Pesona The Twins

Pesona The Twins
112 Kebahagiaan Pengantin Baru


__ADS_3

Hari masih menjelang fajar, Arumi baru mau beringsut dari tempat tidurnya. Namun lengan kekar Ammar memeluknya erat. Aroma tubuh Ammar membuat Arumi betul-betul merasa aneh, ia suka aroma itu.


"Mas, aku mau mandi. Tubuh ku lengket." Ucap Arumi yang tahu suaminya sudah bangun.


"Sudah nanti saja. Masih dingin Ar." Ucap Ammar dengan suara khasnya yang bangun tidur.


"Peluk Ar." Ucap Ammar masih dengan mata terpejam.


Arumi pun menuruti apa yang suaminya inginkan.


Ia menatap wajah tampan itu.


"Kenapa mas tidak marah kemarin?" Tanya Arumi penasaran. Ia sudah yakin kemarin jika suaminya akan marah karena ia kabur.


"Bagaimana mau marah. Kamu itu pergi pas aku lagi sayang-sayangnya." Ucap Ammar membuka kedua matanya.


Arumi tersenyum melihat suami suaminya membuka matanya.


"Dengar, kita tidak akan bahagia. Jika kamu sedang marah, aku juga marah. Jika kamu sedang merajuk aku juga hanya mendiamkan. Toh kamu kesini juga karena salah ku juga kan. Marah juga tak ada gunanya karena istriku ini...kalau sudah mendelik bikin bulu kuduk merinding." Ucap Ammar.


Arumi hanya tersenyum.


"Hhh... Jika lelaki lain mungkin sudah marah." Ucap Arumi dalam hatinya.


"Tapi kalau kamu kabur dan hadiahnya seperti semalam, besok kalau kabur cari tempat yang lebih romantis ya sayang." Ucap Ammar sambil menyentuh hidung mancung Arumi dengan hidungnya.


Arumi tersipu malu. Ia tak menyangka jika akhirnya ia akan merasakan hangatnya hati


karena mencintai suami. Dan hati itu berlabuh di tempat yang benar.


Saat akan membersihkan tubuh mereka. Ammar baru memakai baju sweater nya. Cuaca disana masih cukup dingin. Ia melihat Arumi memegang dinding untuk berjalan. Ammar tersenyum dan mengusap tengkuknya. Ia maklum dengan kondisi istrinya yang baru. Ada kekhawatiran semalam saat ia mengingat bahwa sang istri pernah tinggal dengan lelaki lain selama satu tahun. Tapi semalam ia masih mendapatkan haknya tanpa pernah di cicipi lelaki lain.


Arumi melucuti sprei.Ammar bahkan membantu Arumi dengan memasangkan seprai yang baru ia juga membantu memasangkan seprai yang diujung kasur.


Arumi menguncir rambutnya. Tapi Ammar cepat menggendong istrinya.


"Mas...."


"Mau kemana. Biar mas antar. Mas siap dihukum juga karena sudah menyakiti kamu. Sekarang jangan kabur lagi. Siapa tahu semalam jadi benih top cer dan kamu akan jadi ibu. Kamu mau besok anak atau menantu mu juga kabur kalau cemburu?" Ucap Ammar sambil berjalan ke arah luar kamar. Arumi sudah mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Mereka berjalan ke arah dapur. Arumi memasak banyak air. Ammar bertanya untuk apa.


"Untuk mandi, memangnya tubuh mas tidak terasa remuk?"


"Hahaha....."


"Senang sekali yang tidak tidur di sofa lagi." Goda Arumi. Ia baru akan membuka jendela.


"Eit.... Jangan dibuka dulu. Belum adzan Shubuh. Mama sering mengingatkan untuk membuka jendela dan pintu setelah Shubuh." Ucap Ammar.


Arumi menoleh.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Karena sebelum Maghrib dan sebelum Shubuh itu masih waktunya jin bertugas. Jadi dibiaskan." Ucap Ammar.


Arumi pun menurut.


"Mau sarapan nasi goreng atau nasi putih sama sayur ampai?"


"Sayur ampai?"


"Sayur di rebus dengan daun-daun. Seger." Ucap Arumi.


"Terserah. Yang penting kamu yang masak. Besok kalau sudah kembali ke Jakarta. Kamu tetap masak ya Ar." Ucap Ammar.


"Boleh. Tapi Bayarannya mahal." Ucap Arumi.


Ammar mendekat ke arah istrinya yang terlihat membersihkan daun kemangi yang ia petik kemarin sore.


"Berapa mahalnya?" Tanya Ammar yang sudah memeluk istrinya dari arah belakang.


"Ga bisa dibayar pakai uang."


"Pakai apa dong?"


"Pakai Cinta." Ucap Arumi terkekeh.


Ammar meng3cup pipi sang istri dan sibuk mengganggu Arumi yang sedang membersihkan bumbu. Saat air sudah matang. Ia akan menyiapkan Ammar untuk mandi. Namun naas, ember hitam yang Arumi bawa untuk ia tuangkan ke bak di kamar mandi bawah terlepas karena sudah cukup lapuk dan itu membuat kedua kaki Arumi terkena air hangat.


Ia pun berlari ke arah Arumi. Ia cepat mengelap kaki yang terkena air yang baru saja mendidih.


Ia gendong istrinya itu. Arumi menahan sakit, panas dan perih di kedua kakinya.


"Kamu ini... kenapa tidak minta bantuan ku saja sih... Kita pulang ya? kita periksa." Ucap Ammar.


"Tapi aku malu sama Mama...." ucap Arumi pelan.


"Nanti kalau ada apa-apa dengan kaki mu. Mama marahnya sama aku. Kamu tahu, saat akan kemari mama justru bilang jangan marah sama kamu." Ucap Ammar.


Arumi pun melihat gurat wajah khawatir pada suaminya. Dan ia pun setuju. Maka pagi itu sebelum pulang. Arumi bertambah cinta pada sang suami. Bahkan saat akan mandi. Arumi meminta sang suami keluar. Namun susahnya ia mengambil handuk membuat Ammar cepat masuk karena lamanya istri nya memanggil.


"Mas....!" Teriak Arumi.


"Ada apa?" Ucap Ammar.


"Aku malu."


"Arumi... malu kenapa." Ammar cuek saja ia mengeringkan tubuh Arumi sudah bak anak kecil. Ia juga membungkus tubuh Arumi dengan handuk. Arumi menunduk malu.


"Ada apa? kenapa menyembunyikan kepala di dadaku?" Tanya Ammar saat berjalan menuju kamar.


"Aku malu, tubuh ku tak menarik karena banyak bekas luka." Ucap Arumi.

__ADS_1


"Apa aku protes? Apa aku kecewa,? Besok sekalian kita ke dokter kulit. Jadi itu alasan kenapa tak mau di kondisi terang semalam?" Tanya Ammar.


Arumi mengangguk malu. Ammar bertambah gemas pada istrinya.


Ditempat yang lain sepasang suami istri sedang menunggu hasil test pack.


Gede menunggu Qiya keluar dari kamar mandi. Istrinya itu sudah dua minggu telat haid. Sudah berapa kali istri dokter Gede Ardhana itu mengecek menggunakan test pack saat ia telat haid. Dan Ternyata pagi itu masih sama. Hasil test pack masih garis satu.


Saat istrinya keluar. Ia terlihat sedikit sedih.


"Masih garis satu?" tanya Gede.


Qiya mengangguk. Gede berbisik pada istrinya.


"Mungkin doanya yang belum pol ya Dek. Kalau usaha sudah ga kurang-kurang." Ucap Gede.


Qiya sudah mencubit hidung mancung suaminya itu.


"Apa kita ke dokter spesialis kandungan ya Mas?" Tanya Qiya.


Gede pun memeluk istrinya.


"Baru juga berapa bulan Dek. Sabar dulu. Nikmati saja waktu kita berdua. Oya, mas mau izin sama kamu. Mas mau ambil spesialis bedah. Boleh?" Tanya Ammar.


"Kok izin sama Qiya?" Ucap Qiya sambil memainkan janggut Gede yang hanya terdapat beberapa helai.


"Ya kan nanti mas juga tambah sibuk. mas juga waktunya berkurang buat kamu. Tapi nanti kalau kamu selesai internship nya." Ucap Gede.


Qiya pun menc!um dagu Gede dari arah bawah.


"Qiya dukung apa saja. Oya nanti kita mau tinggal dimana mas kalau sudah selesai dari sini?" Tanya Qiya.


Gede pun mengatakan jika ingin tetap di Jakarta maka mereka mau tidak mau harus mempunyai rumah sendiri. Namun Qiya mengatakan jika Ayra meminta dirinya tinggal beberapa bulan di kediamannya.


"Tapi kan ada kak Ammar dan istrinya." Ucap Gede.


"Hitung-hitung nyenengin hati orang tua mas. Satu bulan aja ga apa-apa ya? Nanti baru kita bilang sama Mama dan Papa setelah itu." Ucap Qiya pada Gede.


Mereka pun setuju. Saat satu tangan Gede sudah masuk ke baju istrinya. Suara perempuan khas yang memanggil nama istrinya membuat Qiya tertawa melihat ekspresi Gede yang kecewa.


"Selamat Pagi Qiya.... Qiy... Aku datang.... Jadi ga ini mau barengan." Suara cita dari depan rumah memanggil Qiya.


"Teman mu itu selalu datang disaat yang tepat untuk menyelamatkan kamu ya... " Ucap Gede saat membiarkan Qiya mengganti baju sedangkan ia akan membuka pintu untuk tamu heboh istrinya itu.


"Sudah ganti baju saja. Biar mas yang buka pintunya. Bahaya kalau lama-lama dia disini. Bisa habis mas digoda teman mu itu."


Qiya hanya tertawa melihat ekspresi Gede. Disaat Gede dan Ammar merasakan bahagia memiliki istri yang begitu mencintai mereka. Ibrahim di Kali Bening sedang menangis tersedu-sedu diatas sajadahnya. Nur yang dari tadi tak berani mengganggu. Memberanikan diri mendekati Ibrahim.


"Mas, istirahat dulu. Dari semalam mas di atas sajadah. Tubuh Mas butuh istirahat juga." Ingat Nur.


Ibrahim masih berlinang air mata menatap Nur.

__ADS_1


__ADS_2