
[Qiya.....]
[Gambar Qiya dipakaikan kalung oleh Bu Ratih]
[Temen Ga ada akhlak. Lamaran aku ga diundang πππ]
[Kan Ga berani buka pesan. Besok pagi hutang sarapan selama sebulanπ]
[Qiy, Qiy, Qiy,... Tega...]
[Aku yang berjuang Dia yang bahagia]
Seketika Qiya yang baru saja membuka mukenah nya karena selesai dengan kewajiban nya di waktu isya. Ia membuka ponsel yang dari tadi ramai sekali.
Sudut bibir Qiya tertarik membaca pesan yang begitu banyak masuk dari Cita. Ia melihat foto yang tadi pagi mungkin diambil oleh Gede. Qiya sengaja tidak mengundang satupun teman. Karena acara cukup tertutup. Hanya ada keluarga dekat. Khawatir jika ada selain keluarga dekat. Untuk keluarga yang jauh dan tak diundang akan berkecil hati.
Maka acara lamaran pun hanya dihadiri oleh Keluarga besar Pak Erlangga dan Kyai Rohim. Qiya cepat menelpon temannya itu. Ia tak ingin esok pagi temannya bertambah marah dan kesal. Esok pagi rencana, dirinya dan Cita akan kembali ke wahana Internship bersama.
"Halo."
"....."
"Bener ga mau ngomong nih?"
"......"
"Cita, Cita.... Nanti tambah keriting rambutnya kalau ngambek. Hehehe..."
"Qiyaaaaaa.... Tega! Aku kan merasa tak dianggap. Tega banget sih ga diundang!" Omel Cita.
"Maaf, Papa dan Mama bilang sementara keluarga dulu Cit. Khawatir kayak kemarin sudah rame di media, eh.. ga tahunya ga jadi." Ucap Qiya.
Cita terdiam sesaat.
"Maaf ya Qiy. Ga maksud kesana. Ya sudah, bilang sama aku kapan rencana di resmikan?"
"Insyaallah sekalian acara ngunduh Mantunya Kak Ammar." Ucap Qiya dengan suara riang.
__ADS_1
"Ya ampun. Sendiri dah diriku. Enak bener pak Bram sekali dapat mantu hatrick."
"Dipikir sepak bola. Udah siapin kebaya. Besok pasti aku undang di acara ku sekalian nyebar undangan."
"Ogah... Horang kaya kok minta tolong.... uang mana uang.. pakai tuh ajudan Papa mu yang ganteng-ganteng." Ucap Cita setengah tertawa.
Malam itu pun dua sahabat itu berkomunikasi cukup lama vya ponsel. Seolah esok tidak akan bertemu.
Di ruang kerja Bram, Ibrahim nampak menemui Bram.
"Saya mau tinggal sementara di Kali Bening. Entah kenapa akhir-akhir ini sering sekali potongan-potongan gambar di pondok muncul di ingatan saya." Ucap Ibrahim.
"Kamu sudah bicara dengan Mama mu?"
"Nur sedang bicara dengan Mama. Saya ingin besok kesana. Bisa Papa minta tolong orang antar saya kesana?" Tanya Ibrahim pada Bram.
Bram pun tertawa. Ia tak menyangka dalam kondisi tak ingat masalalu nya. Putra bungsunya masih seperti dulu. Selalu meminta tolong dirinya. Selalu izin ibunya. Dan kini, istrinya yang ia suruh minta izin. Bram pun menyetujui. Ia berharap dengan berada di kali Bening, anaknya bisa lebih cepat pulih dari amnesianya.
Ia bisa melihat bagaimana tegang dan kikuknya hubungan Ibrahim dengan Nur. Setidaknya di Kali Bening, Bram segera mengirim pesan Pada Furqon agar anaknya bisa menempati kamar anaknya dulu ketika mondok yang tak lain di kediaman Furqon.
Saat Ibrahim kembali ke kamarnya. Ia telah melihat Nur sedang menyiapkan beberapa pakaian untuk kebutuhan sang suami. Ibrahim duduk dan memperhatikan sang istri. Ia melihat Nur sedikit sekali berbicara. Ia akan berbicara ketika di tanya oleh dirinya. Berbeda sekali dengan sosok Ayra dan Qiya yang sama-sama perempuan di keluarga nya tetapi begitu ceria.
"Banyak sekali?" tanya Ibrahim sambil meletakkan koper itu di sudut ruangan.
"Buat selama dua Minggu. Mama minta kita pulang dari Kali Bening sebelu akhir bulan. Mama akan mengadakan selamatan untuk kehamilan ku." Ucap Nur sambil menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya istirahat.
Ibrahim memegang punggung tangan Nur.
"Apakah kamu tidak mencintai aku? Apakah pernikahan kita karena perjodohan atau terpaksa?" Tanya Ibrahim polos pada sang istri.
Nur mengangkat kepalanya. Ia menatap dalam kedua netra suaminya. Dicarinya sebuah cinta yang dulu begitu besar dalam mata itu. Sebuah kasih sayang yang selalu menghangatkan jiwanya.
"Saat kamu mengingat semuanya. Saat itu percayalah aku masih setia disisi mu Mas. Berjuanglah untuk menemukan dirimu. Agar kamu bisa merasakan besarnya cinta ku tanpa perlu aku berkata-kata." Nur memegang dua pipi suaminya.
Ibrahim melihat sosok Nur yang selalu kuat dan dewasa.
"Nur...." Suara Ibrahim terhenti kala kesabaran dari seorang istri yang selalu pasif, kini mengambil inisiatif lebih dulu.
__ADS_1
Kedua mata Ibrahim terbelalak. Ia tak menyangka istrinya melakukan hal itu. Hal pertama dan sensasi pertama yang ia dapatkan.
Nur pun cepat menyudahinya. Ia tak ingin dirinya yang akan berakhir kecewa. Ia tahu bahwa sang suami masih belum ada inisiatif memberikan haknya sebagai seorang istri, nafkah batin.
Ibrahim hanya diam melihat punggung istrinya yang akan berlalu keluar dari kamar.
"Apa maksudmu untuk sebuah cinta diperlukan kasih sayang?" Tanya Ibrahim.
Tangan Nur terhenti di daun pintu kamar mereka.
"Bagaimana sebuah kasih sayang bisa hadir menjadi cinta jika memandang saja tak pernah nikmat, berada dekat saja tapi tak pernah menyentuh. Bersama tapi berjarak. Nur mau siapkan menu untuk mas sahur besok." Ucap Nur sebelum menghilang dari balik pintu.
Ibrahim duduk di pinggir kasur. Ia menatap satu foto dirinya yang mengenakan sebuah peci dan baju Koko berwarna putih.
"Bahkan di kamar ini tak ada memori tentang kita." Ibrahim pun bergegas mencari keberadaan istrinya.
Saat ia tiba di di dapur, Ia berhenti tepat di sisi salah satu kitchen set rumah mewah itu.
"Nur...." ucap Ibrahim menatap.
Nur pun memberikan kode pada asisten rumah tangga yang berada di dapur. Ia mendekati Ibrahim..
"Katakan dimana kita tinggal sebelum aku melupakan tentang kita?" Tanya Ibrahim.
"Tak mungkin cinta ku padamu tak sebesar cinta mu. Jika kamu sanggup menunggu cinta ku dengan kondisi ku seperti ini." batin Ibrahim.
"Maksud Mas kita akan kesana?" tanya Nur.
"Ya, kita akan ke Kali Bening beberapa hari saja. Aku akan minta Papa untuk mengatur kepergian kita kesana. Tidak hanya kesana, aku akan menuruti saran papa dan Kak Qiya. aku akan mengikuti tetapi ke dokter untuk pemulihan ingatan ku." Ucap Ibrahim.
Nur merasa setiap doa nya satu persatu di uraikan oleh Gusti Allah. Ia pun melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sang suami. Ia sandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Terimakasih Mas, berusahalah untuk kembali. Aku pun akan bersabar menunggu kamu dengan separuh hati mu." Ucap Nur yang kedua pipinya telah basah.
Ayra yang baru ingin ke dapur, langkahnya terhenti karena menyaksikan anak dan menantunya sedang terlibat suatu interaksi yang sangat ia harapkan. Ada kasih sayang antara menantu dan anak nya agar tumbuh cinta sebagai pondasi yang kuat dari setiap rumah tangga. Dan saat ini Ibrahim dan Nur bisa ia lihat sudah ada Kasih Sayang dari sepasang suami istri itu.
"Jadikanlah rumah tangga putra putri ku seperti rumah tangga Sayidina Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Yang selalu bahagia, menyejukkan, dan saling mensupport untuk dakwah dalam agama ini Rabb." Munajat Ayra dalam hatinya.
__ADS_1
Selalu doa yang sedari dulu ia munajatkan. Ia hanya ingin anak-anaknya punya akhlak, kecerdasan, kebijaksanaan seperti Rasulullah. Karena tidak ada yang bisa membahagiakan seorang ibu kala anaknya menjadi seperti yang Allah inginkan lewat tirakat dan doa serta usahanya dalam mendidik putra-putrinya.