
Ayra baru pulang dari rumah sakit hampir waktu Shubuh. Ia meninggalkan Qiya dan Gede dirumah sakit. Pagi ini ia harus menghadiri satu acara di ponpes Kali Bening. Sebelum Shubuh ia sudah bertolak kerumahnya bersama Bram.
Bram mematikan AC yang ada di mobil. Ia tahu Ayra merasa sedikit dingin karena tak mengenakan sweater atau jaket yang biasa ia bawa.
"Mas, sudah beri kabar pada Ammar dan Ibrahim?" Tanya Ayra.
"Belum Ay. Nanti saja. Kasihan Ibrahim, dia masih harus mengatur waktu untuk anaknya dan juga di pondok. Umi sekarang lebih banyak hanya menyimak bacaan para santri. Ibrahim kemarin sempat telpon Mas." Ucap Bram sambil tetap fokus menatap mobil.
"Perasaan ku tidak tenang dari semalam Mas...," Ucap Ayra sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bram.
"Aku seperti rindu dengan Ammar." Ucap Ayra spontan mengungkapkan isi hatinya.
"Baru juga berapa hari dia di rumah mertuanya Ay.." Ucap Bram sambil melirik spion di atas kepalanya.
"Mungkin karena dia satu-satunya yang tidak mondok ya mas... jadi rasa ada yang kurang kalau lama tak jumpa dengan Ammar. Beruntung Arumi mau untuk tetap tinggal bersama kita. Dan Pak Subroto mengizinkan dia tetap bersama kita." Ucap Ayra pelan.
Saat tiba dirumah. Ayra pun bergegas meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan bubur untuk ia bawa ke rumah sakit, juga sarapan untuk dirinya.
Ia membersihkan tubuhnya untuk shalat Shubuh. Namun saat Ayra di kamar mandi, ponselnya kembali berdering. Bram melihat panggilan dari Ammar.
"Assalamualaikum, Nak." Ucap Bram.
"....." Tenggorokan Ammar tercekat. Ia tak mampu mengatakan sesuatu.
Ia betul-betul ingin mengatakan sesuatu.
"Am...." Tanya Bram lagi.
"Walaikumsalam. Pa. Pa, Mama belum buka pesan ku Pa?" Tanya Ammar.
__ADS_1
"Mama dan Papa baru pulang dari rumah sakit. Semalam Qiya sedang tak sehat nak. Dia muntah-muntah terus. Tubuhnya juga sangat lemah. Bagaimana Arumi ? dia baik-baik saja?" Tanya Bram yang tahu bawa menantunya juga masih hamil muda dan mengalami hal yang sama.
Bahkan Arumi tergolong mirip saat Ayra hamil Ibrahim. Ia akan sangat merasa berat di pagi hari. Berbeda dengan putrinya Qiya.
"Pa.... Ammar di Australia sekarang.Arumi kemarin di patuk Ular. Sekarang masih belum sadar." Ucap Ammar senang suara parau nya.
"Innalilahi... Maafkan papa dan Mam,Am. Semalam kami tidak ada yang membawa ponsel." Ucap Bram pelan.
Ayra yang baru keluar dari kamar mandi menatap Bram saat mendengar kalimat Istirja diucapkan oleh suaminya.
"Ada apa Mas? Siapa yang mendapatkan musibah?" Tanya Ayra sambil memegang erat Bathrobe nya.
Bram menyerahkan ponsel ke Ayra.
"Am. Bicaralah pada Mama mu." Ucap Bram seraya menyerahkan ponsel Ayra pada istrinya.
Ayra menerima ponsel tersebut dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Ma...."Ucap Ammar pelan. Airmata putra Ayra itu sudah kembali membasahi kedua pipinya.
"Ammar mohon maaf jika selama ini ada sikap dan perkataan Ammar yang menyakiti Mama... Hhhhh... Begitupun dengan Arumi Ma... Arumi Ma... Arumi..." Ucap Ammar terhenti.
Ia begitu khawatir kalau-kalau setiap cobaan yang datang padanya karena buruknya hubungan dirinya dengan ibunya atau hubungan istrinya dengan mertua.
"Ada apa dengan Arumi Ar?" Tanya Ayra.
Ammar menceritakan apa yang terjadi dengan istrinya.
"Mama selalu ridho padamu dan rumah tangga mu Am. Mana ada ibu yang mendoakan anaknya tak bahagia. Mama mendoakan untuk kesembuhan Arumi. Kamu jangan lupa berdoa... Dan coba berzakat atau bersedekah Nak... Mungkin selama ini kamu terlalu fokus dengan kebahagiaan mu sendiri, atau rumah tangga mu sendiri, Nak. Mbah Kung dulu pernah Dawuh, ketika kita niat di dunia ini mencari rezeki untuk membantu saudara kita, maka Allah akan mencukupi rezeki kita karena niat kita untuk orang banyak."
Ayra berjalan masih dengan menempelkan ponsel di telinganya. Ia pun melanjutkan kembali apa yang bisa ia sarankan pada anaknya.
__ADS_1
"Karena ketika kita memikirkan urusan orang, maka urusan mu akan Allah selesaikan. Semua kesedihan kita, kesumpekan kita sendiri, karena kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Coba pikirkan kebahagiaan orang lain, Nak. Mudahkan urusan mereka. Biar Allah yang menyelesaikan masalah kita.Sibukkan diri kita untuk orang lain, sehingga kita dipermudah urusan kita oleh Allah." Ucap Ayra.
Ia bisa mengamati anak sulungnya semenjak menikah hanya sibuk bekerja dan dirumah, ia sibuk hanya dengan mengurus rumah tangganya. Hanya sibuk untuk membahagiakan dirinya sendiri. Dimana sebenarnya banyaknya waktu yang tak terpakai untuk melakukan kemanfaatan baik mencari ilmu atau menjadi orang yang bermanfaat namun tak dimanfaatkan sang anak untuk hal itu. Ayra selama ini mengalami sendiri bagaimana ia begitu sibuknya dengan perusahaan, organisasi dan komunitasnya.
Bahkan saat ia muda dulu dimasa anak-anaknya kecil, ia begitu sibuk dengan komunitasnya untuk memberikan kemanfaatan pada teman, organisasi, keluarga. Sehingga hampir tidak ada masalah yang ia dapatkan karena ia selalu mengurusi masalah orang lain, maka setiap masalah yang datang padanya, Allah Lah yang menyelesaikan permasalahannya.
Ammar termenung di depan lobby sambil menunggu dokter yang ingin ia temui datang. Ia yang baru pulang dari apartemen. Ia baru saja mandi dan mengganti pakaiannya. Ammar merenungi apa yang di ucapkan sang ibu pagi tadi. Namun lamunannya terganggu karena mendengar satu perempuan menangis di sisinya.
Wanita itu tampak menangis di pelukan suaminya. Ia terlihat begitu sedih. Lelaki berkumis itu tampak menenangkan istrinya.
"Sabarlah, aku sudah minta Mita menjual rumah juka kendaraan kita. Kita akan tetap melakukan operasi itu walau ini adalah harta terakhir yang kita jual." Ucap lelaki itu tampak tegar.
"Andai tulang sumsum mu cocok Mas... anak kita pasti sudah di operasi hari ini." Ucap perempuan itu.
Ammar yang melihat sepasang suami istri itu memiliki masalah, ia pun mendengarkan dengan seksama. Karena posisi mereka hanya duduk bersebelahan.
"Apa hendak di kata Bu, tulang sumsum bapak tidak cocok. Padahal orang tua pasien tersebut sanggup membiayai putri kita sampai ia sehat." Ucap lelaki tersebut.
Ammar pun melihat sepasang suami istri pergi. Mereka meninggalkan satu amplop dimana hasil dari pemeriksaan tulang sumsum belakang yang tak lain ingin mereka donorkan untuk Hilman. Ammar tak tahu jika pasien yang membutuhkan donor tulang sumsum belakang itu adalah Hilman. Kedua netra Ammar tertuju pada isi amplop tersebut.
"Bismilah... Hamba akan coba mudahkan urusan hamba mu yang lain Rabb... Hamba pasrahkan untuk kesembuhan istri hamba. Hamba yakin, semua yang terjadi diatas bumi ini adalah atas kehendak mu. Bahkan sebutir debu yang jatuh ke bumi ini pun atas izin mu. Maka hamba mohon kesembuhan untuk istri ku rabb..." Ammar menahan air matanya. Ia bergegas ke arah perawat yang tampak tadi berbicara pada sepasang suami istri tadi.
Ammar tampak mengeluarkan kartu debitnya. Ia memencet nominal dan pin yang diminta perawat tersebut. Ya, Ammar sedang memudahkan urusan orang lain, ia menyerahkan urusan kesembuhan istrinya dengan Allah. Hari ini penyuntikan anti bisa pada Arumi, namun dokter belum bisa memastikan apakah akan cocok atau ada efek lain yang ditimbulkan. Tidak hanya menanggung biaya operasi untuk anak sepasang suami istri itu. Ammar juga memeriksakan kecocokan sumsum tulang belakangnya kepada pasien yang kabarnya juga dari indonesia, Yang membutuhkan pendonor.
"Bismilah... Saya pasrah Rabb... Semua tak niatkan untuk mempermudah urusan orang lain, sekalipun memang kesembuhan belum untuk istri hamba.... Mas sayang kamu Ar... Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan kebahagiaan kita saja Ar... Semoga Allah mempermudah urusan kita Ar..." Ucap Ammar yang telah siap menjalani pemeriksaan.
Ia bahkan meminta perawat tersebut merahasiakan identitasnya jika memang tulang sumsum tersebut cocok.
Bersambung....
{Sabar ya,nanti kita buat PAk Rendra termehek-mehek di depan Ayra....}
__ADS_1