
Masih dengan menundukkan kepalanya, dokter Gede mencoba mengatur napasnya. Baginya berbicara dengan orang tua dari perempuan yang ia sukai lebih sulit daripada mengungkapkan rasa di hati kepada sang pujaan hati. Jika saat itu saja dadanya sesak sekali sehingga sulit udara untuk masuk ke rongga paru-parunya. Maka saat ini hal itu terjadi kembali dan lebih dari rasa itu.
"Saya mengucapkan terimakasih kepada Pak Bram karena Sudah menyambut saya dan Mas Hilman hari ini. Terkait mengapa saya suka dan apa yang saya sukai dari putri bapak...Hhhh..." Bukan hal yang mudah bagi seorang dokter yang biasa bekerja dengan otak dan tangan juga ilmunya ketika harus berbicara apalagi menggunakan hati.
"Saya mungkin memang tidak punya jabatan dan harta seperti bapak. Jika saya ingin membahagiakan Qiya dengan harta dan jabatan mungkin saya tidak mampu. Hal itu justru ia dapatkan sedari kecil dari Bapak yang cukup sukses karena memiliki dua hal itu." Gede sedikit berhenti karena mendengar gelak tawa dari ayah perempuan pujaan hatinya.
"Saya hanya punya cinta yang akan saya usahakan untuk setia hanya pada Qiya jika kami menikah. Dan itu tetap butuh bimbingan bapak dan orang tua saya jika kamu berjodoh. Kedua saya mungkin tak bisa seperti bapak yang punya banyak harta tapi insyaallah, saya akan berusaha dengan hasil keringat saya sendiri untuk memberikan nafkah yang halal untuk istri dan anak saya. Ketiga, saya mungkin jika dibandingkan Qiya, saya tak secerdas putri Bapak. Tapi saya berharap jika kelak punya keturunan, istri yang cerdas dan berakhlak baik seperti putri bapak bisa melahirkan generasi-generasi yang bisa membahagiakan Rasulullah di hari akhir nanti." Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Gede tampak menundukkan kepalanya.
Ia memang bukan alumnus pondok pesantren manapun. Tetapi berbekal dengan kedekatan nya dengan seorang ulama, bahkan bisa dikatakan ia mencintai ulama tersebut. Sering ia mendengar jika ulama atau guru yang ia jadikan rujukan selalu mengatakan jika kelak Rasulullah akan bangga dengan jumlah umatnya yang banyak. Tetapi bukan dengan jumlah nya saja melainkan juga tentang kualitas umatnya tersebut.
Ia hanya punya mimpi yang bagi dirinya cukup sederhana. Ia bisa membina rumah tangga dengan bisa sama-sama mendekatkan diri kepada Allah. Karena banyak orang yang justru setelah menikah malah makin jauh dari Allah karena disibukkan urusan dunia.
Ia juga mendapatkan petuah dari gurunya yaitu Gus Imam, dimana seroang lelaki itu kalau buat perempuan yang paham agama justru ketika ia menjalankan kewajiban sebagai suami dan mencari rezeki dari jalan halal dan membawa pulang hasil yang halal untuk keluarganya. Maka itu adalah romantis yang sesungguhnya.
Ayra yang mendengar jawaban Gede merasakan bahwa putrinya tak salah melabuhkan separuh hatinya untuk Gede. Hilman memang berilmu. Tetapi dari cara berpikir, bertindak dan bersikap, Gede lebih membuat Ayra sebagai perempuan, sebagai ibu yang melahirkan Qiya, lebih ridho sang anak bersama Gede.
Bahkan oleh-oleh yang dibawa oleh Hilman dan Qiya menjadi point' penilaian Ayra. Hilman membawakan sekotak coklat yang cukup mahal karena merk nya. Sedangkan Gede, ia membawa madu, buah-buah bahkan sebuah gingseng juga ada di Paper bag yang dibawa Gede. Bagi Ayra Cinta Gede pada Qiya tak membuat ia lupa bahwa ada keluarga dari sang gadis yang juga harus diperhatikan, harus dijaga hubungan baik. Bahkan di dalam itu tak ada makanan kesukaan Qiya.
Sedangkan Hilman sekotak coklat yang mahal menandakan ia hanya fokus pada putrinya. Karena hanya Qiya yang menyukai coklat.
Bram pun merasa senang jawaban apa adanya dan tak dibuat-buat walau cukup puitis bagi Bram yang sesama lelaki. Tapi ia bisa melihat ketulusan dari dokter itu. Dua lelaki yang sama tampannya, sama cerdasnya, hanya sikap yang membedakan mereka. Saat dua orang lelaki tadi berpamitan. Bram menemui kedua orang yang sudah sepuh di kehidupan mereka.
"Piye Bram?" Tanya Umi Laila kala melihat Bram dan Ayra memasuki ruang tengah. Disana semua anggota keluarganya telah berkumpul tak terkecuali sepasang suami istri yang tinggal satu kamar tapi masih belum ada kegiatan suami istri di kamar itu.
"Sebelum Bram yang jawab, Bram Rasa. Umi lebih bisa menilai dua lelaki tadi. Dari shalat Maghrib dan isya tadi." Ucap Bram yang telah duduk di sebelah Eyang Lukis dan Qiya.
"Sebelum Umi kasih komentar, lah Qiya dulu seperti apa kriteria nya. Jadi jangan seolah-olah kita ini memaksakan kehendak kita padanya." Ucap Umi Laila
Qiya hanya menunduk. Ia tak ada keberanian untuk menjawab permintaan Umi Laila.
"Ayo jawab." Ucap Ammar sambil membesarkan kedua bola matanya.
"Yang jelas saya harus nyaman, dia nya harus sama dengan saya dalam menyikapi banyak hal dalam hidup. Dewasa, bijaksana mungkin Mbah." Ucap Qiya malu-malu.
__ADS_1
Umi Laila pun menikmati buah anggur yang dibawa oleh Gede tadi.
"Anggur ini loh, Bawak an Gede ya Ra?" Tanya Umi Laila.
"Inggih Umi." Jawab Ayra.
"Lah kalau dilihat dari Bawak annya. Dia sepertinya bijaksana. Lah kalau memang jadi pendamping mu. Dia tidak hanya fokus sama awak mu Nduk. Tapi juga keluarga." Ucap Umi Laila.
"Cocok Mbah. Saya lebih suka Beli Gede untuk jadi partner dalam keluarga ini." Komentar Ammar yang juga menikmati buah kelengkeng yang dibawa Gede.
"Manis.... Kayak orang nya Qiy...." Goda Ammar setelah menikmati buah kelengkeng.
Mereka diruang itu tergelak.
"Manis itu atau Arumi?" Ucap Eyang Lukis yang juga menggoda.
"Ya belum tahu Yang, lah wong belum halal untuk dicicipi." Jawab Ammar ceplas ceplos.
Bram menatap Ibrahim.
Dia memang lelaki yang sangat irit berbicara. Akan berbicara kadang jika ditanya.
"Yang penting harus ada rasa suka. Mau sesempurna apapun orang tersebut jika tidak ada rasa suka maka akan sulit untuk hidup bersama. Karena 24 jam bahkan seumur hidup akan bersama. Akan sulit rasanya." Ucap Ibrahim dengan logika.
Ammar membelalakkan matanya. Ia tak menyangka jawaban adiknya bisa berubah jauh dari jawaban Ibrahim kala ia pernah membahas tentang pernikahan. Saat itu mereka berdua sampai berdebat berjam-jam untuk bab nikah. Dulu adiknya itu mati-matian baginya yang penting istri itu mau shalat dan menutup aurat. Saat Ammar juga sekarang mencoba satu pikiran dengan sang adik. Sang adik justru sama dengan prinsip Qiya. Dimana harus ada rasa suka dan nyaman dulu baru nanti ketika menikah bisa tumbuh rasa cinta.
"Wow kamu punya dua suara Beli gede." Ucap Ammar tersenyum pada Qiya.
"Kalau Mama?" Tanya Bram pada Ayra. Lelaki itu akan memanggil istrinya dengan panggilan Mama ketika bersama anak-anaknya. Jika hanya berdua maka panggilan mesra keluarga Pradipta untuk Ayra yang akan keluar dari bibir lelaki tampan namun sudah mulai menuju senja.
"Mama lebih ke Qiya. Jika ia memilih siapa diantara mereka berdua tadi. Mama meridhoi dan akan mendoakan untuk kebahagiaan mereka." Ucap Ayra. Ia tak ingin memberikan komentar. Ia sudah tahu jawabannya sama dengan keinginan hati putrinya.
"Perempuan kalau sudah terserah maka itu pasti ya. 3 suara Bli. " Ucap Ammar masih menatap adiknya sambil menggoda.
__ADS_1
"Apaan sih Kak. Semalam saja tak berani berbicara. Jangankan bicara, memandang saja kakak tak berani." ucap Qiya balas menggoda.
"Kalau Eyang Putri?" Tanya Bram sambil tersenyum ke arah samping. Dimana Eyang Lukis duduk di sisinya.
"Mama lebih suka dokter Gede. Secara, mama yang duduk di kursi roda saja tadi cukup merasakan lelahnya duduk di usia sekarang. Eh sih Hilman tadi baca surat pendeknya panjaaaaanggg sekali.... Mana doanya juga lama sekali." Ucap Eyang Lukis yang memang terbiasa shalat dengan duduk di kursi roda. Ia memang cukup kelelahan karena baru dari Besannya yang tak lain orang tua Liona untuk satu tahun meninggalnya orang tua Liona. Dan ia langsung ikut acara Ammar dan kini ia juga ingin melihat lelaki yang melamar Qiya.
Sontak komentar Eyang Lukis yang apa adanya membuat seisi ruangan tersenyum. Mereka sependapat dengan Eyang Lukis. Hilman entah karena terbiasa dengan bacaan yang cukup panjang ketika shalat atau ingin menunjukkan ilmu dan kefasihannya dalam membaca ayat-ayat Qur'an membuat jamaah yang mungkin sepuh atau yang belum bisa menikmati ibadah menjadi kebutuhan terasa sangat berat karena lamanya satu rakaat di lalui juga berdoa bersama yang cukup lama di lalui.
Tanpa semua anggota keluarga tadi tahu Bram sengaja mengundang dua pemuda tadi di waktu mepet shalat magrib dan Isya. Karena ingin melihat seperti apa dua orang tadi. Bram pun sebenarnya pilihannya jatuh pada Gede.
Walau bacaannya tak Semerdu Hilman, tetapi apa yang di baca benar dan sesuai juga bijaksana. Karena Memilih ayat pendek di rakaat pertama dan kedua disaat menjadi imam di tempat umum membuat lansia seperti Umi Laila dan Mamanya bisa menjadikan ibadah justru tak terasa berat. Karena tidak semua jama'ah yang bisa menikmati shalat dalam waktu yang lama. Hal itu pernah ia dapatkan dari mertuanya yang telah tiada. Kala itu Bram bertanya kenapa sang ayah mertua akan sangat lama sekali jika pas shalat tak berjamaah. Karena Bram pernah melihat bagaimana shalat malam ayah mertuanya bisa satu raka'at cukup lama berdiri. Padahal hanya dua rakaat saja ibadah yang ia lakukan tadi.
"Lalu kalau papa sendiri?" Tanya Ayra yang juga tak memanggil 'Mas' pada suaminya disaat bersama anak-anak.
"Sepertinya Qiya dan Mas sama. Sama-sama jatuh hati pada dokter Gede. Prinsip dua orang lelaki tadi berbeda. Papa lebih suka Gede. Dia papa lihat lelaki yang belajar dari hal-hal kecil dan Istikomah. Ia berdoa setelah adzan. Sungguh salah satu Sunnah yang sekarang kadang orang anggap sepele padahal yang sama. Sunnah juga. Kalau Hilman lebih fokus Sunnah itu puasa mungkin shalat Sunnah lainnya. Maka kebijaksanaan Gede tadi, caranya meraih hati papa dan keluarga mu. Membuat papa di 'Yes'." ucap Bram sambil membuat tanda 'Ok' melalui jari tangan kanannya.
Semuanya tergelak karena olah lelaki nomor satu di keluarganya. Ibrahim hanya tersenyum melihat kehangatan Bram pada anaknya.
"Sungguh sosok yang hangat dan berwibawa. Kenapa aku tak bisa berinteraksi seperti Papa jika aku betul putranya." Ucap Ibrahim dalam hatinya.
Bram tampak membuka ponselnya. Ia mengirim pesan pada putrinya yang duduk di hadapannya.
[Jangan di buka sekarang kalau tidak mau digoda Ammar. Rahasia. Spesial buat putri Papa.]
Pesan Bram langsung contang dua warna biru. Qiya melirik Papanya. Ia menahan ibu jarinya yang akan membuka pesan audio yang dikirim Bram ke ponselnya. Sedangkan Ayra menyenggol lengan Bram karena melihat sang suami berkirim pesan pada putrinya yang justru ada di dekatnya.
Bram mendekat ke Ayra.
"Ungkapan hati calon mantu mu untuk putri mu." Bisik Bram.
Ia merekam ucapan dan kalimat yang disampaikan Gede tadi ketika ditanya Bram.
Ayra tersenyum melihat putrinya.
__ADS_1
"Insyaallah Gede lelaki yang baik Qiy. Semoga kamu juga yang terbaik untuk Gede." Batin Ayra yang merasa bahagia. Tiga buah hatinya telah memilih tambatan hatinya. Tinggal lagi bagaimana mereka berjuang mengarungi biduk rumah tangga mereka.