
Beberapa lelaki itu menoleh ke arah Ammar. Mereka bahkan langsung mendekati Ammar dan Marvin. Beruntung orang-orang yang Marvin minta bantu agar segera menghalau beberapa lelaki tersebut.
Ammar bahkan sempat memukul kepala salah seorang dari mereka. Ammar pun menarik pergelangan Alisha agar keluar dari ruangan itu. Ammar meraih tubuh munfil Ifah. Ia menggendong balita itu dan satu tangannya meraih pergelangan tangan Alisha yang terbalut gamis berwarna coklat. Namun saat Alisha berada di belakang Ammar. Satu pergelangan tangannya yang lain di tarik salah satu lelaki yang ingin menculiknya.
Alisha memang lupa ingatan tetapi instingnya sebagai salah satu agen tidak akan hilang. Satu tangannya yang berada di dalam genggaman Ammar. Ia tarik, dan tangan itu reflek meninju lelaki itu. Bahkan satu tendangan mendarat dengan sempurna di dada lelaki lain yang mencoba maju.
Ammar melongo tak percaya melihat perempuan cantik itu bisa melakukan hal itu. Ia ingat betul bagaimana diamnya dia ketika di hajar oleh Alex. Dan hari ini cukup dua kali gerakan dia sudah menjatuhkan dua lawan. Ammar segera menarik Alisha kembali.
"Sudah. Cepat! kita harus pergi dari sini kita sepertinya tak akan menang!" Ucap Ammar.
Marvin yang dari tadi mencari keberadaan Miss Allyne akhirnya menemukan pujaan hatinya di ruangan lain. Miss Allyne terlihat kusut sekali. Bahkan kuku tangannya terlihat ada yang patah. Dua perempuan itu hanya mengikuti Ammar dan Marvin membawa mereka pergi.
Tiba di depan rumah satu mobil berhenti. Marvin yang melihat pakaian orang-orang tersebut sama dengan pakaian orang-orangnya langsung masuk kedalam mobil tersebut. Beberapa lelaki yang keluar melihat Alisha memberikan kode pada lelaki yang berada di balik kemudi.
Mobil itu pun meninggalkan kediaman Miss Allyne. Saat telah merasa jauh dari tempat itu, Ammar meminta di bawa ke apartemen miliknya. Namun lelaki oengemudi tersebut mengatakan ada tempat yang aman dan mereka tidak akan diketahui atau di buntuti.
Ammar dan Marvin hanya saling pandang dan Marvim mengangguk. Akhirnya Ammar hanya diam. Ifah yang terus menangis membuat Ammar menyerahkannya pada Alisha. Ammar bahkan berusaha menjaga matanya dari memandang wajah Alisha. perempuan itu hanya menutup separuh wajahnya dengan ujung jilbabnya
"Hhhhhh.... " Des@h napas Ammar bisa terdengar oleh Marvin dan yang lainnya.
"Apakah bos terluka?" tanya marvin.
Ammar seketika teringat luka jahitannya yang belum terlalu kering. Ia pun segera merabah bagian belakang nya. Benar saja, kembali luka itu mengeluarkan d@rah. Marvin, Alisha dan Miss Allyne yang melihat hal tersebut kompak bersuara.
"Kau terluka...." ucap mereka bersamaan.
"Wow kalian kompak sekali... "Ucap Ammar menoleh kebelakang.
__ADS_1
Di belakang Marvin dan Miss Allyne ada dua lelaki yang duduk. Rasa sakit pada luka jahitannya membuat Ammar tak terlalu fokus, saat mobil telah masuk ke salah satu pabrik. Saat mereka masuk ke sana di dalam ruangan bawah yang menjadi parkir mobil itu berhenti. Ammar dan aspri dan Miss Allyne diikuit Alisha yag menggendong Ifah pun segera mengikuti langkah Lelaki yag tadi mengemudi.
Ammar menoleh kearah Marvin, ia bertanya dengan alisnya yang terangkat. Dan Jawaban Marvin hanya dengan mengangkat kedua bahunya dengan cepat. Tiba di satu ruangan, mereka di minta masuk. Namun ketika mereka berlima masuk keruangan kamar tersebut. Pintu justru di kunci dari luar.
"Hei! Kenapa di kunci dari luar!" Bentak Ammar.
Tak ada jawaban. Ammar menoleh ke arah Marvin.
"Jelaskan ini Marvin!" Ucap Ammar.
Namun mendengar komunikasi mereka, Miss Allyne justru menatap Marvin dan Ammar bergantian.
"Marvin? Ammar? Apa ini? Harusnya kalian menjelaskan sesuatu pada Ku?" Ucap Miss Allyne.
Marvin memandang Ammar. Ammar mendengus kesal. Ia mencoba membuka pintu tersebut namun gagal. Alisha melihat ada satu tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Ia pun membaringkan tubuh Ifah di sana.
Marvin duduk di sebelah kanan pintu yang dikunci dari luar oleh lelaki tadi.
"Aku tida bisa menjelaskan sesuatu apapun. Karena bukan aku bosnya disini." Ucap Marvin sambil duduk di lantai dan menatap lantai marmer yang ada dihadapannya.
Miss Allyne kembali menatap Ammar. Putra sulung Ayra itu pun duduk di dikursi yang ada di sisi Marvin.
"Baiklah Miss Allyne. Dengarkan aku dulu dan jangan potong aku sebelum aku selesai menjelaskan." Ucap Ammar.
Miss Allyne tak menjawab ia hanya menaikkan dagunya tanda angkuh nya seorang Miss Allyne.
"Oke, pertama Aku mohon maaf. Semua ini adalah permintaan ku. Kedua, Alasan ku melakukan ini. Aku sudah jengah dengan banyaknya perempuan yang menjalin bisnis di perusahaan kami mencoba mendekati ku dengan banyak cara-cara kotor. Dan Marvin selalu bisa membuat mereka pergi. Tetapi sepertinya asisten pribadi ku ini telaj jatuh hati pada mu Miss Allyne. Jadi jika anda ingin marah, marahlah padaku bukan pada Marvin." Jelas Ammar pada Miss Allyne.
__ADS_1
Marvin tak berani mengangkat pandangannya pada Miss Allyne. Rasa khawatir dan tak percaya diri membuat dirinya pasrah akan rasa yang ada di hatinya. Ia tahu Miss Allyne adalah salah satu pemilik perusahaan cukup besar di negara kangguru dan begitu kagum dengan sosok Ammar, bukan dirinya.
Miss Allyne merasa kecewa bercampur marah mendengus kesal.
"Aku pastikan setelah dari sini. Aku akan menghentikan semua kontrak kerja kita Mr Ammar!" Ucap nya sambil menatap Ammar tajam.
"Terserah. Aku tidak perduli, tetapi tolong maafkan aku Miss Allyne. Aku sungguh melakukan ini karena aku tak ingin melakukan dosa dengan kalian yang begitu agresif ingin menyentuh ku..." Ucap Ammar pelan.
"Oya? Sesuci apa dirimu Mr Marvin bahkan dengan sombongnya anda menganggap diri anda tidak berdosa? Kami perempuan berdosa? Apakah anda yakin anda tidak berdosa? Lalu kebohongan yang anda buat itu bukan dosa? Anda takut disentuh karena berdosa. Lalu siapa yang menanggung dosa asisten anda yang menyentuh saya!?" Suara Miss Allyne penuh amarah.
Ia merasa tersinggung dianggap sebagai perempuan penggoda. Ia merasa marah dianggap memiliki dosa. Kata-kata Miss Allyne barusan menusuk sanubari putra Ayra Khairunnisa itu. Ia hanya terdiam membisu mendengar apa yang dikatakan Miss Allyne.
Ia yang ingin merokok tak jadi karena melihat ada Ifah yang masih balita. Ibu nya sering mengingatkan untuk tidak merokok di dekat anak kecil. Sehingga ia simpan kembali rokok nya kedalam saku. Ia memainkan kore api miliknya.
"Astaghfirullah.... Miss Allyne benar.Baik bagi kita belum tentu bagi orang lain. Buruk bagi kita belum tentu buruk bagi orang lain. Merasa diri ini suci, merasa diri ini penghuni surga.. Seolah-olah aku malaikat... Betapa kotornya hatiku Ya Allah.. Terimakasih telah mengingatkan ku lewat sosok Miss Allyne." Ammar merasa bersalah.
Apa yang diucapkan perempuan yang lama tinggal di Australia itu membuat dirinya sadar.
"Maafkan aku Miss Allyne. Aku telah salah
Terimakasih telah mengingatkan ku. Aku tersadar, aku pun makhluk yang penuh dosa. Hanya para Nabi yang luput dari dosa. Dan Ku Marvin, maafkan aku. Kekuasaan yang aku miliki membuat aku lupa bahwa niat yang baik harusnya juga dilakukan dengan cara yang baik dan benar.. Tolong maafkan aku jika aku menyakiti kalian berdua." Ucap Ammar sambil menjulurkan tangannya ke arah Marvin.
Ia telah salah meminta Marvin untuk menggantikan dirinya agar tak bersentuhan dengan Miss Allyne namun justru membuat Marvin melakukan dosa yang sama. Lantas bagaimana ia bisa ama dari dosa sedangkan ia menjerumuskan temannya berbuat dosa yang ia hindari.
Marvin yang merasa senang dan bangga memiliki bos seperti Ammar, ia berdiri dan menatap Ammar.
"Bolehkah aku memeluk mu Bos?" Ucap Marvin.
__ADS_1
Namun belum sempat Ammar menjawab. Tubuhnya jatuh kedalam pelukan sahabat nya. Alisha yang dari tadi mengamati ikut berteriak menyebutkan satu nama.
"Mr. Ammar... !" Ucap Miss Allyne dan Alisha bersamaan.