Pesona The Twins

Pesona The Twins
103 Kelembutan Hati


__ADS_3

Ayra tersenyum, Ia meraih ponsel sang sulung dan ia baca chat itu. Ammar tidak pernah membuat sandi di ponselnya. Ia pun segera membaca beberapa pesan yang masuk. Ayra tersenyum simpul. Namun ia kembali menyimpan senyumnya.


"O... kamu belum diceritakan Ammar si ch u by ini siapa?" Selidik Ayra yang kembali ke sisi Arumi dan masuk kebalik selimut.


Malam itu ia menemani Arumi di kamar yang belum pernah melihat pemiliknya merasa bahagia karena dicintai sang istri. Arumi hanya merapatkan selimut ditubuhnya. Ia mengingat beberapa memory saat dimana Ammar begitu fokus dengan ponselnya.


Flashback On.


Malam itu baru saja pulang dari Bali. Ammar masih tidur di atas Sofa. Ia telah memesan sofa untuk bisa ia gunakan tidur. Arumi akan tidur bersama Ifah. Saat Ifah sudah tertidur, Ammar asyik dengan ponselnya dan laptop yang menyala diatas meja. Sesekali ia melihat ponsel dan kembali sibuk dengan keyboard di laptop.


Arumi dalam diam sambil mengusap punggung Ifah, ia mengamati Ammar. Arumi bisa melihat bagaimana senyum manis Ammar saat ponsel itu berdenting, dan saat Ammar lengah, Arumi kadang mencuri pandang pesan yang sempat membuat Ammar tersenyum atau wajahnya merona. Yang membuat Arumi merasa sedikit jengkel kala ia melihat pesan yang dikirim ci Chu by itu.


{Kak Aam. Kenapa ga boleh aku ketemu sama istrinya? takut istrinya cemburu ya? kabarnya istri kakak pakek Niqab. Wah pantas aku lewat ya... hehe... jadi penasaran pengen kenal sama istri kakak. semoga dia ga jutek sama aku.}


{Kak Arum sudah tidur? Kok kakak selalu sempat balas chat aku malam hari.}


Dan balasan Ammar membuat Arumi makin dongkol.


{Sudah. Dia itu tidak bisa tidur kalau aku tidak ada di sisinya. Maaf kakak dari pagi sampai sore sibuk di MIKEL group. Malam cuma ada waktu buat keluarga tapi karena kamu butuh kakak, kakak juga butuh teman ngobrol yang bisa mengalihkan dari kecantikan istrinya kakak. Jadi kita bisa ngobrol vya online.}


Sejak membaca chat itu. Arumi tak berani lagi membuka ponsel tersebut. Dan malam itu Ammar sebenarnya sedang flu. Ia bahkan berkali-kali mengambil tisu untuk mengelap hidungnya. Saat sedang asyik di telpon ia melihat ponsel itu berdering. Ia bergegas mengangkat ponsel yang baru saja ia charger.


"Assalamualaikum... Ada apa By?" Tanya Ammar.


"....."


"Astaghfirullah.... Ya sudah kakak kesana ya. Tunggu kakak. jangan kemana-mana."

__ADS_1


Ammar bergegas mencari jaketnya. Dan ia juga membawa satu jaket lainnya. Ammar hanya menatap Arumi sekilas. Ia mengira Arumi telah tidur. Maka ia langsung pergi saja.


"Dalam keadaan sakit pun dia masih rela memenuhi panggilan perempuan seperti itu. Perempuan macam apa, berjilbab tapi malam-malam menelpon suami orang!" Gerutu Arumi saat itu.


Hari demi hari Arumi amati. Malam hari Ammar akan pulang terlambat. Dan yang membuat Arumi melotot tak percaya kala ia akan pergi ke toilet. Ia melihat layar laptop sedang menyala dan ada wajah perempuan berjilbab sama seperti di kontak Ammar. Perempuan itu menggunakan jilbab bermotif bunga.


Ammar saat itu sedang mencari sebuah buku di lemari maka tak memperhatikan jika sang istri melirik kearah laptop yang menyala. Posisi headset bluetooth yang menempel ditelinga Ammar bisa membuat lelaki itu berkata sesuatu.


"Sebentar, lagi dicari referensinya." Ucapnya.


Arumi pun seolah tak perduli. Ia bergegas ke kamar mandi. Dalam temaramnya cahaya lampu kamar. Arumi dapat melihat wajah Ammar begitu bahagia. Ia menikmati sekali obrolan dengan gadis itu melalui layar laptop. Bahkan suaminya itu terlihat sesekali menahan bibirnya.


"Maaf istri ku sedang tidur disebelah. Kalau dia bangun maka aku tidak bisa membantu perkara ini hehehe...." Ucap Ammar berbisik.


Ammar terlihat menjelaskan beberapa tentang konsep dakwah di era milenial, di era serba canggih. Ia bak seorang pemateri dalam setiap malam dihadapan laptopnya. Arumi hanya mendengus kesal.


"Heh. Modus, agar dianggap pintar, smart. Percuma shalat rajin kalau masih selingkuh."


Bahkan pernah satu ketika Arumi bingung mencari under wear Ammar ketika lelaki itu lupa membawa nya. Ia bingung dimana letaknya. Saat Ifah malam-malam menangis kadang ia bingung mencari minyak hangat untuk tubuhnya. Semua Ammar yang membereskan. Merasa sudah benar sendiri, merasa sempurna karena dicintai. Ia lupa bahwa ia pun tak melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi menuntut suami untuk sempurna.


Cemburu pada perempuan lain sedang diri sendiri tak melayani suami dengan baik. Merasa marah pada suami kala suami melakukan salah, sedangkan saat diri salah tak mau dikatakan salah. Itulah keegoisan dalam diri Arumi. Arumi egois, tapi ia tak sadar. Kelembutan dan perhatian Ammar sudah hadir di sela-sela ruang hatinya. Tapi rasa penolakan akan takdir membuat dirinya hanya fokus pada rasa sakit tak bersama Gede.


Ingin bersama pun tak mungkin bisa karena lelaki itu kini menjadi iparnya. Ingin mencintai Ammar pun sulit ia coba.


Arumi tidak tahu jika gadis yang sering diajak komunikasi oleh Ammar adalah putri bungsu Rahmi. Putri dari Sepupu Ayra yang tinggal di Malaysia. Rahmi adalah anak bungsu Umi Laila. Cucu Umi Laila yang bernama Bilqis AZ Zahra. Bungsu dari Rahmi itu sedang menggarap sebuah proyek bersama teman-teman mahasiswa di luar negeri yang mempunyai konsep bahwa Islam itu ramah, Islam bukan agama yang menakutkan, bukan pula agama yang intoleran pada keyakinan yang lain.


Sebuah konsep dimana Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia. Ingin putri Rahmi itu boyong ke Australia. Ia sedang menempuh semester akhir di negeri kangguru itu. Ammar adalah salah satu sepupu yang memiliki jiwa seni cukup kental. Maka Chu by panggilan Ammar dan Qiya untuk Sepupu satu ini. Karena dari kecil hingga dewasa pipi nya masih Chu by.

__ADS_1


Karena dulu mereka punya 3 orang teman atau sudah dianggap saudara bernama Bilqis. Pertama putri Rafi mantan asisten Bram. Kedua,Putri dari Alya. Alya adalah adik tepat setelah Furqon. Dan ketiga Putri dari Rahmi. Rahmi adalah adik bungsu Furqon yang sepersusuan juga dengan Ayra kala itu. Cucu Kyai Rohim yang bernama Bilqis alias Chu by ini sedikit berbeda dari cucu yang lain,tak ubahnya Ammar. Jika orang menilai hanya dari penampilan. Maka barangkali orang-orang tak akan menyangka jika Bilqis dan Ammar cucu dari Kyai Rohim.


Belum lagi sukanya dia dengan dunia seni musik membuat dia kadang sering banyak bersama para lelaki. Tetapi dia masih tahu batasan-batasannya karena Rahmi mendidik putrinya akan hal yang mana harus tidak boleh di langgar. Bilqis ini bahkan baru ketika menempuh pendidikan di Australia, dia baru mengenakan jilbab. Karena Rahmi dan Sang suami memiliki sudut pandang berbeda tentang konsep jilbab. Dimana bungsu Umi Laila itu lebih ke putri-putrinya mengenakan hijab sendiri bukan paksaan.


Maka ketika ia berlibur ke Indonesia, niat hati meminta bantuan Ammar. Dia justru di kejar-kejar oleh beberapa lelaki yang menyukai dia. Maka dalam hal ini, hanya Ammar yang bisa membantunya sekaligus untuk proyeknya membuat sebuah konsep syiar Islam yang menjadi minoritas tapi diterima dengan baik. Dan yang dapat menyebarkan pemahaman bahwa Islam itu orangnya ramah, tidak radikal seperti beberapa media luar negeri sempat sematkan akhir-akhir itu di negeri kangguru. Bilqis alias Chu by dan timnya berharap melalui perkumpulan mahasiswa dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sana hal itu bisa di wujudkan. Tapi mereka bingung konsep seperti apa yang kira-kira bisa masuk. Hingga tercetus ide Bilqis bahwa dulu ada sepupunya yang juga memberikan sebuah tempat khusus untuk orang melihat Islam lebih indah, darimana insan manusia di mall ketika di Belanda.


Maka seringnya Ammar dan Chu by alias Bilqis ini berkomunikasi dan juga bertemu, membuat Arumi salah paham. Ia mengira Ammar sama dengan lelaki lain. Ammar mulai bosan dengan hubungan pernikahan mereka. Padahal ketika bertemu dengan Bilqis. Ia akan bertemu dengan banyak teman yang akan sama-sama mensukseskan konsep yang akan mereka bawa ke Australia nanti. Maka terjadilah komunikasi yang sering dan pertemuan yang harus Ammar ambil di waktu selepas pulang dari kantor.


Istri yang tak pernah mau tahu apa yang dirasakan suaminya, yang tak tahu apa yang dikerjakan suami seharian diluar, tak pernah ada waktu, perhatian untuk mendengarkan cerita tentang proyek yang sedang digarap atau hobi yang sedang di lakukan sang suami. Membuat Ammar tak pernah menceritakan apapun. Jika mereka berbicara. Maka hanya ada kata-kata satu atau dua kata itu pun tentu tentang Ifah yang menangis atau kebutuhan Ifah yang habis.


Flashback off


Ayra hanya diam. Ia bisa menyimpulkan menantunya punya sedikit rasa memiliki untuk putranya tapi tidak disadari. Ia pun akhirnya tak jadi menceritakan siapa Chu by itu.


"Coba bangun komunikasi dengan suami mu Nak. Ammar itu lahir dari rahim Mama, Mama yang mendidiknya. Dia tak mungkin menyakiti hati orang yang ia cintai. Coba kamu masuk ke kehidupannya. Agar kamu tahu siapa suami mu. Selama ini, mama lihat kamu hanya menghabiskan waktu untuk Ifah. Mama tidak membela Ammar. Mama hanya ingin kamu tidak menemui penyesalan karena kehilangan. Ar, tidak semua yang kita inginkan di dunia ini terjadi sesuai harapan. Mama tidak tahu kenapa kamu sulit membuka hati untuk Ammar. Jika memang kamu tidak mencintai atau menyukainya. Harusnya dulu kamu tak menerima lamarannya nak..." Ucap Ayra getir. Hatinya juga ikut sakit melihat pernikahan Sulungnya tak bahagia setelah 3 bulan berlalu. Ayra belum tahu jika Arumi telah kembali ingatannya.


Arumi tak tega melihat Isak tangis Ayra. Ia merebahkan kepalanya kepangkuan Ayra. Diatas selimut tebal itu ia memeluk pinggang Ayra. Usapan lembut Ayra berikan pada rambut panjang Arumi.


"Maafkan Arumi Ma... Maafkan Arumi. Arumi tahu, Arumi salah... semua ini salah Arumi... Arumi berharap Ammar akan menceraikan aku dengan sikap ku selama ini... " Ucap Arumi masih dengan suara yang mampu menahan tangis.


"Katakan Nak... apa yang membuat mu begitu ingin berpisah dari Ammar....?" Tanya Ayra pelan masih mengusap rambut Arumi.


Arumi mengangkat kepalanya. Ia meraih tangan Ayra. Ia cium lama, lama sekali. Sampai airmatanya yang susah sekali jatuh. Malam itu menetes di punggung tangan Ayra.


"Maafkan Arumi Ma. Tepat di hari pernikahan Arumi, Arumi ingat semuanya. Masalalu Arumi. Dan Saat itu Arumi masih mencintai lelaki lain. Maafkan Arumi Ma...Hiks... Maafkan Arumi Ma...." Suara tangis Arumi begitu terdengar memilukan. Airmatanya bahkan membasahi tangan Ayra.


Ibu dari tiga orang anak itu pun membisu beberapa detik. Ia menarik napas dalam. Ia angkat bahu Arumi, dipegangnya dagu sang menantu masih di tatap dengan kelembutan seorang ibu.

__ADS_1


"Lalu sekarang? Masihkah kamu mencintai lelaki itu? Tidak adakah Ammar di hatimu Nak?" Tanya Ayra sambil menatap kedua netra Arumi yang ditutupi airmata.


{Janganlah lupa.Hari Senin Kasih Wortel Ke Bik Mimin. Hari Senin Kasih Vote nya ke the Twins ya 🥰🥰🥰😍😍😍}


__ADS_2