
Tiga hari menikmati liburan di masa-masa internship membuat Qiya yang tak betah berlama-lama mendekam di kamar. Berbeda dengan Cita yang justru sangat menikmati waktu berlibur yang di berikan selama 5 hari setelah dua Minggu mereka bertugas untuk shift siang dan malam.
"Cit... Keluar Yok cari udara. Aku bosen ini di rumah saja. Jalan-jalan sore yok." Ajak Qiya pada Cita yang dari pagi tidak keluar-keluar kamar. Bahkan sahabat nya itu belum mandi dari pagi. Ia hanya keluar untuk makan siang. Ia begitu menikmati membaca novel dan komik di salah satu paltfom online.
Cita mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.
"Panas Qiy.... Ntar hitam loh. Susah payah di beri scincare eh mau di panas-panasin." Ucap Cita cuek dan kembali tangan kanannya mengambil macaroni yang dari tadi menemani dirinya menikmati hobi membacanya.
Qiya yang baru saja selesai shalat ashar, melipat mukenah miliknya. Lalu ia gantungkan di hanger. Setelah ia merapikan meja nya. Ia pun mengambil topi dan tas kecil nya.
"Aku pergi sendiri saja. Mau nitip sesuatu ga?" Tanya Qiya yang telah memberikan sun cream pada wajah putih dan mulusnya.
Cuaca di tempat mereka internship memang sedikit lebih panas. Maka Qiya harus menggunakan cream itu untuk melindungi wajahnya dari panasnya pancaran matahari. Cita hanya meminta sahabatnya itu membelikan ia beberapa Snack karena persediaan nya telah menipis. Qiya hanya tersenyum dan setengah menggeleng.
Putri Ayra pun mengayuh sepeda berwarna biru dan perpaduan putih itu ke arah perkebunan. Yang ia rasa disana banyak pemandangan yang akan membuat kedua netranya merasa begitu ingin memotret nya. Namun tanpa ia sadari entah kenapa ketika mengikuti jalan-jalan. Ia tak menyangka jika jalan-jalan kecil yang ia ikuti berujung di sebuah vila yang tak lain milik Nur.
Dan terlihat dua satpam sedang berbicara, salah satu dari mereka berbicara dengan seorang satpam lainnya. Raut wajah yang terlihat tak tenang. Serta satpam yang tak berhasil menghidupkan sepeda motor yang dari tadi ia engkol. Akhirnya Qiya berhenti , ia mengucapkan salam. Dan bertanya tentang ada apa.
__ADS_1
"Ini jam bapak ketinggalan. Ibu tadi meminta mengantarkan nya. Boleh pinjam sepeda nya Mbak?" Tanya satpam itu.
Qiya melihat sebuah mobil yang belum jauh meninggalkan tempat itu. Karena debu yang cukup banyak. Laju mobil itu hanya bisa dilihat bentuk dan warnanya tanpa bisa di lihat plat mobilnya.
Qiya pun yang berniat akan pulang mengatakan bahwa biar dia saja. Toh bagi dirinya bukan hal yang sulit mengejar mobil itu di tengah jalan desa yang aspalnya sudah banyak yang bolong-bolong. Satpam yang kemarin tahu jika Qiya adalah teman sang majikan akhirnya menyerahkan sebuah jam.
Kedua netra Qiya seakan ingin keluar. Ia mengenal benda itu. Ia juga paham sekali jika itu adalah salah satu benda yang tak pernah ditinggalkan atau di ganti oleh sang ayah. Itu adalah hadiah ulang tahun dari ketiga anak nya yang membeli nya secara patungan di hari ulang tahun sang ayah. Seketika hati putri Ayra itu semakin tak karuan.
rambut-rambut halus yang ada pada punggung dan lengannya pun berdiri, merinding. Ucapan perawat dirumah sakit seakan kembali di mainkan seolah lagu yang dimainkan.
"Istri simpanan pengusaha sukses di kota..."
Hatinya sedikit tenang ketika ia melihat plat mobil bukan milik Bram. Akan tetapi satu yang membuat sendinya melemas untuk mengayuh sepeda itu adalah sebuah antena yang terdapat tanda khusus bahwa itu milik pimpinan MIKEL group. Ia anak dan gadis yang cerdas. Ingatan nya sangat tajam. Ia ingat ketika bertanya pada Rafi saat masih duduk di SMP. Ketika Rafi menjemputnya pulang dari pondok untuk liburan.
Ia melihat antena mobil pasti ada di setiap mobil milik Bram. Dan Rafi dulu mengatakan jika itu adalah kode untuk para penjaga jika Pemiliknya adalah orang nomor satu di MIKEL Group. Dan hal itu hanya di ketahui oleh orang-orang Bram. Kedua tangan Cita menarik rem. Ia berhenti dan memejamkan kedua matanya. Ia mengingat kembali satu mobil yang di kendarai oleh Nur. Ia seolah sedang memutar ulang sebuah film.
Seketika tubuhnya lemah. Ia berhenti dengan kondisi berdiri dan memegang stang sepeda miliknya.
__ADS_1
"Tidak.... Tidak mungkin... Kamu harus buktikan bahwa bisikan ini tidak benar Qiy. Setan akan sangat mudah menghasut manusia." Ucap Qiya namun masih menahan untuk tidak menjatuhkan air matanya. Saat ia melihat seorang lelaki mengendarai sepeda motor membawa banyak rumput. Ia meminta untuk mencegat mobil yang ada di depan. Maka ia memilih jalan yang dari kejauhan. Saat motor itu mengejar mobil pemilik jam tangan itu.
Qiya dengan begitu cepat mengantuk sepedanya. Saat motor itu berhasil mendekati mobil hitam itu. Pemiliknya membuka kaca mobil dan menerima Jam tangan dari petani itu. Qiya yang berada di sisi kanan jalan. Ia senang melewati kebun karet agar bisa melihat dari sisi kanan mobil tersebut. Dan ternyata sebuah kepala yang menyembul dari balik kaca mobil membuat putri Ayra itu langsung menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon jati yang cukup besar. Tubuhnya seketika merasa lemah, air mata yang hampir sulit jatuh. Kini mengalir begitu derasnya. Ia tak menyangka jika Bram adalah suami Nur.
Sosok selama ini yang ia anggap superhero pertama dalam hidupnya. Ingin sekali hatinya mengajak dirinya untuk segera menemui Bram bahkan untuk meminta penjelasan. Namun kaki yang terasa tak ada tenaga seketika duduk bersandar.
Dadanya berguncang hebat. Ia merapatkan kedua kakinya sehingga kepalanya ia benamkan di atas kedua lututnya. Hampir setengah jam gadis itu membiarkan ia mengeluarkan air mata di kebun itu. Walau kebun itu berada di tepi jalan. Namun ia terhalang oleh pohon jati yang ia jadikan tempat bersandar. Namun saat ia berdiri dan ingin pergi meninggalkan tempat itu, Ia tak menyadari jika kakinya yang melangkah menginjak seekor hewan melata dan berbisa.
"Astaghfirullah...." Ucap Qiya reflek. Saat ia melihat hewan yang mengigit kakinya. Ia cepat berlari ke arah tepi jalan.
Rasa panik dan pergerakan cepat yang Qiya lakukan justru membuat bisa hewan itu cepat menyebar. Ia pun yang berusaha menjauh dari tempat itu harus terjatuh di jalan yang baru di lapisi baru koral.
Kepalanya terasa berat. Kaki nya terasa lemas, pandangannya pun mulai buram. Saat ia melihat ada beberapa petani yang membawa rumput. Ia yang ingin meminta tolong pun tak mampu karena bibirnya terasa kelu. Tubuh Putri Ayra itu ambruk di jalan tak beraspal itu.
"....."
"Bruuuhgghh."
__ADS_1
Beberapa orang yang melihat Qiya ambruk di jalan. Cepat berhenti dan membantu dokter itu.