Pesona The Twins

Pesona The Twins
110 Kamu Dimana?


__ADS_3

"Ada apa Ar?" tanya Ammar saat sang istri seolah menjauh dari dirinya.


"Tidak apa-apa. Aku lagi halangan. Rasanya tidak nyaman. Apa Mas nyaman dengan aroma ku?" Tanya Arumi.


Ammar terkekeh melihat tingkah istrinya.


"Aroma yang mana? Sudah sini." Ucap Ammar.


Arumi mendekati Ammar. Ammar memindahkan guling ke belakang tubuh Arumi. Istri Ammar itu sebenarnya tak percaya diri tidur bersama Ammar disaat haid. Ia merasa tubuhnya menimbulkan bau yang tak sedap.


"Sudah. Itu hanya perasaan mu saja. Aroma tetapi di kamar ini. Parfum yang kamu kenakan itu membuat kamu sangat wangi." Ucap Ammar.


Malam-malam mereka hanya habiskan waktu di kamar. Arumi sedang malas jalan-jalan karena pinggang dan perutnya betul-betul terasa sakit. Ammar bahkan mengusap punggung istrinya.


"Ar. Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Ammar.


Arumi berdehem dalam pelukan suaminya.


"Yang lalu biarlah berlalu. Cukup memori mu tentang masalalu mu, aku dan kamu yang tahu. Kita kubur masalalu dan tak mengingatnya lagi." Ucap Ammar.


Arumi paham kemana arah pembicaraan Ammar. Ia ingin hanya dirinya yang tahu tentang masa lalu bahwa ia mencintai Gede. Arumi pun mengeratkan pelukannya.


"Maaf,"


"Untuk?"


"Karena kamu bukan yang pertama di hatiku."


"Tak mengapa. Yang penting aku yang terakhir dan hanya ada aku, sekarang dan esok."


Ammar mengusap rambut panjang Arumi. Entahlah suami Arumi itu begitu menikmati berada di balik rambut panjang sang istri. Ia senang dengan aroma wangi yang berasal dari rambut Arumi.


Arumi merasakan kenyamanan di perutnya. Usapan demi usapan yang diberikan Ammar membuat rasa sakit saat di awal haid sedikit terobati.


"Aku harus melupakan kamu Ge. Mas Ammar begitu menyayangi ku. Pergilah dari hati ini. Aku tak ingin mengingat tentang kamu lagi. Semua tinggal cerita tentag masalalu." Batin Arumi sambil memeluk lengan Ammar.


Arumi menyandarkan kepalanya di pundak Ammar.


"Indah sekali ternyata bisa duduk bermesraan begini saja ya Ar." Ucap Ammar pada sang istri.


Arumi tak menjawab. Ia hanya fokus pada perasaannya yang merasakan kebahagiaan di cintai, di inginkan dan di manja seperti satu hari itu. Sang suami bahkan memesan makanan dan menyiapkan sampai Arumi hanya tinggal membuka mulutnya saja.


Tiba-tiba saat ponsel Ammar berdenting, Arumi bergegas bersembunyi di balik selimut karena ia tak mengenakan hijab. Ia bisa melihat panggilan video call dari Ayra.


Ammar menjawab salam dari sang ibu.


"Mana Arumi Am?" Tanya Ayra.


"Ada Ma. Dia bersembunyi dibalik selimut. Ucap Ammar."


Ammar mengarahkan ponsel ke arah selimut yang tertutup.


Ada kebahagiaan di hati Ayra. Ia melihat tawa lepas Ammar dari hati. Dan terlebih saat Ammar membuka selimut itu dan melihat menantunya tanpa hijab. Ayra sumringah melihat pemandangan sang menantu yang walau memakai sweater tetapi rambut panjang yang tergerai dan rona malu tersebut membuat Ayra bertambah tenang.


Ammar hanya mendengar istri dan Ibunya berbicara vya video call tersebut. Ia sibuk berada di belakang Arumi sambil memainkan rambut panjang sang istri.


Ammar yang menelusupkan tangannya di perut Arumi, hal itu membuat Arumi menahan rasa geli, juga membuat istri Ammar itu menepuk pelan tangan sang suami.


"Aduh... sakit Ar..." ucap Ammar yang ia sengaja agar ibunya mendengar.


Sontak wajah Arumi merona. Ayra tertawa mendengar suara sang anak dan rona wajah Arumi yang merah.


"Ya sudah.... Mama cuma rindu sama kalian. Dari kemarin kok tidak ada yang ngasi kabar." ucap Ayra.


Arumi tersenyum kearah ibu mertuanya itu. Ayra tak berhenti mengucap syukur saat panggilan telepon itu di akhiri. Ia merasa lega. Ia sudah hampir putus asa melihat dua karakter yang hampir sama. Arumi dan Ammar, sama-sama keras, sama-sama punya prinsip kuat. Tapi karena ketabahan Ammar, Sulung Ayra itu sudah sering dididik untuk mental. Ayra sedari kecil mendidiknya untuk tidak menyerah. Jika Ibu-ibu lain akan mencari siapa yang salah atau menyalahkan lantai ketika anaknya jatuh saat belajar jalan, Ayra justru memberikan semangat pada anaknya untuk kembali bangkit dan sakit sedikit tak apa. Semua sedari kecil. Dan ketika dewasa tak terlalu susah memberikan semangat untuk anaknya.


Ammar yang seolah tak ingin jauh dari sang istri. Ia masih menikmati saat-saat bersama di kamar itu.

__ADS_1


"Mas."


"Hem..."


"Maaf ya aku selama ini tidak pernah mau mencoba mengenal kamu. Terlalu banyak waktu yang aku tidak gunakan untuk melayani kamu,"


"Aku tahu, kamu saat itu masih belum sadar. Terimakasih karena mau terus belajar dan sekarang kamu menjadi istri yang mengerti tentang aku. Aku hanya satu berpesan padamu Ar."


"Apa..." ucap Arumi mendongakkan kepalanya.


"Jangan tinggalkan shalat lagi ya." Ucap Ammar pelan tapi pasti.


"...."


"Jika kamu betul mencintai suami mu ini. Tetaplah menjaga dirimu, lisan mu, sikap mu dan shalat mu. Itu adalah bukti cinta yang nyata bisa dibawa hingga nanti ke akhirat." Ucap Ammar meng3cup dahi Arumi.


Arumi meneteskan airmata. Disaat suami yang lain justru minta dirinya lebih dulu. Suaminya justru mengingatkan dirinya tentang shalat. Ia ingat bagaimana setiap hari di awal-awal pernikahan, suaminya selalu mengingatkan dan membujuk Arumi untuk shalat. Dan itu berhasil di satu bulan mereka menikah. Walau terpaksa tapi ternyata betul semua harus dipaksa di awal.


"Aku tahu hari ini ternyata Allah memberikan aku satu pelajaran dari rasa cemburu ku Mas." ucap Arumi yang menarik selimut dan membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.


"Apa sayang?" Ucap Ammar sambil mengeratkan pelukannya.


"Ternyata begini rasanya di abaikan, di selingkuhi. Tapi Allah masih memberikan aku begitu banyak cinta lewat cinta Mas,Cinta Mama. Dan dari Mas dan hidayah hingga aku bisa belajar siapa aku ini sebenar. Selama ini aku selalu mengabaikan panggilannya. Padahal Allah tak butuh sujud ku. Bahkan saat kembali ke jalan yang benar, hati ini justru bermunajat agar diberikan kebahagiaan... egois betul ya Mas..." Ucap Arumi yang ingat dosanya.


Entah berapa ratus satu bahkan ribu shalat yang harus ia qodho. Karena ia betul-betul tak menghiraukan urusan wajib yang tak bisa diganti dengan uang itu.


"Kamu tahu, jika dulu aku melamar mu karena aku jatuh cinta dengan kecantikan mu. Hari ini Aku semakin jatuh cinta padamu karena pesona hati mu."


Arumi memejamkan kedua matanya. Pinggang dan perut yang sakit berangsur-angsur tak terasa menyakitkan lagi. Malam itu sepasang suami istri itu tertidur.


Arumi belum juga berkenalan dengan Bilqis. Karena ia masih di kamar karena masih PMS, Empat hari mereka berada di sana. Suatu sore Arumi sudah siap menunggu Ammar. Dia bilang akan mengajak Arumi makan malam diluar ketika selesai acara dengan para mahasiswa. Ia juga akan mengenalkan dengan Bilqis sepupunya.


Namun menit berganti menit, jam berganti jam. Ammar tak kunjung datang. Ia pun berinisiatif menghubungi Ammar.


"Halo. Kak Arum." Ucap suara dia seberang.


"Siapa perempuan ini." Ucap Arumi dalam hatinya.


"Oh tidak apa-apa. Aku hanya ingin tanya apa dia masih lama pulang." Ucap Arumi.


Hatinya sudah panas. Rasa dihati menggelegak. Hampir 2 jam ia menunggu namun suaminya tertidur. Dari kalimat 'kak Arum'. Arumi tahu itu Bilqis.


"Sedekat apa kamu sama Bilqis. Bahkan kamu tidur? Hhh...." Arumi menahan emosinya. Ia tak menjatuhkan air matanya tapi hatinya merasakan sakit.


Ammar pulang di malam hari. Ia meminta maaf pada Arumi. Ia menjelaskan jika tadi sebelum acara selesai ia menemani Bilqis menemui beberapa yang ingin jadi donatur. Dan Ammar meminum gelas yang salah dan membuat ia meminum air yang ada obat tidurnya. Ia pulang dengan membawa bunga dan hadiah.


"Ar. Mas tadi-" Ucap Ammar pelan.


Arumi berusaha tenang. Ia cepat memeluk Ammar tapi ada rasa sakit. S!alnya, Bilqis tidak bilang ketika tadi Arumi menelponnya. Ammar tak tahu jika hari istrinya sedang tersakiti.


Saat malam hari, Arumi meminta agar besok segera pulang.


"Ar. Disini dulu ya..."


"Mama kasihan kalau ada undangan untuk mengisi acara." ucap Arumi berkilah.


Ammar pun akhirnya setuju karena ia ingin Arumi mencintai Ayra juga belajar banyak dari Mamanya. Namun saat baru satu hari tiba di Indonesia. Arumi justru pagi hari ingin berpamitan dengan suaminya.


"Nanti siang aku ingin ke rumah Papa. Aku rindu Tante Melisa." Ucap Arumi pelan.


"Aku harus ke kantor Ar, hari ini juga besok ada rapat penting kata Marvin." Ucap Ammar.


"Aku diantar sopir saja ya." Ucap Arumi lagi.


"Kenapa tidak tunggu ketika aku santai saja?" Ucap Ammar lagi


Arumi memohon dan akhirnya Ammar setuju.

__ADS_1


"Ya sudah, diantar sopir. Tapi cuma satu malam saja. Besok aku jemput." Ucap Ammar pelan.


Arumi tersenyum. Senyum yang dipaksakan.


Arumi merasa diduakan oleh Ammar disaat cintanya mekar. Ammar pergi ke kantor.


"Kamu tidak lelah Ar?" Tanya Ayra yang kaget ketika menantunya ingin pamit pulang.


"Tidak Ma, Arumi mohon izinkan Arumi pulang.... Arumi rindu rumah." Ucap Arumi pelan.


Ayra tahu rasa rindu rumah. Ia pernah jadi menantu. Maka ia pun mengangguk.


"Sampaikan salam sama Papa dan Mama mu. Maaf Mama dan Papa belum bisa berkunjung." Ucap Ayra.


Arumi memeluk tubuh mertuanya lama sekali. Ayra tersenyum. Sang mertua mengantar hingga sampai ke ke depan mobil. Dan saat ke perjalanan menuju kediaman orang tua Arumi. Istri Ammar itu justru berhenti di sebuah masjid.


"Tapi nanti saya dimarah den Ammar Mbak." Ucap Pak sopir yang di minta pulang.


Arumi mengatakan ia sudah mengirimkan pesan pada suaminya. Maka sang sopir pun percaya. Ia pulang ke kediaman Ayra.


Satu hari Arumi sudah menginap di kediaman Pak Subroto. Seperti yang sudah di janjikan. Ammar akan menjemput sore hari kedua setelah ia pulang dari kantor. Tiba di kediaman Subroto. Melisa justru bingung ketika Ammar bertanya Arumi dimana.


"Tapi semalam dia membalas pesan ku." Batin Ammar saat kenyataan yang ia tahu bahwa Arumi tidak pulang kerumah orang tuanya.


Ammar terdiam saat pak Subroto mengatakan ada masalah apa. Apakah bertengkar, Ammar mengatakan tidak ada masalah apapun. Saat Pak Subroto pergi mencari tahu dimana putrinya pergi. Melisa mengintrogasi Ammar. Mau tidak mau Ammar menceritakan semuanya.


"Tapi hubungan kami membaik ketika di Australia." ucap Ammar.


"Aku akan cari informasi. Nanti kalau sudah dapat aku berikan kabar." Ucap Melisa.


Saat pulang kerumah, Ayra menanyakan keberadaan Arumi. Kenapa putranya masih pulang sendiri. Tapi Ammar justru bergegas ke kamar sopir yang ada di paviliun belakang. Ia menanyakan dimana istrinya pergi kemarin. Dan ternyata Arumi berhenti di salah satu masjid.


Ammar mencoba menelpon Arumi berkali-kali. Ia tak bisa dihubungi. Ammar mengirimkan pesan tapi tak ada yang masuk satu pun. Tiga hari sudah Arumi pergi tanpa pesan... Di hari ketiga, pesan masuk ke ponsel Arumi tapi tak satupun di baca. Telepon tersambung tak juga diangkat Arumi.


"Kamu dimana Ar... Kamu kemana..." Ucap Ammar sambil menghisap rokoknya.


Ayra tak bisa dibohongi. Ia mengetuk pintu kamar sang anak. Ammar pun menceritakan yang terjadi sebenarnya. Ayra bahkan mengirimkan pesan ke ponsel Arumi menggunakan ponselnya tapi tak dibaca oleh Arumi.


Namun tak lama pesan masuk ke ponsel Ammar dari Melisa.


[Ini titik koordinat Arumi saat ini.Segera susul dia. Aku bisa pastikan ia baik-baik saja. Jika dia disana, maka hatinya yang tak baik. Selesaikan masalah mu dengan Arumi. Dia bukan tipe perempuan yang mudah berterus terang.Dia bukan tipe perempuan yang butuh kata-kata tapi ia butuh bukti. Logikanya itu kadang mengalahkan hatinya.]


"Ma, Ammar sudah tahu Arumi dimana." Ucap Ammar semangat.


Perempuan yang sedang di khawatirkan suaminya itu sedang duduk di beranda belakang rumah peninggalan ibunya. Ia menikmati suasana silirnya angin dan derasnya suara aliran Sungai Musi. Ia bahkan menikmati kopi hitam.


Matanya menatap ke arah sungai dibelakang rumah dengan bentuk salah satu rumah adat di Provinsi Sumatera Selatan itu.


Tiba-tiba ada suara dari arah depan rumah juga suara anak tangga yang terbuat dari kayu membuat Arumi kaget.


"Yuk Ar... Yuk Ar... Ado Uwong Nyari Yuk..." Ucap Maryam yang berlari-lari.


[Kak Ar. Kak Ar. Ada orang mencari mu]


Arumi menoleh karena gadis berusia 11 tahun itu sudah ada di hadapannya.


"Siapo?" Tanya Arumi.


[Siapa?]


"Dak tahu. Wong Lanang. Belagak, Bawak mobil bagus nian Yuk."


[Tidak tahu. Lelaki. Tampan, dia mengendarai mobil bagus sekali]


Arumi tersenyum. Dia sudah dapat menebak siapa lelaki itu.


"Ar... Arum... Ado tamu nyari." Ucap Nek Syaripah dari arah depan.

__ADS_1


[Ar. Arumi. Ada tamu]


{Sabar ya Readers. Otw Sakinah mawadah warahmah ini Ammar. Sengaja dibikin begini. Biar Masa sucinya Arumi di tempat yang biasa tapi luar biasa. Sekalian kenalan sama Sungai Musi😍😍😍}


__ADS_2