Pesona The Twins

Pesona The Twins
114 Hati Yang Masih Tersakiti


__ADS_3

Berita bahwa Arumi telah kembali juga telah sampai di telinga Pak Subroto dan Melisa. Mereka pun mengunjungi kembaran Mayang itu. Tiba di kediaman Ayra, mereka hanya di sambut Ayra dan Bram. Ammar masih dikamarnya.


"Semalam mereka baru tiba Pak. Kakinya melepuh karena kena air mendidih." Ucap Ayra.


"Sebelumnya saya minta maaf atas sikap putri saya yang membuat Pak Bram dan keluarga khawatir." Ucap Pak Subroto yang tahu jika Arumi pergi dari rumah tanpa mengatakan jika ia pergi ke Palembang.


"Tidak apa-apa pak Subroto. Wajar jika suami istri baru menikah seperti itu. Mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal dan memahami. Kita hanya bisa berdoa dan menasehati." Ucap Bram pada besannya.


Dikamar Ammar justru sedang membujuk istrinya.


"Kenapa si Ar? Pak Subroto itu Papa mu kan?" Tanya Ammar saat Arumi tak ingin turun menemui Pak Subroto.


Arumi diam. Ia tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ammar mendekati Arumi. Ia mengusap rambut Arumi yang panjang dan ia cium rambut panjang itu.


"Cerita sama Mas. Kamu kenapa sama Papa mu?" Kembali Ammar membujuk istrinya yang terlihat kesal dan badmood.


Arumi menyandarkan kepalanya di dada Ammar. Baju sang suami yang baru saja ia ganti kembali basah karena rambutnya yang belum terlalu kering.


"Sakit Mas. Masih sakit ingat masa kecil ku. Perjuangannya ibu sendiri. Sedangkan Papa dulu menyia-nyiakan aku." Ucap Arumi pelan


"Arumi sayang, Surga itu ada banyak pintu yang dapat kita masuki. Sesuai dengan amalan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Ada pintu sedekah, ada pintu puasa, pintu menghidupkan Sunnah-Sunnah, juga menjaga kewajiban kita. Salah satunya berbaktilah pada orang tua. Orang tua adalah pintu surga yang paling baik, Sayang. " Ucap Ammar yang kini sudah berada dihadapan istrinya.


Mata Arumi terlihat merah. Ada rasa benci, rasa dendam pada lelaki yang tidak pernah ada dan hadir untuk dirinya.


"Aku tahu kalau dosa yang paling besar selain menyekutukan Allah itu adalah durhaka pada Orang tua Mas. Tapi aku juga berhak menuntut hak ku selama ini. Aku tidak mendapatkan hak ku. Semua Mayang dapatkan." Ucap Arumi dengan nada lirih.


Ammar melihat sang istri terasa susah untuk bernapas. Ia memeluk sang istri erat.


"Seburuk-buruknya orang tua. Dia tetap orang tua mu Arumi. Tidak baik memutuskan hubungan dengan orang tua apalagi sampai membenci. Orang tua bukan hanya ibu tapi juga ayah. Kita sudah berencana untuk memiliki anak. Lalu bagaimana jika nanti anakmu juga marah atau benci pada ku karena aku juga melakukan kesalahan?" Ucap Ammar.

__ADS_1


Arumi menghela napasnya pelan.


"Aku mau disini saja Mas... Please..." Ucap Arumi.


Ammar menghela napasnya pelan.


"Tapi kalau Papa dan Mama ingin meminta untuk melihat dirimu. Mas tetap akan mengizinkan mereka kemari. Ok?" Ucap Ammar. Arumi mengangguk pelan.


"Kamu tahu Ar. Salah satu kebahagiaan ku adalah kamu mau menjadi Sholeh untuk ku. Itu sudah cukup lebih baik." Batin Ammar saat memeluk istrinya sebelum ia meninggalkan sang istri seorang diri di kamar.


Tiba di lantai bawah, ia bertemu mertuanya. Ammar mengatakan jika sang istri masih sakit kakinya. Ayra sedikit aneh. Biasanya anak akan sangat senang dikunjungi orang tua. Tapi Arumi justru terkesan menghindar dari Pak Subroto.


"Tante boleh lihat Arumi sebentar Am?" tanya Melisa.


Ammar pun mengangguk. Ia mempersilahkan sang ibu sambung mertua untuk bertemu dengan Melisa. Tiba di kamar, ia meninggalkan sang istri dengan Melisa. Ia pun pergi kembali menemani Ayah mertuanya.


Didalam kamar yang sangat wangi aromaterapi itu membuat Melisa melihat kondisi di kamar sang anak tirinya.


"Kalau Tante kemari untuk membela Pak Subroto. Silahkan. Tapi aku masih belum bisa memaafkannya."


Melisa duduk disisi Arumi.


"Ar. Kamu salah sangka dengan Papa mu. Beliau tidak tahu jika kamu ada di dunia ini. Beliau juga tidak tahu jika ibu mu masih hidup. Kamu tahu, bagaimana ibumu tak pernah menjelekan Papa mu kan" ucap Melisa.


"Tante. Aku menghormati Tante sebagai teman ibu ku bukan istri dari lelaki itu." Ucap Arumi menutup buku yang ia baca.


Melisa melihat kaki yang berada di atas bantal kecil terlihat merah dan seperti ada airnya di dalam kulit kaki Arumi.


"Kamu sudah mengingat semuanya berarti Ar? Termasuk hubungan mu dengan Gede?" Tanya Melisa.

__ADS_1


Arumi mengangguk. Melisa bertanya lagi apakah ia masih mencintai Gede.


"Tidak. Sekarang aku hanya fokus pada suami ku Tante. Aku sudah tak lagi mengingat masa lalu dengan Gede." Ucap Arumi.


"Syukurlah." Ucap Melisa yang beberapa hari ini ia khawatir jika Arumi masih mencintai Gede. Sedangkan sekarang lelaki itu telah menikah dengan Qiya.


Sore itu Ammar sengaja menghabiskan waktunya bersama Arumi di kamar. Ammar bahkan bercerita banyak.


Suami Arumi itu Mengungkapkan bahwa menjadi perempuan adalah takdir yang harus disyukuri. Bahkan Allah mengkategorikan perempuan saat mengandung sama dengan orang yang jihad di jalan Allah.


"Ar. Mas tidak ingin kamu hanya Sholihah untuk mas. Tapi juga tetap pada Papa mu." Ucap Ammar.


Arumi diam. Ia menikmati belaian pada rambut panjangnya.


"Ar,Perempuan shalihah adalah hadiah bagi laki-laki yang shalih, dan laki-laki yang sholeh adalah hadiah untuk perempuan yang shalihah, Kamu adalah hadiah buat mas. Bermetamorfosis lah menjadi wanita Sholehah. Jika papa mu tak sayang dengan dirimu maka tak mungkin ia terlihat khawatir saat kamu pergi. Ia tampak memerintahkan beberapa orang untuk langsung mencari keberadaan mu." Ucap Ammar.


Arumi hanya diam. Ia masih mencoba untuk memaafkan Pak Subroto. Namun di tempat lain seorang Ayah justru tercengang kala membuka sebuah majalah dan melihat profil keluarga Bramantyo Pradipta yang tertera di satu halaman. Disana tertulis 'Bramantyo Pradipta Mengepakkan sayap Ke Bali'.


Ia melihat sebuah foto dimana perempuan di masalalunya terlihat berdiri di sisi Ayra. Perempuan yang ia tak sukai dahulu karena menjadi pesaing kariernya.


"Ratih...." Ucap lelaki itu. Seorang perempuan lainnya yang bernama Ratih juga datang membawa kopi dan cemilan untuk Pak Rendra.


Istrinya juga bernama Ratih. Hal itu yang membuat ketika saat ibu Gede memperjuangkan nama untuk Gede. Ia bisa berkilah karena kesamaan nama mantan istrinya dan perempuan yang ia nikahi itu.


"Ada apa mas?" Ucap Ratih saat mendengar Pak Rendra menyebut namanya.


"Tidak. Aku hanya sebal saja. Berita seperti ini masuk majalah. Tidak bermutu." Ucap Pak Rendra.


Bu Ratih melirik majalah yang dilemparkan Pak Rendra. Ia melihat keluarga Bram dan Ayra.

__ADS_1


"Kamu dan Hilman Sama saja. Hilman masih belum move on. Dan kamu juga masih dengan ras benci mu pada keluarga itu. Mereka tidak bersalah apapun pada kita." Ucap Bu Ratih.


"Hah... Ada hubungan apa Ratih dengan keluarga Bram." Ucap Pak Rendra yang saat acara resepsi pernikahan Qiya ia tak datang. Bahkan majalah yang membuat berita pernikahan putri Bram itu pun tak dibaca oleh Pak Rendra.


__ADS_2