
"Rendra. Ikuti saja sesuai prosedur. Jika memang itu bagian mu. Maka kamu pasti lulus." Ucap Pak Toha seraya menyelesaikan pekerjaan nya. Ia masih menjabat sebagai sekretaris kecamatan.
Rendra tampak duduk di kursi kayu dan memandang Pak Toha dengan tatapan tak suka.
"Papa dengar sendiri kan. Kemarin katanya harus siapkan uang segitu. Aku tinggal dua kali tahapan. Aku tidak mau tidak lolos!" Ucap Rendra.
Ia yang sedang mengikuti proses seleksi sekolah intelegen di ibu kota. Namun setengah perjalanan, ada beberapa oknum meminta uang. Mereka memastikan Rendra akan lulus dua tahap kedepan. Rendra yang mendengar tentang itu sangat marah pada Pak Toha. Sahabat Kyai Rohim itu tak ingin melakukan suap menyuap untuk kelulusan Rendra menuju cita-citanya.
"Papa ini. Sama anak sendiri pelit!" Ucap Rendra memprovokasi Pak Toha.
Lelaki yang bertubuh gemuk itu segera beranjak dari tempatnya. Ia buka kopiah hitam yang melekat di kepalanya. Saat ia duduk di dekat Rendra. Putranya itu berdiri dan menatap tajam sang ayah.
"Rendra... Dengarkan Pa-"
"Halah! Aku tidak mau dengar! Kalau sampai aku tidak lolos dalam seleksi ini. Maka Papa adalah penyebabnya! aku mau kuliah di luar negeri kalau tidak lulus ini. Titik!" Ucap Rendra seraya berlalu meninggalkan ruang keluarga dan masuk kedalam kamarnya. Anak lelaki Pak Toha itu membanting pintu kamarnya dengan kencang.
"Braaaakkkk!"
"Rendra! Papa belum selesai berbicara!" Bentak Pak Toha pada sang anak. Tangan kanan Pak Toha sudah terkepal. Napas nya pun naik turun. Ia melangkah ke kamar sang anak. Ia gedor kamar putranya itu. Ia ketuk berkali-kali.
"Buka pintunya! keluar kamu! Cepat buka pintunya!" Ucap Pak Toha yang sudah naik pitam.
Ia sudah berapa bulan ini menahan emosi pada anaknya. Sang anak makin hari semakin tak beradab pada dirinya dan sang istri. Semakin hari semakin menjadi.
"Pa... Sudah. Malu di dengar orang." Ucap Bu Toha seraya menahan lengan suaminya.
Pak Toha menghembuskan napasnya kasar.
"Bela saja terus anak mu. Bela terus. Aku sudah bilang berkali-kali. Ini yang aku khawatirkan. Dari kecil, kamu selalu menuruti maunya seketika. Aku sering bilang, tunggu nafsunya hilang dulu!" Ucap Pak Toha.
__ADS_1
Lelaki itu duduk kembali di kursi kerjanya. Ia meminum air klorofil miliknya. Ia yang sekarang memiliki beberapa penyakit membuat ia mengkonsumsi obat atau minuman herbal.
"Astaghfirullah.... Astaghfirullah...." Pak Toha tampak menundukkan kepalanya dan memijat dahinya.
Sang istri hanya diam. Ia tak berani menyela. Sang suami yang selalu baik, hampir tak pernah marah, juga membentaknya. Kali ini terlihat begitu marah. Mereka sering sekali bertengkar atau beda pendapat masalah Rendra.
"Bagaimana pun dia anak kita Pa. Toh uangnya juga ada. Apa salahnya kita ikuti apa yang diminta orang kemarin." Ucap Sang istri pada Pak Toha.
"Astaghfirullah.... Kamu tahu, jika Rendra lulus karena uang itu. Maka akan ada nama orang lain yang di geser. Kamu tahu itu artinya apa Ma? Artinya Anak kita mengambil hak orang lain. Dan bayangkan. Gajinya, ia akan memberikan makan, minum anak istrinya lewat gajinya. Tidak. Aku tidak mau memberikan uang sepeser pun demi kelulusan Rendra. Jika ia lulus maka itu memang rezekinya bukan merebut Rezeki orang lain." Ucap Pak Toha.
Lelaki bertubuh tambun itu tampak merasa sudah tak mampu mengontrol emosinya. Ia berlalu meninggalkan sang istri. Percuma membahas hal itu. Sang istri akan terus saja membela sang anak.
Dan betul saja, satu bulan kemudian. Istrinya menangis tersedu-sedu. Uang tabungan, tabungan emas, juga emas yang ia jual untuk membayar oknum yang menjanjikan tersebut ternyata berdusta. Hari pengumuman siswa yang diterima. Tak ada nama sang anak. Ia kehilangan ratusan juta uang. Ia kehilangan uang nya. Pak Toha kembali marah pada sang istri.
"Ini. Ini yang Aku tak habis pikir. Rendra itu anak kita. Bukan hanya anak mu. Tapi cara kita yang berbeda. Sayang pada anak bukan berarti kita selalu menuruti kemauannya! Lihat? aku sudah bilang. Rezeki itu ada Allah yang atur. Kita hanya berikhtiar. Jangan sok pintar bahkan seolah-olah menjadi Tuhan. Kepastian hanya milik Allah. Kita hanya bisa berencana!" Ucap Pak Toha yang marah.
Sang istri hanya diam. Ia tahu ia salah. Ia tak berani membela diri. Dan kembali perdebatan terjadi saat sang anak akan mengikuti tes polisi. Sang ayah menyuruhnya untuk kuliah saja. Namun nafsu sang anak terlalu besar.
"Aku harus operasi hidung, gigi juga kuping ku Ma. Itu kemarin kata pelatih ku
, hal itu akan membuat Aku tak lolos nanti." Ucap Rendra seraya meminta uang untuk menjalankan operasi yang akan ia jalani sebelum mengikuti tes polisi.
Kali ini Pak Toha sudah jengah. Karena uang yang ada adalah uang tabungan untuk mendaftarkan diri pergi Haji.
"Tidak. Uang itu sudah Papa dan Mama mu kumpulkan dari dulu. Untuk ibadah haji. Kuliah saja. Nanti kalau kuliah, kamu bisa gapai cita-cita kamu. Dari tinggi badan saja kamu sulit Rendra untuk masuk kepolisian." Ucap Pak Toha yang pada saat tes intelegen ia sudah hampir tak lolos karena tinggi badan.
Rendra kembali merasa kesal. Seperti biasa, ia akan mengurung diri di dalam kamar berhari-hari. Mogok makan, mogok bicara. Ia ingin semua yang ia inginkan dipenuhi. Namun kali ini sang Mama juga tak mampu. Ia juga sudah bercita-cita lama ingin pergi ibadah ke tanah suci. Sang suami yang pejabat jujur. Uang yang di bawa pulang betul uang yang halal untuk dimakan dan ditabung.
"Maafkan Mama Rendra... Mama tidak bisa sekali ini." Batin sang ibu saat anaknya masih mogok bicara dan makan.
__ADS_1
Dan pada satu siang, saat sang ibu akan berangkat ke tempat pendaftaran haji. Ia mengambil uang dan emas yang ia simpan. Emasnya akan ia jual, dan uang di tabungan akan ia gabungkan dengan yang ada di bank. Dan siang itu ia akan mendaftarkan diri menjadi peserta calon jama'ah haji. Betapa kagetnya Bu Toha. Semua yang ada di dalam lemarinya hilang. Emas, buku tabungan, uang, BPKB motor, BPKB mobil pun raib.
Kembali Rendra berulah. Semua ia bawa kabur. Anak pak Toha itu kabur dari rumah dan tak pulang berbulan-bulan. Sudah mencari kesana kemari Pak Rendra. Rendra ternyata setelah habis' uangnya. Ia mengikuti temannya ke suatu desa. Ia berkerja sebagai pengawas satu proyek pengaspalan jalan.
Disana ia menikahi seorang gadis yang ia anggap cantik dan menjadi rebutan banyak lekaki. Disamping itu, ia butuh tempat tinggal dan makan gratis. Ia menikahi gadis itu juga untuk taruhan bersama temannya. Jika ia berhasil menikahi Ratih. Maka ia akan mendapatkan jabatan sebagai pengawas di proyek jalan tol di ibukota.
Hingga Ibu Pak Rendra terbaring dirumah sakit. Anaknya pun pulang karena diberi kabar oleh salah satu temannya. Namun ia tidak memberitahu kedua orang tuanya jika ia sudah menikah siri dengan seorang gadis. Ia pun tak menceraikan gadis itu. Ia meninggalkan begitu saja. Ia hanya berniat di hatinya bahwa ia akan menceraikan istrinya ketika proyek di desa tersebut selesai. Maka itu ia menikahi gadis itu tanpa tercatat secara resmi.
Karakter yang keras hati. Rendra kembali membuat hati sang ibu sakit. Saat Rendra telah menikah. Ia pun menjual kebun milik Pak Rendra dan sang istri. Dan yang membuat sang Ibu sakit hati adalah Pak Rendra menjual rumah peninggalan orang tuanya. Dimana rumah itu ditempati sang adik yang baru menikah.
Haus akan harta. Saat Pak Toha dan istrinya membeli rumah untuk adik Rendra itu. Rendra kembali menyakiti hati sang ibu.
"Rendra. Katakan! Kamu jual rumah ini?! Kamu tahu kan, ini ibu beli patungan dengan kakak-kakak mu. Untuk adik mu. Kamu sudah banyak ibu berikan modal untuk usaha. Bahkan Mama dan Papa mu rela ikut kamu untuk mengasuh Hilman. Agar kamu bisa bekerja dengan istri mu." Ucap Ibu dari Pak Rendra. Perempuan paruh baya itu tak habis pikir. Warisan yang diberikan orang tuanya juga sudah dijual oleh putranya.
Kini anak perempuan yang masih susah ekonominya kembali di rebut haknya.
"Jadi saat kamu beli rumah ini. Kamu kasih nama kamu?! Tega kamu! tega kamu dengan adik mu sendiri!" Hari ibu nya sangat sakit sekali. Karena berkali-kali sang anak membohongi ibunya.
"Halah, Mama ngerti apa sih. Suaminya saja yang bodoh. Kemarin ditawari ikut proyek ku. Dia sok jual mahal!" Ucap Rendra yang marah karena sang Mama membela adiknya.
"Hiks...Hiks..." Kembali seorang ibu menangis karena tersakiti. Dibentak, di marah, dibohongi oleh anak yang selalu ia perlakukan berbeda karena Rendra dari kecil selalu sakit-sakitan. Maka perlakuan sang ibu memang sedikit lebih memanjakan sang anak.
Bukan hanya itu. Kadang ketika kumpul keluarga. Berkali-kali sang anak bersikap kurang sopan pada kedua orang tuanya. Dan itu membuat adik juga kakaknya marah. Namun Pak Toha dan istri terus mencoba menasehati anak-anak mereka agar memaklumi kondisi Rendra.
"Hilman bilang mau tetap mondok. Kamu jangan bawa pulang. Kasihan, dia sepertinya betah di pondok." Ucap Pak Toha saat sedang hari raya idul Fitri dikediamannya.
"Halah! Papa ngerti apa sih! Hilman itu anak ku! Papa diam saja. Mama juga ga usah ngatur-ngatur akulah. Aku sudah besar! Rumah tangga ku urusan ku. Ratih saja yang tidak becus ngurus aku. Aku kerja buat dia! Buat Hilman! Mama tahu apa!" Ucap Rendra Marah.
Ia tak senang anak, istrinya yang diatur-atur oleh sang ayah dan ibu. Bagi Rendra, orang tua yang sudah tak lagi bekerja, tak lagi bisa apa-apa terlalu cerewet pada rumah tangga nya.
__ADS_1