
Saat sedang menikmati novel favoritnya. Cita harus dikagetkan dengan pintu kamar yang di gedor oleh seorang lelaki yang tak lain adalah Alam.
"Tok.Tok.Tok....!"
"Ish.... Siapa sih! Ganggu aja. Ga bisa pelan-pelan apa!" Gerutu Cita sambil beringsut dari tempatnya dan meletakkan toples yang dari tadi ia peluk.
Saat membuka pintu ia sudah melotot melihat lelaki yang selalu membuatnya jengkel selama menjalani internship. Ia yang merupakan satu tim, namun selalu kesal karena alam lelaki yang irit bicara. Ia jadi kesal karena tak memiliki teman berbicara selama bertugas di IGD.
"Ada apa sih alam Ghoib? Lo ga bisa pelan-pelan ngetik pintunya? Lo pikir ini ruang IGD yang semua harus serba sat set!" Ucap Cita.
Alam melihat penampilan Cita hanya menggelengkan kepala. Perempuan itu masih memakai pakaian yang sama dari pagi tadi. Ia juga melihat sebuah bando yang melekat di kepalanya pun tak lagi begitu rapi.
"Ya ampun. Baru kali ini gue ketemu perempuan bisa jam segini belum mandi-mandi dari pagi." Batin Alam.
Cita sebenarnya tidak sejorok yang di pikirkan Alam. Namun lelahnya bertugas hampir dua Minggu disamping itu teman satu tim yang membuat dirinya tak sreg. Membuat ia balas dendam pada sesuatu yang tak bisa ia lakukan selama dua Minggu. Apalagi kalau bukan membaca komik dan novel online. Maka hari ini itu ia memang memanjakan diri dan matanya.
"Ya dia terpesona sama kecantikan gua. Napa baru sadar kalau gua cantik. Ini belum mandi. apalagi kalau gua udah dandan ala Dokter spesialis. Tambah keluar tuh matamu." Ucap Cita sambil menggerakkan kan tangannya di depan wajah Alam. Ia melihat dokter satu tim nya itu melamun.
"Ye... amit-amit dah Gue punya pacar jorok kayak elo. Udah jutek, jorok cerewet lagi!" Ucap Alam cepat dengan wajah cemberut.
"Woi... woi... Alam Ghoib. Situ kesini, udah ganggu waktu gua. Udah ganggu mood gua. Sekarang loh seenak jidatnya menghina gua. Sekarang kembali ke alam Lo daripada gua kesambet trus gua khilaf dan gua sunat dua kali Lo!" Ucap Qiya penuh penekanan.
Ia sangat tidak suka jika ada yang menghina dirinya. Mendengar kata sunat, Alam Reflek merapatkan kedua pahanya. Matanya melebar, Ia baru kali ini bertemu perempuan yang begitu ceplas ceplos berbicara.
"Ya ampun. Jangan emosi Bu. Ntar tuh rambut tambah medok. Tambah tak sedap di pandang!" Alam kembali membuat pemilik kamar yang baru saja ia ketuk terlihat marah.
Cita menyingsingkan lengan bajunya.
"Ngajak ribut nih Alam Ghoib. Belum pernah diajak gelut perempuan! Berani nya sama perempuan!" Cita sudah emosi karena terus-menerus dihina oleh Alam.
__ADS_1
"Woi. Sabar. Gua cuma mau ngasih tahu. Temen yang di IGD ngabarin kalau sahabat sejati Lo ada di IGD. Di gigit ular." Ucap Alam cepat karena Cita sudah maju dua langkah.
"Apa!" Ucap Cita tak percaya.
"Jangan bercanda Lo ya Alam! Lo ga tahu tuh anak siapa sahabat gue. Berani bener tuh ular gigit dia. Apa dia ga tahu bapaknya siapa!" Ucap Cita tak percaya.
Cita masuk kedalam kamar. Maksud hati ingin menghubungi Qiya namun pintu nya ditahan oleh Alam.
"Apaaan sih Lo!" Ucap Qiya dengan kesal.
"Gua serius Mi... Itu teman loh di IGD." Ucap Alam cepat sambil tangannya menahan pintu kamar yang akan Cita tutup.
"Lo becanda yang lain aja Deh Lam!" Bantah Cita.
"Ya elah. Gua serius. Kalau Lo mau kesana ayo buruan gua antar. Sebentar lagi malam." Ucap Alam. Bagaimana pun ia adalah ketua dari tim mereka.
Namun saat di dalam mobil. Dua orang itu kembali berdebat. Alam yang tak bisa jika tak ditutup jendelanya. Cita yang akan mabuk pun meminta jendela untuk di buka. Akhirnya perdebatan kembali tejadi dab berakhir ketika Cita keluar dari dalam mobil. Ia yang sudah duduk diatas motornya, tubuhnya di dorong oleh Alam. Lelaki itu tak tega jika harus membiarkan Cita pergi ke rumah sakit sendiri mengenakan sepeda motor. Akhirnya ia membonceng Cita menggunakan sepeda motor matic Cita.
Selama di perjalanan kembali Cita dan Alam berdebat. Alam yang memang jarang mengendarai sepeda motor sangat hati-hati mengendarai benda itu. Belum lagi ia yang akan tiba-tiba mengerem mendadak karena lubang di jalan. Membuat tubuh Cita akan secara refleks memeluk dirinya dari belakang.
"Buuughh!"
"Aduhh... Ada apa si Mi..."
"Woi! bisa nyetir ga sih! Lo sengaja ya? Cari kesempatan? Trus maksud Lo Mi, Mi itu apa. Nama gua Cita. C-I-TA!" Bentak Cita karena merasa tak nyaman berkali-kali dadanya menyentuh punggung alam karena lelaki itu mengerem mendadak. Sehingga ia memukul punggung lelaki itu.
"Lo aja manggil gue Alam Ghoib, gue ga marah. Lah Lo juga ga boleh marah gue panggil Mi." Ucap Alam sambil membenarkan posisi duduknya yang sudah terlalu maju. Namun baru juga ia mundur. Cita kembali memukul punggungnya.
"Aduuuhh... Ini mau cepat sampai apa ga sih!" Gerutu Alam.
__ADS_1
"Elo mundur sekali lagi! Gua dorong ni." Ucap Cita dengan kesal.
"Ya ampun. Gue udah duduk nya diujung gini ya sakit lah Mi Kiting."
"Udah buruan! Keburu kenapa-kenapa Bestie gua!" Ucap Cita sambil meletakkan dua tangannya di depan dada. Ia sudah siap jika lelaki itu kembali mengerem mendadak. Tangannya akan menahan punggung Alam.
Setelah beberapa menit perjalanan yang di penuhi drama. Mereka pun sampai di rumah sakit. Namun saat tiba di IGD. Ternyata Qiya telah di pindahkan ke sebuah ruang rawat inap. Namun yang membuat Alam kembali merasa tersakiti. Cita yang berhenti mendadak di depan pintu kamar rawat inap itu. Membuat hidung mancung Alam mengenai kepala Cita. Alhasil hidungnya pun mengeluarkan cairan berwarna merah.
"Aduh... Ya Tuhan. Dosa apa gue bisa tersiksa begini ketemu perempuan Mie ini." Gerutu Alam.
Cita yang tak melihat ke arah belakang. Membuat Alam pergi segera dari sana. Ia mencari kapas karena hidungnya terus meneteskan cairan segar berwarna merah.
Cita berhenti mendadak karena saat pintu terbuka sedikit. Ia melihat ada dokter Gede di sisi Qiya. Dokter itu memandangi wajah Qiya dengan dalam.
"Dasar lelaki semau sama saja. Masa iya tuh dokter udah punya bini masih mau sama Qiya! Nyari masalah ni dokter pembimbing.
Baru ia akan marah, namun ia berhenti karena dokter Gede berbicara ke arah Qiya.
"Rasa apa yang ada dihati ini." Ucap Dokter Gede yang hanya menghela napas nya pelan.
Cita pun langsung masuk kedalam. Ia langsung berlari ke arah Qiya.
"Ya Tuhan... Qiy.... Ular mana sih yang berani gigit Elo. Bagaimana dok kondisinya?" Tanya Cita sambil mengusap wajah sahabat nya yang terlihat pucat.
"Mungkin karena terlalu panik dan ia berlari membuat racun malah cepat menyebar. Beruntung warga sekitar cepat memberikan pertolongan pertama yang memang sudah sering di berikan sosialisasi di warga. Namun kita lihat nanti setelah ia sadar karena kita tidak tahu jenis ular yang mematuknya. Semoga dokter Qiya tidak apa-apa. Saya tinggal dulu." Ucap Dokter Gede sambil melangkah keluar.
"Ya ampun Qiy... udah batal nikah, sekarang Lo di patuk ular. Aku bisa bilang apa kalau Mama Mu tahu ini...." Ucap Cita yang tak sadar perkataan nya di dengar oleh dokter Gede yang baru berada di ujung pintu. Sahabat Qiya itu sudah berderai air mata melihat wajah pucat sahabat nya. Ini kali pertama ia melihat temannya terbaring tak berdaya. Karena Qiya adalah perempuan yang sangat menjaga dan memberikan hak tubuhnya untuk beristirahat kala tubuh itu memang perlu istirahat.
"Batal menikah.... Gadis secantik dan sepintar itu bisa batal menikah. Kenapa bisa sama kisahnya." Batin dokter Gede.
__ADS_1