
Siang hari menuju di Bali, Gede sengaja mengajak sang istri makan dulu di sebuah restoran khas Bali yang menyajikan ayam betutu. Qiya pun menikmati menu tersebut. Ia bahkan begitu penasaran karena ia pernah menyiapkan menu itu untuk sang suami tak tak seenak masakan aslinya.
Selesai makan Gede pun mengatakan isi hatinya yang sedikit risau tentang permintaan Ibu Ratih untuk membesuk Hilman.
"Dek, maaf sebelumnya. Kemarin Mas melihat isi pesan kamu dan Ibunya Hilman." Ucap Gede.
Qiya langsung menunduk. Ia tahu dari nada bicara suaminya ada rasa tak suka dengan ide dirinya akan meminta izin sang suami. Ia paham bahwa sekarang ia butuh ridho suaminya untuk melakukan apapun itu apalagi terkait bertemu mantan walaupun dalam hati Qiya bukan karena Hilman mantan tunangannya melainkan karena jika di runut maka Hilman adalah adik iparnya.
"Maafkan Aku mas. Insyaallah aku manut sama mas. Jika memang tidak mengizinkan membesuk Mas Hilman. Aku tidak akan membesuknya." Ucap Qiya.
Gede meraih tangan istrinya. Ia genggam kedua tangan istrinya dengan kedua tangannya. Suami istri itu saling pandang. Ada tatapan cinta di hati Gede untuk istrinya. Bagaiamana ia begitu mencintai istrinya yang menutupi auratnya karena menjaga kehormatannya, yang menjaga shalatnya, yang selalu tampil menarik di hadapannya. Yang selalu merendahkan Suara dihadapan dirinya.
"Maafkan mas. Mas tahu ini rasa cemburu. Tak baik memang memiliki rasa cemburu. Tapi mas lebih baik berterus-terang daripada mas memendam dan malah menjadi prasangka buruk juga menjadi bom waktu untuk hubungan kita. Mas tidak siap jika kamu kembali bertemu Hilman." Ucap Gede.
Qiya mengangguk pelan. Ia akan patuh dan taat pada suami. Ia sebenarnya ingin memberikan sebuah klarifikasi tentang niatnya untuk bertemu Hilman bukan apa-apa tapi melihat ada cemburu yang membara di hati sang suami yang tak rela dirinya untuk bertemu masalalunya. Membuat Qiya menunda pembelaannya. Ia akan menjelaskan nanti kala rasa cemburu sang suami sudah reda.
__ADS_1
"Kadang rasa cemburu itu tak selamanya salah mas. Nyala api kadang tak selamanya menyeramkan atau menyakiti, justru nyala api kadang membuat semerbaknya aroma gaharu yang mengharumi setiap sudut ruangan. Begitu rasa cemburu. Itu tandanya ada cinta yang begitu besar untuk yang dicintai. Qiya justru senang mas memiliki rasa cemburu dan masih bisa mengolahnya hingga tak berubah menjadi cemburu buta." Ucap Qiya.
Gede pun menggandeng Istrinya menuju kasir. Ia membayar makan mereka di kasir. Saat tiba di mobil, Qiya cepat memberikan kabar pada ibu Hilman bahwa ia tidak bisa membesuk Hilman. Ia tak menceritakan bahwa Gede tak mengizinkan. Melainkan Qiya mengatakan jika dirinya sedang tak memiliki waktu untuk berkunjung. Ia juga mengirimkan dia agar Hilman diberikan kesembuhan.
Sedangkan Bu Ratih dihadapkan dengan kenyataan setelah nanti anaknya menjalani operasi dikepala Hilman Karena adanya gumpalan darah, sang anak jika ingin sembuh bisa dengan mencari donor sumsum tulang belakang.
Satu kenyataan yang dihadapi Pak Rendra dan Ibu Ratih. Bahwa sumsum tulang belakang yang cocok tidak semudah mendapat donor darah. Tidak sembarangan orang yang bisa menjadi pendonor.
"Biasanya, kecocokan sumsum tulang belakang bisa di dapat dari orang yang memiliki anggota keluarga pasien sendiri." Ucap dokter terbaik dirumah sakit terbaik dan terbesar di ibukota negara itu.
"Silahkan periksa saya." Ucap pak Rendra dan Bu Ratih bersamaan.
Pemeriksaan dilakukan dan ternyata dari Bu Ratih dan Pak Rendra tak ada yang cocok. Keegoisan Pak Rendra masih begitu besar. Saat Hilman terbaring di ranjang pesakitan Karen baru menjalani operasi di kepala bagian belakangnya karena penggumpalan di otaknya. Ia masih memikirkan cara agar Hilman selamat dari pihak ayahnya yang tak lain Pak Toha.
Ketika dokter mengatakan alternatif jika ada kemungkinan bahwa kecocokan sumsum tulang akan lebih besar antara saudara kandung, daripada antara orang tua dan anak.
__ADS_1
"Perbandingan kesuksesannya adalah 25% antara saudara kandung dan kecocokan sumsum tulang antara orang tua dan anaknya hanya sekitar 0,5% persen saja." Ucap sang dokter sambil menyerahkan hasil pemeriksaan kecocokan tulang sumsum dirinya dengan sang istri yang dinyatakan tak cocok.
Keegoisan masih begitu besar di hati Pak Rendra itu. Gengsi jika harus menemui mantan istri dan juga anak yang tak diakui untuk membantunya menyelamatkan Hilman. Ia masih memikirkan mencari pendonor dari orang asing. Ia padahal sudah diberi tahu bahwa kemungkinan cocok akan sangat tipis. Peluang untuk cocok dengan pendonor asing bisa satu berbanding jutaan orang. Ia bahkan memasang pengumuman dan memberikan informasi di perusahaan juga partainya. Ia sudah sampai luar negeri namun masih sama jawaban dan solusi dari dokter. Menanti pendonor dari orang asing ibarat kata satu berbanding sejuta orang.
Ia kembali berkonsultasi dengan dokter terbaik di Australia.
"What if we still use my donor as the parent?" Tanya Pak Rendra pada dokter.
{Bagaimana jika tetap memakai pendonor dari saya sebagai orang tuanya}
"it can make your son's immune system compromised because the donor is not fully compatible." Jelas sang dokter pada Pak Rendra.
{ini dapat membuat sistem imun Anda terganggu karena donor tidak sepenuhnya sesuai.}
"And improper bone marrow donors can even exacerbate disease conditions, causing infections and other body dysfunction." Tambah sang dokter.
__ADS_1
{Dan Donor sumsum tulang yang tidak tepat bahkan bisa memperburuk kondisi penyakit, hingga menimbulkan infeksi dan gangguan fungsi tubuh lain.}
Seketika Pak Rendra Menitikkan air matanya. Air mata penyesalan, air mata kesedihan karena sang anak yang ia selalu banggakan di rekan-rekan politiknya kini membutuhkan pendonor tulang sumsum yang bisa ia dapatkan dari anak yang dulu tak ia akui, dan itu bukan hal mudah bagi Pak Rendra. Ia harus menemui cara agar bisa memulai berbicara pada perempuan bernama Ratih juga. Ia sudah pesimis akan dimaafkan apalagi berharap jika sang anak yang di buang, yang tak pernah diakui akan mau mendonorkan tulang sumsum belakangnya.