Pesona The Twins

Pesona The Twins
123 Luka Hati Bu Ratih


__ADS_3

Tiba disebuah bangunan yang gerbang pintu berukiran bali atau batu alam yang ditempel pada fasad depan rumah. Bu Ratih menatap Pak Rendra yang terlihat ragu-ragu untuk turun.


"Biar aku saja yang turun kalau kamu masih ragu. Aku rasa sebagai sesama ibu dan perempuan, dia akan mengerti apa yang aku rasakan." Ucap Bu Ratih sambil mendorong pintu mobil.


Ia memasuki rumah yang terdapat sebuah Angkul-Angkul. Angkul-Angkul adalah sebuah gerbang rumah adat Bali yang memiliki desain megah dan sangat menarik untuk dilihat. Tampak halaman yang luas di beberapa bagian rumah yang dibuat dengan menggunakan batu gunung, ada juga bagian rumah lainnya yang terbuat dari kayu dan bambu.


Saat tiba di depan pintu rumah, ia disambut satu orang asisten rumah tangga. Bu Ratih masuk dan duduk di sebuah kursi yang khas dengan ukiran Bali.


"Maaf Bu, tunggu sebentar. Niang Ayu sedang di rumah Bu Ratih." Ucap Asisten tersebut.


Belum sempat Bu Ratih mengatakan pada sang asisten bahwa ia ingin menemui Ratih bukan yang bernama Niang Ayu, namun perempuan yang berusia sekitar 30 tahun itu telah menghilang dari balik tirai. Tak lama kemudian muncul sosok perempuan yang di dorong dengan kursi roda oleh perempuan yang tidak lain adalah Ratih.


"Maaf anda siapa ya?" Ucap Niang bingung karena ia tak mengenal siapa tamunya.


"Saya istri dari Rendra. Saya Ratih Purwaningsih."Ucap Ibu Hilman.


Kedua netra ibu Gede pun terbuka sempurna. Ia tak lupa dengan nama perempuan itu. Perempuan yang menjadi istri mantan suaminya. Dan karena dirinya juga Pak Rendra kala itu mati-matian menolak mengakui Gede di pengadilan Agama. Padahal Ratih Mayanti alias ibu Gede bukan ingin kembali atau meminta harta, melainkan hanya meminta bahwa anaknya lahir kedunia ini betul atas hubungan yang dihalalkan sehingga adanya nama ayahnya di surat akte kelahiran. Usaha demi usaha yang ia lakukan dulu bahkan berakhir sia-sia. Ia bahkan sempat mendapatkan teror dan ancaman kala masih sibuk berjuang di pengadilan agama untuk membuktikan bahwa Rendra adalah ayah biologis anaknya, hingga ia bertemu orang baik seperti Niang Ayu.


"Mau apa anda kemari?" Tanya Ibu Gede dengan tatapan sinis.


Sakit yang telah mengering, luka yang telah lama ia kubur kini terbuka lagi karena hadirnya perempuan yang memang hadir di kehidupan mantan suaminya. Mereka hanyalah korban ketidak terus terangan Pak Rendra dalam rumah tangga dan orang terdekatnya.


Niang yang menatap wajah serta nada bicara Ratih, memegang tangan perempuan yang sudah ia anggap anak sendiri itu.

__ADS_1


"Ratih, duduk dulu..." Ingat Niang.


Ratih pun duduk. Ia duduk di sisi Niang Ayu dan menghadap istri Pak Rendra.


"Saya kemari untuk meminta maaf pada anda." Ucap Ratih pelan.


Ibu Gede itu membisu. Ia tak tahu apa maksud perempuan itu tiba-tiba datang dan meminta maaf.


"Memangnya anda ada salah apa dengan Ratih? Kebetulan nama kalian bisa sama." Ucap Niang Ayu.


"Memang harusnya yang kemari adalah suami saya. Namun beliau tidak berani untuk kemari. Maka saya kemari mewakili suami saya. Saya memohon maaf untuk semua masallalu yang dibuat oleh suami saya."Ucap Bu Ratih pelan.


"Apa dia sudah akan menemui ajalnya hingga ia mau meminta maaf dan membutuhkan maaf dari saya?" Tanya mantan istri Pak Rendra itu.


"Saya rasa kejadian itu sudah cukup lama berlalu. Harusnya anda tidak kemari dengan begitu saya tak mengingat rasa sakit yang digoreskan oleh lelaki yang anda sebut suami itu. Dengan hadirnya anda kemari.,.. Hiks... Luka itu kembali terbuka, rasanya sakit, sakit sekali jika saya mengingat masalalu saya yang begitu mengemis pada dirinya. Saat itu saya hanya minta diakui bahwa anak yang saya kandung dan lahirkan adalah putranya. Tapi apa? Hinaan, cacian dan ancaman yang saya dapatkan. Saya tidak akan memaafkana dirinya, Sampai tulang saya mengapur di kubur pun, saya tak akan pernah memmaafkan dia!" Ucap mantan istri Pak Rendra yang sudah berlinang air mata.


Ia sangat sakit hati, karena Pak Rendra ia mengalami masa-masa sulit. Anaknya juga sering di bully. Belum lagi ia berjuang untuk selalu mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal, hingga Gede mendapatkan kebenaran bahwa ia tak diakui oleh lelaki yang seharusnya ia panggil Papa. Dari sebuah Foto, Gede mencari informasi. Hingga Gede pun semenjak saat itu juga memiliki rasa sakit hati walau tak sampai pada tingkat dendam.


"Hiks... Hiks... Saya mohon Bu... saya mohon... saya butuh kalian..." tangis istri pak Rendra itu pun pecah seketika. Ia bahkan berlutut di hadapan Ratih.


Ibu Hilman itu menghiba sambil menangis dengan tangan menangkup.


"Saya mohon... maafkan saya, suami saya, saya butuh bantuan anak anda." Ucapan istri Pak Rendra yang penuh isak tangis, dan itu tak mampu menggoyangkan hati Ibu Gede.

__ADS_1


"Ratih... Berdiri lah nak..." Ucap Niang Ayu menatap Ratih untuk tidak mengabaikan permohonan maaf Ratih yang berlutut dihadapannya, ia meminta Ratih untuk berdiri.


"Saya mohon.... hiks... saya mohon..." Kembali Istri Pak Rendra menghibah.


"Owh, jadi anda kemari bukan tulus meminta maaf. Karena mau bantuan dari anak saya? Bantuan macam apa yang bisa diberikan oleh anak haram, anak dari perempuan j@l@ng? anak dari perempuan yang pemeras!" Ucap Ibu Gede yang juga sudah berlinang air mata.


Hatinya sakit, ia mengingat semua apa yang telah dilakukan oleh Rendra di masalalu, ia sudah menyakiti, mencampakkan, dan menghina dirinya. Kebodohan di masalalunya membuat ia yang hanya bermodal cinta mau saja menikah tanpa status yang jelas di mata hukum dan negara. Dan itu berrimbas pada putra semata wayangnya.


Istri Pak Rendra makin tertunduk malu, ia mau tidak mau harus mampu meraih hati Ibu Gede.


"Saya mohon bu... sebagai sesama perempuan, anda pasti tahu rasanya sakit jika kita memiliki anak dan kini terbaring tak berdaya, kita tak bisa melakukan apapun. Saya mohon, Putra saya sedang terkena leukemia, dia butuh donor tulang sumsum dari yang memiliki hubungan darah dengan dirinya." Ucap Ratih yang telah mendekat ke arah Ibu Gede.


Ibu dokter Gede itu tak bergeming. Hati yang terlanjur sakit, kini kembali bertambah sakit. Masalalu nya kembali hadir justru hanya menginginkan sesuatu bukan karena penyesalan.


"Oh, jadi karena anda butuh sesuatu dari kami dan kini anda dan suami anda mau menghiba dan merendahkan diri?" Ucap Ratih seraya menghapus airmatanya dengan punggung tangannya. Ia tak menyangka, Rendra dan istrinya datang dengan tujuan meminta maaf karena butuh Gede agar bisa mendonorkan tulang sumsum belakangnya.


"Bukankah Gede itu bukan anak Pak Rendra. Dia tak memiliki Ayah!" Ucap Ratih dengan suara berteriak dan air mata mengalir deras.


"Ratih... sabar... kendalikan emosi mu..." Ingat Niang Ayu yang memegang tangan Ratih yang kini telah berdiri.


Ibu Gede itu kembali mengangkat jari telunjuknya.


"Dengar! Ibu RAtih Purwaningsih! Sampai kapanpun, anda tidak akan mendapatkan apa yang anda mau! Gede tidak akan pernah mendonorkan apapun pada orang atau keturunannya yang sudah menyaktii dia, yang sudah menorekan luka. Sebuah luka yang sudah terpatri dalam tak akan hilang bekasnya sekalipun tubuh ini dikubur, semua akan aku tuntut nanti di hari pengadilan, aku akan menuntut suami mu yang telah menyakiti hati ku bahkan seumur hidup ku!" Suara Ratih begitu penuh emosi. Baru ia akan meninggalkan ruangan itu, suara lelaki menahan langkahnya.

__ADS_1


"Ratih...."~~~~


__ADS_2