Pesona The Twins

Pesona The Twins
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim


__ADS_3

"Oe.... oe.... "


Suara tangis bayi di dalam kamar Ammar terdengar silih berganti. Baby sitter yang di cari belum juga ketemu. Bagaimana tidak, Arumi begitu selektif. Hanya di berikan foto calon baby sitter daei agen. Ia tak menerimanya. Bukan karena apa-apa. Jiwa inteligen nya masih melekat pada dirinya.


Sehingga mereka masih merawat putra dan putri mereka sendiri. Dua minggu sudah merawat bayi-bayi mungil mereka. Tiga bayi, membuat Arumi tak cukup menghasilkan ASI yang bisa mengenyangkan anak-anak mereka. Maka su su formula adalah salah satu jalan untuk membantu memberikan rasa kenyang pada Bayi mungil Ammar. Ammar terbangun saat mendengar suara tangis dari ketiga anaknya. Ia melangkah ke arah box bayi yanh telah di berikan tulisan saat mereka telah diberikan nama.


..."Ahmad Gaffi Abrar"...


..."Ahmad Akhtar Abrar"...


..."Khadijah Zia Abrar"...


Seperti namanya, Ammar juga menyematkan nama manusia paling mulia di sisi Allah. Maka 'Ahmad' adalah nama yang ia pilih di awal dua putra kembarnya. Gaffi yang berarti memiliki hati yang lembut, Abrar yaitu Ammar bersama Arumi. Maka arti nama putra pertama mereka yaitu anak berhati lembut yang diharapkan bisa berakhlak mulia seperti Rasulullah. Sedangkan kedua, Akhtar yang berarti berarti bintang hati. Bintang hati bagi Ammar dan Arumi yang juga mereka harapkan berakhlak mulia seperti Rasulullah.


Zia yang berarti bijaksana, Yang bermakna Putri dari Ammar dan Arumi yang mereka harapkan berakhlak seperti Sayyidatina Khadijah dalam menjalani kehidupan. Malam hari Arumi hanya mampu memberikan sedikit ASI nya untuk sang anak secara bergantian. Bukan pilih kasih, tetap entah kenapa hati Ammar begitu terasa ingin selalu menyanyangi putrinya.


"Seperti ini mungkin apa yang papa rasakan setiap aku menggoda Qiya. Melihat tubuh mu paling mungil sendiri saja, membuat aku ingin sellau menggendong mu." Ucap Ammar saat Zia sudah menghabiskan satu botol kecil susu formula setelah minum ASI.


"Mas tidurkan saja di box. Nanti kebiasaan kata Mama." Ucap Arumi saat melihat Zia sudah tenang tapi suaminya masih menggendong putri mereka.


Ammar pun menoleh masih dengan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Bayi mungil mereka telah mulai terpejam.


"Kasihan Ar, dia tubuhnya mungil sendiri dari lahir. Kalau tak, ASi nya buat Zia saja. Gaffi dan Akhtar minum sofur saja." Pinta Ammar.


"Ih. Tega.Biar semua ASI nya mas. Kasihan lah, kayak pilih kasih." Ucap Arumi.


"Sudah sini bawa tidur disini saja mas." Pinta Arumi.


Ammar pun akhirnya membawa putri mungilnya ke atas tempat tidur mereka. Bibir mungil, hidung yang terlihat mancung dengan mata yang terpejam. Membuat Putri Ammar itu terlihat begitu menggemaskan.


"Begini rasanya jadi orang tua... " Ucap Ammar.


Suami Arumi itu memandang wajah putri mereka seraya menopang kepalanya dengan satu tangan.


"Memangnya seperti apa? " Tanya Arumi seraya menyibak rambut panjangnya ke balik telinga.


"Seekor nyamuk pun rasanya tak akan aku biarkan menyakiti anak-anak kita. Apalagi orang, pantas jika waktu itu Hilman sampai merasakan pukulan dari Papa." Ucap Ammar.


Arumi menautkan alisnya. Jika Papanya yang memukuk orang, itu bukan hal aneh. Tapi Seorang Bramantyo Pradipta yang terkenal begitu lembut dan tak pernah angkuh, memukul orang.

__ADS_1


"Sungguh? Papa mukul orang? " Tanya Arumi tak percaya dengan alis yang terangkat.


"Iya, saat papa bertemua di rumah sakit. Tepat setelah Almarhum Papanya membatalkan pertunangan dengan Qiya. H-14 loh Ar. Aku kalau di posisi Papa juga akan melakukan hal sama." Ucap Ammar.


Arumi seketika termenung mendengar cerita batalnya Qiya menikah dengan Hilman.


"Sungguh perkara jodoh bukan perkara kita untuk hasilnya ya mas. Lama pacaran bahkan kalau Allah bilang bukan jodoh, ya ga jodoh. Ga cinta juga di awal nikah kalai tirakat dan usahanya sungguh-sungguh. Hasilnya anak kembar tiga ya Mas.. " Ucap Arumi malu ketika hidungnya di sentuh Ammar.


Ammar terkekeh-kekeh, ia mengenang masa-masa ketika berjuang untuk mempertahankan pernikahannya. Malam itu ia menggoda Arumi.


"Waktu itu kamu minta Mas poligami. Kalau sekarang boleh? biar punya banyak anak Ar.... Hehehe... " Ucap Ammar dan langsung diiringi tawa. Karena Kedua mata sang istri telah menyipit dan bibirnya mengerucut. Tanda ia tak suka.


"Nikahi saja dia mas... " Ucap Ammar seraya menirukan gaya khas Arumi kala itu.


Arumi yang malu dan gemas. Ia memencet hidung mancung Ammar.


"Ih.... paling bisa kalo ngeggoda orang ya... " Ucap Arumi. Memiliki anak tak membuat Ammar berubah menjadi lebih serius. Ia lebih sering menggoda sang istri. Ammar melakukan itu, karena Arumi di awal-awal kehamilan sering merasa stress. Hal itu diakibatkan ASI yang tak cukup untuk buah hati mereka. Maka Safu-satu yang bisa membuat istrinya tak terlalu stress dan tegang. Ia selalu bercanda dengan sang istri.


Di kediaman Gede, Qiya ditemani ibu mertuanya. Gede kembali ke kabupaten dimana ia bertugas. ia masih menunggu beberapa bulan lagi untuk pindah dengan alasan melanjutkan pendidikan di spesialis. Maka sementara waktu, ia harus terpisah dengan sang anak dan istri. Gede tak mengizinkan Qiya ikut serta. Ia khawatir kondisi di desa yang begitu banyak debu akan membuat anak mereka terganggu. Maka ia mengalah, ia harus setiap malam menelpon sang istri vya video call.


"Gimana Dek, lancar ASI nya?" Tanya Gede yang melihat Qiya baru saja memberikan ASI nya.


Istri Gede itu. Ia baru satu bulan menjadi ibu. Tetapi karena n@fsu makan bertambah, membuat dirinya makan dengan lahap. Hal itu membuat bukan hanya Zahra atau Rayya yang bertumbuh gembul. Tetapi istri Gede itu dalam sebulan naik 5kg bobot tubuhnya.


"Kaget kenapa? " Tanya Gede.


"Kaget karena nanti mas ga kuat gendong aku lagi." Ucap Qiya.


Ia berusaha menahan makan karbohidrat, tetapi Ayra, Bu Ratih mengingatkan bahwa masa-masa seperti itu memang harus makan yang cukup untuk kelancaran ASI.


"Sungguh? Kalau kuat?" Tanya Gede.


"Pokoknya jangan kaget kalau pulang." Ucap Qiya.


Gede semakin penasaran. Rasa rindu yang begitu besar karena hanya bisa pulang ketika libur. Saat ada teman sejawat nya meminta bertukar hari. Gede begitu senang. Karena ia diminta libur dulu. Teman Gede minggu depan harus menghadiri resepsi pernikahan adiknya. Maka Gede bersemangat untuk pulang ke ibukota. Betul saja saat tiba di Denpasar Bali. Qiya yang baru saja makan. Gede mengendap-endap di dapur. Satu kode telunjuk yang menutup ibu jari membuat Bu Ratih meninggalkan ruangan itu.


Saat Qiya sedang mengelap tangannya di serbet yang menggantung, Dua tangan melingkar di pinggang nya.


"Wah... betul-betul bertambah ini bobotnya.... Tapi tidak apa-apa lebih sek/si Dek... " Satu bisikan di telinga istrinya.

__ADS_1


Beberapa hari khawatir sekali putri Ayra itu. Ia khawatir penampilan yang bertambah gemuk, membuat sang suami justru akan merasa malu atau tidak suka.


"Gombal ah.. rayuan nya kurang maut." Ucap Qiya.


Saat akan melepaskan pelukan sang suami. Ia justru di buat kaget karena satu coklat kesukaannya sudah ada di hadapan nya.


"Taraaaa.... Biar tambah sek/si." Ucap Gede.


Qiya tertawa lepas karena jika suami orang lain akan sibuk bagaiamana istrinya membatasi makan yang berlemak saat tubuh kian tambun. Namun suaminya malah memberikan makanan yang semakin membuat dirinya bertubuh besar.


"Ih.... Ndak lah, ini aku sudah banyak beli dress baru loh mas." Ucap Qiya seraya meletakkan coklat tersebut di meja.


Namun karena ingat membahagiakan suami sudah menjadi tugasnya. Ia mengambil coklat tersebut dan membukanya lalun ia makan sepotong.


"Tanggungjawab ya kalau tambah gemuk.... Ndak boleh protes." Ucap Qiya setelah menelan satu potong coklat favoritnya.


"Siap sayang. Siap Tanggungjawab mencetak generasi-generasi Qiya dan Gede setiap malam... Aduh.... " Rintih Gede karena jari-jari lembut sang istri menggelitik sang suami.


Di ruang tengah, Bu Ratih dan Niang Ayu ikut bahagia. Orang tua mana yang tak bahagia jika melihat anak dan menantu hidup rukun dan bahagia.


"Alhamdulillah Niang. Saya merasa apa yang saya lakukan tak sia-sia. Walau tak di dampingi Ayah. Gede menjadi suami yang baik untuk istrinya juga insyaallah menjadi Ayah yang baik untuk Zahra." Ucap Ratih.


Niang Ayu menganggukkan kepalanya. Wajah Niang Ayu terlihat bahagia. Ia merasakan kebahagiaan sendiri saat melihat Ratih bisa bahagia. Ia adalah saksi hidup perjuangan ibu Gede Ardhana itu. Entah berapa kali ibu Gede itu dulu akan mengakhiri hidupnya. Ia dan sang suami yang selalu memberikan motivasi pada Bu Ratih.


Motivasi bahwa setiap ujian yang datang itu akan memuliakan orang itu sendiri. Tetapi yang jadi pertanyaan apakah orang tadi mampu melewati ujian tersebut untuk mencapai kemuliaan.


"Sungguh kemuliaan tersendiri yang aku rasakan. Kala melihat kamu dan anak mu bahagia. Jika ingat dulu, kamu seperti tak mungkin mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang Ratih... " Ucap Niang.


Bu Ratih memandang wajah yang telah keriput itu. Tetapi masih cantik dengan senyum yang selalu menghiasi wajah dokter itu.


"Betul apa yang Kyai Abdurrahman Wahid katakan ya Niang. 'Tidak penting apa suku dan agamamu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak pernah tanya apa agamamu."


Niang ayu seketika mengenang masa-masa muda nan indah bersama suami. Dimana mereka mengenal Kyai Rohim dan Umi Laila.


"Sungguh trah Kyai Rohim dan Umi Laila itu sampai hingga ke cucu mereka. Niang bisa lihat itu dari kelima anak-anak mereka, lalu Cucu-cucu mereka. Bahkan kami mungkin tak bisa berpikir seperti sekarang apalagi jauh menolong mu dulu Ratih. Jika kami tak lebih dulu mengenal Kyai Rohim. Ia membawa agamanya dalam langkahnya, hidupnya, kemanapun ia pergi. Orang akan tahu jika Islam itu ramah, islam itu memeluk, islam itu tak menyakiti. Maka seperti kami kala itu yang minoritas, merasa bahwa Kyai Rohim seperti sosok Kyai besar yang sering di kenal karena kontroversi nya." Kenang Niang Ayu.


Ya, semenjak mengenal Kyai Rohim. Maka jangan aneh ketika mendiang suami Niang Ayu begitu suka dengan Kyai yang dianggap banyak kelompok ia adalah kyai kontroversi pada zamannya, karena membela kelompok minoritas. Siapa lagi kalau bukan Ulama atau Kyai yang pernah menjadi Presiden ke empat republik Indonesia. Seorang yang tak mempertahankan jabatannya demi tak terjadi pertumpahan d@rah di bangsa yang ia cintai. Jika saat itu ada ungkapan beliau diturunkan dari jabatannya. Maka Kyai Rohim dan Suami Niang Ayu berpendapat.


"Beliau bukan diturunkan, tetapi beliau turun sendiri, karena saat itu. Jika beliau diturunkan, para pendukung yang sudah berada dilokasi istana tentu sudah bentrok dengan para kelompok yang berharap beliau meninggalkan jabatannya. Mana ada sekarang orang akan seperti beliau.... " Ucap suami Niang Ayu, kala mengenang obrolan-obrolan bersama almarhum Kyai Rohim.

__ADS_1


(Masih bersambung ya)


__ADS_2