
Keluarga Bramantyo telah ada di Bali. Mereka menginap di hotel yang telah di booking oleh Bram untuk keluarga yang akan menghadiri resepsi pernikahan yang akan diadakan Niang Ayu dan dan Bu Ratih di ballroom hotel yang sama.
Pagi sekali Ammar sudah terbangun karena alarm di ponselnya. Belum satu kali pun Arumi membangunkan Ammar. Sulung Ayra itu pun mulai terbiasa bangun sendiri tanpa bantuan Ayra atau asisten rumah tangga. Ia mulai menata hidupnya sendiri. Saat selesai mandi, ia melihat Arumi terlihat pucat.
"Kamu sakit Ar?" Tanya Ammar.
"Mi Atit...?" Tanya Ifah sambil memegang dahi Arumi.
Arumi tersenyum ke arah Ifah.
"Tidak. Umi tidak sakit. Tunggu sebentar ya Umi ambil Pampers di koper." ucap Arumi sambil mencium hidup Ifah.
Ammar seperti biasa. Ia akan membereskan benda-benda kecil yang dimainkan Ifah, meja rias yang sedikit berantakan. Entahlah ia heran saja dengan Arumi. Atau memang dirinya yang kesulitan merawat Ifah hingga dirinya tak sempat membuat kamarnya menjadi tertata rapi.
Baik dirumahnya dan kini di kamar hotel. Saat Ammar melihat Arumi dari kaca meja Yang ada di kamar itu. Arumi menyandarkan kepalanya di dinding. Ammar mendekati istrinya.
"Sini biar aku yang memakaikan baju Ifah." Ucap Ammar.
Arumi menahan Pampers ditangannya.
"Arumi...." Ucap Ammar sambil membuang napasnya pelan.
Akhirnya Arumi melepaskan Pampers yang ada ditangannya. Ia memilih duduk di sofa dan sambil memijat leher nya. Ammar yang sering mengamati Arumi mengganti pakaian Ifah. Ia dengan mudah melakukan hal itu.
"Nah sudah cantik. Sekarang Ifah sarapan dulu ya. Kita kebawah ya." Ucap Ammar sambil menggendong Ifah.
"Gantilah pakaiannya. Aku akan membawa Ifah. Nanti biar aku serahkan pada baby sitter nya." ucap Ammar.
Ifah terlihat ingin mencium pipi Arumi. Ammar maju berapa langkah. Gadis kecil itu mencium pipi Arumi. Ammar pun melihat jelas ruam wajah merah pada Arumi. Tangannya reflek memegang dahi Arumi ketika Ifah menarik c!umannya.
"Astaghfirullah... Kamu demam Ar? Ya sudah aku kebawa ambilkan sarapan." Ucap Ammar.
Arumi hanya diam. Ia memang merasakan demam. Kali ini ia benar-benar demam. Tenggorokan sakit, kepalanya cenat cenut hidung juga terasa ingin bersin.
Ammar bergegaslah ke lantai bawah. Sampai di sana ia melihat beberapa keluarga sedang sarapan. Baby sitter Ifah pun duduk didekat Nur.
"Nur. Titip Ifah ya, Arumi sedang tak enak badan." Ucap Ammar.
Ia pun bergegas ke arah waitres. Ia memesan makanan untuk istrinya. Setelah itu ia pergi ke kamar Ayra. Ayra sedang di make up oleh MUA yang telah dari pagi datang.
"Ada Am? Mana Arumi dan Ifah?" Tanya Ayra yang tampak duduk sambil membiarkan wajahnya di rias oleh perempuan berambut pendek.
__ADS_1
"Ma. Ammar dan Arumi mungkin tak bisa turun. Arumi sakit. Badannya panas sekali." Ucap Ammar.
"Kalian bertengkar lagi kah?" Batin Ayra.
"Bawalah check up ke dokter Am. Istrimu sering sekali tak sehat. khawatir ada gejala penyakit apa-apa." ucap Bram sambil menikmati kopinya.
Ammar pun tersenyum.
"Iya nanti Pa. Tapi sepertinya harus ekstra karena Arumi takut yang namanya dokter." ucap Ammar yang memberikan kiasan.
"Paling tidak kamu turunlah sebentar jika Arumi tak bisa. Tidak enak dipandang keluarga Gede." Ucap Ayra yang tetap menjaga perasaan pihak besannya jika keluarganya tak hadir semua.
Ammar mengangguk. Namun saat akan keluar dari kamar Ayra. Bram pun mengirimkan pesan pada Sulungnya. Saat hampir tiba di kamarnya. Ammar yang mendengar ada pesan masuk. Ia membuka dan membacanya.
[Jangan sering diajak begadang dulu kalau belum sehat istri mu. 😁]
"Papa... mungkin jika tidak ada orang lain dikamar sudah dari tadi diucapkan Papa kalimat ini." Ucap Ammar sambil masuk ke kamarnya.
Ammar melihat Arumi berada di balik selimut. Tubuh Arumi sedikit menggigil.
"Arumi..." Ammar memegang dahi istrinya.
Perempuan yang biasanya marah ketika disentuh itu hanya diam dengan mata terpejam. Ammar memegang pipi Arumi dan memanggil namanya. Merasa tak ada respon. Dia segera bergegas mengenakan Niqab sang istri. Ia gendong ke arah lobby. Tangan Arumi bahkan terkulai lemah.
"Arumi.... " Ammar memeluk Arumi erat. Dagunya menempel di dahi istrinya yang terasa panas sekali.
Memang cinta adalah perkara hati. Sulit memang untuk seseorang mengendalikannya. Ammar yakin sebuah rasa cinta akan lahir dari perhatian dan kasih sayang dari orang yang mencinta untuk yang dicintai. Cinta adalah satu perjuangan, dan Ammar masih akan terus berjuang untuk cintanya pada Arumi.
Jangankan awal pernikahan tanpa cinta. Itu wajar karena mereka tak melalui yang namanya pacaran. Orang yang menikah puluhan tahun pun kadang tak mampu merawat dan berjuang untuk rasa cintanya dan menumbuhkan rasa cinta dihati pasangannya. Maka hal itu menjadikan pernikahan-pernikahan banyak orang di usia yang lama tapi hanya sebagai sesuatu yang hambar. Bertahan hanya karena sudah terlanjur punya anak. Bertahan hanya karena sudah sama-sama tidak muda lagi.
Yang dipupuk hanya rasa benci dan tak ada perjuangan sama sekali dalam tetap menumbuhkan rasa cinta dihati pasangannya dengan tetap menghujani cinta untuk pasangan. Itulah sebenarnya kunci Ayra dalam berumahtangga. Walau usia tak lagi muda. Ia tak pernah menganggap tak butuh cinta. Justru semakin tua usia pernikahan seseorang harusnya bertambah besar pula cintanya untuk pasangan. Ibarat sebuah pohon. Maka rasa cinta di Qolbu adalah akarnya agar tak Gambang roboh, agar tak Gambang mengikuti arah angin saat ada godaan yang namanya pelakor ataupun Pebinor.
Dan kini Ammar pun berusaha menumbuhkan rasa cinta di hati Arumi untuk dirinya lewat cinta yang ia punya.
Tiba di rumah sakit. Ammar pun membawa istrinya ke IGD. Hampir beberapa puluh menit ia menanti Arumi di periksa dan istrinya dinyatakan harus dirawat. Saat Arumi dipindahkan ke Ruang rawat inap. Ammar mengirimkan pesan ke ponsel Bram.
[Jangan bilang Mama sebelum acara selesai Pa. Arumi badannya panas sekali tadi. Sekarang, Ammar di rumah sakit yang tak jauh dari hotel ]
Pesan belum dibaca oleh Bram. Ammar pun duduk menemani istrinya. Hampir 4 jam Arumi tak sadar. Tiba-tiba ia terbangun karena rasa haus yang menyekat tenggorokan. Ammar menantu istrinya itu untuk bangun.
"Hati-hati Ar, ada selang infus di tangan mu." Ingat Ammar saat Arumi memaksa untuk bangun dengan cepat.
__ADS_1
Arumi duduk, Ammar yang melihat istrinya akan menggapai Ari minum. Ammar membuka air mineral dan memberikan sedotan.
Setelah minum, Ammar menahan pundak Arumi.
"Makan dulu, aku sudah pesan bubur tadi. Perut mu masih kosong. Lambung mu bermasalah. Kamu juga dehidrasi," ucap Ammar.
Lelaki itu membuka pelan bubur yang ia pesan online. Arumi pun memakan bubur itu walau tak sampai habis. Setelah ia makan Ammar menarik selimut istrinya.
"Ifah sama siapa?"
"Tante Melisa juga sudah datang tadi. Toh ada Baby sitter nya. Kamu fokus dulu dengan kesehatan mu. Dokter bilang kamu harus di rawat sehari atau dua hari dulu." Ucap Ammar.
Ammar yang melirik jam. Dia melihat sudah hampir masuk waktu Dzuhur.
"Ar. aku shalat dulu sebentar di mushola ya." Ucap Ammar.
Hanya ada jawaban deheman. Ia pun masih acuh pada Ammar. Ammar membuka jas, jam tangan dan ponselnya disisi Arumi. Ia pergi ke mushola yang ada dirumah sakit tersebut. Dan sepeninggal Ammar. Ponsel itu berdering. Bahkan tak henti-henti. Arumi yang merasa terganggu meraih benda itu.
Ia lihat sebuah panggilan dari perempuan berkerudung. Cantik, bibir mungil, buku mata lentik, dan ada lesung pipi di salah satu pipinya. Walau foto perempuan itu bersama seorang anak kecil.
Ia membiarkan Ponsel itu berdering. Namun penasaran dan kesal ia berniat mengangkat panggilan itu namun saat sudah ada di genggamannya, Sebuah pesan masuk dari perempuan itu dan Arumi bisa membaca di mode layang tanpa ia membuat pesan tersebut.
[Kak Aam. Dimana?]
[ Takut istrinya ketemu sama aku ya? Atau kakak marah karena pas nikahnya Aku ga Dateng?]
[Kak? Nanti kalau tidak ngambek lagi balas chat aku ya. Please... aku butuh bantuan Kakak.]
Isi chat itu membuat Arumi mendengus kesal. Kembali ponsel itu berdenting. Tak dihiraukan oleh Arumi. Ia sempat melihat nama perempuan yang mengirimkan pesan pada Ammar.
*Chu bby*
Saat Ammar kembali dari musholla. Ia melihat Arumi terpejam. Ia berpikir Arumi sedang tidur. Ia pun memasangkan jam tangan dan meraih ponselnya. Entah karena cemburu atau apa yang membuat Arumi merasa jengkel. Ia mengintip di balik matanya. Ammar tersenyum-senyum sambil membuka ponselnya. Ammar tampak sedikit tertawa dan asyik sekali menatap benda itu.
Bahkan Ammar terlihat begitu bahagia.
"Ish.... lelaki dimana saja sama. Kalian tak akan cukup dengan satu perempuan. Untung aku tak mencintai kamu. Jika tidak mungkin aku sudah merasa sakit hati melihat suami ku sedang berchating dengan perempuan lain." Batin Arumi yang kembali merapatkan kedua matanya.
Ammar masih membalas chating bersama gadis yang ia beri nama 'Chubby' di ponselnya. Karena pipi gadis itu memang terlihat chu bby.
"Modus...." Gumam Ammar tersenyum menatap layar ponselnya.
__ADS_1
[Jangan negatif thinking dulu. Kira-kira sapa ya Chubby ini 😁]