
"Wa'alaikumussallam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab Ammar dan Gede.
Ternyata Bram lebih dulu masuk untuk menemui Gede. Ayra masih berada di depan kamar pasien. Ia memenangkan Arumi. Menantu masih menangis di depan kamar pasien. Bram yang melangkah ke arah sulung dan menantunya. Ia bertanya kondisi Gede. Setelah melihat menantunya baik-baik saja. Bram menatap anak dan menantunya bergantian.
"Apa yang papa pikirkan? " Tanya Ammar.
Bram menari sudut bibirnya.
"Papa sedang mencari tahu apakah kalian mengikuti emosi kalian atau kalian lebih mengedepankan ilmu kalian saat ada masalah diantara kalian." Ucap Bram.
"Papa tahu semuanya?" Tanya Gede penasaran.
Bram menarik satu kursi. Ia membuka kacamatanya. Ia mengatur napasnya.
"Semua tentang kamu dan Mayang yang bertukar posisi dengan Arumi. Tentang Arumi yang dulu bekerja di intelegen dan satu tim dengan Ibra sama seperti Ibrahim. Tentang Anak sulung Papa yang berjuang untuk menjadi suami idaman. Semua tentang anak dan menantu Papa, tak ada yang terlewat. Walau kalian kadang menganggap pundak seorang ayah tak senyaman pundak ibu untuk bercerita. Tapi Papa selalu berusaha terbaik untuk kalian." Ucap Bram
Gede dan Ammar saling pandang.
"Arumi satu tim dengan Ibra?" Ucap Ammar yang kaget. Gede juga kaget tapi ia tak terlalu penasaran. Ia menyambungkan memorinya.
"Pantas dulu, dia selalu menolak di ajak di keramaian dan men upload fotonya di medsos." Batin Gede.
"Kamu tanya sendiri dengan istri mu untuk pertnyaan mu. Sana, temani Arumi. Dia masih bersedih di depan." Ucap Bram.
Ammar mengangguk. Ia pun memeluk Gede.
"Sungguh tak ada lagi rasa sakit di hati mu untuk istriku?" Tanya Ammar.
Gede menyunggingkan senyumnya.
"InsyaAllah. Dia Kak Arumi. Aku memahami kenapa ia tak belum bisa menemui ku. Katakan padanya. Aku adalah adik iparnya. Maafkan aku kak. karena aku, istrimu jadi menangis." Ucap Gede.
Ammar menepuk pundak adik iparnya.
"Qiya tidak salah pilih suami. Aku pamit dulu ya." Ucap Ammar. Ia meninggalkan Gede dan Bram.
Tiba di depan kamar pasie. Arumi masih menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Ia langsung berdiri kala melihat suaminya telah keluar dari kamar.
"Bagaimana Mas?" Tanya Arumi.
Ammar sengaja memasang muka datar.
"Kita pulang. Ada hal yang penting dan harus aku bicarakan pada mu." Ucap Ammar dingin..
Ayra mendelik pada putranya. Ia tak terima nada dingin sang anak.
"Arumi sedang hamil Nak. Jangan terlalu membahas masalah berat." Ingat Ayra.
"Ini semua justru harus di bahas segera mungkin Ma. Ammar pamit dulu. Ayo Ar. Kita perlu bicara." Ucap Ammar dengan wajah datarnya.
Arumi melirik Ayra. Ia pun berpamitan dengan ibu mertuanya. Ia menciuum punggung tangan mertuanya.
"Arumi pamit Ma. InsyaAllah, Arumi akan mendengarkan saran Mama." Ucap Arumi.
Ayra mengusap punggung menantunya. Ammar dan Arumi pun meninggalkan Ayra. Ammar yang tahu sang ibu masih menatap dirinya. Ia menoleh dan mengerlingkan matanya.
"Dasar anak nakal.... " Ucap Ayra seraya mengangkat tangannya ke arah Ammar. Satu kode cubitan dari jari Ayra pada sulungnya.
__ADS_1
Ia sudah mengerti dari kerlingan mata Ammar. Putranya itu sedang akan mengerjai istrinya.
"Alhamdulillah Ya Allah.... Terimakasih, karena Engkau menjaga anak dan menantu ku seperti Engkau menjaga orang-orang Sholeh." Munajat Ayra.
Ibu tiga anak itu masuk dan melihat kondisi menantunya. sopir keluarga telah diminta Bram untuk menjemput Qiya. Ia juga sudah berpesan jika jangan mengatakan apapun. Sedangkan Ammar, dalam perjalanan pulang. Ia hanya diam saja. Sampai tiba di kediamannya. Ia pura-pura cuek. Arumi hanya diam seribu bahasa. Ia tak berani bertanya, atau mengajak suaminya berbicara. Wajah Ammar, begitu dingin.
"Apakah dia marah?"
Namun saat sepasang suami-istri tersebut telah membersihkan diri. Ammar dengan sengaja berusaha memukul Arumi daei arah belakang menggunakan sebuah gulungan kertas. Ibu hamil itu reflek berbalik dan menahan tangan Ammar. Dengan tangan kiri yang tidak terluka.
Ammar tersenyum simpul.
"Istri nakal.... " Ucap Ammar.
Arumi mendelik karena mendengar kalimat Ammar. Ammar menari tangan Arumi dan memeluknya erat. Senyum lebar terlihat jelas du wajah yang dari tadi sangat dingin. Ammar mendekatkan wajahnya ke arah wajah Arumi sehingga hidung mancung sepasang suami istri itu saling bertemu. Arumi bisa melihat alus tebal, dan tatap penuh kasih sayang dari sang suami.
"Kenapa tidak cerita kalau pernah satu tim dengan Ibra. Kalau mas yang tidak cerita, ini pasti sudah merajuk. Tega sekali kamu Arumi... Mas tidak tahu kalau kamu mantan intelijen." Ucap Ammar seraya menggigit lembut hidung Arumi.
Istri Ammar itu meringis dan mencubit dada suaminya. Lalu ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
"Buat apa menceritakan masa lalu. Kalau kita sedang menatap masa depan." Ucap Arumi seraya menyandarkan kepalanya di dada Ammar.
Ammar hanya berbisik di telinga istrinya dan menghasilkan sebuah cubitan du pinggang sang suami.
"Pantas... Fisiknya kuat. Pantas tubuh mu kencang. Olahraga mu juga ok. Dan pantas kamu kalau... Awwwwhhhh.... " Ucap Ammar menahan sakit di pinggangnya.
Begitulah rumah tangga Ammar dan Arumi. Kesabaran Ammar membuahkan hasil. Ia bisa mendidik Arumi sebagai istrinya lebih baik lagi. Arumi tak hanya menutupi auratnya tapi juga hatinya. Ia menjadi perempuan yang lebih takut kalau ia tak bisa menjadi seperti Sayyidah Fatimah yang akan selalu menerim kondisi sang suami. Begitu pula dengan anak Ayra yang lainnya.
Qiya sedang menangis berada di pelukan Gede. Melihat tangan, dada sang suami yang terbungkus perban. Ia tak sadar jika Ayra dan Bram sedang memperhatikan nya.
Setelah cukup tenang, Gede menjelaskan semua pada Qiya, Bram dan Ayra.
"Aku sudah tahu... " Cicit Qiya pelan.
Tiga pasang mata memandang Qiya.
"Beberapa hari lalu. Kak Ammar yang menceritakannya." Ucap Qiya menjawab tatapan mata dari orang yang ia kasihi.
"Ma, terimakasih sudah mendidik kami menjadi orang yang betul-betul siap dengan semua kondisi. Terimakasih juga untuk Papa. karena dengan peran Papa, kami juga diberikan kemudahan untuk belajar." Ucap Qiya seraya menggenggam tangan Ayra.
Ya, Bagaimana Ayra bisa berhasil mendidik anaknya jika sang suami pulang membawa nafkah untuk anak dan istrinya yang tak halal. Doa, usaha, tirakat akan sulit mendapat hasil jika yang dimakan oleh anak-anak adalah hal yang haram di makan. Pola hidup sederhana juga Bram dan Ayra terapkan dalam mendidik putra putri mereka.
Malam itu, Gede melarang Qiya bermalam di rumah sakit. Ammar justru sudah hadir di rumah sakit.
"Sudah, pulang dan istirahat. Biar mas yang menemani Gede." Ucap Ammar.
"Tapi Mas, Kak." Ucap Qiya.
"Pulang lah Dek. Cuma satu malam kok. Besok kata dokternya sudah boleh pulang." Ucap Gede.
Akhirnya istri Gede itu pulang bersama supir keluarga. Malam hari, Qiya mengetuk pintu kamar Arumi. Arumi menyembulkan kepalanya.
"Qiy... masuk." Ucap Arumi.
Qiya masuk dan melihat isi kamar kakaknya. Ia merasa aneh, barang dan warna di kamar itu masih sama seperti kakaknya sendiri. Hanya ada satu foto pernikahan yang menghadap balkon yang baru.
"Repot-repot. Aku baru mau turun untuk membuatnya." Ucap Arumi karena adik iparnya membawa segelas susu ibu hamil.
__ADS_1
"Mama yang buatkan. Punya ku tadi sudah ku minum." Ucap Qiya. Arumi meminum habis susu tersebut.
Arumi terlihat kikuk. Tidak seperti biasanya. Qiya pun memberanikan diri mendekat.
"Coba aku lihat kak." Ucap Qiya.
Arumi menjulurkan tangannya. Setelah itu Qiya pun memulai percakapan.
"Jangan sungkan pada ku Kak. Semua yang lalu biar berlalu. Aku adalah adik ipar mu. Aku ingin hubungan kita tetap seperti kemarin." Ucap Qiya.
Arumi menatap Qiya.
"Sungguh kebahagiaan sendiri ketika Allah menjadikan aku bagian keluarga mu Qiy.Hari ini kita melihat bagaimana perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik." Ucap Arumi.
"Dan kak Arumi yang terbaik untuk kak Ammar." Ucap Qiya.
Adik dan kakak ipar itu pun berpelukan, jika sang suami dirumah sakit tidur di tempat yang terpisah dalam satu ruangan. Malam itu Arumi dan Qiya tidur dalam satu tempat tidur. Bahkan Arumi menceritakan jika sebenarnya bayi mereka kembar. Namun Ammar sengaja merahasiakan dari Ayra dan keluarga.
"MasyaAllah.. Sungguh?" Ucap Qiya.
Arumi mengangguk.
"Kata mas Ammar buat kejutan Mama dan Papa. Jika dulu Mama belum diberikan kesempatan itu. Doakan bisa normal ya Qiy." Ucap Arumi penuh harap.
"Aamiin... Insyaallah. Semoga kita Sama-sama normal."
~~
Hari berganti hari, Ammar dan Arumi justru di buat tak percaya.
"MashaAllah.... Sepertinya bapak dan ibu akan mendapatkan tiga anak." Ucap dokter perempuan yang menatap layar dan menggerakkan sebuah benda diatas perut Arumi.
"Pantas rasanya lelah sekali kalau berjalan cukup lama. " Ucap Arumi.
Disaat Ammar bahagia akan memiliki tiga anak seklaigus, Namun kabar dari Bali mengejutkan keluarga Ayra. Putri Munir itu harus segera terbang ke Bali. Sebuah pesan dari putrinya membuat ia ingin menemani putrinya melahirkan.
[Ma, sakitnya sudah dari semalam. Tapi dokter bilang nanti sore baru bukaan 10. Kalau mama tidak keberatan. Qiya ingin ditemani Mama?]
Seraya dalam perjalan ke bandara. Ayra menelpon Ammar. Ia memberitahu jika dirinya akan menemani sang anak. Ia juga menghubungi Bu Melisa. Agar bisa menemani Arumi. Khawatir menantunya itu juga akan melahirkan dalam minggu-minggu yang sama.
Di kediaman Gede. Qiya tampak menyibukkan diri. Walau pinggang terasa nyeri dan panas. Ia masih berusaha untuk tidak duduk diam saja.
"Sudahlah Qiy, istirahat saja." Ucap Bu Ratih.
"Lebih terasa nyerinya Bu kalau hanya duduk." Ucap Qiya.
Sore hari, ketika Ayra tiba bersama Bram. Putri Ayra itu memeluk erat ibunya. Ia menangis dalam pelukan sang Ibu.
"Ma.... Qiya minta maaf jika selama ini ada sikap Qiya yang menyusahkan Mama..." Ucap Qiya.
Ia sebenarnya dari tadi menahan sakit karena ingat Ibunya. Ia merasakan bagaimana panasnya bagian pinggang belum lagi rasa sakit yang hilang dan timbul. Membuat ia baru tahu kenapa ada istilah surga di bawah telapak kaki ibu. Baru akan melahirkan sudah begitu rasanya. Apalagi nanti ketika melahirkan.
"Rasanya sakit sekali?" Ucap Ayra seraya menatap putrinya dari balik kacamata nya.
Qiya hanya mengangguk pelan. Namun pipinya sudah di basahi air mata.
Bersambung.... (Besok aku kasih spesial 3 Bab. Insyaallah).
__ADS_1