
Dokter Gede pun menawarkan mengantarkan pulang. Cita tanpa meminta persetujuan dari Qiya langsung menjawab 'iya'. Maka malam itu mau tidak mau Qiya mengikuti kemauan temannya agar pulang diantara dokter Gede.
Di dalam mobil. Qiya lebih memilih duduk di kursi belakang. Ia duduk bersama Cita. Gede tak masalah. Bisa mengantarkan pulang perempuan yang ia kagumi sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia pun cukup senang. Ada kemajuan dari pendekatan yang ia lakukan. Hilman sudah dipastikan bukan saingannya. Karena Qiya sudah menyatakan sendiri bahwa dari sikapnya, dokter Iship itu tak menyukai Hilman. Maka sekarang tinggal dokter Gede menyatakan perasaannya.
Ia tak ingin langsung menemui orang tua Qiya. Ia khawatir di tolak karena gadis itu tidak memiliki rasa suka padanya. Malam itu ia bertekad ingin mengungkapkan rasa cintanya dan ingin menghalalkan hubungan mereka jika dokter Iship yang berada di bawah bimbingannya itu juga menyukai dirinya.
Selama di dalam mobil. Tiga orang dokter itu terlihat berbincang biasa saja. Cita makin heran dengan Qiya. Sahabatnya itu betul-betul bisa menyimpan rasa di hatinya. Ia bahkan ikut sesekali bercanda dengan Cita di hadapan dokter Gede. Padahal hatinya terasa tak karuan. Andai ia berada dalam pelukan seseorang mungkin orang tersebut bisa merasa detak jantung yang berdetak tak beraturan itu. Seolah di buru sesuatu.
"Ini sih Qiya beneran ga suka apa ma dokter Gede?" Ucap Cita dalam hatinya.
"Semoga malam ini cinta ku tak bertepuk sebelah tangan. Kalau dokter Qiya punya respon, aku akan langsung melamarnya. Aku tak ingin lagi buang-buang waktu dengan PDKT dan Pacaran." Ucap dokter Gede dalam hatinya.
Tiba di kontrakan Qiya dan Cita terdapat Alam yang lagi bermain gitar di teras rumah. Dokter Gede pun turun dari mobil, Cita yang tak pantang menyerah bak The Cupid yang membawa panah asmara untuk dua orang dokter itu. Ia menawarkan dokter Gede mampir dulu.
"Mampir dulu dok. Hujan loh dok, jalannya banyak lubang bahaya kalau memaksakan diri." Ucap Cita sambil tersenyum begitu lebar tampak menimbulkan gigi ratanya.
Alam pun mempersilahkan dokter Gede duduk di teras. Suasana hujan gerimis membuat dokter Gede pun menadahkan tangannya ke arah langit. Ia pun akhirnya duduk di teras tersebut. Qiya dan Cita pamit masuk ke dalam.
Tiba dikamar, maka sudah seperti Upin dan Ipin saja dua sahabat itu. Cita tersenyum sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya kearah Qiya. Putri Bramantyo itu berdiri di balik pintu dan melipat kedua tangannya. Ia menyipitkan kedua matanya.
"Ga serem Qiy..." Seloroh Cita sambil tersenyum saat ditatap Qiya.
__ADS_1
"Apaan si Cit. Nanti dokter Gede berharap dan mikir yang enggak-enggak." ucap Qiya sambil berlalu ke arah cermin di kamar mereka. Ia membuka jilbabnya. Dan mengganti dengan kerudung langsungan.
Tampak putri Ayra itu mengambil satu handuknya untuk ia bawa ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan akan membuatkan minum untuk dokter Gede.
"Ya elah. Ngarep juga ga papa Qiy. Secara seiman, sama-sama single, terus ni sama-sama pernah gagal ni-" ucapan Cita berhenti dengan ia menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Gagal apa? Gagal nikah? Tahu darimana? awas nanti kemakan hoaks." Ucap Qiya.
Baru gadis itu ingin keluar kamar. Tangannya berhenti memegangi daun pintu kamarnya, karena ucapan Cita.
"Sumber terpercaya. Ibu Ratih sendiri yang bilang. Udahlah Qiy. Dokter Gede suka sama kamu kan. Aku juga denger kok yang tadi di ucapkan dokter Gede di depan tuh si Rahwana." Ucap Cita cepat.
Qiya berbalik, ia sebenarnya malu karena Cita tahu apa yang diucapkan Dokter Gede tadi. Tetapi ia masih berusaha menyembunyikan perasaannya.
Kembali Qiya akan keluar kamar. Dan dibuat menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah sahabatnya diatas kasur sudah berakting bak Hanoman.
"Aku adalah Hanoman, yang membantu Rama mencari Dewi Sinta dari kebusukan Rahwana yang menculinya. Hahahaha....." Ucap Qiya yang mengangkat kedua tangannya masih lengkap dengan jas putih yang dikenakan.
"Hehehe...Udah, buruan tanggungjawab. Yang nyuruh dokter Gede mampir siapa. Buatin minum dulu. Aku kayaknya datang bulan ini Cit. Ga nyaman dari tadi." Ucap Qiya pada Cita yang masih berputar-putar diatas kasur sambil memperagakan seperti tokoh wayang orang dengan tokoh Hanoman.
Begitulah persahabatan mereka. Jika ada persahabatan pernah bertengkar, mereka nyaris tak pernah bertengkar. Justru mereka akan saling merindukan jika libur semester tiba. Jika bertengkar apa mereka adalah karena Cita yang suka mulai patah semangat dalam menggapai cita-citanya. Bahkan berkali-kali Qiya memberikan semangat pada sahabatnya itu bahwa orang yang akan sukses nanti bukan orang pintar. Tapi orang yang punya kemauan kuat untuk terus maju, belajar dan survive.
__ADS_1
Begitupun Cita, ia akan marah pada putri Ayra itu jika si Qiya akan diam saja ketika di hina, di fitnah teman-teman sewaktu kuliah. Atau putri Ayra itu akan menjauhi banyak lelaki tampan yang mendekati dirinya. Dimana bagi Cita, makhluk tuhan yang sempurna salah satunya pria tampan dan mapan.
Dua sahabat itu pun setelah membersihkan wajah mereka. Qiya pun cepat mencatat tanggal dan jam dirinya terkena haid di buku kecil miliknya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Tiba saat akan membawa air minum itu keluar. Cita sibuk menolak dengan berbagai alasan untuk membawa nampan minuman itu keluar. Ia akhirnya tersenyum bahagia saat Qiya membawa nampan yang berisi 4 cangkir teh ke arah teras.
Tiba di teras, Cita kembali berulah. Ia pun memikirkan cara agar si dokter tampan bisa punya waktu sama si cantik Qiya. Ide dokter berambut keriting itu pun kembali hadir. Ia ke kamar beralasan ingin mengambil ponsel. Dan tiba di kamar, gadis itu naik ke arah lampu kamarnya. Ia membuka lampu di kamarnya dan ia setengah pukulkan ke arah kasur agar lampu itu putus bohlamnya. Dan ia pasang kembali. Saat saklar ia nyalakan, lampu tak dapat hidup lagi karena bohlam telah putus sambungannya.
Ia keluar dan meminta Alam mengganti atau membeli bohlam baru. Ia berasalan tak bisa tidur jika tidak terang. Kedua bola mata Qiya sudah mendelik ke arah Cita. Dokter itu cepat menarik tangan Alam ketika Mata sahabatnya sudah mengarah ke arahnya.
"Biar, Alam dan saya saja dok yang ke warung. Kita pinjam mobil dokter saja. Dokter kan tamu. Masa' disuruh-suruh. Kita tinggal dulu ya." Ucap Cita sambil meraih kunci mobil dokter Gede dan menarik lengan Alam.
Ketua kelompok dokter Iship itu melongo tak percaya melihat apa yang Cita lakukan. Ia mengira Cita sama seperti Qiya yang nyaris tak pernah sembarangan berinteraksi dengan lelaki karena berjilbab. Ia tak tahu jika Cita satu keyakinan dengan dirinya.
Maka malam itu menjadi malam bersejarah untuk dua gadis yang bersahabat cukup lama.
Menit berganti menit, dua orang yang duduk di teras itu terlihat kikuk. Dokter Gede akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia pikir ini kesempatan yang paling baik. Ia menarik napas dalam. Ia masih menunduk, tak berani memandang Qiya yang sebenarnya juga menundukkan pandangannya. Dua hari yang sama-sama berdebar karena duduk berduaan walau di seberang rumah masih ada beberapa bapak-bapak main catur.
"Tentang... Yang saya ucapkan tadi di parkiran. Itu bukan karena hanya ingin membela dokter Qiya. Tapi saya memang menaruh hati dengan dokter Qiya.
." Ucap Gede.
__ADS_1
"..... " tangan Putri Ayra itu sudah basah karena nervous. Hal yang ia takutkan terjadi. Dotker Gede mengungkapkan perasaannya. Dan ia tak berani mengambil keputusan.
"Maafkan atas kelancangan saya karena sudah menyukai dokter dan maaf jika membuat dokter tidak nyaman. Saya bisa menunggu jawaban dokter. Saya siap menemui orang tua dokter jika memang dokter pun memiliki rasa yang sama." Ucap dotker Gede yang terlihat berkali-kali menghembuskan napasnya setelah menyelesaikan ucapannya.