
Tak ada yang lebih membahagiakan selain mendapatkan Rahmat dari Allah dalam setiap lini kehidupan kita. Ayra Khairunnisah. Mungkin banyak orang beranggapan jika Ayra bahagia karena hartanya, karena ketampanan Bram, karena Sholeh dan Sholehah putra dan putrinya. Namun semua itu bukan karena nikmat yang ada dalam hidup Ayra. Melainkan, Ayra menikmati dan bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan padanya.
Semua nikmaaat itu, ia jadikan ladangnya untuk berinvestasi di dunia. Berinvestasi agar kelak di akhirat bisa ia ambil beserta bunganya. Nikmaaat yang bisa ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Lihatlah Pak Rendra, yang juga bergelimang harta, anak yang Sholeh, orang tua yang juga alim. Tetapi keberkahan tak ia dapatkan. Karena ia tak pernah bersyukur dan bersujud pada pemberi nikmat.
Konsep hidup yang berbeda dari mereka yang sama-sama memiliki harta, pangkat dan jabatan. Konsep yang benar adalah jangan cintai nikmat yang diberikan. Tetapi cintai sang pemberi Nikmat. Maka ada keberkahan, kedamaian dalam menjalani hidup.
Siang itu, suasana di ruang makan sangat hangat. Anak dan menantu semua berkumpul di ruangan itu. Bram dan Ayra pun tak percaya bahwa ketiga anak mereka sengaja berkumpul untuk memberikan kejutan di hari lahir sang ibu. Makan bersama juga doa bersama mereka lakukan. Bahkan hari itu, Ammar dengan diam-diam membeli satu paket sembako dalam jumlah 530 bungkus.
Nasi tersebut ia bagikan ke rumah-rumah kaum duafa yang berada di komplek sebelah komplek mereka. Ammar yang memang tak terlalu rajin berpuasa. Ia memilih jalan shodaqoh untuk kesehatan ibunya.
"Semoga Mama selalu diberikan kebahagiaan dan kesehatan." Ucap Ammar seraya memeluk sang ibu saat acara makan siang mereka Selesai.
"Aamiin.... " Ucap mereka semua.
"Semoga anak-anak Mama bisa terus menjadi umat yang membanggakan Rasulullah kelak." Ayra berusaha menahan tangis bahagianya.
Hari itu mereka mengabadikan moment itu. Arumi tampak berdiri di sisi ibu mertuanya. Sedangkan Qiya dan Nur, mereka berjejer di sisi Ayra. Para lelaki berdiri di belakang para perempuan terhebat dalam hidup mereka. Perempuan yang mampu menjadi perempuan terdidik. Perempuan yang terus belajar meneladani Sayyidah Khadijah, Fatimah Az-Zahra, Sayyidah Aisyah.
Ya, Ayra sedari masih muda begitu mengidolakan Sayyidah Khadijah tanpa mengabaikan perempuan hebat lain yang itu berjuang dalam dakwah Rasulullah. Yang membuat Ayra begitu jatuh hati akan kisah Sayyidah Khadijah adalah ia orang pertama yang beriman kepada Allah dan kenabian Rasulullah. Beliau juga orang yang berjasa dalam dakwah Rasulullah. Yaitu dalam menyebarkan agama islam. Beliau juga adalah seorang istri yang setiap kali sang suami menginginkan sesuatu apapun, maka Sayyidah Khadijah lebih tau sebelum diminta oleh suaminya. Sungguh tauladan yang sulit sekali di terapkan dalam jiwa para istri di masa sekarang. Namun Ayra, ia tak hanya berkata dibibir saja bahwa ia mengidolakan Sayyidah Khadijah. Ia menerapkan apa yang dicontohkan Sayyidah Khadijah dalam dirinya, salah satunya dalam melayani sang suami. Walau ia tak mampu sepenuhnya bisa meneladani beliau. Tetapi cinta Ayra pada Sayyidah Khadijah, cinta yang tak hanya di bibir. Cinta yang tak hanya dari cara berpakaian agar terlihat alim.
Sedangkan Qiya, ia begitu mengagumi Sayyidah Fatimah Az-zahra. Perempuan yang dilahirkan pada 20 Jumadil akhir. Seorang putri yang begitu dicintai sang ayah. Siapa sang ayah? tentu saja Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Qiya bahkan sangat menyukai sebuah gelar 'Az-Zahra'.
Dimana itu adalah sebuah gelar dari Sayyidah Fathimah karena warna kulitnya putih indah bercampur dengan kemerah-merahan. Bahkan shalawat Al Batul yang sering di senandung kan sang ibu saat ia masih kecil, juga begitu Qiya sukai. Al-Batuul atau suci, adalah gelar yang disematkan pada Sayyidah Fatimah Az-zahra karena ia tidak putus dan bersemangat dalam beribadah. Qiya pun meneladani sang idola dengan terus bersemangat untuk beribadah.
Arumi, ia begitu menganggumi istri ketiga Rasulullah tersebut. Ya, Rasulullah menikahi Sayyidah Aisyah Ra setelah Sayyidah Khadijah radhiyallau ‘anha dan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Arumi begitu mengangumi putri dari Sayyidina Abu Bakar bin Abu Quhafah. Sayyidah dikenal begitu cerdas, bahkan banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dan yang begitu membuat istimewa Sayyidah Aisyah, ia adalah satu-satunya gadis yang dinikahi Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Arumi menganggumi putri dari Ummu Ruman, yang Ia dikenal sebagai orang yang berwawasan luas, penuh cinta, Sayyidah Aisyah memiliki nama lain yaitu Muwaffaqah (wanita yang diberi petunjuk).
Sedangkan Nur, istri Ibrahim itu menganggumi satu sosok yang luar biasa terkenal di saat perang Uhud. Sebuah hikayat cinta yang luar biasa. Cinta seorang Nusaibah yang mendapatkan luka sebanyak 13 sabetan pedang pada sekujur tubuhnya, bahkan bukti cinta yang nyata tangan Nusaibah yang hampir putus. Padahal ia yang hanya membantu memberikan minum pada para tentara Islam. Namun ia rela menghalau musuh yang akan menyerang manusia pertama yang akan masuk surga yaitu Rasulullah. Maka Ummu Imarah Nusaibah binti Ka’ab dengan berani, menghalangi dan menahan pedang musuh menyakiti Rasul. Maka bagi Nur yang pernah terjun di dunia intelejen. Kisah ini betul-betul membuat dirinya begitu menganggumi kecintaan Nusaibah pada Rasulullah. Yang ia sendiri mungkin butuh usaha keras untuk mencintai sang kekasih hati yang bisa memberikan syafaatnya di hari akhir nanti.
__ADS_1
Begitulah perempuan di keluarga Bramantyo bermetamorfosa. Berawal dari ilmu dan mengenal sosok-sosok hebat dalam agamanya. Maka Ayra, Qiya, Arumi yang bahkan gersang akan ilmu agama. Ia bisa berubah menjadi perempuan yang tak hanya menjadikan penampilannya terlihat alim. Tapi ia juga mengisi hatinya, otaknya dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga penampilan dan akhlak, ilmu senada dalam berjalan.
Maka kebahagiaan terlihat jelas dari para lelaki di keluarga itu.
Saat selesai menikmati makan siang dan bercengkrama di ruang keluarga. Masing-masing pasangan tersebut tampak beristirahat. Ammar dan Arumi di kamar mereka, Arumi yang duduk di sofa. Istri Ammar itu menitikkan air mata.
"Ada apa Sayang??" Tanya Ammar khawatir karena istrinya tiba-tiba menangis.
"Hiks... apa betul, percuma meng qodho shalat yang dulu aku tinggalkan... " ucap Arumi yang masih menatap layar ponselnya.
Ammar meraih ponsel itu. Ia melihat ada satu short video dan berisi kalimat bahwa sia-sia mengerjakan qodho shalat yang dulu ditinggalkan dengan sengaja. Tidak boleh melakukannya. Ammar memencet hidung Arumi dan seketika mengecuup dahi istrinya.
"Arumi sayang.... Yang punya surga itu Allah. Maka yang menentukan kita masuk surga, diterima tidak amal dan ibadah kita, itu Allah. Sedangkan semua Mazhab Hanafi, Syafi'i, Maliki, dan Hambali sepakat meninggalkan shalat itu wajib hukumnya untuk di qodho. Masalah diterima tidak, biar Allah. Karena shalat yang pernah ditinggalkan sejak balig tidak ada yang dapat menebusnya kecuali kita kerjakan kembali. Jadi, Ndak usah bingung gimana-gimana ya. Diterima ga itu urusan Allah." Protes Ammar pada sang istri.
Ammar pun tertawa karena istrinya begitu mudah menangis semenjak bangun dari komanya.
Namun di kamar yang lain. Putri Ayra tampak sedang tercengang menerima pesan dari Cita.
[Cit. Ini bagiamana.... Alam Ghoib betul-betul datang kerumah. Nyesel deh kemarin aku nantang dia. Dia bener-bener nemuin Ayah. Terus gimana ini]
"Kenapa senyum-senyum? Pesan dari Cita.?" Ucap Gede yang baru saja membuatkan jus untuk dirinya dan Qiya.
Istri Gede itu mengangguk pelan.
"Alam betul-betul kerumah Cita loh Mas. Ih seneng jadinya. Besok boleh ketemu Ama Cita?" Tanya Qiya.
"Boleh. Tapi cita nya aja yang disuruh kesini ya. Nemenin kamu, mas mau ketemu Bu Ratih dan sekalian membesuk Hilman. Ini jus nya diminum dulu." Titah Gede kepada istrinya.
Setelah menikmati jusnya. Qiya pun membalas pesan sang sahabat.
__ADS_1
[Besok kesini ya Cit. Mas Gede mau pergi. Jadi kita ngobrol dirumah ku aja?]
[Hang out aja yuk? udah lama ga healing.]
"Mas, Cita ngajak jalan. Boleh?" Tanya Qiya.
"Ya sudah mas temenin. Sekarang istirahat dulu." Ucap Gede.
[Lama amat jawabnya. Kamu semenjak nikah lama bikin keputusan.]
[😁 Sabar Cita sayang. Aku ini sudah jadi istri. Jadi aku harus izin dulu. Mas Gede besok antar kita.]
[Aku ga bisa naik mobil Lo Qiy. Kamu lupa? atau pura-pura lupa?]
[Ya sudah aku stay dirumah mu. Kita ngobrol disana saja.]
Akhirnya percakapan itu berakhir dengan berjanji ya Qiya yang akan datang ke kediamannya Cita.
"Tapi ga kebayang Dek. Kalau mereka beneran jodoh. Itu di Alam bisa sabar ga dengan kelakuan Cita." Gede setengah tertawa karena mengingat karakter Cita yang ceplas ceplos dan kadang cepat emosi itu.
"Cita itu tipe setia mas. Dia kalau sudah punya komitmen dia pegang teguh itu komitmen. Alam juga lelaki yang baik. Akh jadi ga sabar lihat Cita naik pelaminan." Ucap Qiya.
Satu persatu kebahagiaan mulai datang. Namun kabar membuat Gede sedikit khawatir.
[Mantan istri Almarhum Rendra, Hari ini tampak keluar dari rumahnya dengan membawa dua koper]
Gede merasa sedih karena melihat kondisi Istri Pak Rendra yang harus merasakan akibat perbuatan suaminya. Kini ia harus ikut merasakan salah satu kesusahannya yaitu melepaskan semua harta disita.
"Jika menolong orang lain saja aku bisa. Kenapa untuk menolong Hilman dan Ibunya aku tidak bisa." Gumam Gede saat ia membaca artikel yang menyatakan tentang beberapa aset Pak Rendra yang disita.
__ADS_1