
Siang hari menjelang sore. Qiya masih menemani dua neneknya di Gazebo samping rumah. Ia juga mendengarkan petuah-petuah Mbah Uti nya yang tak lain adalah Umi Laila.
"Perempuan itu harus kuat Tapa Qiy. Juga harus kuat Mikul Nduwur Mendem Njero." Ucap Umi Laila sambil menikmati pijatan cucunya di betisnya.
"Lah maksudnya Mikul Nduwur Mendem Njero.?" Tanya Eyang Lukis yang sedang mengupas jeruk untuk dirinya dan Umi Lukis.
"Tapa itu, berani bertapa. Tapa adalah Tapak . Dimana kekuatan perempuan itu ada pada telapaknya atau Kasih sayangnya. Itu kenapa eksistensi nya surga ada di telapak kaki ibu. Lah Ibu itu perempuan. Ibu itu sumber nya keberkahan anak. Dan juga yang akan melahirkan anak. Maka itu harus kuat tapak mu Nduk. Membina rumah tangga itu banyak sedikitnya peran perempuan dituntut untuk kuat. Kuat menghadapi cobaan yang datang dari luar, dari dalam bahkan dari diri kita sendiri." Jelas Umi Laila.
Ia berhenti kala Eyang Lukis memberikan jeruk yang sudah ia kupas ke Umi Laila. Bagi Eyang Lukis, ia begitu menghormati sosok Umi Laila. Ia memang besan, tapi dari beliau Eyang Lukis banyak belajar bagaimana menjadi perempuan tangguh, kuat sesuai zamannya. Saat beberapa iris jeruk itu berhasil di nikmati oleh Umi Laila.
Ia kembali mengusap kepala Qiya.
"Mikul Nduwur Mendem Njero iku artine banyak. Tapi nek nggeh wong wedok neng sebelah e bojo. Kita itu harus bisa berpikir sebelum bertindak. Jadi kalau kalau kamu bertindak dan salah karena tidak berpikir dulu. Itu yang malu bukan suami mu tok. Tapi ya Mama Papa mu. Mbah-mbah mu Yo katut(ikut)." Ucap Umi Laila yang tersenyum dan melihat Ayra sudah jadi di gazebo membawakan getuk yang ia buat sendiri untuk orang tuanya
Makanan itu adalah kesukaan Umi Laila dan Minuman kesukaan Eyang Lukis yaitu air kelapa muda.
"Nah Iki, Mama mu ini dulu perempuan yang sangat hebat bagi Eyang sebelum mengenal siapa itu Fatimah Az-zahra, Sayyidah Aisyah, Sayyidah Khadijah. Sosok di zaman sekarang. Bagaimana dia apa yang di katakan Mbah mu." Ucap Eyang Lukis sambil membantu Ayra menurunkan hidangan yang menantunya masak sendiri.
Umi Laila pun langsung mengambil satu iris getuk tersebut. Empat perempuan tiga generasi itu menikmati camilan yang dibuat langsung dari tangan nyonya di rumah itu.
"Memangnya bahas apa Ma, Mi?" Tanya Ayra karena tadi Eyang Lukis memujinya di depan putrinya.
"Bahas Opo Mi?" Tanya Eyang Lukis yang memang kurang bisa menyebutkan istilahnya tapi bisa paham maknanya
"Mikul Nduwur Mendem Njero . Itu yang tak kasih ke putri mu. Kalau-kalau dia lupa. Lah ambu-ambu kembang melati koyo ne semerbak neng omah mu Ra." Ucap Umi Laila setelah menyeruput teh Campa nya.
(Ambu-ambu\=Bau baunya)
__ADS_1
"Ya Ambu melati toh Mbah. Lah wong tehnya sama Mama dikasih kembang melati." Ucap Qiya tersenyum karena di goda Embah Uti nya.
Sontak empat perempuan itu tergelak melihat rona merah di wajah Qiya.
"Yang jelas Perempuan itu identik dengan Istilah itu Qiy. Dimana memang setelah kita menikah kita dituntut untuk terus melakukan kebaikan yang bisa membanggakan orang tua kita. Salah satunya ya menjadi istri Sholehah. Dan zaman sekarang tak kalah penting bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat. Karena perempuan sekarang bukan lagi di zaman dulu. Hanya sibuk dengan rutinitas di rumah. Tapi kita sudah bisa bekerja, bersosialisasi bahkan berorganisasi juga bermedsos dimana itu tadi harus dipertanggungjawabkan dan menjadi tanggungjawab suami juga bila kita salah." Jelas Ayra pada putrinya.
"Wes, sini... Duduk sini." pinta Umi Laila pada cucunya.
Qiya pun mematuhinya. Ia duduk diantara Eyang Lukis dan Umi Laila.
"Eling, eling. Ojo sesumbar soal masalah keluarga mu. Nek Yo Cen Arep curhat. Nggolek nggon seng ISO diperceyo po ora. Trus, awak mu kudu pinter milih nggon, endi seng iso di Jak cerito Karo seng ndi seng ora. Ojo asal cerito OPO neh nyangkut aib bojo mu, kelurga bojo mu. Mama mu loh...Mbah ga tahu masalah rumah tangga ne. Yo sosok Mama mu, Iso mbok jadi contoh maksud Mikul Nduwur Mendem Njero mau." Jelas Umi Laila lagi.
[Ingat-ingat. Jangan sesumbar soal masalah keluarga. Jika mau curhat. Cari tempat yang bisa dipercaya.cari tempat yang bisa dipercaya. Pilih mana yang bisa dipercaya mana yang tidak. Jangan asal cerita apalagi menyangkut aib suami mu, keluarga suami mu. Mama mu bisa kamu jadikan contoh maksud Mikul Nduwur Mendem Njero tadi.]
"Inggih Mbah Uti." Hanya tiga kata itu yang mampu diucapkan Qiya.
"....." Qiya bingung. Ia memang belum menjalani shalat istikharah.
Entah mengapa ia seolah sudah begitu yakin dengan berbekal rasa suka di hatinya.
"Sok masih libur toh?" Tanya Umi Laila lagi.
[Besok masih libur to?]
"Inggih Mbah." Jawab Qiya lagi.
"Melu Mbah ziarah teng Kudus. Neng makam e Bu Nyai Hamdani."
__ADS_1
"Umi.... Ndak usah, biar Ayra saja yang menemani. Umi loh baru juga sehat." cegah Ayra pada sang ibu yang memang sering sakit-sakitan.
"Ndak Papa. Besok sekalian Ammar ya di Jak sisan. Lah Umi ini juga sudah janjian dengan Nafi. Cah Kui, ayu, pinter, kok Yo angel Kon rabi. Abi ne sampai pusing nolak lamaran banyak kyai." Ucap Umi Laila terlihat dahinya berkerut.
Nafi adalah putri kedua Furqon. Ia sepupu Qiya yang berada di Bandung. Ia cukup dekat dengan Qiya dan Ibrahim. Memang gadis itu begitu susah ketika ada lamaran yang datang. Baginya menikah itu bukan tentang cepat dan berpatokan dengan usia. Melainkan tentang kematangan dirinya dan telah cukupnya bekal untuk menjadi istri.
Melihat semua anak Ayra akan segera sold out tentu membuat Umi Laila risau akan satu cucunya dari anak tertuanya belum juga kunjung bertemu jodohnya.
"Lah kita ini sama ya Mi. Dulu risau mikir anak. Sudah tua ternyata t
masih dirisaukan dengan cucu. Rasanya ikut kepikiran." ucap Eyang Lukis menanggapi apa yang dirasakan Umi Laila.
"Sudah kodratnya kita perempuan ini seperti ini Bu." ucap umi Laila.
"Lah kemarin Pak Toha bagaimana kabarnya?" tanya Umi Laila kepada Ayra yang ia dengar jika Pak Toha datang mewakili anaknya untuk melamar Qiya menjadi istri cucunya.
Ayra menceritakan kondisi yang ada pada Pak Toha. Umi Laila terlihat manggut-manggut. Ia tak ikut campur tentang keputusan Ayra dan Bram serta Qiya untuk memilih siapa. Toh saat dulu Hilman melamar Qiya memang yang terlihat adalah tanda-tanda bahwa jawaban istikharah dirinya, Ayra dan Furqon nyaris sama.Pak Toha memang seolah muncul menjadi bagian dari keluarga mereka. Maka lamaran pun diterima kala itu.
Namun Ayra dan Bram yang saat itu meminta pendapat Umi Laila tak kecewa jika setelah hasil istikharah ternyata berujung batalnya sang anak menikah. Apalagi Bram, baginya Umi Laila, Furqon dan istrinya. Akan berbeda ketika mengetuk pintu Rabbnya dengan doa-doa untuk anaknya dibandingkan dirinya yang mungkin belum sebaik orang-orang tersebut untuk soal Istikomah ibadah. Tubuh, lisan dan pikiran selalu searah.
Hari menjelang sore. Dua lelaki yang memang sudah memiliki janji untuk hadir sedang di nanti oleh Bram. CEO MIKEL group itu pulang lebih awal karena ia tak ingin sebagai tuan rumah, dirinya keduluan tamu.
Seorang lelaki dengan pakaian sangat sopan. Baju kemeja hijau dipadu dengan celana dasar hitam. Ia terlihat Gagah dan tampan. Ia datang lebih dulu dari Dokter Gede.
Hilman disambut asisten rumah tangga. Bram seolah ingin melakukan seleksi itu dari hati ke hati. Ia memilih Gazebo tempat biasa ia bersantai menjadi arena ia akan menelisik seperti apa dua orang lelaki itu. Tak adil memang jika ia langsung memilih Gede sedang Hilman memang lebih dulu tiba ke kediamannya kemarin.
Setidaknya ia juga harus menjaga harga diri lelaki itu. Bram khawatir mungkin ada sisi yang belum Bram lihat pada Hilman. Maka ia sudah memikirkan dari semalam akan diapakan dua orang lelaki yang katanya menyukai putrinya.
__ADS_1