
Setelah shift libur tiba, Qiya pun menyusul bersama Bu Ratih. Besan Ayra itu pun ingin sekalian membesuk Nur. Kabar bahwa Ayra dan Bram telah mendapatkan cucu membuat Bu Ratih ingin ikut berkunjung bersama Qiya. Gede yang khawatir pagi itu menelpon Qiya. Ia berharap istrinya tak jadi ke kota. Ia khawatir sang istri bertanya kenapa tangannya.
"Dek, yakin ga di tunda dulu?" Tanya Gede melalui sambungan telepon.
"Ga mas, aku juga kan muntahnya ga tiap waktu. Mualnya juga. Lagian Nur dan Ibra kemungkinan akan ke Kali Bening kalau sudah kondisi Nur nya baik dan sekalian selamatan dirumah. Mbah Uti minta Ibra dan Nur menemani Pakde dan Bukde untuk mengurus pondok." Ucap Qiya.
Gede akhirnya tetap mengizinkan istrinya pulang ke Jakarta.
"Nanti aku ke hotel dulu apa ke rumah Mama dulu Mas?" Tanya Qiya.
"Mas nginap di rumah Mama aja. Kamu lagi hamil. Biar mas yang bolak balik." ucap Gede.
"Cita jadi ikut?" Tanya Gede.
"Iya. liburan dia bilang mau healing." Ucap Qiya.
"Ok. Ya udah hati-hati ya Dek. See you..." ucap Gede.
"See you to my hubby." Ucap Qiya pelan.
Ratih yang tampak menyiapkan tas mereka, karena mereka sudah memesan travel untuk diantar ke bandara. Bahkan saat travel tiba, Bu Ratih tak membiarkan Qiya membawa koper miliknya.
"Ga usah. Biar Ibu. Kamu lagi hamil." Ucap Bu Ratih.
Qiya hanya tersenyum. Ia bahagia karena Bu Ratih selalu menunjukkan kasih sayang dan perhatian tulusnya. Ia yang terbiasa bersama Ayra, merasa nyaman karena mendapatkan mertua yang nyaris sama seperti ibu kandungnya.
Saat di perjalanan pun Bu Ratih sedikit marah pada sang sopir saat ada lubang di ****** namun sang sopir tampak masih ngebut. Ia khawatir kondisi kehamilan menantunya.
"Terimakasih ya Bu... Uda menyayangi aku sebegitu besarnya." Ucap Qiya.
"Ibu yang harusnya berterima kasih. Kamu, keluarga kamu bisa mencintai Gede sebegitu besarnya." Ucap Bu Ratih.
Siang harinya mereka tiba di bandara ibu kota negara. Mereka telah di nanti oleh sopir yang diutus Ayra untuk menjemput besan dan anaknya. Tiba di kediaman Ayra, Ayra cepat memeluk anaknya. Ada airmata di sudut mata Ayra. Ini kali pertama sang anak bertemu dengannya setelah ia dinyatakan hamil.
"Sehat Nduk? Mama kepikiran sama kamu... Alhamdulillah Bu Ratih menemani. Terimakasih Bu...." ucap Ayra pada besannya.
"Bu Ayra, Qiya ini sudah saya anggap anak bukan lagi menantu. Maka jangan khawatir. Saya akan merawat dia sama seperti ibu merawatnya." Ucap Bu Ratih.
Arumi yang mendengar kehadiran Qiya. Ia menemui adik iparnya itu.
"Kak Arumi...." suara manja Qiya ketika tahu bahwa sang kakak juga hamil.
Adik dan kakak ipar itu saling berpelukan. Tanpa merek sadari ketika mereka mengobrol. Bu Ratih memperhatikan interaksi mereka.
"Kenapa suara, dan tatapan matanya seperti Mayang." Batin Bu Ratih.
Ia memang telah tahu jika istri Ammar itu adalah kembaran Mayang. Namun insting perempuan biasanya sedikit tajam. Ia mengamati gesture dan lirikan mata Arumi. Arumi yang cukup lama berbicara pada Qiya sedikit menyadari jika ada yang memperhatikannya.
"Apa ibu Gede curiga...." ucap Mayang.
Seketika ada rasa malu, sungkan kala ingatannya di masalalu kembali karena menyadari sedang diamati oleh Bu Ratih.
"Eh sudah liha keponakan?" Tany Arumi pada Qiya.
"Belum." Ucap Qiya.
Arumi mengajak Qiya ke kamar Nur. Bu Ratih yang penasaran pun bertanya pada Ayra.
"Suara nak Arumi itu mirip sekali dengan almarhumah Mayang." Ucap Bu Ratih pelan.
__ADS_1
"Oh Ya?" Tanya Arya penasaran.
"Iya. Tapi rasanya tidak mungkin. Kita kadang tidak tahu Takdir ya Bu. Seperti sekarang, Gede Berjodoh dengan Qiya. Dan Arumi berjodoh dengan Ammar. Saya justru tidak bisa membayangkan jika yang berjodoh dengan Ammar adalah Mayang. Maka akan seperti apa rumah tangga Ammar dan Mayang, juga Gede dalam bersikap pada Mayang." Ungkap Bu Ratih sambil mengikuti langkah kaki Ayra menuju kamar Nur.
Tiba di kamar Nur, mereka bercengkrama. Qiya yang gemas dengan bayi Nur. Ia mengirimkan foto ke ponsel Gede.
[Lucu mas... Gemes...Ga sabar pengen segera lahiran]
[Hust.... jangan sembarangan. Ini baru tri semester awal Dek.... Udah lama sampainya?]
[Baru tadi sekitar satu jam lalu]
[Mas lusa aja ya baru kesana.?]
[Ga mau... kangen Mas.... Biar aku yang kesana kalau mas sibuk]
[No. Biar mas yang kesana. Ya sudah tunggu nanti malam mas kesan]
Arumi mengamati Qiya. Ia bisa memastikan jika adik iparnya sedang berbalas pesan dengan suaminya. Karena mimik wajah merona sang adik ipar membuat ia bisa dengan mudah menebak.
Ammar yang tadi di titipkan pesan oleh Arumi bahwa ia ingin makan es kembang tahu. Maka ia siang itu sudah mendapatkan pesanan sang istri.
"Disini rupanya." Ucap Ammar yang tiba-tiba masuk.
"Mas, kok sudah pulang?" Tanya Arumi yang menjulurkan tangannya serta mencium punggung tangan sang suami.
"Katanya tadi kepingin es kembang tahu... itu baru dapet. Sudah mas angkut SE gerobak-gerobaknya." Ucap Ammar yang ceplas ceplos.
Arumi seketika mendelik ke suaminya.
"Loh. Nanti kayak kemarin minta pecel yang dijual di gerobak, yang jualan kudu pakai jilbab. Terus warna gerobaknya harus hijau." Udah dibeli tapi ga percaya..." Ucap Ammar sambil bergerak ke arah box bayi. Ia ingin mencium pipi sang keponakan namun Qiya langsung melarang.
Ammar tersenyum dan menyentil dahi Qiya.
"Ammar... " Ingat Ayra karena sulungnya itu tak berubah. Masih saja menganggap adik nya itu kecil dan belum menikah.
Ammar langsung tersenyum dan duduk di sisi Mamanya.
"Maaf Ma... mumpung ga ada suaminya. Karena kalau ada suaminya aku ga berani. Soalnya dari namanya udah Gede... " Ucap Ammar menahan tawanya.
Bu Ratih bisa melihat interaksi anak-anak Ayra yang tampak akrab dan hangat.
"Gede mendapatkan kebahagiaannya. Ia dikelilingi oleh orang-orang baik dan tulus. Keluarga ini seperti magnet kebahagiaan. Entah kenapa aku yang baru sebentar saja sudah terpesona sama Kharis keluarga ini." Ucap Bu Ratih didalam hatinya.
Tanpa ia sadari, airmatanya mengalir sendiri di pipinya. Bu Ayra, Qiya melihat itu.
"Bu Ratih... Ada apa?" Tanya Ayra tak enak hati.
Ayra sudah mendelik ke arah Ammar. Ia khawatir Bu Ratih tersinggung karena sikap sulungnya yang baru datang.
"Ibu... Ibu kenapa nangis?" Tanya Qiya.
Istri Gede itu sudah duduk di hadapan Bu Ratih dan tepat di depan lututnya. Ia bahkan menghapus airmata mertuanya. Arumi melihat kedekatan Qiya dan Bu Ratih.
"Kini aku tahu kenapa kamu berjodoh dengan Gede." Ucap Arumi dalam hatinya.
Ia ingat betul Gede sering mengeluh karena saat ia menjalin hubungan dengan Gede. Arumi nyaris tak pernah mau mencoba dekat dengan ibu Gede. Baginya dulu, ia menjalin hubungan dengan Gede bukan Bu Ratih. Ia bukan tipe perempuan yang bisa berbasa-basi. Atau pura-pura baik hanya untuk mengambil hati. Dan kini saat ia berjodoh dengan Ammar. Pesona Sulung Ayra itu mampu membuat ia berubah 180 derajat. Ia bahkan sangat manja dengan Ayra sebagai ibu mertuanya. Jika dulu ia cukup menjaga jarak dari orang-orang. Kini ia begitu welcome apalagi dengan keluarga suaminya.
Mungkin karena ia bertemu dengan Ammar di saat yang tepat. Disaat yang telah sama-sama pantas. Begitu pun Gede dan Qiya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa ibu bahagia. Gede dari kecil hidup hanya punya Niang dan Ibu. Tapi setelah menikah dengan kamu. Ia seperti mendapatkan apa yang tak ia dapatkan ketika kecil dulu." Ucap Bu Ratih.
Qiya seketika reflek memeluk ibu mertuanya. Ia teringat obrolan dirinya dengan Gede saat sang suami belum pergi ke Jakarta.
"Allah itu sudah berjanji akan memberikan apa yang hambanya butuhkan di saat yang tepat Bu. Kita saja kadang suka tidak sabar." ucap Qiya.
Ammar melihat Qiya. Ada rasa iri sebenarnya dalam hati. Sang adik begitu dekat dengan mertua. Sedang ia belum mampu menjalin hubungan seakrab itu dengan Pak Subroto. Karena Arumi masih memendam kesal dengan ayah kandungnya itu.
Ammar mengajak Arumi dan yang lainnya untuk menikmati es kembang tahu yang telah ia beli tadi.
Dan betul saja di depan rumah megah nan mewah itu sudah ada seorang penjual es kembang tahu yang sedang menyajikan es kembang tahunya kepada pekerja di rumah itu. Semua pekerja dari asisten rumah tangga dan tukang kebun, satpam sudah menikmati es tersebut. Arumi tersenyum sumringah karena melihat suaminya betul-betul memiliki ide diluar nalar. Ia membeli satu gerobak es tersebut dan membawanya ke rumah hanya karena kemarin di protes Arumi yang curiga bahwa apa yang dibeli tak sesuai pesannya.
"Makasih ya Mas." Ucap Arumi yang mengedipkan satu matanya ke arah Ammar. Ia cepat berdiri di sisi gerobak es tersebut. Layaknya pembeli yang antri.
"Banyakin air gulanya ya Pak." Ucap Arumi.
Ammar terlihat senang karena istrinya tampak bersemangat. Ia betul-betul tak tega ketika mual datang dan sang istri muntah-muntah. Setelah mendapatkan es nya. Arumi ingin makan di depan teras. Ia memilih duduk di anak tangga.
"Makasih ya Mas..." ucap Arumi sebelum memasukan satu sendoknya ke bawah Niqab nya.
"Iya... Sama-sama. Yang penting kalau ada apa-apa ngomong. Mas ga ngerti kalau pakai kiasan. Satu lagi. Terserah. Satu kata itu mas ga mau jadi jawaban." ucap Ammar yang juga mengambil satu sendok lain. Ia makan es kembang tahu milik Arumi.
"Manis sekali Ar...." ucap Ammar yang bergidik karena es nya terasa begitu manis.
"Dulu kata Mama kamu suka manis." Ucap Arumi
"Dulu, sekarang udah suka yang asin. Karena kamunya udah manis." Ucap Ammar.
"Gombal ah... " Arumi kembali menikmati sendok demi sendok es kembang tahu itu hingga habis satu mangkuk es tersebut. Ia bahkan minta kembang tahu nya saja tanpa es untuk yang kedua. Ammar hanya menggelengkan kepala tak percaya.
Saat ia masih menemani Arumi makan kembang tahu tersebut, Ammar mengambil sendoknya.
"Sini Mas suap." Ucap Ammar.
"Malu..."
"Sama siapa?"
"Tuh pak satpam." Ucap Arumi malu.
"Kan pakai Niqab. Gimana masih malu..." Ucap Ammar sambil mengarahkan satu sendok berisi kembang tahu ke arah mulut Arumi.
Istri Ammar itu membuka sedikit Niqabnya. Setelah habis satu mangkuk tersebut. Arumi merasa kenyang. Ia pun ingin membaca buku di perpustakaan Karena Ammar akan rapat vya zoom meeting.
"Aku ikut ke perpus." Ucap Arumi.
Ammar pun menggandeng tangan istrinya. Saat di perpus. Ammar tampak memijat pundak istrinya sesaat sambil menunggu meeting di mulai.
"Mas...."
"Hem..."
"Kenapa mas begitu menyayangi aku, memuliakan aku? Padahal surganya mas itu kan Mama?" Tanya Arumi
Ammar meng3cup kepala istrinya dari arah belakang.
"Arumi sayang, Surga mu memang ada padaku. Surga ku pun masih ada pada Mama.Tapi bagaiamana aku bisa masuk surga kalau tidak memuliakan istri ku. Dan kamu adalah ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin anak-anakku juga memuliakan ibu mereka juga istri mereka dengan sesuatu yang aku contohkan dan itu harus dimulai dari sekarang. Butuh latihan dan ke Istikomahan untuk itu." ucap Ammar.
Arumi mengeeecup punggung tangan Ammar.
__ADS_1
"Terimakasih...Aku betul-betul bahagia, beruntung menjadi istri dari mu Mas." Ucap Arumi.