
Ammar melihat perempuan yang masih tergeletak di balkon itu. Ia pun dengan cepat meraih selimut putih yang terdapat di atas tempat tidur king size. Ia membungkus perempuan itu dengan selimut tebal itu. Sehingga ia tak menyentuh tubuh perempuan itu. Namun Saat ia menggendong perempuan itu, rambut panjang yang tadi menutupi wajah perempuan itu terurai ke bawah. Hingga wajah cantik yang sempat menganggu hati pewaris MIKEL Group itu kembali membuat kedua mata Ammar tak berkedip namun ia cepat menarik sedikit ujung selimut di bagian depan nya dengan bibirnya.
Ia tutupi wajah perempuan itu hingga bagian hidung.
"Hhhhhh maafkan aku. Kembali aku melihat apa yang kamu jaga." Ammar meletakkan perempuan itu di tempat tidur.
Ia tidak mungkin membawa perempuan itu keluar sendiri dengan tubuh dan dirinya penuh darah. Ia mencoba menggendong balita yang masih menangis itu. Namun tangisannya semakin kencang seolah ia tahu perempuan yang kemarin membawanya kerumah sakit sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Ponsel di dalam saku Ammar pun berdering. Ia mengangkat panggilan dari Marvin.
"Aku ada di ruangan sebelah kanan ruangan Miss Allyne." Ucap Ammar.
Ia melihat ke arah lelaki yang memiliki tato di punggungnya itu tak sadarkan diri. Lalu ia kembali mencoba menggendong balita perempuan itu. Ia coba menenangkan balita yang mungkin berusia sekitar satu tahun lebih.
Namun ia semakin kencang menangis. Namun saat Ammar melantunkan sebuah shalawat yang selalu di senandung kan sang ibu saat-saat ia balita, karena ia yang sering terbangun akan kembali tidur jika digendong sebentar dan di bacakan shalawat. Sehingga shalawat itu tak terasa menjadi salah satu favorit Ammar ketika ia dewasa.
Saat ia menggendong balita itu dengan posisi kepala balita itu ia letakkan di atas pundaknya. Dan ia mengusap punggung balita itu sambil menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya. Fisik putra Ayra itu cukup baik. Ia sering melakukan olahraga. Belum lagi polah hidup sehat sang anak. Jika kebanyakan lelaki akan menjaga porsi makannya. Maka Ammar justru akan makan seperti Ayra. Ia terbiasa sarapan dengan nasi, siang atau sore ia akan kembali makan nasi.
Untuk tubuh ia tetap memiliki tubuh yang atletis walau tak seperti kebanyakan orang yang mengikuti gym, memiliki dada kotak-kotak. Akan tetapi ia memiliki fisik yang kuat dan seni beladiri yang baik.
Beberapa orang termasuk Marvin datang ke ruangan itu. Mereka pun membuka pintu bersama pegawai hotel. Namun saat Marvin baru hendak melangkah. Ia harus merentangkan kedua tangannya untuk menahan tiga orang lelaki yang ia bawa sehingga langkahnya terhenti karena satu tatapan dari Ammar juga jari telunjuk yang mengarah ke arah asistennya itu membuat dirinya mengerti jika mereka tak boleh berisik.
"Ssssstttt...." Ucap Ammar dengan jari telunjuk di depan kedua bibirnya.
__ADS_1
Ia yang baru saja berhasil membuat balita itu tenang dan tampaknya balita itu tertidur lelap. Marvin menatap tak percaya apa yang ia saksikan. Seorang perempuan yang terbungkus selimut tebal dan hanya terlihat wajah separuh wajahnya. Karena kepala perempuan itu telah Ammar bungkus menggunakan selimut putih yang tipis. Separuh wajahnya ia tutup dengan ujung selimut tebal itu. Belum lagi satu lelaki yang berada di lantai terlihat tak sadarkan diri dengan kaki dan tangan terikat juga mulut yang tersumpal.
Dan bosnya terlihat menggendong balita yang terlihat nyaman berada dalam pelukan lelaki yang tampan itu. Namun malang saat Marvin dan beberapa anak buah yang diminta untuk mengawal dirinya malah harus berhadapan dengan Miss Allyne yang tadi membuntutinya.
Perempuan itu ikut melongo dan melihat kondisi di kamar itu sambil mendekat ke arah Marvin lalu setengah berbisik.
"Your asisten is very hot..." Ucap Miss Allyne dengan suara manjanya.
[Asisten mu sangat panas]
Ia yang melihat Ammar tak lagi mengenakan jas nya dan gesper yang juga tak lagi ada di pinggang. Seorang perempuan yang terbungkus rapat kain membuat Miss Allyne yang sebenarnya asli kelahiran Indonesia namun ia besar di Australia.
"Tolong selamatkan perempuan itu. Dia terluka aku juga terluka bos." Ucap Ammar masih tak ingin mengungkapkan jati dirinya.
Melihat Miss Allyne yang agresif membuat ia sudah bergidik duluan. Bukan berarti ia tidak normal. Biasa melihat ibu dan adiknya serta lingkungan keluarga yang tak ada bersikap seperti kebanyakan wanita yang mencoba menggodanya. Justru membuat sulung Ayra itu merasa ilfil pada beberapa perempuan yang sangat agresif.
Namun ucapan Miss Allyne dengan bahasa Indonesia membuat Marvin menoleh ke arah perempuan itu dengan tatapan kaget.
"Mr. Marvin. Ini bukan Indonesia. Jika anda membawa dirinya dan dirimu ke rumah sakit. Maka yang ada akan merepotkan diri mu. Beli lagi kondisi lelaki itu. Lebih baik kalian ikut bersama ku. Aku punya dokter pribadi ia bahkan spesialis bedah. Ikutlah dengan ku. Bagaimana Mr. Ammar. Anggap saja ini rasa terimakasih ku karena anda telah menerima kerja sama kita." Ucap Miss Allyne dengan suara manjanya.
Marvin melongo tak percaya, Ammar justru merinding melihat tingkah dan nada bicara Miss Allyne. Beruntung ia telah bertukar posisi. Marvin yang memang biasa berdekatan dengan perempuan tak kaget atau takut. Tapi ia merasa dibodohi oleh Miss Allyne.
__ADS_1
"Anda bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Kenapa anda dari tadi menggunakan bahasa Inggris?" Ucap Marvin sedikit melebarkan pupil matanya agar terlihat seperti orang marah.
"Hehe... Karena aku ingin terlihat cerdas, anggun di mata anda Mr. Ammar. Oke Jangan terlalu lama. Mari ikuti saya lewat lift khusus. Dan tenang saja untuk urusan ini biar saya yang urus. Tenang saja Mr Marvin. Semua CCTV akan saya bereskan. Ayah saya pemilik hotel ini." Ucap Miss Allyne seraya mengukir ujung pundak Marvin dan menatap Ammar.
Marvin terlihat menghela napas nya pelan. Sedangkan Ammar merasa bersyukur. Ia sudah khawatir jika akan terlilit kasus hukum di negara orang. Karena pastilah jati dirinya akan terungkap di media masa dan sosial jika ia adalah Ammar dan Marvin adalah dirinya. Hanya kantor pusat MIKEL group yang pernah melihat wajah Ammar. Bram pun tak pernah tahu jika putranya melakukan pertukaran identitas itu.
"Terimakasih Miss Allyne. Anda ternyata sangat baik hati. Saya yakin bos saya akan sangat senang sekali memiliki rekan bisnis seperti anda." Ucap Ammar terus membuat Miss Allyne seolah berada di atas awan.
"Jangankan menjadi rekan bisnis. Menjadi partner sehidup semati pun aku mau." Ucap Miss Allyne masih terdengar manja.
Sedangkan Ammar menahan tawa dan rasa sakit di pinggangnya. Ia melihat jelas wajah dingin sang asisten karena ia tak suka dengan provokasi yang Ammar buat. Saat salah seorang ingin mengangkat tubuh perempuan yang terbungkus selimut itu. Ammar cepat mencegah nya. Ia justru menyerahkan balita yang tertidur itu ke arah satu lelaki. Ia menggendong perempuan cantik yang terbungkus selimut itu.
"Kalian berdua tetap di sekitar sini. Pantau lelaki ini ketika ia sadar. Dan kamu cari informasi semua tentang perempuan ini dengan lelaki ini. Saya mau detailnya." Ucap Ammar tegas.
"Wow... Kamu sudah seperti Tom Cruise... Asisten mu keren Mr. Ammar. Tapi pamornya kalah dari dirimu yang merupakan CEO MIKEL group." Batin Miss Allyne.
Mereka pun mengikuti langkah Miss Allyne.
Ketika berada di dalam lift. Ammar memandang kedua mata yang terpejam.
"Perasaan apa ini kenapa rasanya panas seperti Magma dalam perut bumi. Apakah ini Cinta? Tapi jika bukan. Kenapa beberapa hari setelah pertemuan kita, aku merindukan wajah mu. Bukankah rasa rindu hadir karena rasa cinta? Kita lihat siapa kamu dan apa hubungan mu dengan dirinya. Jika kamu halal ku miliki, ku pastikan aku akan segera menghalalkan kamu. Aku tak ingin mengecewakan Mama ku. " Ucap Ammar dalam hati sambil terus menatap kedua mata yang tertutup itu.
__ADS_1