Pesona The Twins

Pesona The Twins
115 Masalalu Pak Rendra


__ADS_3

Pak Rendra telah mendapatkan informasi jika Ratih Purwasih adalah besan dari Bramantyo Pradipta. Ia tak menyangka jika anak yang dulu minta diakui sebagai anaknya menjadi suami dari Qiya.


Masih ada rasa tidak suka dalam hati Pak Rendra. Saat ia masih di kantor. Tiba-tiba seorang ajudannya datang ke kantor dan menyampaikan jika putra satu-satunya saat ini dilarikan ke rumah sakit. Ia terjatuh pingsan saat sedang menyampaikan kata sambutan sebagai wakil rakyat di kunjungan kerjanya.


"Maaf Pak. Pak Hilman baru saja dilarikan ke rumah sakit. Beliau pingsan tadi."


"Apa!? Bagaimana bisa?! Cepat kesana." Ucap Rendra.


Dalam perjalanan, Ia menelpon sang istri yang berada dirumah. Sang istri berangkat ke rumah sakit diantar sopir rumah. Mereka pun bertemu di ruang IGD dan putra mereka yang bernama Hilman Pratama masih belum siuman. Dokter menyarankan untuk di rawat inap dan akan diadakan pemeriksaan lebih lanjut. Karena dari hidung Hilman mengeluarkan d@rah.


Sampai di ruangan rawat pasien VIP. Istri Pak Rendra menangisi kondisi sang anak. Tubuh Hilman menurun drastis. Matanya terlihat cekung. Belum lagi ia memang sering mengeluh sakit kepala. Kali ini sebenarnya ke tiga kalinya ia pingsan. Hanya saja saat ini ia pingsan di saat berada di keramaian.


Bu Ratih menatap suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Hati istri dari Pak Rendra itu kini ingin sekali memberontak. Ia merasa anaknya sering sakit, irit bicara semenjak pernikahan dirinya dengan Qiya dibatalkan. Bahkan foto perempuan yang dulu ia cintai itu masih terpajang di meja kerjanya.


"Terbuat dari apa hati mu Mas? Saat anak mu satu-satunya tak sadarkan diri. Kamu masih sibuk bekerja. Apakah kamu tidak melihat kondisi Hilman sekarang? Ia seperti mayat hidup. Ia menjalani hari-harinya tanpa ada Semangat semenjak keegoisan mu membatalkan pernikahannya." Ucap Bu Ratih dengan lirih.


Pak Rendra masih acuh. Jika dulu ia tak mau tau dengan kondisi Ratih. Kali ini ia justru penasaran dengan Ratih. Baru ia ingin menyimpan ponselnya. Kembali sebuah pesan masuk ke ponselnya. Terlihat dari raut wajah Pak Rendra sedang marah dan kesal.


"Aku pergi dulu! Beri kabar jika Hilman sadar. Dokter juga sudah ku minta memeriksa sakit apa dia." Ucap Pak Rendra sambil berlalu dari ruangan itu.


Rumah tangga yang biasa dibangun hanya berbicara seperlunya Saja. Terlihat harmonis hanya di depan media. Ratih bahkan hanya dapat pasrah dengan lelaki yang telah menjadi suaminya itu. Ia memang tidak pernah main tangan tetapi Rendra sebagai kepala rumah tangga tak pernah memberikan ia dan Hilman waktu,kehangatan.

__ADS_1


Disaat usia mulai menua, Pak Rendra mulai memanen apa yang tanam di kala masih muda dan gagah. Seorang laki-laki bernama Jarwo menghubunginya dan sekarang sedang menunggu dirinya di sebuah cafe. Pak Rendra telah tiba. Ia minta ajudan sekaligus sopirnya untuk menunggu di mobil. Ia pun pergi menemui Jarwo. Seorang Pria tua yang memiliki banyak bisnin ilegal dan rumah bisnis yang menjual miras.


Tiba di sebuah meja, Pak Rendra duduk di kursi yang berada diseberang sang lelaki berambut panjang itu.


"Aku kemari bukan berarti aku percaya apa yang kamu katakan. Aku tidak akan memberikan kamu sepeserpun. Kondisi keuangan ku tak seperti dulu." Ucap Pak Rendra dengan nada sinis memandang Jarwo.


Lelaki berambut panjang itu terkekeh. Ia terlihat mengusap-ngusap rambut kepalanya. Lalu lelaki itu melepaskan headshet dari telinganya. Ia menempelkan headshet itu di telinga Pak Rendra. Terdengar percakapan yang sudah cukup lama bahkan Pak Rendra sendiri hampir melupakan kejadian itu.


Flashback On


"Aku tidak mau tau caranya seperti apa. Aku ingin kamu memberikan pelajaran. Bila perlu habisi sekalian wakil walikota itu. Walikota itu bodoh, bisa-bisanya dia tak berani melawan kebijakan dan di gertak oleh seorang perempuan! Semenjak dia menjabat, aku kehilangan banyak proyek besar. Tender-tender yang diadakan sulit sekali untuk aku menangkan karena tidak bisa di sogok."


"Baik, satu aku beritahu, serang anak-anaknya. Aku sudah mengirimkan kebiasaan Ayra setiap harinya. jadi kamu bisa mempelajari untuk mencari sela kapan kamu bisa mencelakainya. Suaminya begitu over protektif. Pengawal dari suaminya juga ada disekitarnya, maka kamu harus hati-hati. Jika berhasil kali ini, bisnis parkir liar mu akan tetap aman di kawasan sini."


"Beres."


Dua hari setelah kejadian itu, Ayra yang menjabat menjadi wakil walikota sedang sibuk dengan kegiatannya. Ia sebenarnya sering mendapatkan teror dan ancaman karena ia hadir di dunia politik dan pemerintahan bagai minyak. Prinsipnya yang tak ingin mencari keuntungan dengan kedudukan dan jabatan nya saat itu membuat beberapa pejabat negara merasa kelaparan karena pemasukan mereka minim. Tidak ada seseran, tidak ada uang masuk selain gaji. Ayra yang dianggap istri sultan mungkin cukup dengan gaji walikota yang mungkin tak cukup bagi sebagian pejabat daerah. Kebijaka yang diambil Ayra pun membuat ia kadang sering bersitegang dengan Walikota. Bahkan ketika di gertak, Ayra juga menggertak balik. Namun siang itu, ia dilema.


Sudah dua hari foto anak-anaknya disekolah dikirim oleh nomor tidak dikenal. Bahkan telepon dari orang yang tak dikenal yang memintanya mundur dari walikota atau ia akan menyesal. Puncaknya suatu siang, Ia berdebat sengit dengan Walikota yang akan mengadakan sebuah pengadaan barang untuk pengusaha kecil. Disana Ayra bersikeras untuk menurunkan sesuai dengan dana dari pusat dimana untuk masing-masing pengusaha Tempe, tahu juga pedadang bakso dengan alat yang sesuai RAB dari pusat. Tetapi walikota meminta pada bawahannya agar membeli barang dengan merk yang merk murah dan jumlah bantuan pun dikurangkan. Hal itu membuat Ayra Marah.


"Bu Ayra! ini bukan pondok pesantren! Anda tidak bisa mengatur saya. Saya walikotanya! Jika anda merasa tidak cocok silahkan untuk mundur!" Ucap walikota yang cukup lama menahan emosinya. Ia merasa kesal karena Ayra selama ini tak mampu di beri uang atau di ajak kerjasama.

__ADS_1


Saat Ayra kembali keruangan. Baru ia ingin menenangkan hatinya, Ia menerima telepon dari seseorang yang tak di kenal. Bahkan sebuah telepon itu diakhiri dengan masuknya sebuah gambar dimana Ammar yang tampak sedang bersama temannya. Qiya juga sedang terlihat berjalan dengan temannya.


Ayra menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa bingung. Hampir beberapa hari ini ia merasa sakit bimbang, akhirnya ia pun memutuskan untuk mundur, ia merasa dirinya terus di desak, di kucilkan karena terdapat perbedaan pendapat, dan bersikap.


Saat Bram menelpon untuk menjemput sang istri, Bram mendengar suara isak tangis. Akhirnya ia pun menjemput Ayra lebih awal. Saat ia menjemput Ayra, Istrinya itu berjalan keluar gedung sendiri, Saat ia menyeberang, ternyata ada sebuah mobil berniat ingin menabraknya. Ia pun akhirnya di serempet. Dan itu membuat ia tertimpa musibah dan kehilangan anak ke empat dan rahimnya harus di angkat pasca ia keguguran.


Beberapa setelah itu terjadi sebuah pesta kecil pasca mundurnya Ayra sebagai Wakil Walikota termasuk yang salah satunya yaitu Pak Rendra.


"Akhirnya perempuan itu mundur juga, dulu karena dia aku aku di abaikan partai sampai aku membuat partai sendiri, sekarang, ia bisa juga aku kalahkan. Ayra Khairunisa. Aku harap kamu tidak kembali ke dunia politik."


Flashback Off


"Br3ngsek! Masih kau simpan rupanya! Katakan apa yang kau inginkan lagi.!"


"Putra mu dan beberapa orang temannya tak ingin menandatangani untuk peraturan daerah terkait kebijakan yang akan menguntungkan aku, aku harap kamu bisa meminta anak mu dan koalisinya untuk menandatangani itu ketika rapat minggu depan. Cuma itu, setelah itu rekaman itu menjadi milik mu, jika tidak! Aku akan menyebarkan ke media masa, kisah masalalu mu agar karir politik anak dan partai yang kau bangun bisa hancur sekalian." Ucap Pak Jarwo penuh penekanan.


Pak Rendra kembali terlihat gusar.


"Anak itu, sudah ku bilang jangan jadi sok pahlawan!" Ucap Pak Rendra yang kembali kesal dengan Hilman.


Sedangkan di rumah sakit, Istri Pak Rendra sedang menangis karena sang anak dinyatakan mengidap leukumia.

__ADS_1


__ADS_2