Pesona The Twins

Pesona The Twins
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra


__ADS_3

"Ma..." Ucap Ammar menahan napasnya. Ia mengumpulkan semua keberaniannya.


Sehingga ia menceritakan bahwa ia mendengar sendiri bahwa Gede adalah anak kandung Pak Rendra.


"Betulkah!?" tanya Bram pada Ammar.


"Betul dan tidaknya. Papa bisa nanti meminta penjelasan itu. Saat ini ada yang lebih penting. Istri almarhum kabarnya berangkat ke Indonesia seorang diri." Ucap Ammar.


"Pak Toha adalah sahabat Abi mas. Aku paham beliau. Beliau tidak pernah berbohong. Setidaknya kalau mas mengizinkan. Ayra akan menemani Bu Ratih ke Indonesia." Ucap Ayra.


Bram pun berpikir sejenak.


"Mas, almarhum sudah meninggal dunia. Maafkan lah." ucap Ayra pelan.


Bram tersenyum, Ia menarik napas dalam.


"Baiklah. Mas ikut ke Indonesia. Dan kamu, berikan kabar tentang Arumi. Jika tak ada perkembangan. Kita ke Kanada, kita cari yang terbaik untuk Arumi." ucap Bram pada Ammar.


Sulung Bram pun mengangguk cepat.


"Apakah Gede sudah tahu ini Am?" Tanya Ayra.


"Aku tidak tahu Ma. Kau hanya mendengar Kakek Toha mengatakan jika Gede putra kandung Pak Rendra." Ucap Ammar.


Ayra pun akhirnya berangkat ke bandara. Betul saja, ia melihat Bu Ratih seperti orang hilang. Perempuan itu terduduk lemah, seperti mayat hidup. Ia yang melihat kehadiran Ayra ingin berdiri. Namun Ayra cepat memeluk Bu Ratih. Ibu Hilman itu seperti menemukan tempat untuk ia bersandar dan menumpahkan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Ayra.

__ADS_1


Bram hanya melihat hal itu. Ia pun merasa sedih. Namun dalam sedihnya, ia berdoa agar diberikan umur yang panjang.


"Panjangkan Umur ku Rabb. Izinkan Aku dan Istriku menua hingga akhir hayat kami " Ucap Bram yang merasa sedih melihat seorang istri terlihat sangat terpukul karena kehilangan suami.


"Bersabarlah Bu. Insyaallah, Pak Rendra sudah tenang disana." Ayra mencoba menenangkan Bu Ratih.


Sepanjang perjalanan itupun Ayra menemani Bu Ratih. Bram bahkan menghubungi Gede saat baru akan terbang ke Tanah Air.


"Ge. Papa dan Mama sudah mau terbang ini. Kami pulang menemani Bu Ratih." ucap Bram yang mengatakan bahwa mereka menemani Bu Ratih pulang. Gede seketika terdiam saat panggilan itu berakhir.


Gede bermonolog dalam hatinya. Ia sedang gamang, di satu sisi ia sadar bahwa berbuat baik pada kedua orangtua adalah kewajiban dan amal yang mulia.


Sekalipun orang tua memerintahkan untuk berbuat keburukan. Maka aturannya sesuai syariat agama Islam, seorang anak tetaplah berbuat baik pada orang tuanya tanpa mentaati perintahnya. Bahkan saat orang tua berbuat salah pun, seorang anak tetap di haruskan mengendapkan adab dengan berlemah lembut.


"Mas... "Ucap Qiya saat melihat suaminya menitikkan airmata dengan ponsel masih di telinganya.


"Mas sudah dengar kabar?" Tanya Qiya.


Gede menoleh dan menganggukkan kepalanya tanda ia sudah mendengar kabar duka.


"Kita ke Jakarta sekarang ya Mas... Bagaiamana pun, beliau tetap ada hubungan darah dengan Mas." Ingat Qiya.


Gede pun baru merasa mantap.


"Ibu bagaimana Qiy?" Tanya Gede.

__ADS_1


"Ibu baru saja mendengar kabar itu dari televisi. Aku baru ingin memberitahu Mas. Ibu mengajak kita untuk ke kediaman Pak Rendra." ucap Qiya.


Flashback Off.


Saat di pemakaman, Ratih alias istri almarhum pak Rendra justru meminta pada Gede untuk yang mengumandangkan adzan di liah lahat suaminya.


"Saya mohon... Bahkan sesaat sebelum ia menghembuskan napasnya. Ia ingin berangkat ke Indonesia. Ia ingin menemui kamu dan ibu mu." Ucap Bu Ratih lirih.


Gede melihat anggukan dari dua orang perempuan yang ada di sisi kanan dan kiri Bu Ratih.


Gede pun masuk ke dalam liang lahat tersebut. Namun saat dipertengahan adzan yang ia lafadzkan. Tenggorokannya tercekat. Ia berusaha menahan air matanya. Ada rasa sedih di dalam hati Gede. Ada rasa menyesal. Ia merasakan rasa sakit kehilangan orang tua. Rasa itu hadir di saat ia kehilangan. Rasa yang sama hadir di hati Ibu Hilman.


"Inikah rasa memiliki seorang ayah.... Inikah rasa kehilangan orang tua. Kenapa kalau sudah tiada baru terasa." Ucap Gede saat ia ditarik naik oleh salah seorang kakak Pak Rendra.


Putra Ratih itu menatap beberapa lelaki yang sibuk menimbun tanah. Ia merasa lemah.


"Aku memaafkan mu Pak.... Aku memaafkan mu." Ucap Gede dalam hatinya dengan menautkan geraham atas dan bawahnya. Ia mencoba untuk tak menitikkan air mata.


Qiya yang berada diseberang suaminya. Ia bisa melihat dari ujung hidung suaminya yang memerah. Ia bisa memastikan jika suaminya merasa kehilangan. Suaminya merasa sedih. Namun ada rasa bahagia. Karena suaminya memiliki hati yang lembut. Hanya hati yang lembut yang bisa menangis disaat orang yang telah menyakitinya tertimpa musibah terlebih lagi orang tersebut meninggal dunia.


"Insyaallah Pak Rendra akan merasa bahagia nanti dengan memiliki dua anak lelaki yang Sholeh... " Batin Qiya masih menggandeng lengan Bu Ratih.


Ayra berdiri disisi Qiya. Ibu tiga anak itu mengikuti arah anak mata sang anak. Ia juga melihat raut wajah kehilangan dari Gede.


"Sungguh aku bahagia di hari tua ku. Aku melihat anak dan menantu ku memilki pesona yang begitu masyaallah. Jadi mereka sudah tahu semua ini. Jadi kalian tak menceritakannya pada kami. Berikan kebahagiaan dalam rumah tangga anak-anak ku Rabb." Ucap Ayra dalam hatinya masih dengan memandang sang menantu.

__ADS_1


__ADS_2