Pesona The Twins

Pesona The Twins
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia


__ADS_3

"Oak, oak, oak…”


Ayra yang masih terlelap di dalam dekapan Bram. ia dikagetkan dengan suara gagak hitam dari luar flat. Ayra tersenyum kala ia mengingat bahwa semalam ia tiba di Melbourne. Dan suara gagak hitam tersebut seperti suara Kokok ayam bagi Ayra. Ayra beringsut dari tempat tidur nya dan melihat jam hampir memasuki waktu Shubuh waktu Australia. Ia pun membuka tirai di kamar tersebut, tampak banyak burung-burung bertengger di pilar-pilar bangunan.


Ayra menuju kamar mandi, ia membersihkan diri. Dan saat ia selesai membangunkan Bram. Suami istri itu pun melanjutkan ibadah Shalat Shubuh bersama. Tentu saja setelah Bram selesai mandi.


"Mas mau sarapan apa? Sekalian aku masak untuk Ammar dan Pak Subroto." Ucap Ayra seraya merapikan rambutnya.


"Memangnya ada bahan makanan disini Ay?" Tanya Bram.


Karena ketika mereka akan menyewa hotel, Pak Subroto dan Bu Melisa serta Ammar meminta mereka menginap di apartemen Arumi. Bram yang memang melihat kondisi Ayra kurang tidur dan istirahat beberapa hari itu. Ia pun akhirnya menerima tawaran untuk menginap di apartemen Arumi. Karena jarak tempuh dari apartment ke rumah sakit tersebut bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.


"Bu Melisa mengatakan ada Mas. Ayra ke dapur ya. Mas mau ngopi dimana?" Tanya Ayra.


"Di dapur saja. Nanti mas menyusul. Mas mau telepon Alan dulu." Ucap Bram sambil duduk di sofa dan menatap layar ponselnya.


Ayra pun bergegas ke dapur apartemen yang cukup sederhana bagi Bram dan Ayra. Namun yang membuat Ayra nyaman, semua tertata rapih. Ayra menatap banyak benda olahraga di ruangan yang terdapat di sebelah ruang makan. Ruang yang hanya tersekat oleh bilik ukiran batik.


Ayra bahkan sempat berhenti sejenak diruangan tersebut. Ia bahkan menatapi satu persatu alat olahraga tersebut. Dari dumbell yang tampak bermacam-macam beratnya,matras berwarna hitam, Gym ball, sepeda statis,Treadmill, dan terdapat juga Pull up yang merupakan alat olahraga yang diminati bagi mereka yang ingin membentuk otot-otot tubuh. Dan satu alat yang tertempel di dinding serta benda seperti bantal yang tergantung membuat Ayra menatap benda itu dengan menaikan dua alisnya heran, samsak tinju.


Benda itu tentu saja membuat Ayra penasaran. Karena biasanya itu digunakan untuk para lelaki. Karena Ayra bukan pecinta olahraga. Ia tak tahu jika samsak tinju bukan hanya untuk lelaki. Namun benda itu digunakan Arumi ketika berada di apartemen tersebut untuk berolahraga agar tetap terjaga kebugarannya.

__ADS_1


"Apakah semua benda ini milik Arumi? Wajar tapi otot lengannya juga terlihat begitu kencang saat itu." Ucap Ayra seraya berlalu ke arah dapur. Ia pernah melihat Arumi mengenakan pakaian yang berlengan pendek saat di kamarnya.


Ayra pun melihat isi dalam lemari pendingin memang betul banyak bahan makanan. Ia memasak sendiri menu yang akan ia bawa ke rumah sakit dan untuk mereka sarapan pagi itu.


Namun sebuah bel berbunyi. Ayra yang akan ke arah depan, ia menghentikan langkahnya. Bram mengangkat satu tangan dan bergegas ke arah depan. Ternyata Ammar yang datang. Ia sengaja ke Apartemen. Ia ingin berdiskusi tentang rencananya. Ia tak ingin melakukan apapun tanpa berbicara pada orang tuanya. Bahkan saat ia pernah akan membuat restoran. Ia berbicara pada Ayra dan Bram. Bukan untuk meminta suntikan modal, tetapi meminta doa dan juga mengajak orang tuanya berbicara. Ia tak ingin orang tuanya tahu apa yang ia rencanakan, yang ia lakukan dari orang lain bukan dirinya sendiri.


"Ngopi Nak?" Tanya Ayra.


"Ammar bikin sendiri saja Ma." Ucap Ammar yang tak ingin merepotkan Ayra. Ia melihat ibunya masih sibuk dengan pisau dan beberapa sayur juga daging yang akan di masak.


Ammar pun berdiri di depan kompor untuk membuat kopi.


"Bagaimana kondisi Arumi Nak?" Tanya Ayra seraya menoleh ke arah Ammar yang sedang menyendok kan kopi ke dalam cangkirnya.


"Bersabarlah Am.. Mungkin Allah ingin anak Mama ini bisa menghadirkan Allah dalam rumah tangganya. Yang memberikan kebahagiaan itu bukan pasangan tapi Allah. Maka jangan bersedih jika sedang tertimpa musibah. Jadikan semangat untuk beribadah." Ucap Ayra.


Ammar pun duduk di sisi Bram. Saat Ayra selesai masak dan menyiapkan beberapa menu untuk ia bawa ke rumah sakit. Ia meminta Ammar mengatakan perihal masalah donor tulang sumsum belakangnya.


"Am. Kamu sudah pikirkan matang-matang tentang keputusan mu Nak? Apakah tak akan ada dampak negatifnya?" Tanya Bram pada Ammar.


"Insyaallah Ammar sudah yakin dengan keputusan Ammar Pa. Toh kemarin dokter mengatakan jika pengambilan sumsum tulang belakang hanya sedikit dan tidak menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh pendonor." Ucap Ammar sambil menyeruput kopinya.

__ADS_1


Ammar pun kembali melanjutkan penjelasannya. Ia ingin meyakinkan orang tuanya. Bahwa keputusan nya untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya sudah benar dan berdasarkan rasa simpati dan empati pada pasien yang ternyata anak tunggal.


"Menurut dokter, kondisi pasien cukup memprihatinkan, Ma, Pa. Dia sudah menjalankan pengobatan kemoterapi. Dan membutuhkan pengobatan dengan cara cangkok sumsum tulang belakang menjadi pilihan untuk pengobatan terakhir. Orang tua pasien hanya memiliki satu anak itu." Ucap Ammar yang tahu kisah pasien dari cerita sepasang suami istri tersebut.


"Lali bagaimana jika kamu harus operasi sedang Arumi masih belum sadar. Apakah tidak tunggu kondisi Arumi Nak..." Ucap Ayra khawatir.


"Ma.... dokter bilang nanti setelah proses pencangkokan sumsum tulang belakang akan selalu di pantau dokter kok Ma. Dan cuma membutuhkan pemulihan paling lama satu bulan Ma." Ucap Ammar lagi.


"Baiklah. Lakukan jika semua itu sudah kamu pertimbangkan. Bagaiamana dengan Pak Subroto dan Bu Melisa?" Tanya Ayra.


Ammar mengatakan jika kedua mertuanya sudah ia ajak bicara. Mereka justru merasa tak percaya jika sang menantu malah melakukan hal itu disaat Arumi sedang koma.


Maka Ammar pun menandatangani surat-surat tersebut. Ia menyerahkan ke dokter Adit. Keesokan harinya. Pak Rendra merasa senang. Ia menemui lelaki yang dikatakan akan mendonorkan tulang sumsum belakangnya. Namun betapa kagetnya dia ketika lelaki itu justru menangis sambil menyerahkan uang yang akan diberikan pak Rendra padanya.


"Maafkan saya pak. Istri saya tidak mau menerimanya... ada orang lain yang ingin identitas nya di rahasiakan." Ucap lelaki itu seraya menangis.


Pak Rendra begitu penasaran. Bagaimana mungkin ada orang yang dengan sukarela mendonorkan sumsum tulang belakang disaat ia menawarkan hadiah uang dengan nominal menggiurkan. Ia pun meminta salah seorang asisten nya untuk mencari tahu informasi itu. Ia ingin berterimakasih karena Pak Rendra betul-betul bahagia karena Hilman bisa di tolong dengan operasi transplantasi sumsum tulang belakang.


"Baik. Aku tunggu. Kabarnya dia orang Indonesia. Beri kabar secepatnya." Ucap Pak Rendra melalui sambungan telepon.


Hari berganti hari, Ammar pun telah dinyatakan siap menjalani operasi tersebut. Dan seketika terjadi keributan kala Ammar akan memasuki ruang operasi tersebut.

__ADS_1


"Tidak. Operasi ini tidak boleh dilanjutkan. Saya tidak setuju!"


__ADS_2