Pesona The Twins

Pesona The Twins
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede


__ADS_3

Jika Gede di minta hadir besok. Bram justru mengirimkan pesan pada Hilman untuk datang ke kediamannya sore itu. Bram sudah mengatakan pada Ayra agar putrinya tak hadir di ruang depan selama Hilman datang.


Bram yang akan menyampaikan penolakan tersebut. Bagaimana pun, Hilman harus diberi tahu. Ia pun tahu bahwa tak mungkin ia dan Gede terpilih. Tetap ada satu yang terpilih untuk mendampingi putrinya.


Asisten rumah tangga datang menyampaikan pada Ayra jika yang ditunggu telah datang. Nyonya rumah itu pun memanggil suaminya yang sibuk dengan bacaannya.


"Mas, Hilman sudah datang..."Ucap Ayra saat telah berada di dekat suaminya.


Bram pun menutup buku yang ia baca. Ia bergegas ke arah ruang tamu. Ayra pun mendampingi. Tiba di ruang tamu, Hilman menyambut pemilik rumah dengan begitu sopan.


Hampir dua puluh menit berlalu, obrolan masih sebatas perkembangan karir Hilman. Saat Bram pikir tepat. Ia pun menyampaikan kabar bahwa dia tidak terpilih untuk mendampingi Qiya.


"Sebelumnya saya mohon maaf Nak Hilman. Bukan berarti Nak Hilman buruk di mata anak kami dan keluarga kami. Tetapi, pernikahan harus berlandaskan suka sama suka untuk menghadiri cinta. Walau ada di kalangan keluarga atau pondok pesantren dilakukan Perjodohan. Tapi untuk di keluarga saya, saya membebaskan anak-anak saya memilih teman hidup tapi saya juga tetap mengawasi." ucap Bram.


"Maksud Pak Bram. Saya di tolak?" ucap Hilman.


"Begini Nak Hilman, Nak Hilman tidak berarti buruk walau tidak berjodoh dengan Qiya. Mungkin ada yang lebih pantas mendampingi Nak Hilman. Nak Hilman lelaki yang baik. Lah Wong wakil rakyat. Namun perkara hati, kita tidak bisa memaksa. Begitu pun Qiya, Gede menyukai dirinya dan ia melamar Qiya. Qiya pun menyukai Gede maka menerimanya walau Nak Hilman juga baik. Bukan berarti lebih baik Gede. Tetapi yang di sukai Qiya untuk mendampingi dirinya, ia lebih cenderung Gede. Yakinlah, pemuda tampan, sukses, dan baik seperti nak Hilman akan menemukan jodoh yang juga baik. Walau tak berjodoh dengan putri kami" Uca Ayra cepat. Panjang dan jelas yang disampaikan Ayra.


Hilman terdiam. Ia tak menyangka akan ditolak. Bagaimana bisa Qiya menyukai dokter yang bahkan bukan alumnus pondok pesantren manapun.


"Secepat itu kah Qiya jatuh hati setelah proses pernikahan kami batal." Ucap Hilman.


Bram merasa sedikit tak suka dengan kalimat yang disampaikan Hilman.


"Jika dulu dai memilih jodoh nya karena ingin beribadah. Ia berpikir jatuh cinta setelah menikah, pacaran setelah menikah akan indah. Nak Hilman dianggap gentleman karena meminang dirinya. Begitupun Kini. Namun yang membedakan, saat ini putri saya sudah terlanjur menjatuhkan hatinya pada dokter Gede." ucap Bram cepat. Ayra sedikit mengusap p@ha suaminya.


Walau Bram menyampaikan hal itu dengan nada pelan dan tak terdengar emosi. Tapi Ayra tahu, suaminya kurang berkenan akan apa yang disampaikan Hilman.


"Apa yang membuat kamu bisa jatuh hati pada lelaki itu Qiy." Batin Hilman.


"Maaf Pak, tak bisakah saya bertemu dan berbicara dengan Qiya?" Tanya Hilman.


"Saya rasa kemarin anda melamar putri saya lewat saya. Kenapa sekarang harus bertemu?" tanya Bram.


Hilman terdiam, ia bisa melihat tatapan tak suka pemilik rumah.


"Sungguh beruntung dokter itu bisa mendapatkan putri bapak. Baiklah, saya akan menerima keputusan ini. Kalau begitu saya permisi pulang. Saya ingin menyampaikan hal ini pada Kakek " ucap Hilman.


Ia begitu kecewa, ia pun berpamitan. Di dalam mobilnya. Sambil mengendarai mobilnya. Ia menangisi penolakan yang di lakukan Qiya. Hati yang masih merasa panas dan kecewa. Ia menepikan mobil.


[Qiy. Beri aku satu alasan kenapa kamu memilih lelaki itu.]

__ADS_1


Hilman mengirimkan pesan pada Qiya. Menit berganti menit, ia tak kunjung melihat tanda contang itu berubah menjadi biru. Sebenarnya Qiya telah melihat dan membaca pesan tersebut di mode layang tapi ia tak berani membukanya. Ia bingung harus menjawab apa. Tak mungkin menjawab apa adanya. Namun jika Tia dijawab pun bukan satu sikap yang bijak.


Akhirnya Qiya pun memberanikan diri membuka dan membalas pesan dari Hilman.


[Alasan paling tepat mungkin karena kita tidak berjodoh mas Hilman. Karena Gus Baha pun dawuh 'Jodoh itu adalah siapa yang Mau mengajak menikah dan mau diajak menikah'. Harus ada kutub positif dan negatif untuk mencapai ketertarikan, dan mungkin kita sama-sama positif sehingga tak bisa bertemu dalam satu magnet pernikahan.]


Hilman membaca pesan tersebut. Ia menitikkan air mata. Ada rasa kesal dalam hatinya pada Papanya yang telah membatalkan rencana pernikahan dirinya dahulu dengan Qiya. Kini gadis pujaan banyak santri ketika mondok dulu telah di pinang oleh lelaki yang justru bukan keturunan Kyai atau santri. Ia hanya orang biasa.


"Apa lebihnya dokter itu dari diri ini... Hhh..."


Tangannya cepat mengetik kembali pesan ke pada Qiya.


[Baiklah terimakasih. Semoga Kamu bahagia Qiy. Semoga kamu tak menyesal dengan pilihan mu. Doa terbaik untuk mu. Andai hati yang kamu pilih menyakiti kamu. Aku tak akan memaafkan dia yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang sangat aku harapkan jatuh pada ku.]


Hilman pun mencari tempat dimana ia bisa menenangkan hati yang sedang panas. Rasa patah hati yang mungkin orang-orang bilang putus cinta.


[Maafkan Qiya Mas Hilman. Tolong maafkan Qiya karena telah menyakiti hati mas Hilman. Semoga kelak mas Hilman kelak bertemu perempuan yang jauh lebih baik dari Qiya dan bisa jauh lebih bahagia dari Qiya. Gus Baha juga pernah dawuh Mas, 'Mencintai itu tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai. Tapi, juga harus sabar saat dilukai oleh orang yang dicintai'. ~]


Qiya menutup ponselnya. Ia tak berani kembali membaca pesan yang apabila dibalas lagi oleh Hilman. Gadis Ayra itu menitikkan air matanya. Ia menangis bukan karena kehilangan Hilman. Ia pernah di posisi Hilman. Ia merasa sakit ketika apa yang diharapkan tak sesuai dengan yang terjadi.


Ia berulang kali beristighfar, memohon ampun karena telah menyakiti satu makhluk Allah. Ia merasa berdosa, namun ia tak kuasa menolak kata hatinya bahwa separuh jiwanya telah berlabuh untuk lelaki yang bernama Gede Ardhana.


"Hiks.... Hiks... Maafkan Kulo Gusti.... Maafkan hati ini yang telah menyakiti makhluk mu... Maafkan Kulo... " Qiya menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.





"Qiy, besok kalau nikah sama Beli Gede. Kamu bakal tinggal di Bali berarti?" tanya Ammar yang sudah siap dengan baju kemeja juga rambut yang sudah tersisir rapi.



"Ya Ndak tahu mas, namanya perempuan ya makmum suaminya." Ucap Qiya yang hanya melihat ke arah para asisten yang sibuk menyiapkan meja makan.



"Mas berharapnya kamu di sini nanti, kasihan Mama dan Papa kalau kamu pergi." Ucap Ammar.


__ADS_1


"Hust... Ya Ndak boleh ngatur-ngatur begitu. Kalau Qiya sudah menikah ya biar dia dan suaminya buat rencana hidup mereka. Mama dan Papa tidak masalah jika semua anak-anak Mama dan Papa tidak tinggal disini. Yang penting kalian bahagia, sakinah mawadah warahmah. Itu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan Mama dan Papa." Ucap Ayra yang sudah hadir diruang itu sambil mendorong kursi roda Eyang Lukis.



"Umi sudah sampai mana Ma?" Tanya Bram yang belum melihat kehadiran ibu mertuanya.



"Baru keluar dari jalan tol kata Kak Siti." Ucap Ayra.



Tak lama seluruh keluarga Pradipta telah hadir untuk menyambut keluarga Gede. Begitupun Furqon dan Umi Laila.



Mereka masih menanti Gede dan Keluarga. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.



"Semoga calon menantu mu tak kembali tersesat Ayra." bisik Bram pada Ayra karena Beberapa anggota keluarga yang memang sudah tak sabar. Waktu yang dijanjikan telah lewat satu jam.



Suara deru mobil dari arah depan membuat para anggota keluarga bisa bernapas lega.



"Tamunya sudah datang Bu " Ucap salah satu asisten pada Ayra.



"Alhamdulillah... Langsung dipersilahkan masuk mbok." Pinta Ayra.



Saat rombongan Gede masuk. Umi Laila dan Niang Ayu yang saling memandang bersamaan tersenyum. Usia mereka memang lansia. Gaya berbusana, gaya duduk dari Umi Laila dan Niang Ayu yang juga tak berubah banyak hanya uban di kepala yang terlihat menandakan beliau telah tak lagi muda, namun masih cantik.



"Dokter Ayu," Ucap Umi Laila.

__ADS_1



"Umi Laila..." Niang Ayu menyapa dari kursi roda nya.


__ADS_2