
"Sarahnaz Rayya Azzahra."
Tepat tujuh hari, Dikediaman Gede baru saja mengadakan aqiqah untuk putrinya. Putri Gede itu di panggil Zahra.Bukan Ammar jika tidak sesuka hatinya. Ia lebih suka memanggil keponakan barunya dengan Rayya.
"Tidak jadi di beri nama dokter Ge?" Ledek Ammar pada adiknya.
Ammar terbang ke Bali tanpa di temani Arumi. Ia pergi sendiri, karena mengingat kondisi Arumi hamil besar. Ledekan itu terjadi karena dulu, Gede sempat bertanya anak ibrahim kenapa tidak dipanggil Abri.
"Wah, Ayra... betul-betul akan bahagia. Karena semua di borong." Ujar niang Ayu.
Ya dalam tahun yang sama, Ayra memiliki langsung tiga menantu. Dalam tahun yang sama ia memiliki cucu. Tapi Ayra tak tahu jika Ammar dan Arumi akan memberikan dirinya cucu 3. Sebenarnya Ammar sedikti khawatir karena jika satu minggu lagu tak ada kontraksi. Mau tidak mau sang istri harus menjalani operasi Eracs.
"Kak Arumi bagaimana? " Bisik Qiya pada kakaknya.
"Ssstt... masih buat kejutan. Lebih kejutannya sepertinya pas di hari pernikahan mama dan Papa. Mau tidak mau Arumi harus operasi dihari itu." Bisik Ammar.
Qiya menoleh ke arah sang kakak.
"Ketubannya bermasalah!? " Tanya Qiya khawatir.
"Bayi kami kembar Tiga Qiy." Ucap Ammar lagi.
"Masyaallah... Aduh.. " Ucap Qiya yang berakhir kesakitan karena di sentil Ammar dahinya.
__ADS_1
"Ammar.. . " Ucap Ayra dan Bram kompak.
Gede hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu. Kedua pupil yang membesar dari kedua netra Ammar membuat Qiya menyunggingkan senyumnya. Perempuan Ayra itu memandang dua orang tuanya yang sangat bahagia dengan kehadiran Zahra. Bahkan Bram terlihat begitu ingin menggendongnya.
"Besok pagi pulang lah Am. Mama Khawatir Arumi. Mama lihat dia berjuang keras untuk kehamilannya." Ucap Ayra.
Ammar mengatakan jika ia akan pulang esok pagi. Satu malam itu, kamar Gede dan Qiya di temani oleh Bu Ratih dan Ayra. Gede tampak kelelahan. Sudah berapa malam dia tak bisa tidur tenang. Ia akan ikut terjaga kala istrinya akan kamar mandi. Maka malam itu, Ayra dan Bu Ratih yang menemani sang anak bergantian.
Bayi mungil Qiya tampak masih menikmati malam-malam nya di dunia yang akan bahagia jika dijalani tapi tak menuntut pada makhluk Allah. Semua yang ada di sana merasa sangat senang karena kehadiran Raya. Pagi hari bahkan di kediaman gede Ibu Ratih dan Ayra berebut untuk memandikan cucu mereka akhirnya Ayra mengalah ia membiarkan Ibu Ratih memandikan Raya begitulah kasih sayang sang nenek kepada cucunya. Apabila ada ungkapan rasa sayang seorang ibu akan kalah hanya karena rasa cintanya pada sang cucu itu yang dirasakan oleh ibu Ratih karena ketika gede mengganggu bayi mungilnya yang sedang tertidur Ibu Ratih menegurnya.
"Ge... " ucap Ibu Ratih Seraya menepuk pundak sang anak titik.
Gede yang menoleh ke arah Ibu Ratih ia bisa melihat bagaimana wajah ibunya yang terlihat cemberut karena sang cucu diganggu saat sedang tertidur. pagi hari tanpa Bagaimana Kia masih cukup kesulitan untuk melakukan pergerakan dalam kesehariannya. pagi itu Kia kesulitan untuk menunduk karena ingin mengambil underwear yang terjatuh. Gede selalu saja menemani sang istri, ketika akan mandi masih terdapatnya jahitan di bagian intim sang istri membuat gede Ardana menjadi suami yang siaga. Ia cepat mengambil benda itu. Bahkan satu minggu disaat jahitan masih terasa nyeri, Qiya diperlakukan sang suami bak tuan puteri. Dari makan, juga selesai mandi, Gede membantu sang anak.
Hampir dua minggu berada di kediaman Gede. Ayra pun berpamitan pulang karena Ammar memberikan kabar jika minggu-minggu itu Arumi rencana akan operasi jika tak ada kontraksi. Ketiga janin dalam rahim Arumi sepertinya betul ingin memberikan kejutan pada sang nenek.
"Mas, kita ketemuan di kantor. Ini aku sudah di mobil sama Mama. Kita ketemu di rumah sakit Rasa sakitnya mulai terasa.." Ucap Arumi yang duduk di sisi Melisa.
Tiba di Rumah sakit, dokter yang biasa memeriksa Arumi lebih cepat memberikan penanganan karena dokter tersebut mengetahui riwayat pemeriksaan.
"Alhamdulillah, sungguh keajaiban. Sepertinya ketiga bayi anda mendengar doa ibunya. Kita bisa melakukan persalinan normal." Ucap dokter bernama Indah.
Sungguh Arumi dipermudah dalam proses bersalin walau rasa sakitnya selama ini lenih dulu ia rasakan lelahnya hamil dengan tiga janin di perut nya.
__ADS_1
"Jangan berteriak Bu... Matanya ketika mengejan jangan melihat ke atas. Ucap Samg dokter kala Arumi mengejan pertama dan kedua, diiringi suara teriakan dan mata yang melotot ke atas.
Ammar memberikan dukungan moril dengan tetap menggenggam tangan istrinya. Alhamdulillah walau cukup lama dokter membimbing Arumi untuk mengejan sesuai aba-aba. Arumi berhasil melahirkan anaknya dengan selamat. Tiga bayi mungil dengan berat badan yang berbeda dan jenis kelamin yang berbeda.
Bayi pertama lahir pada pukul 13.55 WIb dengan bobot 1.700 gram. Sedang bayi kedua yang juga berjenis kelamin lelaki lahir hanya selisih 5 menit dari bayi pertama. Bobotnya juga hanya 1.800 gram. Dan bayi ketiga Arumi perempuan dengan memiliki tubuh begitu mungil. Bobot nya hanya 1.720.
Dokter keluar dari ruangan memberi tahu Bram dan Bu Melisa serta Pak Subroto.
"Alhamdulilah proses bersalin lancar. Tiga bayi dan ibunya selamat. " Ucap dokter tersebut.
"Bagimana kondisi bayi nya dok?" Ucap Bram karena ia khawatir. Dulu Ammar dan Qiya. Tubuh Qiya begitu mungil. Sedangkan ini, kembar tiga. Kakek Rayya itu bahagia, terkejut juga khawatir kondisi bayi puteranya.
"Kondisi seluruh bayi sehat dan stabil. Seluruhnya masih dirawat di inkubator dulu sementara ini. Karena bobot bayi masih kurang." Ucap Sang dokter.
Ketiga orang itu alih-alih menanti Arumi yang masih lemah. Mereka malah mengikuti ketiga bayi yang akan di bawa ke ruang inkubator. Bram khawatir sama seperti Pak Subroto.
"Kenapa jadi mikir yang tidak-tidak. " Batin Pak Subroto seraya mengikuti bayi-bayi Arumi yang di bawa ke ruang inkubator.
Bram begitu khawatir melihat satu bayi yang begitu mungil.
"Ya Allah... lindungi cucu ku... . Sehatkan mereka semua." Saat tiba di ruang inkubator.
Bram mengirimkan foto ketiga cucu mereka. Tanggal di sudut ponsel Bram membuat ia teringat jika ini adalah hari anniversary mereka.
__ADS_1
[Allah mewujudkan mimpi mu lewat anak-anak kita Ay, jika kemarin Syam hadir sendiri. Rayya juga sendiri. Kini siapa nama kembar tiga ini? Sehat selalu untuk melihat tumbuh kembang kelima cucu kita Ayra Khairunnisa. Berikan Pesona mu juga pada Cucu-cucu mu.]
"Alhamdulillah.... Allahuakbar.... Jika Allah sudah berkehendak, rezeki datang dari mana saja. Ammar dan Arumi. Jadi ini kenapa Mama tidak pernah boleh ikut USG.... Semoga kelak anak-anak kalian juga membahagiakan dan membanggakan kalian sama seperti kalian membanggakan kami nak." Gumam Ayra yang sudah menuju rumah sakit.