
Flashback On
"Astaghfirullah... Maaaaas!"
Bruuuggghhh.
"Ayraaaaaa!" Teriak Bram.
Suami Ayra itu berteriak saat melihat istrinya seketika terhuyung dan menabrak mobilnya. Sebuah mobil dengan kecepatan penuh hampir menabrak Ayra. Namun Allah masih menyelamatkan istri Bramantyo Pradipta tersebut. Ia hanya di serempet tubuhnya. Namun, kondisi hamil membuat perut Ayra yang terbentur keras itu mengeluarkan cairan berbau @nyir dan berwarna merah dari kaki Ayra.
Ibu Kembar itu memegangi perutnya seraya berteriak saat ia mencoba berdiri namun ia merasakan cairan itu mengalir begitu deras.
"Mas.... Mas...." Suara Ayra sudah di penuhi Isak tangis....
Wajahnya terlihat pucat pasih. Bahkan tubuh wakil walikota itu terlihat gemetar. Bram cepat memeluk Ayra. Ia pun menggendong istrinya dan ia bawa ke dalam mobil. Bram berusaha menahan emosinya. ia tak berpikir siapa yang menabrak istrinya. Baginya ia hanya tertuju pada kondisi Ayra. Dan janin yang di dalam kandungan sang istri. Bahkan saat satu tangan Bram memegang kemudi. Satu tangannya yang lain menggenggam erat tangan sang istri.
"Sabar ya Ay... Semoga tidak apa-apa sama dia." Ucap Bram seraya mengusap perut istrinya yang sudah tak lagi datar.
"Hhhhhh.... Astaghfirullah..... Sakit Mas....Hiks...." Ucap Ayra lirih.
Wajah Ibu dari Ammar itu tampak mengeluarkan butiran keringat yang begitu deras. Bahkan seorang istri yang nyaris tak pernah mengeluh pada sang suami sekalipun disaat nyeri haid yang datang. Kini bibir mungil itu mengeluarkan rintihan yang membuat Bram mau tidak mau meneteskan airmata.
Berkali-kali Bram meng3cup punggung tangan Ayra.
"Sabar ya sayang.... Kita sebentar lagi sampai rumah sakit. Yang sabar ya Ay... Yang kuat ya Ay...." Ucap Bram. Ia begitu khawatir. Karena kedua netranya bisa melihat sang istri begitu kesakitan dan berusaha menahannya. Namun apa hendak di kata. Ayra yang merasakan sakit yang teramat pada perutnya. Semakin ia berusaha menahan rasa sakit itu. Ia semakin merasa lelah.
Kedua mata lentik itu pun terpejam. Bahkan suara sang suami yang berkali-kali memanggil nya tak ia hiraukan.
"Ay... Ayra... Bangun Ay... Ay... Hhhhh.... " Rongga dada Bram begitu sesak melihat istrinya tak membuka kedua matanya. Hampir 20 menit, ia baru tiba di sebuah klinik.
Ayra langsung disambut oleh brankar dorong. Bram hanya pasrah di depan ruang IGD ketika istrinya menghilang dari balik pintu. Ia duduk dan menghubungi asisten pribadi nya.
__ADS_1
"Rafi. Cari tahu siapa dan apa ada motif. Ayra barusan di tabrak didepan kantornya. Aku di rumah sakit sekarang!" Ucap Bram pada Rafi.
Lelaki diseberang telepon cepat menjalani perintah sang bos. Hampir beberapa menit Bram duduk di depan ruang IGD, namun pernyataan dokter yang membuat Bram merasa sakit adalah sang istri harus di operasi kuret.
"Maafkan kami Pak. Bayi nya sudah tidak tidak bisa diselamatkan. Maka demi menyelamatkan ibunya. Operasi harus dilakukan secepatnya." Ucap dokter spesialis kandungan kebidanan dan kandungan tersebut.
Bram pun menandatangani semua administrasi. Dan kembali pasangan Ayra dan Bram harus menelan pil pahit hari itu. Mimpi Ayra Khairunnisa yang ingin memiliki banyak anak harus padam di hari itu. Dokter kembali meminta Bram menandatangani surat bahwa sang istri harus diangkat rahimnya karena pend@rahan yang terus terjadi pada Ayra.
Bram yang sangat tahu salah satu mimpi istrinya. Ayra ingin memiliki banyak anak. Dan Bram pun kembali menitikkan air matanya.
"Apakah tidak ada jalan lain dokter?" Tanya Bram yang masih berharap kemungkinan lain. Ia tak tega menjelaskan pada sang istri saat Ayra nanti tahu jika ia tak lagi bisa hamil.
Dokter tersebut menggeleng pelan.
"Maafkan kami Pak Bram. Demi keselamatan Bu Ayra. Ini yang bisa kami lakukan." Ucap sang dokter.
Bram pun akhirnya menyetujui. Saat operasi selesai, hampir satu hari satu malam tubuh Ayra terbaring lemah. Bram bahkan tak pulang ke rumahnya. Ia begitu khawatir jika sang istri sadar dan dia tak ada di sisi sang istri.
Bram yang merasa lelah. Sore itu ia tertidur sambil memeluk tangan Ayra. Satu usapan di kepalanya membuat CEO MIKEL group tersebut membuka kedua matanya. Ia melihat tangan sang istri sudah bergerak. Senyum tipis tersematkan di bibir mungil Ayra.
"Ndak usah bicara... Ayra tahu apa yang terjadi.... Hiks... Ayra bisa merasakan ada yang bilang dari diri Ayra.... Tapi tak mengapa Mas... Insyaallah kita masih bisa berusaha mencetak generasi-generasi tangguh." Ucap Ayra masih dengan suara lirih dan tatapan sayu nya.
Bram hanya tersenyum. Ia masih belum kuasa mengatakan bahwa rahim sang istri diangkat. Walau ia tahu bahwa Ayra sudah tahu bahwa ia kehilangan bayi mereka.
Hari demi hari, Minggu berganti bulan. Bram pun telah mendapatkan informasi jika orang yang menabrak Ayra pengguna obat terlarang dan sedang s@kau saat menabrak Ayra. Maka ia menganggap hal itu hanya kecelakaan.
Dan satu siang, Bram harus mengatakan pada sang istri. delapan bulan pasca pengangkatan rahimnya. Ayra yang selalu mengecek menggunakan test pack saat ia telat datang bulan.
"Hhhhh... masih harus sabar. Apa kita ke dokter kandungan ya Mas?" Tanya Ayra seraya membuang hasil testpack nya.
Bram memandangi wajah Ayra. Ia memeluk istrinya dari arah belakang.
__ADS_1
"Katakan. Kenapa mau banyak anak. Tidak cukup tiga saja Ay? Mas cukup tiga anak." Ucap Bram seraya menghirup aroma wangi dari rambut sang istri.
Ayra membalikkan tubuhnya. Tangan lembut Ayra memegang pipi Bram.
"Aku ingin selalu hidup dengan memiliki banyak anak mas. Ingin membanggakan Rasulullah karena umatnya banyak dan berkualitas." Ucap Ayra.
"Memangnya kamu bisa panjang umur begitu?" Tanya Bram pelan.
" Kalau besok kita sudah tidak di dunia ini lagi. Terus kita punya anak 10. Dan dalam sehari mereka menghadiahkan bacaan Qur'an mereka, Al Fatihah mereka setelah shalat lima waktu untuk kita. Berarti satu hari berapa kali kita dapat kebahagiaan karena anak Sholeh kita?" Tanya Ayra.
"Sepuluh dikali lima berarti 50." Jawab Bram.
"Kalau 10 anak kita menikah berarti kita punya anak 20 orang. Berarti satu hari bisa 100 kali dapat kiriman bacaan dari anak-anak kita. Kalau satu anak kita punya lima anak aja. Berarti dikali 10 lagi. 10 di kali 10 berarti 100 ditambah 10 menantu, 10 anak. Totalnya 120 doa dan kebaikan di kali 5 waktu. Berarti satu hari dari kita dapat 600 pahala dari anak, menantu dan cucu. Bayangkan Mas... Makanya Ayra mau punya banyak anak. " Ucap Ayra sambil merangkul Bram manja.
Bram meng3cup Ayra berkali-kali. Ia ajak istrinya keesokan harinya jalan-jalan ke luar kota tanpa ketiga anaknya. Dan betul saja, Bram sudah menduga apa yang akan terjadi. Saat tiba di satu hotel. Bram memberikan satu surat keterangan hasil operasi kuret Ayra kala itu.
Istri Bramantyo itu hanya mampu terduduk dan diam. Ia hanya menitikkan airmata sambil mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun.... Sebaik-baik manusia berencana. Maka Engkau lebih tahu yang terbaik untuk hambanya... Saya menerimanya Rabb.... terimakasih karena telah menitipkan tiga orang anak pada ku.. " alih-alih Ayra meratapi mimpinya. Ia masih berusaha memberikan semangat dan bersyukur akan apa yang ia miliki bulan yang ia inginkan namun tak bisa ia dapatkan.
Bram saat itu hanya mampu menangis dalam diam. Ingin marah, pada siapa. Semua sudah takdir. Tak ada yang bisa disalahkan.
Flashback off.
"Papa bisa melihat kekecewaan Mama mu. Hari-hari Mama begitu ia habiskan dan sibuk untuk mengaji, komunikasi, Qiyam. Papa saja yang melihat Mama mu untuk tegar merasa sakit. Apalagi Mama mu. Jangan lakukan operasi transplantasi itu. Papa tidak setuju." Ucap Bram pada Ammar di taman yang tak jauh dari rumah sakit.
"Ammar juga tak bisa melanjutkannya Pa. Bukti-bukti dari Papa Subroto kemarin membuat Ammar tidak bisa." Ucap Ammar.
Namun saat mereka sedang berjalan ke arah rumah sakit. Tepat di lobi, tampak keributan. Satu lelaki paruh baya yang bertubuh tegap sedang memukul seorang lelaki yang juga tak lagi muda. Lelaki itu tampak pasrah saat di pukul berkali-kali.
"Buuugggh!"
__ADS_1
"Buuugggh."
"Jangan ganggu keluarga mereka. Hadapi aku dulu kali ini! Cukup sudah! Kamu mau apalagi Hah!" Teriak lelaki itu seraya menarik kerah baju lelaki berkacamata itu.