
Gede menangis di bawah guyuran shower. Ia merasa senang, bercampur sedih, juga malu. Ia tak tahu amalan apa yang ia lakukan karena memiliki istri yang betul-betul berusaha membahagiakan dirinya. Bahkan rasa sakit ia telan sendiri karena tak ingin menganggu rasa bahagia ia sebagai suami yang sedang begitu menggila karena cintanya Untuk sang istri.
"Aku akan membahagiakan kamu Dek. Aku akan segera mencari solusi."
Saat keluar dari kamar mandi. Ia sudah menemukan baju gantinya dan sang istri sudah merapikan tempat tidur mereka kembali. Bahkan seprai telah di ganti yang baru.
"Kamu bawa sprei dari rumah?" tanay Gede.
"Iya." Ucap Qiya yang menggulung selimut tebal bercampur seprei yang ada disana. Ia memang membawa beberapa seprai. Karena mereka akan menginap disana selama dua malam. Ia juga akan jalan-jalan di Bali bersama keluarganya. Saat ia membuka ponselnya. Ia melihat di grub keluarga bahwa Arumi di rawat.
"Mas... Besok pagi-pagi kita besuk Kak Arumi dulu. Ternyata Kak Arumi dirawat." Ucap Qiya.
Gede juga kaget namun ia bisa sekalian menemui Psikiater untuk masalahnya.
"Iya."
"Kenapa Papa baru kasih tahu sih. Mama semalam justru menginap dirumah sakit menemani Kak Arumi." Ucap Qiya yang cepat mengirim pesan pada Ammar.
[Dokter bilang sakit apa kak?]
[Sakit tapi tak berdarah]
[Kakak..... Serius.]
[Tadi cari Cub by. Dia cari kakak.]
[Ya. Tadi sudah nelpon anaknya.]
[Ya sudah, nanti aku sama Mas Gede kesana.]
[Belikan rokok ya...]
[No.]
[Qiya.... ]
[?]
[Aku doakan kamu punya banyak anak seperti diriku. 😚😚😚😚]
__ADS_1
[Kakak lagi ga teraniaya. Maka doanya ga akan diijabah 😂]
"Senangnya... Pesan dari siapa?" Tanya Gede penasaran karena melihat istrinya tersenyum bahagia menatap layar ponsel.
"Dari kak Ammar. Kak Ammar itu sekarang ga berani godain aku klo langsung. katanya takut mas Kurang berkenan. Tapi klo di pesan masih suka Usil." Ucap Qiya bahagia.
"Aku senang, Kak Ammar menganggap aku seperti adiknya sendiri. Bahkan belum jadi pun beliau support sekali Dek." Ucap Gede teringat bagaimana dulu kakak iparnya mendukung dirinya untuk semangat meminang adiknya.
Pagi itu sepasang suami istri itu pergi membesuk Arumi. Tiba di kamar Arumi, Istri Ammar itu tak berani memandang wajah Gede. Qiya pun memperhatikan hal itu. Ia sangat senang karena kakaknya mendapatkan perempuan yang bisa menjaga pandangannya.
Tak ada yang tahu jika sepasang suami istri itu masih pura-pura baik-baik saja dengan hubungan mereka.
"Dek... Aku tinggal sebentar ya. Mau ketemu teman." Pamit Gede karena ingin mencari temannya yang merupakan psikiater.
Qiya mengangguk. Arumi memandangi wajah Qiya. Ia pun merasakan jika dirinya jadi Qiya. Hatinya juga akan tersakiti jika tahu bahwa ada perempuan lain yang mencintai suaminya apalagi ingin kembali.
"Kamu bahagia sekali Qiy? Gede sepertinya membahagiakan kamu..." ucap Arumi tulus.
Ayra yang mendengar itu melirik ke arah Putrinya.
"Alhamdulilah kak. Setiap kejadian ada hikmahnya andai kita mampu berbaik sangka akan setiap takdir yang menghampiri kita. Waktu gagal menikah kemarin aku mencoba berbaik sangka akan takdir ku. Dan Alhamdulilah mas Gede menjadi jawaban kesabaran ku." Jawaban Qiya tanpa tidak secara langsung menyentil hati Arumi.
"Semoga pikiran dan hati mu terbuka Arumi. Terimalah takdir bahwa suami mu Ammar. Dia butuh cinta mu. Butuh kamu sebagai istrinya baik, dzohir maupun batin mu." Doa Ayra masih untuk menantunya. Ia tak mungkin masuk terlalu jauh ke ranah rumah tangga anak dan menantunya. Selagi tidak keluar syariat, maka ia tak akan menegur.
Seandainya Arumi adalah putri kandungnya. Maka Ayra mungkin akan menasehati putrinya. Namun posisi sekarang, Arumi menantu yang belum bisa menerima putranya. Sulungnya mencintai Arumi. Maka hanya doa dan bimbingan yang bisa Ayra lakukan.
Di tempat yang lain Gede bertemu psikiater yang mengecek kondisi nya.
"Kamu harus coba memaafkan mereka yang mungkin meninggalkan sakit di hati mu Ge. Traumatis itu tak bisa sembuh jika penderita nya sendiri belum bisa move on. Walau kamu tidak mencintai Mayang, tapi rasa sakit hati mu pada dirinya membuat kamu masih menyimpan kesal. Ayolah cobalah memaafkan lebih dulu. Lupakan jika dia pernah menyakiti kamu. Aku akan coba berikan multivitamin. Kamu minum saat akan tidur dan bangun tidur. Nanti kamu kontrol sesuai tanggalnya ya." ucap dokter yang merupakan temannya ketika masih menempuh pendidikan.
"Kamu ga mau rencana ambil spesialis?" Tanyanya.
"Nanti. Selepas istriku dapat surat Izin Praktik aku akan ajak dia ambil pendidikan lagi." Ucap Gede. Ia pun berpamitan pada sang dokter.
Tiba di koridor Ia bingung menyimpan plastik vitamin yang ia pegang. Ammar sudah terlanjur mendekat.
"Darimana Bli?" Ucap Ammar.
"Kak Ammar. Dari apotik. Cari vitamin." Ucap Gede.
__ADS_1
Ammar tersenyum simpul melihat wajah kikuk adiknya.
"Hhhhh... Setidaknya kamu membahagiakan adik ku dan kamu bahagia." Batin Ammar menatap wajah salah tingkah Gede.
"O... Ayo mau kembali ke kamar kan?" Tanya Ammar.
Gede beralasan mau ke mobil terlebih dahulu. Ammar justru beranggapan adik iparnya sedang membeli obat kuat. Ia menepuk pundak sang adik ipar.
"Kalau pipis yang tuntas dan di urut dengan benar terus di cuci yang bersih, biar ga gampang KO, dokter." Ucap Ammar berlalu sambil tersenyum smirk.
Gede yang tak paham maksud kakaknya mengusap tengkuknya.
"Maksudnya kak Ammar apa ya?" Ucap Gede sambil berlalu ke arah parkir dengan maksud menyimpan vitamin yang diberikan temannya.
Sore harinya, Arumi justru membuat Ammar pusing karena Arumi akan ke kamar mandi. Kakinya yang kesemutan membuat ia terpaksa menggendong sang istri.
Saat tiba di toilet Arumi mendelik. Ammar pun mengusap lehernya.
"Ok. aku tunggu di depan. Ketuk aja pintunya kalau sudah." Ucap Ammar.
Saat Arumi selesai. Ia justru salah tingkah. Aroma tubuh istrinya membuat ia yang tadi menggoda Gede karena obat kuat. Kali ini dia yang dibuat Stress menenangkan h@srat yang tertahan.
"Hadeh.... Arumi... Aku lebih ridho kamu ga mandi kalau begini. Biar tidak menarik minat ku padamu." ucap Ammar dalam hatinya.
Sore itu pun Ayra pulang kembali ke Hotel.Nanti malam akan berkunjung ke kediaman Niang Ayu. Melisa dan Pak Subroto telah hadir. Namun Arumi meminta hanya Ammar yang menunggu dirinya.
Malam harinya, Ammar tampak asyik dengan ponselnya. Tanpa ia sadari suara cekikikan dirinya membuat Arumi emosi.
"Kalau kamu mau chatingan. Sana pulang saja. Biar aku sendiri saja!" Ucap Arumi mendengus kesal.
Ammar kaget karena mendengar kata-kata Arumi. Ia pun meletakan ponselnya ke atas meja.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ammar.
Arumi pun mengatakan ia lapar. Ia ingin makan bubur ayam. Ammar pun memesan lewat ponsel.
"Besok aku mau pulang," Ucap Arumi lagi saat ia melihat Ammar kembali fokus dan menatap ponsel dengan sumringah.
"Kita lihat kata dokter besok Ar."Ucap Ammar pelan. Ia meletakkan ponselnya. Karena ia baru sadar. Arumi mau berbicara padanya.
__ADS_1
"Berkahnya kamu sakit Ar. Kamu mau bicara dan menatap aku." batin Ammar.