
"Saya hanya mengagumi nya Bu... Kami tak punya hubungan apa-apa. Dia juga mungkin tidak suka sama saya." Ucap dokter Gede yang memang memiliki rasa minder atau kurang percyaa diri, yang memang ada pada dirinya sejak ia kecil.
"Ini Ibu mau berikan kamu paketan yang kamu pesan dan tunggu saat belum berangkat pindah tugas." Ucap Bu Ratih.
Perempuan yang melahirkan dokter Gede itu pun meninggalkan dokter Gede. Kedua mata dokter Gede melebar. Ia tersenyum membaca bungkus paket tersebut. Ia dulu memang memesan buku yang mencari Jodoh. Tetapi Ia belum sempat membacanya. Ia tak membuka paket tersebut. Ia justru mencari ulama favoritnya yang ia rasa ringan dan mudah di mengerti penyampaian nya.
Ketika ia menyimak ceramah tersebut. Tiba di kalimat ulama tersebut pada.
"Memang ada banyak contoh Rasulullah ketika memilih pendamping hidup. Boleh karena cantiknya, keturunan nya, hartanya dan agamanya. Tetapi jika kita memilih agamanya. Walau ia Tidak cantik, tidak kaya. Dia akan bisa membahagiakan kita karena dia tahu bahwa membahagiakan suami akan menjadi pahala baginya, berkelakuan baik dan menjaga nama baik suami pun akan mendapatkan ganjaran, diberi nafkah oleh suami berapapun akan di syukuri. Seperti Sayyidah Fatimah dalam berumahtangga dengan Sayidina Ali. Salah satu Kisah dari anak Rasulullah yang bisa dijadikan inspirasi buat kita."
Gede pun menutup ponselnya ketika selesai mendengarkan sesuatu yang memang ia butuhkan saat itu. Ia pun yang tak bisa tidur mengambil wudhu dan bergegas membaca kitab suci miliknya. Walau suaranya tak seindah mereka yang telah mondok, tetapi tajwid nya sudah pas. Karena sedari kecil ia sudah belajar mengaji.
Niang Ayu mencintai dokter Gede layaknya cucu sendiri. Ia bahkan di carikan guru agar bisa belajar mengaji. Maklum ia tinggal dan di besarkan di lingkungan Non Muslim tetapi beruntung ia tinggal dan dibesarkan Niang Ayu yang tak memanfaatkan situasi membuat orang lain harus berpindah keyakinannya. Ia justru memberikan yang terbaik untuk pendidikan dokter Gede. Sehingga tak heran jika dokter Gede bisa membaca kitab suci.
Bahkan ketika ia berkunjung pada gurunya yanh dulu mengajarkan dia alif ba ta. Sang guru meminta agar dokter Gede terus membaca kitab Suci Alquran. Karena salah satu saran dari guru ngajinya yaitu ada ketenangan ketika membaca kitab suci disaat hati mencari ketenangan.
Selama kurang lebih tujuh bulan semenjak itu, dokter Gede menamatkan membaca Al-Qur’an 30 juz. Ia bahkan saat masih merasakan sakit hati ditinggal Mayang bisa satu malam sampai 20 halaman membaca kitab tersebut. Namun lama kelamaan karena mulai ada rasa lelah tapi tetap dokter Gede pertahankan dengan membaca 10 halaman atau kadang hanya 5 lembar tiap malamnya. Hingha ia tak percaya malam itu ia khatam membaca kitab Suci umat Islam tersebut. Seumur hidup dokter Gede, ia baru bisa mengkhatamkan Al Qur’an secepat itu.
__ADS_1
Ketika selesai di surat An Naas, Air mata dokter Gede menetes.
"Ternyata hikmah batalnya aku menikah dengan Mayang, saya mungkin tak akan pernah mengkhatamkan Alqur’an." Ucap dokter Gede menatap kitab suci yang dibelinya dari hasil menabung ketika masih SD.
Dua hati satu rasa. Seorang gadis juga sedang menitikkan air mata karena baru saja membaca kitab suci. Ia yang memang mondok di pesantren tidak hanya fokus kepada kemampuan santrinya untuk berbahasa arab dan Inggris juga hafalan Alquran. Tetapi bisa memahami kitab-kitab lama atau kitab kuning biasa disebut di pesantren nya. Dimana banyak mengandung ilmu, mulai Fiqh, Tauhid, filsafat dan lain-lain. Sehingga putri Qiya tersebut paham ilmu keagamaan.
Kedua netra Qiya berhenti dan dadanya sesak ketika Ia tiba di surat Ar rum di ayat 21.
"Sungguh indah dan terasa ringan andai setiap makhluk di bumi ini mampu menemukan rahasia dan tanda kebesaran Mu ya Allah...." Ucap Qiya setelah tak mampu lagi membaca ayat selanjutnya.
Hatinya baru tahu jika inilah hikmah ia batal menikah dengan Hilman. Sikap Hilman yang berharap bahkan memaksa sesuatu terjadi sesuai yang dia inginkan, berbeda dengan putri Ayra itu. Ia merasa prinsip yang berbeda akan membuat itu menjadi masalah kelak ketika menikah. Malam itu ia pasrah akan siap jodohnya tetapi masih selalu berdoa agar lelaki yang menjadi imam nya kelak bisa sama-sama menjadikan rumah tangga mereka untuk ibadah kepada Allah. Karena pada Hakikatnya manusia di dunia ini memang diciptakan untuk beribadah.
Ia tak ingin mengatur Allah agar diberikan jodoh sesuai yang ia inginkan. Ia lebih fokus menyiapkan diri menjadi orang yang ia inginkan menjadi jodohnya kelak agar samg jodoh pun akan memiliki sikap dan sifat yang sama. Karena bagi jomblo seperti Qiya, jodoh akan seperti pantulan cermin. Maka seperti apa dia maka begitulah jodohnya nanti.
Di tempat yang lain dua orang perempuan sedang berbagi cerita.
"Kamu tahu, ia bahkan tak melihat mu. Padahal ia yang begitu khawatir kondisi mu. Tapi aneh lelaki itu bahkan tak bertanya pada ku tentang mu. Oh... Apa ia koma ya...." Ucap Miss Allyne pada Alisha.
__ADS_1
Alisha masih mencoba memijat pundak miss Allyne. Ia merasa ketagihan di pijat Alisha. Perempuan itu hanya diam tak berkomentar. Namun mendengar kata luka. Ia pun penasaran. Ia tak tahu jika lelaki yang menyelamatkan nya hari itu adalah Ammar.
Lelaki yang pernah menyelamatkan nya saat itu.
"Dia terluka?" Ucap Alisha dengan penasaran.
"Ya, dia ditikam lelaki yang katanya suami mu itu." Ucap miss Allyne masih terpejam menikmati pijatan yang bisa mengendur kan saraf di pundaknya.
"Semoga dia baik-baik saja. Dan semoga suatu saat nanti saya bisa berterimakasih padanya." Ucap Alisha menatap langit-langit kamar Miss Allyne.
"Hhhhh.... Apakah Mr Ammar mulai tertarik pada Alisha. Kenapa dua kali pertemuan terakhir ini dia hanya fokus pada kabar Alisha. Ia bahkan meminta hasil pencarian data diri Alisha. Apa menariknya Alisha. Tapi dia perempuan malang." Batik Miss Allyne yang kecewa. Ia kecewa dengan sikap Marvin yang menyamar menjadi Ammar.
Ia sebenarnya diminta Ammar asli untuk mengetahui detail informasi Alisha dan kabar tentang Alisha.
"Tak mungkin bos dengan mau repot-repot mengurusi kisah cinta asisten pribadinya. Tapi tatapannya pada ku seperti ia juga menyukai aku. Aku harus lebih gesit lagi. Bila perlu aku yang akan menyatakan cinta ku padanya lebih dulu. Dan aku akan mengatakan saja jika Alisha sudah tidak gadis dan memang istri Alex, setidaknya ia tak akan menyukai perempuan yang tak lagi v!rgin. Ia pernah mengatakan itu padaku. Dan aku punya syarat yang ia miliki itu." Ucap Miss Allyne kembali.
Ia sibuk dengan cintanya karena ia sudah ingin menikah. Usianya tak lagi muda, hati juga sudah terlanjur cinta pada Ammar yang nyatanya adalah Marvin.
__ADS_1
Saat miss Allyne sibuk dengan pikirannya. Alisha juga sibuk memikirkan dirinya. Ia yang ketika di tanya oleh Miss Allyne perihal hubungan suami istri dengan Alex. Ia malah bingung menjawab hu bungan badan. Karena ia sendiri baru mendengar istilah itu. Ibarat komputer yang baru di instal ulang semua datanya maka masih kosong. Termasuk perihal itu. Namun kedua mata yang langsung ia pejamkan ketika Miss Allyne menunjukkan video kegiatan tersebut membuat Alisha justru bingung sendiri.
"Jika semua suami istri melakukan itu. Kenapa kami tak pernah melakukan itu. Semoga aku bisa mengingat sedikit saja tentang aku. Apa betul kata miss Allyne jika aku sepertinya bukan istri Alex... Lantas siapa aku." Batin Alisha.