
"....."
"Tidak usah dijawab sekarang Nak. Cinta itu bukan rangkaian kata dan menjadi kalimat. Cinta itu ada disini." Ucap Ayra sambil menunjuk dada Arumi.
"Cinta pada apapun dan siapapun. Ini sumbernya. Hati. Hati yang merasakan. Karena logika akan kalah jika hati sudah berperan. Sekarang bukan waktu untuk menjawab jika kamu belum bisa merasakan sendiri hati mu. Rasakan apakah ada Ammar atau tidak? Berusahalah untuk memperjuangkan pernikahan kalian dengan mencintai Ammar juga. Dan yang bisa Membolak-balikkan hati. Itu Hanya Allah."
Ayra kini mengusap pipi yang masih tersisa air matanya.
"Kita tidak bisa merubah hati kita apalagi orang lain. Berdoalah, memohonlah. Jangan jadi manusia yang sombong. Seakan kita bisa bernafas karena oksigen, dan beranggapan kita yang miliki. Begitupun juga hati, seakan kita berusaha melupakan seseorang bisa namun kita tak pernah melibatkan dan memohon Allah. Mama lihat disini Ammar punya kunci biduk rumah tangga kalian tapi ia tak punya bahan bakarnya. Ia masih menunggu kamu untuk bahagia. Beri kesempatan hari mu untuk mengenal Ammar Nak...." Suara Ayra terisak karena tangis perih hatinya.
Hati ibu mana yang tak sedih ketika anak sulung yang saat itu meminta dilamar seorang gadis, begitu bahagia, semangat namun setelah menikah, sekalipun bum meneguk indahnya berumahtangga. Hati ibu mana yang tak akan ikut berjuang kala menantunya mampu selama tiga bulan bersandiwara hanya untuk menjaga hatinya. Maka ia bisa melihat, perempuan bernama Arumi ini perempuan yang baik walau ada kekurangan.
"Jika sudah kamu lakukan usaha dan doa tapi hatimu masih tak mampu memberikan cinta. Maka Mama sendiri yang akan mengantarkan mu kembali ke Pak Subroto. Kamu di bawa kerumah ini baik-baik. Maka kalaupun kamu ingin pulang itu pun harus baik-baik. Tapi tidak sekarang. Bercerai itu Halal namun dibenci Allah. Jangan hanya fokus pada HALALNYA Nak. Tapi juga pada BENCINYA. Mencoba bertahan akan lebih baik sambil memperbaiki diri dan hati. Mama mohon, berjuanglah untuk rumah tangga kalian dulu... Mama mohon, Mama mohon pada mu Arumi... " Ucap Ayra sambil melipat kedua tangannya.
Jika ibu mertua lain mungkin bukan rasa sayang yang dikedepankan. Tetapi rasa benci pada Menantu, mungkin hari itu juga akan mengusir sang menantu atau bahkan tiga bulan lalu saat ia mendengar sendiri seperti apa anaknya di perlakukan dirumahnya. Tapi tidak,dia adalah Ayra Khairunnisa. Dia memang sudah tak lagi muda. Tapi pesonanya masih tetap melekat walau kulit dan usia telah menua. Dan itu ia warisi pada ketiga anaknya. Dan Dua diantaranya sedang menunjukkan pesonanya pada pasangan mereka masing-masing.
Dan saat ini, pesona mertua Arumi itu meruntuhkan kesombongan, keangkuhannya. Bagaimana padi merunduk tapi ia berisi, begitulah Ayra. Ia memohon bukan berarti ia bodoh atau rendahan. Tapi ia tahu ilmu betapa Allah tak menyukai satu perceraian, walau memang diperbolehkan jika hanya terjadi saling menyakiti satu sama lain. Tapi ini, pernikahan putranya belum diperjuangkan oleh sang menantu. Ia sudah ingin menyerah dengan takdir yang juga dibutuhkan peran pemilik takdir itu sendiri.
Arumi menggenggam tangan Ayra. Ia k3cup tangan Ayra sambil menitikkan air matanya. Namun kalimat Arumi begitu membuat kesabaran Ayra pun harus sedikit ditahan.
"Tapi takdir menginginkan ini Ma... Takdirlah yang membuat aku jatuh ke dalam jurang kesedihan, kesengsaraan ini...." Ucap Arumi lirih.
Namun kedua netra Ayra membesar. Ia menarik tangannya.
Ia tatap Arumi dengan tajam. Bahkan satu tangannya cepat mengambil satu pas bunga di sisi kanan tepat disisi tempat tidur. Ia sudah mengangkat vas bunga itu ke arah wajah menantunya. Arumi cepat mengangkat kedua tangannya untuk menghalang kalau vas itu mendarat di wajahnya.
Ayra tersenyum. Ia letakkan Vas itu di atas bantal.
__ADS_1
"Heh. Lihatlah Arumi. Kamu bicara takdir. yang menginginkan kamu dan Ammar begini? Lalu bagaimana dengan kamu barusan. Kenapa kamu mengangkat tangan mu. Harusnya jika takdir berkehendak kamu sakit karena dipukul benda ini, maka kamu harusnya tak mengangkat tangan. Sekarang kenapa kamu mengangkat tangan? Apakah takdir? atau hatimu yang takut hingga saraf-saraf mu memerintahkan otak untuk mengangkat tangan agar terlindung saat benda ini betul-betul mendarat di pipi mu?" Ayra tersenyum dan meletakan kembali vas bunga tadi. Ia sedikit merapikan bunga yang tadi tertarik karena ia angkat.
Lalu ia pun menatap Arumi. Ia menggenggam tangan Arumi.
"Setiap orang punya Takdir. Tapi dia punya peran dalam setiap takdir. Ketika sesuatu yang menimbulkan dosa atau kesengsaraan jangan pula mengatakan bahwa itu takdir. Konsepnya Sama seperti tadi. Ayolah Arumi. Kalau orang lain bisa menjadi wanita hebat. Mengapa kamu tidak, jadilah perempuan yang lebih memilih takut dengan kata 'diBenci ALLAH'. Berjuang untuk sesuatu yang sebenarnya itu ada di hati kamu dan pilihan mu. Bukan takdir jika kamu bisa memilih. Kamu bisa memilih mencoba membuka lembaran baru kenapa harus memilih pergi tapi tak pernah berjuang?" Tanya Ayra mengusap lembut pipi sang menantu.
Arumi terpaku. Ia tak percaya apa yang barusan terjadi dan penjelasan ibu mertuanya bisa secara logika ia terima. Ia pikir tadi dirinya betul akan dipukul oleh Ayra karena mertuanya marah. Namun mertuanya begitu cerdas. Ia bisa memberikan kiasan yang bisa diterima perempuan seperti Arumi yang sedang tak menggunakan hati untuk memilih.
Arumi tertunduk malu, ia menangisi tersedu-sedu hingga bahunya berguncang. Ayra memeluknya. Ia usap punggung tangannya. Ia tepuk-tepuk punggung sang menantu.
"Menangislah, kadang untuk melembutkan hati itu kita harus menangis, karena dengan menangis itu berarti hari kita ada kelembutan." Ayra memeluk erat Arumi.
Malam itu Arumi menangis di pelukan Ayra. Bahkan ia sampai tertidur di pangkuan Ayra.
"Kamu punya sisi baik Nak. Tapi hatimu terlalu keras. Mungkin karena kerasnya hidupmu dulu?" Ucap Ayra yang memberikan bantal di kepala Arumi. Ia pun beringsut untuk menyelimuti istri sulungnya.
"Ammar... tak baik lama-lama Memendam rasa kesal pada istrimu. Pulanglah nanti malam. Jangan lupa belikan hadiah untuk istrimu. Kamu sudah membentaknya semalam."
"Arumi baik-baik saja ma?" tanya Ammar khawatir.
"Pagi ini dia shalat Shubuh bersama tapi belum turun untuk sarapan. Nanti Mama lihat dikamar. Tapi semalam dia menangis." Ucap Ayra.
Ammar merasa sedih. Ia paham rasa sedih Arumi Karena berpisah dengan Ifah. Ia tak tahu jika Ayra sudah tahu semaunya. Hanya Ayra tak tahu jika lelaki yang Arumi maksud adalah Gede. Ayra juga meminta pada Arumi agar Ammar tak diberi tahu jika dirinya sudah tahu semaunya. Ia tak ingin menambah kesedihan putranya ketika tahu bahwa ibunya telah tahu penderitaan rumah tangganya.
"Baiklah Ma. Nanti Malam Ammar pulang. Ammar harus menemui Bilqis lebih dulu... " Ucap Ammar pelan.
"Kalian tidak berduaan kan?" Selidik Ayra.
__ADS_1
"Tidak Ma.Dia bersama beberapa temannya untuk sebuah proyek di Australia. Mama jangan khawatir. Aku tahu sekarang aku sudah beristri. Bahkan selama ini aku berkomunikasi dengan Bilqis dikamar Ma." Ucap Ammar.
Ayra menggelengkan kepala.
"Ammar... Arumi cemburu pada Bilqis. Kamu tidak beritahu jika Bilqis sepupu mu?" Tanya Ayra.
"Sungguh? Mama yakin dia cemburu?" Spontan Ammar bertanya. Tapi cepat ia ralat.
"Ma... Arumi itu terlalu cinta padaku. Aku tak pernah melihat dia cemburu. Jadi aku senang saja jika dia cemburu." Ucap Ammar.
Ayra tersenyum.
"Kadang memancing rasa cemburu itu penting, tapi jangan terlalu besar apinya. Khawatir kamu sendiri yang terbakar nak. Ingat Arumi istri mu. Dia berhak tahu dengan siapa kamu pergi, kamu mengobrol." Ingat Ayra. Ammar pun mengangguk.
Ia pun pagi itu memiliki rencana untuk membuat Arumi merasakan cemburu padanya.
Saat Marvin masuk ke ruangannya. Ammar segera meminta membooking satu hotel di Australia dua Minggu lagi.
"Pesan hotelnya dan juga tiket pesawat untuk ku."
Marvin hanya mampu mengangguk.
"Jangan lupa. Kamu ikut." Ucap Ammar lagi.
Marvin keluar ruangan dengan bingung karena di agendanya tak ada rencana untuk bertemu klien di Aussie.
[Kakak, besok siap untuk jadi pengisi acaranya. Sekalian buat tempat menginap para tamu-tamu kakak yang siapkan. Kakak akan jadi donatur utama di acara kalian.]
__ADS_1
Ammar mengirimkan pesan pada Bilqis.