Pesona The Twins

Pesona The Twins
141 Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Ammar duduk menatap amplop yang ia pegang. Sudah empat hari pasca di suntikkan anti bisa pada Arumi, namun sang istri masih belum sadarkan diri. Bahkan pagi tadi, istri Ammar itu tampak masih mengeluarkan busa dari mulutnya. Ammar masih mendengarkan beberapa hal yang disampaikan oleh dokter yang memberikan hasil pemeriksaan tulang sumsum belakang Ammar untuk pasien yang sudah berapa bulan terbaring koma.


“Beruntung pasien tersebut orang beruang, jika tidak. Mungkin saat ini ia tak bisa masih menanti pendonornya. Hari ini anda satu persen dari 100 persen orang yang memiliki kecocokan dengan pasien. Anda bisa menandatani semua surat-surat untuk proses trasnplantasi tulang sumsum belakang untuk pasien kami. Kami akan merahasiakan identitas anda.” Ucap dokter yang juga kelahiran Indonesia itu. Dokter tersebut terus saja memandang Ammar dengan rasa kagum.


Ammar tiba-tiba teringat dengan sepasang suami istri yang beberapa hari lalu menangis tersedu. Ia tahu bahwa anak mereka telah melakukan operasi.


“Maaf, bisakah anda mengatakan saja bahwa yang mendonorkan tulang sumsum belakang ini adalah pasien yang beberapa waktu lalu juga memeriksakan kondisi anaknya yang menanti operasi?” Tanya Ammar.


Dokter tersebut menyunggingkan senyum. Ia membuka kacamatanya. Ia meletakkan kacamata tersebut diatas meja.


“Saya begitu kagum dengan anda Mas Ammar. Ternyata betul yang Kakek saya katakan jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika ia jatuh jauh dari pohonnya maka jangan salahkan pohon atau akarnya atau malah menyalahkan gravitasi yang tak menariknya jatuh ke bawah. Dan untuk anda sebagai cucu dari Kyai Rohim juga putra Bu Ayra, maka anda bisa dikatakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Gravitasi Pesona Kakek dan Ibu anda betul-betul menurunkan Pesonanya pada anda Mas Ammar.” Ucap dokter tersebut.


Ammar seketika menatap lelaki itu. Dari wajah, lelaki itu jelas asli orang Indonesia. Bahkan Bahasa pun ia begitu lancar. Tetapi yang membuat Ammar bingung darimana dokter itu tahu namanya, bahkan Mbah Kung nya serta Mamanya.


“Siapa anda? Darimana anda tahu nama kakek dan Mama saya?” Tanya Ammar yang terlihat satu alisnya terangkat.


“Saya sudah lama sekali ingin bisa mengobrol dengan keturunan Kyai Rohim. Dan hari ini sepertinya Allah mendengar permohonan saya.” Ucap dokter tersebut yang memiliki rambut ikal.


Ammar mengelap ujung hidungnya dengan tisu, sudah berapa hari ini ia mengalami flu. Namun karena kondisi sang istri yang masih koma. Ia mengabaikan rasa sakit dihidung dan kepala yang sakit. Ia Kembali memandangi lelaki yang menggunakan jas putih di depannya, ia lihat nama di bed name dokter yang berkulit sawo matang tersebut.


“Dokter Aditya… Saya seperti tak asing dengan nama anda.” Ucap Ammar.

__ADS_1


Dokter tersebut tersenyum. Ia pun menceritakan bahwa ia adalah salah satu cucu dari sahabat Kyai Rohim. Ia sebenarnya hadir ketika di acara ngunduh mantu saat Ammar menikah. Namun karena banyak nya tamu, membuat ia tak bisa langsung berkenalan dengan Ammar. Akan tetapi Pak Ahmad Anwar alias Mukidi begitu sering menceritakan masa-masa mudanya bersama kakek Ammar itu.


Bahkan sosok Ayra yang juga kadang sering diikuti oleh istrinya di medsos,hal itu membuat dokter Adit merasa sangat senang bisa berjumpa dan mengobrol langsung dengan salah satu anak dari Ayra Khairunisa. Ia begitu berharap bisa duduk atau mengobrol dengan keturunan dari Kyai Rohim.


“Mbah Kung betul-betul hidup di hati para sahabatnya dan jamaahnya. Bahkan aku yang cucunya pun kadang ikut merasakan indahnya hasil perjuangan beliau. Padahal beliau sudah tiada di dunia ini. Tapi beliau selalu ada dihati banyak orang.” Ucap Ammar terharu.


“Anda tahu Mas Ammar, saya bahkan masih mengingat cerita atau kisah yang kakek anda ceritakan pada ku terakhir kali aku bertemu beliau saat aku akan pergi ke Ibukota untuk mondok.” kenang dokter Adit.


Ammar pun penasaran, kisah apakah itu. Ternyata dahulu kakeknya alias Kyai Rohim pernha menceritakan pada dokter Aditya saat ia berusia kurang lebih 8 tahun. Dimana kisah seekor ular yang menunggu selama ribuan tahun di Gua Tsur hanya untuk bertemu dan ingin memandang wajah Rasulullah.


“Aku sangat menghayati kisah itu Mas Ammar. Bagaimana cintanya sahabat Abu Bakar pada Rasullulah dan kerinduan seekor ular pada Rasulullah, bahkan alangkah beruntungnya ular tersebut. Ia bisa bertemu bahkan memandang wajah yang terkasih, manusia yang paling mulia di muka bumi ini.” Ucap dokter Adit penuh haru.


Ammar juga tahu kisah itu, bagaimana besar rasa cinta Sayidina Abu Bakar ra. Pada Rasulullah. Ia yang mendapatkan tugas berjaga lebih dulu kala di dalam gua Tsur, Rasulullah tertidur di pangkuannya. Sayidina begitu mencintai Rasulullah. Sangking cintanya beliau pada Nabi terakhir yang diutus Allah tersebut. Ia yang melihat seekor ular yang keluar dari sela-sela lubang yang berada di dekat kakinya.


Hingga saat dimana Sayidina Abu Bakar sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit tersebut. Ia menitikkan airmata, dan airmata tersebut jatuh menbasahi pipi Rasululah yang tengah berbaring. Akhirnya Rasulullah terbangun. Dan melihat Sayidina Abu Bakar menangis, Rasul bertanya apakah Sayidina Abu Bakar menyesal mengikuti perjalanan tersebut. Sayidina Abu Bakar menjawab tidak. Sayidina Abu Bakar menceritakan jika ia baru sjaa di gigit ular dan ia menangis karena menahan sakitnya akibat bisa ular yang telah menyebar ke tubuhnya.


“Ya, aku pun begitu merinding kala Rasulullah bersabda bahwa 'Wahai Ualar tahukah kamu? Jangankan daging atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram kamu makan.'” Ucap Ammar cepat, kala dokter Aditya menceritakan sabda Rasulullah.


Namun ternyata Ular tersebut pun memberikan penjelasan kenapa hinga ia mengigit sahabat Rasulullah tersebut. Ternyata ular tersebut sudah menunggu kedatangan Rasulullah di gua itu ribuan tahun lamanya. Karena satu firman Allah.Dan ular tersebut berdoa agar bisa bertemu dan memandang wajah kekasih Allah tersebut. Dan ular tersebut pun menunggu di dalam gua Tsur tersebut sesuai firman Allah. Kerinduan yang begitu besar, penantian ribuan tahun yang kemudian terkabul, namun ular tersebut merasa terganggu dengan kaki sayidina Abu bakar, sehingga ia mengiggit kaki sahabat Rasulullah tersebtu,


“Satu kerinduan yang begitu besar dari seekor ular untuk kekasih Allah yaitu baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam . Begitupun cinta dari sahabat yang begitu besar, tak terbayang, menahan rasa sakitnya bisa ular demi menjaga agar Rasulullah tak terganggu… Ah, apakah cinta kita sebesar itu untuk Rasulullah.” Ucap dokter Aditiya sambil menahan air matanya.

__ADS_1


Kisah yang selalu mampu membuat cucu Mukidi itu menitikkan air mata karena iri pada seekor ular yang memiliki kerinduan begitu besar pada Rasulullah. Ia sendiri kadang kesulitan untuk merasakan saat getaran cinta pada pembawa risalah tersebut.


“Tetapi kita sebagai umat Rasulullah juga tak boleh putus asa. Karena Mbah Kung tahu dawuh, jika salah satu keistimewaan umatnya Rasulullah yaitu jika mereka melakukan kesalahan dan dosa, saat itu pula Allah akan mengampuninya jika ia melakukan taubat nasuha.” Ucap Ammar yang juga mengenang apa yang pernah di dawuh kan sang kakek pada ibunya dan di ceritakan sang ibu.


Ammar tahu dari kisah bahwa pada zaman Bani Israil, jika ingin bertaubat akan kesalahan atau dosa. Maka seseorang harus pergi ke tempat yang jauh dan mengasingkan diri, dan juga kadang ada yang harus membunuh. Sungguh beruntung kita yang menjadi Umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.


Sebelum Ammar menandatangani surat-surat tersebut. Ammar menghubungi Ayra, ia dari dulu selalu meminta doa atau memberi tahu ibunya. Apalagi menyangkut operasi dimana kondisi istri nya juga masih koma. Ammar masih menghubungi Ayra.


"Nanti saja Am. Mama dan Papa sudah mau menuju Bandara. Kita akan berbicara nanti kalau mama dan papa sudah tiba di Australia ya Nak." Ucap Ayra vya sambungan telepon.


Qiya yang sudah diperbolehkan pulang. Membuat Ibu tiga orang anak itu tak bisa menahan diri untuk tidak terbang ke Australia. Ia ingin melihat kondisi menantu dan belum bisa melihat kondisi sang menantu. Putra sulung justru memberikan kabar yang membuat Ayra dan Bram tak bisa memberikan restu sebelum berbicara secara langsung.


"Betul Ay. Apalagi operasi. Anak itu... Aku tidak ingin kejadian Ibrahim saat masuk intelejen hanya karena keinginannya justru mengabaikan hal buruk yang mungkin terjadi." ucap Bram sambil menggandeng Ayra.


Sedangkan Alan sang asisten Pribadi berjalan di belakang Bram dan Ayra. Ia harus ikut serta kesana karena permintaan sang bos.


Dan diwaktu yang sama, kabar bahwa telah di dapatkan pendonor untuk Hilman telah sampai di kedua orang tua Hilman.


“Alhamdulilah….. Alhamdulilah ya Allah…. Terima kasih dok. Kapan akan dilakukan operasinya?” Ucap Ibu Hilman tersebut.


“Kita tunggu pasien siap karena beliau masih belum menyerahkan administrasi yang kami serahkan tadi bu.” Ucap dokter Adit yang juga ikut bahagia.

__ADS_1


“Apakah Mas Ammar tetap akan mendonorkan tulang sumsumnya saat ia tahu kalau yang menjadi penerima adalah lelaki yang membatalkan pernikahan dengan adiknya? Ah, biarlah Dit. Toh tadi Mas Ammar tampak tak ingin diketahui identitasnya, juga tak ingin tahu penerimanya.” UCap dokter Adit yang juga tahu kisah anak Pak Rendra yang batal menikahi Qiya. Berit aitu sempat viral dan menjadi berita mengagetkan kakeknya kala itu.


(Selamat hari senin para Readers, mohon untuk beri votenya setiap hari senin ya. Jangan Lupa Tanggal 30 Januari 2023 aku akan beri hadiah kecil untuk Top 10 Fans. Jadi buruan berikan kopi, gift dan vote juga komentar nya yang banyak agar kalian masuk 10 besar sampai tanggal yang sudah ditentukan. Oya untuk Instagram ku, follow saja @sebutirdebu930. Buat yang masih setia, terima kasih untuk semua support dan doa kalian)


__ADS_2