sang istri namun ia pura-pura cuek sambil menatap laptopnya.


"Mau kemana Ar?" Tanya Ammar.


"Aku lapar..." ucap Arumi sambil keluar kamarnya. Saat Arumi menghilang dari kamar itu. Arumi meletakkan ponselnya.


Ia menikmatinya rokoknya di balkon.


"Hhhhhh.... rasanya begini amat berjuang untuk istri. Aku masih menunggu mu Arumi. Chu by... Hah. dari dulu dia selalu minta bantuan ku karena di keja banyak lelaki. Kali ini aku butuh bantuan nya. Tapi tak mungkin menceritakan apa yang terjadi. Bagaimana pun aib Arumi juga aib ku. .. Oke, aku ada ide. Miss Allyne bisa bantu aku agar jadi pemantiknya. Good Job Ammar." Ammar menikmati betul rokoknya malam itu. Tak seperti biasanya.



Dua Minggu berlalu. Ada hal aneh di minggu-minggu kedua pasca Ifah tak ada. Ammar merasa keset kaki di depan kamar mandi selalu baru. Handuknya pun akan selalu baru saat ia akan gunakan. Ammar juga melihat Arumi selalu menghidupkan aroma terapi tapi dengan aroma yang berbeda. Ammar suka walau wanginya lebih maskulin.



Bahkan sofa tempat tidurnya selalu di ganti setiap harinya oleh Arumi dengan yang baru. Bahkan saat pagi hari semua kebutuhannya sudah ada di atas tempat tidur.



Saat telah siap dengan pakaian kerjanya. Arumi tampak membuka seprai tempat tidurnya.



"Ar. Besok pagi aku jadi berangkat ke Australia. Mungkin 5 hari aku disana. Kamu yakin tidak ikut?" Tanya Ammar.


__ADS_1


Arumi pun duduk sambil memegang seprai yang telah ia gulung.



"Terserah kamu. Toh nyatanya aku ikut atau tidak itu tidak ada sama pentingnya bukan?"



"Maksudnya?"



"Coba tanyakan pada dirimu sendiri. Selama ini aku sudah seperti burung disangkar emas." Ucap Arumi sambil berlalu.



Ammar menautkan alisnya. Ia mencoba mengartikan kalimat Arumi barusan. Saat Arumi telah kembali dan memasang seprainya yang baru.



Ammar berdiri di sisi Arumi.



"Ok. Kamu itu besok. Biar kamu keluar dari sangkar emas ini.Maaf, bukan aku tidak peka. Tapi.... kemarin aku lihat kamu lebih suka bersama Ifah. Aku pikir kamu burung yang lebih suka didalam sangkar daripada terbang dengan sayap mu. Aku berangkat kerja dulu. Besok pagi kita berangkat."



Arumi berdehem..



Sore harinya Ammar justru sangat kaget. Ia melihat bagaimana istrinya begitu detail. Semua baju dan kebutuhan telah di masukan koper untuk pergi besok. Ammar hanya melirik Arumi sesaat.



Saat tiba dikamar mandi, ia melihat jelas bathroom yang telah disiapkan. Saat selesai mandi ia bertanya pada Arumi.



"Besok jadi ikut?" Tanya Ammar.

__ADS_1



"Apa kamu berharap aku tidak ikut?"Tanya Arumi lagi.


__ADS_2