Pesona The Twins

Pesona The Twins
23 Qiya dan rasa dihatinya


__ADS_3

Cita yang menemani Qiya dari sore melihat jika temannya menggerakkan jari tangannya. Ia cepat menghampiri Qiya yang sedang mengangkat tangannya.


"Akhirnya sadar juga kamu Qiy... " Ucap Cita sambil menggenggam tangan tangan sahabat nya.


Qiya pun merasakan tenggorokan nya sakit dan kering. Kepalanya pun cukup sakit.


"Aku kenapa Cit?" Tanya Qiya dengan suara parau.


Cita pun mengambil segelas air putih dengan satu sedotan. Ia mengarahkan gelas itu ke arah Qiya. Dan ia juga membantu sahabat nya untuk bangun dari tempat tidurnya. Qiya bersandar pada bantal yang diberikan Cita pada punggung nya.


"Kamu digigit Ular. Kamu ngapain bisa digigit ular sih Qiy? Untung warga sekitar cepat menyelamatkan kamu. Kalau tidak? Aku bisa kehilangan kamu. Dan Aku mau bilang apa sama Mama mu." Ucap Cita sambil terus berkata tanpa ia pikir bahwa yang diajak bicara justru pikirannya mengingat kembali kejadian sebelum ia di gigit ular.


"Hhhh... apa aku hanya salah sangka? Tapi semua bukti sudah jelas." Batin Qiya masih mencoba mencari jawaban dari apa yang ia lihat dan ia asumsikan. Ia berharap apa yang ia lihat dan dengar dari perawat bahwa Nur adalah istri simpanan pengusaha di kota adalah salah bukan Bram. Namun bukti dan juga ia melihat jika lelaki kemarin betul ayahnya. Ia selalu berharap akan mendapatkan suami yang sama setia dan penuh tanggungjawab seperti Bram. Seketika ia ingat memori-memori indah bersama Bram.


Saat itu ia masih duduk di bangku SMP. Karena lagi libur sekolah dan pondok, ia pun pulang kerumah.


Flashback On.


Pagi itu Ayra tampak sedang terburu-buru untuk pergi ke kantornya. Ia sudah hampir dua tahun terpilih menjadi wakil walikota. Namun pagi ini ia seolah di kejar waktu karena tak biasanya istri Bram itu sedikit tergesa-gesa. Bahkan Qiya dan Ammar hanya menggelengkan kepala mereka ketika sang ibu yang sedang hamil anak ke empat sedang mencoba membawa banyak berkas.


"Mama... Apakah ada rapat?" Tanya Ammar membantu membawa satu map berwarna hitam cukup besar. Ayra pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Bram pun mengantarkan istrinya ke kantor tempat ia bertugas. Saat ia mengatakan nanti akan menjemput setelah waktu istrinya pulang. Sang istri pun mengangguk pelan. Namun saat siang hari, Bram sedikit bingung karena sudah menjadi kebiasaan mereka untuk saling menelpon untuk mengingatkan waktu makan siang. Suara Ayra terdengar sedikit aneh. Bram begitu mencintai istrinya. Maka ia bisa tahu cukup dengan mendengar suara sang istri.

__ADS_1


Akhirnya ia memutuskan untuk menjemput istrinya pulang lebih cepat. Ia menjemput Ayra lebih awal dari biasanya. Saat ia yang bingung mencari parkir di sekitar kantor walikota namun tak ia temukan. Ia pun akhirnya menelpon istrinya dan mengatakan jika ia dalam perjalanan ke kantornya.


Ayra pun memutuskan untuk pergi keluar. Beberapa ajudan yang biasa menemani dirinya ketika akan kemana-mana melakukan perjalanan dinas mengikuti nya. Ia pun mengatakan tak perlu diantar karena suaminya sudah ada di depan kantor. Maka beberapa lelaki dan perempuan yang biasa menemani Ayra selama mengemban tugas sebagai wakil walikota itu harus menuruti kemauan Ayra.


Saat ia akan menyebrang ke arah mobil Bram yang sedang parkir. Ia pun menoleh ke kanan dan kekiri. Tampak sebuah mobil hitam dari arah kanan namun begitu pelan. Ia pun berinisiatif menyeberangi jalan. Bram pun menyambut istrinya dengan keluar dari mobil lalu berdiri dan bersandar di pintu mobil.


Namun saat Ayra hampir sampai kedekat dirinya sebuah mobil hitam yang Ayra lihat tadi hampir menabrak dirinya. Namun karena gerakan cepat Bram. Ia yang reflek menarik tangan Ayra yang menjulur ke depan. Ia menarik tangan itu. Namun karena tak siap dengan kondisi itu. Ayra yang sedang hamil terhempas bersama Bram tepat menabrak sisi mobil Bram.


Seketika daaarah segar mengalir dari pa ha Isti Bram itu. Bram yang cepat melihat kondisi Ayra langsung membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Beberapa orang yang juga sedang pulang dari kantor pun cepat membantu Ayra. Bram pun hanya memeluk Ayra di kursi belakang saat ajudan yang biasa menemani Ayra mengemudikan kendaraan Bram.


Karena kejadian itulah Ayra dengan perasaan sedih dan duka mendalam harus menerima kenyataan ia kehilangan bayi nya. Dan ia harus mengalami kelumpuhan beberapa bulan karena syaraf dan tulang belakang yang cedera. Belum lagi setelah kejadian itu ia harus menjalani operasi pengangkatan rahim karena rasa sakit akibat kecelakaan yang menyebabkan ia keguguran, hal itu mengakibatkan rahimnya harus diangkat dan meninggalkan masalah pada rahimnya.


Cita-cita Ayra yang ingin memiliki banyak anak dari suaminya pun harus pupus. Ia pun tak bisa lagi hamil karena musibah itu. Disanalah Qiya dan Ammar juga Ibrahim melihat sosok seorang ayah dan suami yang hebat. Ammar menggantikan posisi Ayra. Ia dengan Sabar Menghadapi putra sulungnya yang sedikit mudah emosi. Belum lagi selama ia merawat Ayra. Ia selalu punya banyak waktu untuk Istrinya. Dari mulai memandikan, menyuapi, menemani sang istri dan mengajak istrinya untuk berkeliling menghirup udara segar.


"Papa betul-betul menyayangi Mama. Aku melihat sendiri Papa merawat mama." Ucap Ammar kala ia mengunjungi Qiya di pondok pesantren.


"Apakah kakak yakin Papa tak akan meninggalkan Mama karena kondisi Mama sekarang?" Tanya Qiya saat itu.


Dan Ammar meminta Pada Bram agar Qiya bisa izin selama satu Minggu. Dan selama satu Minggu itu ia bahkan sering berebut ingin menyuapi Ayra, bahkan putri Ayra itu tak diberi kesempatan oleh Bram untuk memandikan sang ibu.


Maka cinta anak pada seorang ayah begitu besar karena Ayahnya mencinta ibunya, memperlakukan perempuan yang melahirkan mereka dengan baik.


"Qiya sayang Papa....." Itulah ucapan yang sering sekali Qiya tunjukkan pada sang ayah.

__ADS_1


Begitupun dengan Ammar. Ia pun sampai berpikiran jika ia punya istri ia akan memperlakukan istrinya seperti sang ayah.


Tanpa Bram sadari moment Ayra tak bisa berjalan hampir satu tahun itu membuat ke tiga anaknya menjadi sangat mencintai dirinya. Begitu menyayangi dirinya. Orang kaya raya, CEO namun ia masih mampu membagi waktu untuk istrinya. Ia bahkan selama satu tahun betul-betul berjuang ketika di luaran banyak yang begitu menggoda dirinya karena ia harus puasa. Namun ia betul-betul mencintai Ayra bukan karena nafsu.


Ia tak ingin nik mat sendiri. Sehingga ia sabar merawat dan menemani istrinya. Dan hal itu berbuah manis. Ayra yang terus menjalani pengobatan pun sembuh. Ia pun menceritakan satu hal yang membuat ia memutuskan mundur dari wakil walikota pada Bram sesaat sebelum suaminya menjemput dirinya.


Flashback Off


"Woi Qiy... Mikir apa? Mikir ular yang gigit kamu?" Tanya Cita sambil mencolek pipi sahabat nya.


"Hehe...." Suara tawa yang terdengar namun hatinya sedang bersedih.


"Semoga Papa tidak mengecewakan kami. Tidak menyakiti Mama...." Ucap Qiya.


"Qiy. aku telpon Mama ya?" Tanya Cita.


Ia dari tadi tak berani menghubungi orang tua Qiya. Karena ia mau menunggu sahabat nya sadar. Agar orang tuanya juga tak terlalu panik.


"Jangan sekarang Cit. Besok aja... Please... Kasihan Mama... besok saja tunggu kondisi ku lebih fit. Aku merasa tubuh ku masih lemah, tenggorokan ku juga sakit." Ucap Qiya pelan.


"Ya ampun... kamu ini Qiy...anak sultan apa bukan sih? Dimana-mana horang kaya bakal gercep menghubungi orang tuanya. Lah kamu... Anak sultan teraneh yang pernah aku temui." Ucap Cita sambil kembali meletakkan ponselnya didalam saku.


"Kamu juga aneh. Sampai sekarang masih belum mandi... Hehehe.." Ucap Qiya dengan suara seraknya.

__ADS_1


Begitulah putri Ayra itu. Tak akan ada yang tahu bahwa ia ingin menyendiri, ingin menangis karena prasangka nya. Cita yang melihat Qiya tertawa sambil menangis pun tak menyangka jika air mata itu bukan air mata karena tertawa tapi air mata kesedihannya.


"Ma... Semoga apa yang Qiya pikirkan tak seperti apa yang terjadi. Jika dulu papa bisa begitu setia menemani Mama di saat Mama sakit. Kenapa sekarang harus mendua." air mata kesedihannya ia biarkan mengalir. Karena Cita menyangka itu air mata tawa karena menertawai dirinya.


__ADS_2