Pesona The Twins

Pesona The Twins
84 Lamaran Gede untuk Qiya


__ADS_3

Gede mendorong kursi roda Niang Ayu untuk mendekat kearah Umi Laila. Istri almarhum Kyai Rohim itu pun cepat menyambut teman lama yang sudah lama tak bertemu.


“Masyaallah, saya tidak menyangka kita akan bertemu di acara bahagia hari ini Dokter,” Ucap Umi Laila yang kini duduk disisi Niang Ayu.


Asisten rumah tangga Ayra terlihat sibuk menyambut tamu tuan mereka. Niang Ayu dan Umi Laila juga Ayra tampak seperti menikmati pertemuan mereka. Sesekali Ayra tersipu malu akan cerita Niang Ayu tentang sikap dan tingkah dirinya yang masih berusia dibawah lima tahun. Niang Ayu kadang sering membawakan oleh-oleh Ketika pulang dari kota untuk anak-anak Umi Laila. Terutama Ayra.


Umi Laila sampai menyapu ujung matanya karena butiran bening yang akan jatuh akibat menahan tawa mengingat kisah masalalu.


“Jadi dulu itu, kalau ada mobil dari kota lewat, Mama kalian ini akan berdiri di depan pagar sambil berharap Dokter Ayu dan Dokter Wayan yang turun dari mobil itu. Karena ia sangat hapal. Coklat yang enak pasti ada untuk dirinya ketika dokter Ayu pulang dari kota. Belum lagi, Ayra itu akan sangat suka sekali ketika bisa menjawab beberapa percakapan bahasa inggris yang diajarkan Dokter Ayu padanya, sudah pasti mendapat hadiah sekedar mainan kunci atau kotak pensil. Salah satu dasar kenapa Ketika anak-anak lain belum begitu kenal Bahasa Inggris, Mama kalian justru begitu antusias belajar bahasa asing itu.” Ucap Umi Laila mengenang masa lalunya bersama dokter Niang Ayu.


Ketiga anak Ayra pun bisa melihat bagaimana gesture ibu mereka terhadap nenek dari Gede. Ayra bahkan mengupas salak untuk Niang Ayu.


“Kamu masih ingat makanan kesukaan ku Ayra?” Ucap Niang Ayu sambil menerima buah salak yang telah dikupas Ayra.

__ADS_1


“Bagaimana sebuah ilmu akan bisa begitu merasuki jiwa jika tidak ada cinta pada guru. I am very good.” Ucap Ayra dengan nada yang sangat medok jawa nya kala mengucapkan kalimat 'I am very good'.


Kali ini giliran Niang Ayu yang merasa perih di kedua matanya. Ia mengingat Kembali masalalu dengan memori saat ia mengajari Ayra dan Furqon yang memang selalu suka membaca. Kelima anak Umi Laila memang memiliki minat baca dan belajar yang tinggi. Niang Ayu dengan tangannya yang kurus dan keriput ia menyentuh pipi Ayra yang masih terlihat kencang disaat usianya sudah tak lagi muda.


“Hehehe… Kamu masih ingat moment itu?” Ucap Niang Ayu pada Ayra. Dulu Ketika ia mengajarkan percakapan pada Ayra tentang greetings, Ayra akan menjawab dengan suara yang lantang dan semangat, Ketika Niang Ayu bertanya apa kabarnya dalam Bahasa inggris.


Niang Ayu menjelaskan kembali dulu dan beberapa alasan kadang beberapa bahasa terdengar aneh ketika di ucapkan oleh orang Indonesia. Termasuk Logat jawa yang medok membuat Ayra menjawab dengan Bahasa inggris dan pada kata “G00d” terdengar jelas aksen jawanya. Dan disanalah Ayra pun selalu mengingat pelajaran pertama tentang Bahasa inggris ada yang Namanya Pr0nounciation dan Ayra sedang bebricara Bahasa inggris dengan aksen M0ther T0ngue (Bahasa ibu). Menurut Niang Ayu, Mother Tongue di indonesa cukup sulit di pisahkan.


Sama halnya Ketika orang jawa akan mengucapkan Al Fatihah. Islam di Indonesia pada beberapa ejaan sedikit mengalami modifikasi tapi tidak berubah secara makna. Ada sebagian yang tidak sadar bahwa orang Indonesia bukan orang Arab yang dari lahir sudah berbicara Bahasa Arab maka tak akan sulit lidah dan aksen mereka sama seperti yang seharusnya. Tapi di Indonesia yang banyak suku, adat budaya dan Bahasa, maka jangan heran jika ada yang menyalahkan jika ada yang mengucapkan satu kalimat atau ayat suci terdengar di telinga orang yang tak bisa paham perbedaan ini.


Tampak sekali kehangatan dan keakraban di keluarga Ayra dengan Niang Ayu. Ibu Ratih dan Gede merasa Bahagia karena bisa meilihat Niang Ayu Bahagia. Jarang sekali melihat Niang ayu sampai hampir menangis karena menahan tawa dan haru. Tapi pagi itu, dimata Gede. Ia dan Niang Ayu seakan sudah menjadi keluarga bukan lagi calon besan.


Salah satu anggota keluarga Niang Ayu pun mengingatkan Niang Ayu akan tujuan mereka kesana. Maka Niang Ayu meminta sang utusan dari keluarganya untuk menyampaikan sesuatu yang menjadi hajat mereka ke kediaman Ayra. Sang jubir pun menyampaikan dan di terima oleh Furqon selaku wakil dari pihak Bram. Mereka pun menanyakan pada Qiya. Gadis itu yang tampil cantik dengan kebaya yang berwarna silver hanya menunduk tanda ia menerima lamaran Gede. Bu Ratih yang sudah tahu calon menantu bukan seperti kebanyakan gadis di era digital. Ia masih menjunjung tradisi dari keluarga Umi Laila.

__ADS_1


Ibu Ratih pun memasangkan sebuah kalung berlian bermata kan sebuah liontin hijau di leher Qiya. Air mata Ibu Ratih hari itu jatuh sebagai saksi bahwa ia ikut bahagia atas disambut hangatnya dia dan putranya di keluarga yang mungkin jika disandingkan dengan dirinya yang hanya memiliki satu usaha atau toko kue di tengah kota bali, mungkin tak pantas. Tapi hari itu, sang calon menantu pun seolah ingin menjadi putrinya. Qiya duduk di sisi Bu Ratih. Tangan yang terus menggenggam telapak tangannya membuat ia merasakan jika perempuan yang akan menjadi istri anaknya ini punya hati yang lembut.


Qiya yang mendengar kisah hidup Bu Ratih kemarin justru ingin memberikan cintanya tidak hanya pada sang suami nantinya tapi juga pada ibu yang telah berjuang begitu keras dan sabar dalam mendidik dan membesarkan calon suaminya. Gede yang melihat keakraban Qiya dan Ibunya merasa sangat senang. Ia bahkan Kembali di Goda Ammar tatkala akan makan siang.


“Sabarlah adik ipar, halalkan dulu adik ku, nanti baru kamu bisa memandangi dirinya sesuka hati mu.” Ucap Ammar sambil menyenggol lengan Gede yang sedang memegang sebuah piring kecil yang berisi pudding.


Gede pun tersipu malu karena kedapatan mencuri-curi pandang Qiya. Ammar merangkul Pundak Gede.


“Aku dan Papa ku sangat mencintai Qiya. Jangan kamu sakiti hatinya. Karena Papa ku saja seumur hidupnya, dia berjuang untuk membuat perempuan-perempuan yang ia cintai untuk bahagia. Maka jika adik ku sampai menangis karena kamu Bli, kamu akan berhadapan dengan dua lelaki dalam hidupnya yang lebih dulu mencintai dirinya daripada kamu.” Ucap Ammar sambil tersenyum.


Gede pun mengangguk tanda mengerti. Ia sangat salut dengan keluarga Qiya. Terlihat sekakli keakraban antara masing-masing keluarga. Disudut ruangan Bu Ratih baru ingin menceritakan pada Qiya tentang Hilman yang ternyata adalah satu ayah dengan Gede. Namun gadis itu tak terlalu ingin calon ibu mertuanya mengingat masa-masa menyakitkannya. Ia lebih memilih minta di doakan.


“Tidak perlu menceritakan apapun yang menyangkut masalalu Ibu,Mama dan Papa kemarin sudah berbicara langsung dengan Ibu kan. Maka Qiya juga tak mempermasalahkan. Doakan untuk masadepan Qiya dan Mas Gede ya Bu.” Ucap Qiya.

__ADS_1


Gede yang berada tak jauh dari sofa tempat dua perempuan yang ada di hatinya bisa mendengar jelas bahwa Qiya memanggilnya 'Mas'. Ada rasa hangat merayapi hatinya dokter yang sempat patah hati dan mengurung diri beberapa bulan pasca gagal menikah tersebut.


(Hai readers, ada yang japri ma aku. Tanya apakah aku di platform lain? Aku pastikan jika ada yang namanya sama dengan aku di platform lain "Sebutir Debu' Itu bukan aku. Suami ga kasih izin ke platform lain. Aku hanya ada di Noveltoon ya Readers. Aku ga akan kemana-mana kok. Manut suami. Suruh Istikomah disini)


__ADS_2