Pesona The Twins

Pesona The Twins
118 Belajar dari Kisah


__ADS_3

Kian hari kian bertambah rasa cinta Gede pada Qiya. Namun Saat Gede membuka pesan yang masuk di ponselnya ternyata dari Ibu Hilman. Gede membaca chating dari Ibu Hilman dengan istrinya. Gede merasa tidak suka Qiya mengatakan akan membesuk Hilman setelah meminta izin dari dirinya.


Saat istrinya selesai mandi. Qiya pun mengeringkan rambutnya. Gede hanya diam. Ia pura-pura fokus pada ponselnya. Namun hatinya terasa panas. Ia tak suka Qiya kembali berhubungan dengan Hilman. Entah kenapa hari Gede merasa Hilman memanfaatkan kondisi sakitnya sehingga Qiya menaruh simpati pada dirinya. Mungkin karena cintanya pada sang istri yang begitu besar.


Saat selesai mengganti pakaiannya. Qiya pun mengajak sang suami untuk sarapan.


"Mas, ayo sarapan. Tadi aku dan Kak Nur masak menunya khas Palembang resep dari kak Arumi. Seger deh rasanya." Ucap Qiya sambil menggandeng lengan sang suami.


Gede pun mengikuti sang istri ke ruang makan. Disana sudah semua anggota keluarga. Mereka menunggu Gede dan Qiya. Saat sudah dimeja makan. Ammar sempat melirik istrinya. Tanpa Arumi sadari selama Gede berada di rumah itu, Ammar selalu memperhatikan gerak gerik sang istri. Ia hanya khawatir pesonanya sebagai suami masih kalah karena sang mantan.


Saat pagi itu keluarga Bram dan Ayra makan dengan menu khas Palembang. Dimana Pindang ikan patin lengkap dengan lalapan daun kemangi juga sambal 'Cung' atau tomat kecil. Menambah nafsu makan Bram dan Ayra.


"Ini resepnya yang enak atau memang yang masak pandai." Ucap Bram saat selesai makan dan mengelap mulutnya dengan tisu.


Ayra pun entah berapa kali menambah lalapan kemanginya saat makan tadi.


"Seger ya Pa." Ucap Ayra yang menyodorkan kopi hangat untuk suaminya. Sudah kebiasaan bagi Bram, ia akan minum kopi saat selesai makan atau pulang bekerja.


"Ya. Segar." Ucap Bram.


"Resepnya Kak Arumi tapi yang masak kita. Ternyata pa, betul kalau suami itu bisa tergantung istri kalau selera." ucap Qiya.


Nur tersenyum karena ia tahu maksud ucapan kakak iparnya. Saat masak tadi, Arumi meminta ditambahkan garam saat Qiya dan Nur mengatakan cukup asin.


"Maksudnya?" Tanya Gede penasaran.


"Mas tahu ga, Kak Ammar ini tidak suka makanan yang terlalu asin. Tapi lihat, Kak Ammar begitu menikmati gulai pindang tadi yang cukup asin buat aku dan Nur." ucap Qiya. Nur pun mengangguk.


"Maka benar jika Ning Sheilla Hasina dawuh jadilah perempuan terdidik sebelum menjadi perempuan pendidik. Biar generasinya terdidik." Ucap Ammar.


Disaat anggota keluarga membicarakan perihal masakan yang di masak Qiya dan Nur. Gede justru melirik Arumi beberapa kali. Ia merasa aneh. Jika Arumi kembaran Mayang, bagaimana sambal yang di buat oleh Arumi bisa sama persis dengan buatan Mayang. Ia juga sangat menyukai sambal yang rasanya asam, manis, asin dan pedas itu.


"Lalu yang buat sambalnya?" Tanya Gede pada Qiya.


"Kalau itu kak Arumi." Ucap Qiya.


Arumi seketika menatap Ammar. Suami istri itu saling pandang. Ayra menatap ada sesuatu dari tatapan anak dan menantunya itu.

__ADS_1


"Mayang dulu pernah mengajari ku. Dan kebetulan aku suka jadi aku minta resepnya pada almarhumah saat itu." Jawab Arumi cepat.


Ia memang mengingat jika sedang bersama Gede. Lelaki itu akan meminta di buatkan sambal itu. Seketika Qiya merasa hatinya sedikit berdesir akan pertanyaan sang suami.


"Astaghfirullah.... Ini hanya kebetulan Qiy. Kenapa juga kamu harus cemburu dengan yang sudah tidak ada." Batin Qiya.


Sedangkan Ammar menggenggam tangan Arumi erat. Arumi paham tanda genggaman itu. Ada api cemburu dai hati Ammar. Arumi yang pernah bekerja di ahli lapangan saat di intelejen dulu bisa melihat bola mata dari garis wajah Qiya. Sepasang kembar itu merasa ada satu rasa sakit dengan pertanyaan Gede.


Arumi menggenggam erat tangan sang suami. Satu tangan lainnya bahkan mengusap lembut paha suaminya.


"Semoga Gede tidak mengingat masalalunya dan tak menyadari jika kamu adalah masalalunya bukan Mayang." Ucap Ammar dalam hatinya.


"Pandai sekali kalian ini menyimpan rasa sakit...." Batin Arumi.


Ayra seketika termenung. Ia memang sudah menua tapi kecerdasannya masih ada. Ia bisa melihat tatapan kikuk dan bersalah sang menantu. Begitu pun raut wajah penasaran Gede. Juga putranya yang tampak menegang setelah Gede bertanya.


"Innailaihi... Apakah lelaki masalalu mu adalah Gede....Bukankah mantan tunangannya Gede adalah Mayang. Lantas kenapa Arumi terlihat kikuk, Ammar terlihat tegang." Batin ibu tiga anak itu.


Sedangkan satu hati lagi bermonolog dengan hatinya sendiri.


"Berarti kalian pernah bertemu sebelumnya? Bukankah Kak Arumi ditemukan setelah Mayang meninggal dunia?" Ibrahim yang penasaran segera bertanya pada Arumi.


"Apa yang kamu sembunyikan. Apa tujuan kamu menikahi kakak ku." Ucap Ibrahim dalam hatinya. Ia pernah bertemu Mayang.


Seketika Arumi cepat memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Ibrahim.


"Kamu pernah bertemu tepat sebulan sebelum dia terkena musibah itu dan aku juga terkena musibah hingga hilang ingatan." Ucap Arumi lagi.


"Lalu sekarang berarti Kak Arumi sudah mengingat semuanya dong kalau kak Arumi bisa ingat resep milik Mayang." selidik Ibrahim.


Ammar pun tahu sang adik tak akan berhenti bertanya.


"Sudah seperti detektif saja kamu Ibra, kasihan kakak iparmu. Ia baru mengenal mu. Jangan buat dia takut."Goda Ammar.


Ibrahim pun tersenyum pada Ammar.


"Hehe... Biar Kak Arumi tahu bahwa aku man-"

__ADS_1


"Ehm-ehm." Bram berdehem. Ia tak ingin Gede tahu jika anaknya mantan anggota intelejen.


Ibrahim menoleh kearah Bram dan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Aku akan cari tahu. Jangan berani mengganggu keluarga ku. Apa misi mu sebenarnya." Batin Ibrahim.


"Semoga Ibrahim tak mencurigai aku." Batin Arumi.


Ia yang khawatir jika di ketahui bahwa dirinyalah yang mencintai Gede dulu bukan Mayang. Ia dan Ammar sudah berkomitmen agar cukup mereka berdua yang tahu rahasia itu. Sedangkan Ibrahim khawatir jika Arumi hadir di keluarga mereka punya misi khusus. Ayra pun semakin penasaran, apakah dugaannya betul.


"Apakah Mayang itu Arumi... Astaghfirullah... Selamatkan rumah tangga anak ku dari rasa cemburu terhadap pasangannya." ucap Ayra dalam hatinya.


Saat berbincang santai di ruang keluarga. Ayra sudah memasang satu antisipasi kalau betul Gede memang masalalu Arumi.


"Mbok tahu selembar kertas yang saya tulis di atas meja kerja yang judulnya Asma Binti Abu Bakar?" Tanya Ayra pada asisten rumah tangga yang meletakkan beberapa piring cemilan.


"Ndak lihat Bu. Nanti saya tanya dengan yang lain." Ucap asisten rumah tangga itu.


Ayra mengangguk.


"Mama lagi buat catatan buat kajian?" Tanya Qiya.


"Iya. Besok itu di minta ngisi materi tentang rumah tangga lagi. Mama ingin kasih kisah beliau sebagai istri." Ucap Ayra.


Arumi yang polos ia bertanya.


"Memangnya kisah itu tentang apa Ma? Arumi baru dengar." Tanya Arumi penasaran.


"Asma binti Abi Bakar adalah seorang perempuan yang dinikahi lelaki yang bernama AZ Zubair. Beliau itu bertugas memberi makan kuda dan mengambil air juga mengangkut biji kurma di atas kepala dari kebun Az-Zubair. Pada suatu ketika, Asma bertemu dengan Rasulullah dan juga orang Anshar. Rasulullah bermaksud membawa Asma di belakangnya. Namun karena Asma malu berjalan bersama laki-laki juga ia ingat betul bahwa suaminya yang bernama AZ Zubair memiliki sifat cemburu yang begitu besar. Rasulullah yang tahu jika Asma malu. Beliau pun berlalu.Lalu ketika bertemu suaminya. Asma menceritakan kejadian yang ia lalui. Lalu setelah kejadian itu Asmadiberikan seorang pembantu untuk menggantinya untuk mengurus kuda oleh Abu Bakar. Apa kesimpulan dari kisah ini?" Tanya Ayra.


Ammar menjawabnya cepat.


"Berdasarkan kisah tersebut dari hadist Shahih Al-Bukhari, menandakan kalau Asma begitu mengetahui watak suaminya. Bahwa Az Zubair seorang pencemburu, ia sebagai istri betul-betul berusaha menjaga kejiwaan suaminya. Bahkan Asma malu berjalan bersama Rasulullah karena suaminya yang pencemburu." Jelas Ammar.


Gede yang merasa kagum akan kisah itupun cepat menanggapi.


"Masyaallah sungguh teladan yang indah, betapa Asma Bin Abu Bakar begitu menjaga dirinya dalam meraih Ridha suaminya." ucap Gede yang betul-betul merasa tersentuh akan kisah itu. Ia punya modal untuk membicarakan perihal isi hatinya nanti dengan Qiya berdasarkan kisah ini. Itu pikiran Gede.

__ADS_1


"Semoga kamu bisa mengambil pelajaran dari kisah ini Ar..." Ammar kembali bermonolog dalam hatinya.


"Apa Mama tahu sesuatu..." Hati Arumi justru tidak fokus pada kisah itu. Ia merasa khawatir jika Ibu Mertua yang begitu ia sayangi, ia hormati tahu kebenarannya bahwa Gede adalah lelaki yang diawal pernikahan mereka menjadi tangis kesedihan Arumi kala itu.


__ADS_2