Pesona The Twins

Pesona The Twins
98 Gede dan Masalalunya


__ADS_3

Hari itu Qiya dan Gede sudah tiba di Bali. Niang Ayu sudah menyiapkan satu kamar untuk mereka. Ia ingin sepasang pengantin baru itu tinggal dirumahnya beberapa malam sebelum acara yang disiapkan oleh Niang Ayu.


Sore itu Qiya membantu Ibu Ratih memasak di dapur. Bu Ratih bisa melihat bagaimana menantunya begitu cekatan di dapur. Bahkan terlihat ia sangat terbiasa dengan alat bernama pisau.


Saat makan malam pun Niang Ayu sempat menggoda Gede.


"Kamu harus sering-sering olahraga Ge. Kalau tidak kamu bisa gemuk." Goda Niang Ayu yang makan dengan lahab.


Gede bahagia sekali karena Qiya terlihat begitu cepat akrab dengan Niang Ayu dan Ibunya. Dulu Niang Ayu terkesan dingin dengan Mayang. Tidak dengan Qiya. Bahkan Niang Ayu dari pertama mereka datang sampai waktu malam masih betah berlama-lama di atas kursi rodanya.


"Niang seakan sehat betul ya Bu." Ucap Gede ketika mengambil minum di dapur saat melihat rona bahagia Lansia tersebut yang berbincang dengan istrinya.


"Niang sepertinya betul-betul menyukai Qiya selain kepribadian dirinya, ia juga cucu Kyai Rohim. Dimana Niang cerita banyak kenangan bersama kakeknya Qiya." Ucap Bu Ratih sambil menyimpan oleh-oleh yang di bawa Qiya ke dalam kulkas.


Gede pun mengingatkan Niang untuk istirahat. Ia pun mengantar Niang Ayu ke kamarnya. Bu Ratih bercengkerama dengan Qiya.


"Besok sekalian ke tempat teman Ibu yang mengurus acara resepsi kalian ya. Oya Qiy. Gede masih suka mengigau?" Tanya Bu Ratih pelan.


Qiya seketika terpaku. ia tak tahu harus menjawab apa tak mungkin menceritakan apa yang terjadi di kamar dan apa yang ia rasakan.


"Suka merintih saja Bu..." Cukup pelan dan lama Qiya memberikan jawaban.


Bu Ratih menghela napasnya pelan.


"Dari kecil Gede itu suka sekali di Bully belum lagi rasa kesal dan bencinya pada ayahnya. Ia akhirnya sering mengigau kalau tidur." Ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Astaghfirullah... sesakit itu kah masalalu mu Mas. Lantas apa yang membuat mu masih menyebut nama Mayang di saat bibir mu mengatakan cinta padaku." Batin Qiya.


Saat selesai berbincang, hari mulai larut malam. Mereka pun mengistirahatkan tubuh yang cukup lelah. Namun bagi Gede, tak ada waktu bosan untuk menghujani istrinya dengan cintanya. Ia begitu menikmati malam-malam bersama istrinya. Qiya seperti titisan Ayra. Ia masih melayani suaminya. Memberikan sesuatu yang memang menjadi haknya. Seorang istri yang memang diminta untuk selalu memenuhi panggilan suaminya selagi ia halal di gauli.


Saat selesai menunaikan kewajibannya. Maka tak heran suaminya akan tertidur pulas. Dan kebahagiaan tersendiri dihati setiap istri ketika mampu membuat suami merasa nyaman, merasa bahagia dan bisa tertidur nyenyak kala mendapatkan haknya. Ia tak sekalipun mengganggu atau malah marah ditinggal tidur ketika hajat sang suami terpenuhi. Ia justru bahagia. Ia merasa ia perempuan yang beruntung, karena bisa menjemput pahala melalui suaminya.


Setelah ia membersihkan tubuhnya. Ia membuka ponsel pintar miliknya. Ia cari artikel-artikel tentang orang yang mengigau, orang yang trauma. Dan Qiya malam itu tak melakukan kebiasaannya. Ia hanya duduk membaca banyak artikel. Hingga satu kesimpulan Qiya dapat dari cerita ibu mertuanya dan artikel yang ia baca.


Sementara ia hanya bisa menduga bahwa suaminya mengalami gangguan psikologis yang di kenal sebagai PTSD (post-traumatic stress disorder).Sebuah ketakutan yang dialami akibat peristiwa traumatis umumnya dapat hilang secara alami. Namun, sebagian orang bisa mengalami trauma secara terus-menerus hingga menimbulkan stres dan rasa takut yang berlebihan.


"Ya Allah... Kamu sedari kecil menanggung beban mental, mungkin juga dendam atas masa-masa pahit mu mas... Bahkan alam bawah sadar mu masih tak bisa tenang. Maafkan aku yang merasa tersakiti padahal kamu berjuang mengobati luka kehidupan mu yang masih membekas bahkan di timbun luka baru." Ucap Qiya sambil duduk di lantai dan memegang Pipi Gede.


Qiya akhirnya hanya bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa suaminya mengalami PTSD, dan suaminya membutuhkan psikoterapi yang dipandu secara langsung oleh psikiater. Suaminya tak sadar jika ia mengalami gangguan psikis karena terbiasa dari kecil memendam dan stres sendiri dengan kisah sedih hidupnya.


"Kamu harus ke Psikiater Mas, setidaknya akan membantu muuntuk menghilangkan trauma mu mas."


Menghilangkan trauma memang bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Qiya merasa tidak dapat melakukannya sendiri, Ia akan meminta bantuan ahli, seperti psikiater atau psikologi. Tinggal ia akan memikirkan cara menyampaikan hal itu pada suaminya.


"Ternyata, sebuah tabayun, sebuah klarifikasi sebelum merasa benar sendiri, sebelum merasa semua salah dari sudut pandang sendiri itu penting." Kembali Qiya menitikkan air matanya. Ia menangisi air mata yang jatuh selama ini.


Ia yang berpikiran suaminya main hati. Namun ternyata beban hidup sedari kecil justru meninggalkan trauma mendalam hingga tidur pun suaminya tak nyenyak.


Beruntung Qiya saat itu tak langsung marah, tak langsung mencerca suaminya dengan banyak pertanyaan. Gede yang mengalami trauma dan terbiasa memendam semua sendiri sedari kecil. Menjadikan ibu beban dan stress. Belum sembuh luka di masa kecil. Ketika dewasa di berikan luka lagi oleh Mayang. Hingga hampir setiap malam sebenarnya Gede mengigau kadang marah, kadang menangis karena sakit hatinya, karena dendamnya.


Gede yang merasakan usapan pada kedua pipinya. Ia terbangun dan melihat sosok perempuan yang memberikan kebahagiaan juga kenyamanan selama beberapa hari ini.

__ADS_1


"Dek... Kenapa di bawa? Kamu sudah mandi?" Ucap Gede yang melihat rambu sang istri masih basah.


Qiya hanya tersenyum.


"Kamu menangis kenapa lagi? Jangan bilang masih sakit..." Ucap Gede yang melihat sisa air mata di sudut mata istrinya.


"Kali ini menangis nya bukan karena sakit. Tapi karena masih ingin sudah ditinggal tidur...." Bisik Ucap Qiya yang sudah berpindah duduk diatas kasur.


Gede menautkan kedua alisnya.


"Kamu baru saja nonton film dewasa?" Tanya Gede penasaran.


Seketika Pipinya di cubit oleh istrinya dan di geleng-geleng kan.


"Ih.... tega ya sama istri sendiri mikirnya kayak gitu...." Ucap Qiya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lah. Habisnya... bisa sem3sum ini pagi-pagi begini...." Goda Gede lagi sambil menyentuh hidung Istrinya.


"Apa? Jal Baleni?" Ucap Qiya membesarkan pupil matanya sambil tersenyum.


"Hah?" Ucap Gede yang kurang paham bahasa Jawa.


"Coba ulangi tadi bilang apa?" Ucap Qiya menyipitkan kedua matanya.


"M3sum...." Ucap Gede yang segera memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


Menjelang pagi kamar itu menjadi saksi dan mendengar suara tawa bahagia dari sepasang suami istri itu.


__ADS_2