
Hari ke empat Qiya menjalani seminar hampir bersama seluruh dokter yang diutus. Pagi itu putri Ayra menenangkan hatinya saat akan keluar dari hotel tempat ia menginap selama mengikuti seminar itu. Saat ia baru saja keluar, ia pun melihat dokter Gede di depan pintu lift. Ia mempercepat langkahnya. Saat pintu lift terbuka, ia dan dokter Gede juga dua orang dokter peserta seminar lainnya ikut masuk. Namun sebuah tangan menahan pintu lift itu untuk tertutup sehingga pintu lift itu kembali terbuka.
Qiya yang membalas chat dari Mamanya itu tak melihat sosok yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Qiy... Kita ketemu lagi.. Sepertinya kita betul-betul berjodoh. Allah seakan ingin kita bertemu kembali." Ucap Hilman pada Qiya.
Hilman sedang menghadiri kongres partainya di provinsi itu. Kemarin ia sebenarnya sudah bertemu Qiya. Seolah mereka berjodoh, kamar mereka pun bersebelahan. Qiya sebenarnya pagi tadi sudah khawatir jika akan bertemu Hilman. Ia kemarin ketika makan siang melihat Hilman di restoran hotel itu. Yang membuat dirinya tak memgerti ada rasa sakit saat mantan tunangannya itu makan siang hanya berdua dengan perempuan. Hilman memang tak melihat Qiya saat itu.
"Ayolah Qiy.... Hubungan kalian sudah berakhir. Kenapa pula kamu merasa insecure." Ucap Qiya dalam hatinya.
Hilman kembali menyapa mantan tunangan nya itu.
"Qiy.... " Panggil Hilman pada Qiya.
"Ya mas. Iya saya mendapat kesempatan ikut seminari ini." Jawab Qiya singkat. Ia tak ingin berbasa-basi hanya sekedar menanyakan kondisi Hilman. Ia pun menunduk.
Saat pintu lift terbuka, semua dokter keluar dari lift termasuk Qiya dan dokter Gede. Saat Putri Bramantyo itu melangkah keluar. Hilman pun ikut keluar.
Hilman merasa Qiya sedikiti lebih tak acuh pada dirinya. Senyum tipis dan jawaban seadanya yang diberikan oleh Qiya membuat Hilman menghadang langkah Qiya.
"Maaf mas, saya harus segera keruangan." Ucap Qiya.
"Qiy, aku harap kamu tidak menutup hati mu. Please, semua bisa kita mulai lagi. Aku harap kamu bisa memberikan aku kesempatan lagi. Kamu berbeda sekarang." Ucap Hilman.
Qiya mulai jengah. Ia memasukan kedua tangannya di kantung jas putihnya. Ia masih menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang menyembunyikan rasa sakitnya.
"Apakah ada kaca yang pecah bisa kembali utuh Mas? Sekalipun ia disatukan menggunakan lem terbaik, maka akan meninggalkan retak dan tak akan bisa enak d pakai untuk bercermin. Sesuatu yang telah di hancurkan. Akan sulit untuk di satukan terlebih lagi ia belum terikat. Sama seperti kita. Permisi." Saat Qiya melangkah ke sisi Hilman.
Lelaki yang tak pernah melihat perempuan bernama Shidqiya Nafisah itu terlihat dingin dan berbicara dengan nada dingin merasa sedih sehingga tangannya reflek menarik pergelangan tangannya.
"Qiy... plese..." Ucap Hilman.
Qiya melebarkan kedua pupik matanya. Ia kaget karena Hilman menarik tangannya.
"Lepaskan Mas..!" Ucap Qiya tak suka.
"Kenapa kamu berubah sekarang Qiy." Ucap Hilman menatap Qiya.
Dokter cantik itu pun membuang pandangan ke arah tangannya yang di genggam Hilman.
"Tolong mas. Aku tidak ingin ada fitnah. Lepaskan. Kita tak punya ikatan apapun!" Ucap Qiya sedikit kesal. Ia masih menahan rasa marahnya.
__ADS_1
"Lepaskan Dia!" Ucap seseorang dari arah belakang Hilman.
Hilman dan Qiya menoleh ke arah sumber suara.
"Apa anda tidak mendengarkan apa yang dokter Qiya katakan? Kalian tak punya hubungan apapun. Tak bisakah anda menghargai perasaan seseorang. Anda lelaki tetapi pengecut. Cinta itu tak memaksa, cinta itu tak menyakiti." Ucap dokter Gede sambil membuka kacamata nya dan ia simpan di dalam saku jas putihnya.
Hilman menatap dokter Gede tak senang.
"Maaf saya tidak ada hubungannya dengan anda! Saya butuh waktu berdua dengan Qiya." Ucap Hilman sambil menatap tak suka ke arah Dokter Gede.
"Maaf Bung. Saya rasa, Justru anda yang tak ada hubungannya. Kalau saya dan dokter Qiya jelas-jelas memiliki hubungan." Ucap dokter Gede sambil melepaskan genggaman tangan Hilman.
"Pergilah dokter. Jika memang kamu merasa tidak nyaman. Dan kamu bertanya tentang hubungan saya dan dokter Qiya. Saya lebih punya hubungan daripada anda." Ucap dokter Gede.
Hilman menatap Dokter Gede tak suka. Ia menatap dokter muda itu dari atas hingga ke bawah. Sedangkan Qiya melangkah beberapa langkah ke arah depan Hilman ia memegang pergelangan tangannya yang merah dan sedikit sakit.
"Terimakasih dok-" Saat Qiya belum selesai bicara.
Hilman yang merasa kesal terbawa beberapa masalah yang ia bahas semalam bersama teman satu partainya, kini ia yang mendengar ucapan dokter Gede, mengira jika lelaki itu menyukai Qiya atau mempunyai hubungan dengan mantan tunangan nya.
Merasa kesal. Ia mendaratkan sebuah pukulan di bibir dokter Gede.
"Astaghfirullah... Mas Hilman! Hentikan!" Qiya melangkah ke arah dokter Gede. Tangannya reflek menarik lengan baju dokter pembimbing nya itu.
"Maka jika kita tidak berjodoh mungkin salah satunya caramu dalam menyelesaikan masalah yang tak menggunakan kesabaranlah mas yang membuat jurang pemisah. Dan kamu terlalu memaksakan hidup atau takdir berjalan sesuai dengan yang kamu inginkan. Maaf mas, saya sangat kecewa dengan sikap Mas Hilman hari ini. Permisi." Entah lupa atau tidak sadar, Qiya berjalan meninggalkan Hilman sambil menarik pergelangan tangan lelaki itu yang terlapis jas putih.
Gerakan tubuhnya sebenarnya reflek. Hal itu sering di lakukan di kampus atau dimana pun dengan Cita. Ya, sahabatnya itu sering sekali merasa kesal dengan beberapa perempuan yang sering menertawakan dirinya atau membully ia karena rambut keritingnya. Dan saat emosi sahabat nya naik. Saat itulah Qiya akan menarik lengan atau pergelangan tangan Cita. Alam bawah sadar dokter cantik itu baru kembali on ketika berada hampir tepat di depan pintu di ruang seminar. Ia melepaskan tangannya dan mmbalik tubuhnya.
Ia menoleh kearah Dokter Gede. Lelaki itu justru jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena sudut bibirnya yang sedikit berdarah atau terasa sakit. Tetapi gerakan reflek Qiya dan kini wajah bersemu merah yang sedang menunduk itu membuat kedua netra dokter Gede terbuka sempurna.
"Em... maaf Dok... Saya reflek tadi. Dan... Terimakasih telah membantu saya. Maaf juga karena saya, dokter jadi sedikit terluka." Ucap Qiya menunduk malu. Namun dalam hati ia merutuki kebodohan nya yang menarik tangan dokter pembimbing nya walau terlapis baju dan jas yang di kenakan dokter Gede.
"Tidak apa-apa. Kita kemari bersama-sama atas nama rumah sakit. Maka sudah seharusnya saya juga bertanggungjawab atas kamu. Bukankah saya pembimbing kamu." Ucap Dokter Gede.
Ia menelan salivanya kasar.
"Ada apa dengan jantung ini. Apa aku menyukai gadis ini?" Ucap dokter Gede dalam hatinya.
"Mari kita masuk, sebentar lagi seminar akan di mulai." Ucap dokter Gede pada Qiya.
Qiya mengangguk pelan. Sebagai dosen yang praktek ia mundur satu langkah. Ia memberikan jalan pada dokter Gede sebagai pembimbing nya untuk masuk lebih dulu. Namun dokter Gede yang merasa saalh tingkah pun mempersilahkan Qiya untuk masuk lebih dulu.
__ADS_1
"Tidak. Kita di rumah sakit baru sebagai pembimbing dan adik tingkat. Disini kita rekan sejawat. Ladies first." Ucap dokter Gede sambil satu tangannya mempersilahkan Qiya.
Qiya pun menunduk pelan serta melangkah masuk.
"Terimakasih dok..." ucap Qiya pelan.
Saat duduk di kursi, Qiya membuka tas kecilnya yang selalu ada plaster. Itu karena temannya Cita yang biasa akan terluka atau ingin menutup jerawat nya membuat ia selalu menyiapkan benda tersebut. Gambar plester tersebut cukup unik. Ia bergambar bintang.
"Ini dok. silahkan di pakai kalau terasa sakit atau tak nyaman." Ucap Qiya seraya menyerahkan satu plester tersebut.
Dokter gede pun menggunakan ujung kukunya menahan plester tersebut membelah plesternya menjadi bagian kecil. Dan ia menundukkan kepalanya, ia bercermin melalui layar ponselnya. Sedangkan Qiya merasa aneh. Karena dokter Gede cukup menjaga dirinya. Jika lelaki lain mungkin akan menjadikan momen itu menjadi modus. Tetapi dokter Gede seolah menjaga jarak dan pandangannya.
Padahal Qiya tak tahu isi hati dokter pembimbingnya. Bukan karena menjaga pandangan tetapi lelaki yang baru mencoba bangkit dari keterpurukannya, tang gagal menikah satu tahun setengah yang lalu. Ia yang bisa bangkit karena mencoba mendekati diri dengan agamanya. Sehingga ada ketenangan. Namun saat ia mencoba menjadi muslim yang taat, ia justru bertemu Qiya di tempat kerja barunya.
"Aduh... kenapa jadi begini ya jantungku... Apa iya aku suka dokter ini." Ucap Dokter Gede.
Tempat seminar yang telah di atur oleh panitia, tempat duduk pun juga telah ditetapkan dan diberi nama masing-masing peserta setiap perwakilan ruma sakit akan duduk satu meja. Hal itu membuat dokter Gede pagi hingga menjelang siang merasa tak bisa konsentrasi. Jantungnya berdebar-debar. Bayangan wajah merona Qiya pagi tadi karena malu terus hadir di pelupuk mata sang dokter.
"Ya Allah.... Rasa apa ini.... " Ucap dokter Gede yang merasa tak tenang sambil melirik kearah Qiya.
Yang dilirik tak menyadarinya. Saat tiba cofee break. Dokter Qiya yang melihat hari ini dokter Gede sedikit tidak tenang dan fokus.
"Sakit ya dok?" Tanya Qiya.
"Hah? Ti-tidak kok." ucap dokter Gelagapan karena ketika ia melirik Qiya. Dokter cantik itu menoleh.
"Tapi dari tadi saya lihat dokter tidak fokus." Ucap Qiya sambil melirik buku catatan yang ia lihay selama beberapa hari lalu catatan dokter pembimbing nya akan penuh catatan.
"Oh... Saya sedang tidak enak badan memang. Kepala saya dari semalam sakit. Mungkin kelelahan." Kilah Dokter Gede.
Siang itu para dokter pun menuju lantai yang terdapat restoran. Saat dokter Gede berada di toilet. Ia kembali bertemu Hilman yang juga makan siang bersama beberapa teman-teman nya. Melihat dokter yang pagi tadi ikut campur. Ia berdiri dibelakang dokter yang sedang melamun itu. Ia menatap kaca sambil melihat pleaster di sudut bibirnya. Ia tak sadar diperhatikan oleh Hilman yang baru masuk.
"Wow.... Ada yang lagi falling in love rupanya." Ucap Hilman sambil mencuci tangan dan menatap doktee gede melalu kaca yang ada dihadapan mereka.
Dokter Gede tersadar dan menoleh. Hilman tersenyum mengejek. Ia melihat nama yang terpampang di jas dokter itu.
"Dengar, jangan mimpi bisa bersama Qiya. Saya lihat anda hanya dokter biasa. Anda tidak selevel untuk bersanding dengannya. Atau jangan-jangan anda hanya mengincar nama besar orang tuanya... Tidak-tidak atau jangan-jangan harta orang tuanya." Hilman memprovokasi dokter Gede.
Ia melihat sepatu, gesper yang dikenakan dokter Gede bukan barang bermerk seperti yang ia kenakan. Bahkan jam tangan yang melingkar di tangan kiri dokter Gede menjadi sorotan Hilman. Jam yag hanya berkisar di angka ratusan ribu.
Gede yang tadi belum sempat membalas pukulannya. Kini ia membalik tubuhnya ke arah Hilman. Sebagai lelaki harga dirinya jatuh dipukul di depan perempuan. Ia membuka jas putihnya. Ia letakkan di atas westafel.
__ADS_1
"Buuuuggghh... Buughhhh...."
"Dua pukulan itu untuk dua alasan. Pertama anda mempermalukan saya, anda pikir seorang dokter tak bisa berkelahi? Kedua Itu buat Dokter Qiya yang tangannya merah karena ulah mu tadi!" Ucap Dokter Gere sambil menarik dasi Hilman sehingga mereka saling tatap dalam jarak yang sangat dekat.