Pesona The Twins

Pesona The Twins
48 Kisah Hidup Gede Ardhana


__ADS_3

Dokter Gede masih bersila, Bu Ratih sudah membuka mukenahnya. Ia melihat putranya masih duduk di tempatnya setelah sebentar menoleh ke belakang untuk mencium punggung tangannya. Dimana ada sebagian golongan yang mengatakan bahwa itu kegiatan bid’ah. Padahal aktifitas ini tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah proses shalat selesai dengan sempurna.


Bu Ratih memandang punggung putranya. Ia berharap kali ini ia tak kembali mengalami pahitnya cobaan hidup. Cukup sudah putranya sedari kecil merasakan cobaan di cibir, dikucilkan dan merasa minder dengan statusnya yang tak ada ayah. Bahkan di akte kelahiran pun, Ia harus bernasab ibunya.


Bu Ratih sebenarnya menikah dengan lelaki yang merupakan ayah dokter Gede. Namun karena kelalaiannya dan rasa cintanya pada orang kota, membuat dirinya hanya bisa mengiyakan ketika sang kekasih meminta menikah secara agama dulu. Hal itu karena ja sedang ikut tes polisi, dimana ia tak akan bisa lolos jika ketahuan sudah menikah.


Bu Ratih yang polos dan lugu pun akhirnya setuju. Namun apa hendak di kata, kala pernikahan baru berusia empat bulan. Ia diceraikan karena ia tak lolos seleksi, dan seseorang menawarkan ia bekerja di perusahaan kota namun dengan syarat harus berstatus lajang. Karena merasa kecewa gagal ikut seleksi di kepolisian, membuat ia yang begitu berambisi untuk sukses memilih menceraikan istrinya yang belum memiliki buku nikah karena mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka di pengadilan agama atau di kantor urusan agama (KUA).


Maka sejak saat itu, ibu Ratih yang baru tahu ia hamil ketika satu bulan kemudian mencari keberadaan mantan suaminya. Ia menyusul ke Bali. Kabar dari temannya bahwa ia berada di Bali. Hingga nasib membawanya bertemu Niang Ayu dan Suaminya. Dan berakhir ia tinggal di rumah kosong yang berada di sebelah rumah Niang Ayu. Sampai lahir Gede, ia masih mencari lelaki yang pernah menikahi nya. Bukan untuk kembali bersama, tetapi meminta untuk pengakuan suaminya di depan pengadilan agama bahwa Gede adalah darah dagingnya atau meminta tes DNA.


Namun suaminya yang telah menikah lagi membuat ia sang suami tak mengakui Gede sebagai putranya. Bahkan Niang Ayu yang menyewa pengacara pun tak berhasil. Maka sejak saat itu, dokter Gede akan selalu mencoret bagian kata Nama Ayah di setiap formulir atau data yang akan ia isi. Dan itu juga salah satu penyebab sebenarnya sang calon mertua tak menerima dirinya sebagai calon menantu. Walau ia telah lama menjalin hubungan asmara bersama Mayang.


Tak terasa air mata Bu Ratih menetes. Gede yang selesai dengan dzikir nya. Ia menghapus airmata ibu Ratih dengan ibu jarinya.


"Menangisi apalagi Bu? Jangan pernah menangisi kisah hidup kita yang sedih. Itu berarti kita tidak bersyukur atas nikmat nafas, nikmat sehat hari ini untuk hari esok." Ucap Gede sambil mengecup punggung tangan perempuan yah melahirkannya.


"Ibu tidak menyangka kamu tumbuh menjadi pemuda yang sabar dan bisa menjadi seorang dokter. Jika mengingat masa lalu ibu dan-" Suara serak Bu Ratih terhenti kala satu jari telunjuk dokter Gede menutup bibir ibunya.


"Ibu sudah berjanji akan hanya ada tawa, senyum dan kebahagiaan. Lalau ini?" Tanya dokter Gede pada sang Ibu.

__ADS_1


"Lalu kapan kamu akan memberikan kebahagiaan Ibu dan Niang?" Tanya Bu Ratih sambil mengusap pundak putranya.


"Kebahagiaan yang mana Bu?" Ucap dokter Gede pelan.


"Niang dan Ibu ingin melihat kamu menikah, kamu memulai hidup mu yang baru. Bagaimana dengan dokter iship kemarin. Siapa namanya? Qi.. Qiya... ya?" Ucap Bu Ratih terbata-bata sambil mengingat nama dokter Qiya.


"Memangnya apa yang membuat Ibu langsung setuju dan semangat sekali menerima dokter Qiya?" Tanya dokter Gede penasaran.


"Ia perempuan yang pandai menjaga dirinya. Ia bahkan tak berani menatap wajah tampan putra ibu ini. Berbeda dengan Ma....." ucapan Bu Ratih terhenti. Ia tak ingin menyebutkan satu nama yang pernah menorehkan luka dan rasa malu pada anaknya.


"Mayang?" Ucap dokter Gede dengan santai.


"Kamu sudah tak ada rasa cinta atau sakit hati?" Selidik Bu Ratih.


Ia tak tahu kenapa pacarnya bisa meninggalkan dia tepat di hari pernikahan. Padahal Mayang sangat mencintai dirinya. Bahkan gadis itu begitu manja. Niang Ayu bahkan sempat menegur dokter Gede kala Mayang menginap di kediaman Gede.


Walau mereka tidak tidur satu kamar. Namun bagi Niang Ayu yang lama tinggal di daerah Mayoritas muslim, ia bisa paham bahwa perempuan yang belum ada ikatan apapun jika sudah berani menginap di rumah pacarnya, maka bisa dipastikan jika perempuan itu bisa diragukan untuk dijadikan istri.


Namun karena mereka saling mencintai dan Bu Ratih juga meyakinkan jika Mayang tidak seperti yang di khawatirkan Niang Ayu. Akhirnya mereka pun tetap menikah. Dan terjadilah insiden dimana Kalila Mayang Dahayu menghilang di hari harusnya menjadi hari bahagia bagi Gede.

__ADS_1


Di tempat yang lain, Marvin, Miss Allyne dan Alisha sudah dua hari berada di Indonesia. Namun pagi itu Miss Allyne menghubungi Marvin. Ia mengirim pesan jika ada beberapa orang mencoba masuk kediamannya. Sekarang sedang di tahan oleh anak buahnya. Marvin yang sedang bersama Ammar segera meluncur ke alamat Miss Allyne.


Saat di perjalanan, Marvin menghubungi orang-orang yang biasa ia gunakan untuk perlindungan. Ammar terlihat tenang namun pikirannya berkecamuk.


"Maafkan Ammar Ma. Dia bukan istri orang. Jadi Ammar harus memperjuangkan cinta Ammar. Nanti Ammar akan segera menghalalkan dia jika kondisi sudah jelas." Batin Ammar.


Ia belum bisa melamar Alisha. Baginya mengungkap siapa orang tua Alisha dan siapa Alisha itu lebih penting. Karena ia tak mungkin mengadakan Akad nikah dengan perempuan yang identitasnya palsu.


"Kenapa kamu terlihat begitu khawatir? Kamu sudah jatuh cinta betulan pada Miss Allyne?" Tanya Ammar melirik Marvin yang duduk di sebelahnya.


"Saya atau pak Bos yang cemas." Ucap Marvin memgelak.


"Yang langsung pergi berlari saya atau kamu?" Tanya Ammar lagi.


"Saya tidak tahu Bos. Yang jelas saya harus jujur pada Miss Allyne siapa kita. Saya khawatir dia malah membenci saya. Saya ingin kejelasan perasaan saya. Kalau dia suka bos. Ya bos. Bukan saya. Nanti dia suka bos tapi saya juga terlanjur main hati." Keluh Marvin yang merasa kesal.


Ia yang bercita-cita menjadi orang kaya sangat senang bisa dekat dengan banyak perempuan tetapi dengan Miss Allyne justru ia khawatir jika ditinggalkan dan Perempuan itu lebih memilih Ammar.


Jika selama ini ia biasanya baik-baik saja jika akan mendapatkan cibiran ketika tahu bahwa dirinya hanya aspri bukan CEO. Kali ini ia tak ingin Miss Allyne kecewa dan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Tiba dikediaman Miss Allyne. Beberapa anak buah Miss Allyne tak sadarkan diri. Marvin dan beberapa anak buahnya cepat masuk kedalam. Dan di dalam kamar suara tangis Ifah begitu nyaring. Geraham Ammar mengeras. Ia berlari ke arah sumber suara Ifah.


"Jangan sentuh dia!!" Teriak Ammar kala satu orang lelaki mendekati Alisha dan Ifah yang meringkuk di tepi tempat tidur yang terdapat lemari di sisi kanannya.


__ADS_2