
Ditempat yang lain Gede sudah menerima hasil pemeriksaan kecocokan tulang sumsum belakangnya untuk Hilman. Ia mengamati hasil tersebut.
"Dek, Mas jemput ya. Kita temui ibunya Hilman. Kamu yang hubungi Ibu nya Hilman ya." Ucap Gede melalui sambungan telepon.
Qiya menghubungkan Ibu Ratih melalui pesan. Ia mengatakan jika ingin bertemu Ibu Hilman itu. Beruntung Ibu Ratih saat itu berada di kediaman Pak Toha. Saat Gede sudah menjemput istrinya. Di dalam mobil dua orang dokter itu justru saling berdebat.
"Mas tunda saja apa ya. Berarti mas ketemu Kakeknya Hilman.... Mas tidak tega kalau sama orang tua." Ucap Gede.
"Tidak apa-apa mas. Toh hasilnya juga tidak cocok kan?" Ucap Qiya sambil mengusap tangan suaminya.
"Ya sudah. Mudah-mudahan mas bisa bersabar. Sebenarnya mas ingin mengirimkan saja ini.Tapi mas tidak ingin jika Ibunya Hilman sampai menemui Ibu lebih dulu. Kasihan Ibu jika harus kembali mengenang masa-masa pahit itu." ucap Gede.
Akhirnya. Mereka pun berangkat menuju kediaman Pak Toha. Cukup lama mereka menempuh perjalanan menuju kediaman Ayah Pak Rendra itu. Sekitar satu jam setengah mereka baru tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana. Qiya melihat rumah yang jauh berbeda dengan kediaman Hilman yang lekat dengan kesan mewah.
"Bener ini rumahnya Dek?" Tanya Gede.
"Bener Mas. Ini google map nya juga udah nunjukin disini." Ucap Qiya.
"Telepon dulu. Takut salah." Pinta Gede.
Qiya pun menempelkan benda pipih tersebut di pipinya. Dan panggilan telepon itu pun tersambung. Tampak Bu Ratih keluar dari arah teras.
"Iya mas benar. Itu Tante Ratih." ucap Qiya.
Sepasang suami istri itu melepaskan sabuk pengaman mereka. Ketika keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba satu mobil sedan hitam berhenti tepat di belakang mobil Gede. Sepasang dokter itu reflek menoleh ke arah mobil dan terlihat Pak Rendra keluar dari dalam mobil. Gede menahan gerahamnya. Ia mencoba membuang pandangannya ke arah lain.
Kedua netra Pak Rendra tertuju pada lelaki yang ia sebenarnya kenal. Karena beberapa hari lalu ia mencari tahu tentang putra yang tak ia akui. Bu Ratih mendekati Qiya.
"Terimakasih sudah mau kemari. Tante kemari karena mendapat kabar bahwa kakek Hilman sedang kurang sehat." Ucap Bu Ratih sambil menggandeng Qiya.
__ADS_1
Pak Rendra berjalan ke arah Qiya dan istrinya. Bu Ratih pun mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk kedalam rumah adik ipar mereka. Rumah yang sederhana tapi nyaman di huni. Walau tak mewah tetapi terlihat rapih dan bersih.
"Silahkan duduk..." ucap Bu Ratih pada kedua pasang suami istri tersebut.
Pak Rendra baru mengulurkan tangannya. Namun Gede tak menerima uluran tangan lelaki paruh baya itu. Qiya menyenggol lengan Suaminya. Namun Gede menoleh ke arah Qiya dengan tatapan tajam.
Hari Qiya seketika mencoba tenang. Ia tak mungkin menasehati suaminya di hadapan orang lain. Ia juga tak mungkin merasa sakit hati, sedangkan suaminya mungkin mencoba menahan diri dari tadi.
"Maaf saya kemari ada perlu dengan Bu Ratih." Ucap Gede tak menyambut tangan Pak Rendra dan tanpa melihat lelaki itu.
Pak Rendra baru merasakan sakitnya diabaikan. Baru ia merasakan bahwa hatinya ingin mengakui Gede anaknya. Namun sikap Gede padanya membuat kedua bibirnya bungkam. Wajahnya juga merah karena menahan malu.
"Sebentar Ya Nak Gede. Saya ambilkan minum dulu." ucap Bu Ratih.
"Tidak perlu repot-repot Tante. Kami cuma sebentar." Ucap Qiya.
"Tak baik bertamu tapi menolak sajian dari tuan rumah. Minimal cicipi walau sedikit. Kyai Rohim dulu sering bilang begitu ketika kami terburu-buru pulang saat Umi Laila menghidangkan sesuatu untuk kami." Ucap Pak Toha.yang keluar dengan anak perempuannya yang mendorong kursi rodanya. Ia pun meminta di arah kan ke sisi Gede.
"Ternyata tuanya usia tak menjamin dewasanya cara orang menyikapi dan menghadapi masalah." Ucap Pak Toha yang menjulurkan tangannya.
Gede yang melihat istrinya begitu takhdim pada Pak Toha. Ia juga ingat cerita Ammar jika kakek Hilman ini adalah sesepuh yang banyak membantu perjuangan dakwah sang kakek dulunya. Maka ia menerima uluran tangan tersebut.
"Hehehe.... Kalian ini mengingatkan aku dengan sahabat ku. Beliau itu selalu apa-apa mainnya pakai hati." ucap Pak Toha.
Lelaki paruh baya itu melirik ke arah Pak Rendra yang duduk dihadapan Gede.
"Aku mewakili anak ku. Memohon maaf padamu dan Ibu mu. Mungkin kisah yang ia torehkan pada kamu dan ibumu begitu menyakitkan." Ucap Pak Toha.
Gede menoleh ke arah laki yang sudah sepuh itu.
__ADS_1
"Saya memang yang tidak bisa mendidik anak. Tapi ibu mu sungguh beruntung karena punya anak seperti kamu. Kamu juga begitu, pasti kamu bahagia. Karena sepertinya kamu hidup dan didik untuk tidak hidup seperti boneka." Ucap Pak Toha.
Kali ini Pak Rendra hanya mampu menunduk. Ia tak mampu mengangkat kepalanya.
"Terimakasih Kek. Alhamdulillah, Ibu saya begitu menjaga saya dan mendidik saya. Walau tanpa figur ayah tapi saya insyaallah akan menjadikan bekal hidup saya agar bisa menjadi ayah yang baik buat anak-anak saya. Mohon doanya Kek. Istri saya sedang hamil sekarang." Ucap Gede.
Pak Toha tampak sumringah.
"Kakek doakan lancar sampai hari proses persalinan. Dan aku harap. Kamu menganggap ku kakek. Bukankah kita memiliki hubungan darah? Dan aku tak memiliki salah pada mu?" Tanya Pak Toha.
Gede memandang Pak Toha.
"Insyaallah. Berusaha memaafkan semua masalalu. Justru saya kemari juga untuk itu. Saya memang memaafkan semua khilaf dari Pak Rendra. Untuk Kakek. saya bersyukur jika kakek menganggap saya sebagai cucu. Hari ini sebenarnya saya kemari untuk memberikan satu hasil pemeriksaan tentang donor tulang sumsum belakang untuk Hilman." Ucap Gede sedikit keras.
Bu Ratih sudah hadir dengan satu nampan makanan ringan dan minuman. Ia pun memandangi Gede penuh harap seraya menyajikan isi nampan tersebut diatas meja.
"Ini hasil pemeriksaan saya Bu Ratih. Saya sudah memeriksakan diri. Dan meminta teman saya untuk menghubungi dokter yang menangani Hilman. Maafkan saya, hasil dari pemeriksaan ini ternyata saya tidak cocok dengan Gede. Allah berkehendak lain. Walau secara medis kecocokan tulang sumsum belakang memang lebih besar peluangnya dari saudara kandung." Ucap Gede.
Bu Ratih membuka surat yang berada di dalam amplop tersebut. Ia membaca hasil yang memang menyatakan tak cocok. Seketika air mata mengalir dari kedua mata Bu Ratih.
Adik iparnya menenangkan Bu Ratih. Qiya pun ikut menenangkan Bu Ratih.
"Tante masih bisa berdoa Tante. Bukan berarti tak ada kemungkinan lainnya." Ucap Qiya.
"Iya kak. Betul. Siapa tahu ada pendonor yang dari orang lain malah cocok." Ucap Adik ipar Bu Ratih.
Namun perempuan itu menatap tajam suaminya.
"Hari ini apakah masih ada anak kandung yang tak kamu akui mas? aku akan menemui nya hari ini juga. Aku akan memohon bahkan menukar nyawa ku demi anak ku. Hari ini juga ceraikan aku. Aku sudah tak mampu bertahan hidup dengan mu." Ucap Bu Ratih diiringi Isak tangis.
__ADS_1
Pak Rendra mengangkat wajahnya dan menatap istrinya.