Pesona The Twins

Pesona The Twins
147 Permohonan maaf Pak Rendra


__ADS_3

Flashback off.


"Mas tahu, kami sangat sakit hati selama ini. Sikap Mas Rendra kepada Papa dan Mama. Bahkan saat terakhir Mama pun. Mama masih menanti kehadiran Mas. Tapi apa mas masih lebih mementingkan dunia mas. Berkali-kali mas mengambil hak kami. Kamu tidak marah karena Mama dan Papa yang selalu meminta memaklumi. Sampai kemarin, sampai kemarin... Papa memberitahu bahwa setelah pemeriksaan Papa. Pa...Papa... Cocok untuk transplantasi sumsum tulang belakangnya untuk Hilman." Ucap Adik Pak Rendra masih dengan diiringi Isak tangis.


Dada perempuan itu sesak. Sedari kecil, ia selalu diminta mengalah pada kakaknya. Bahkan ketika dewasa pun hak-hak dirinya sebagai anak juga diambil oleh sang kakak. Saudara kandung yang semuanya meradang. Hampir semua keluarga Pak Rendra memendam rasa sakit hati.


"Apakah kamu ingat uang kamu untuk mendirikan partai mu? Usaha mu di ibukota? Coba kamu ingat mas. Sumber atau modal kamu untuk itu, itu dari uang penjualan hasil kebun dan tanah milik Mama. Dimana mama tidak ridho tanah itu dijual.... Ayolah Mas... belum terlambat. Mohonlah ampunan. Kamu bergelimang harta tapi kamu tak pernah bahagia.... karena sumber awalnya mas... sumbernya... Mohonlah ampun pada Ibu yang sudah kamu sakiti juga Allah yang telah kamu sepelekan." Ucap sang adik.


Ia ingat betul bagaimana sang ibu menangis berhari-hari karena tanah warisan dari orang tua yang sudah berpesan untuk tidak dijual. Tapi di berikan kepada anak cucu. Namun Rendra menjual semuanya. Dan itu dijual tanpa sepengetahuan sang ibu.


Rendra tertunduk malu. Ia pun beberapa kali menarik rambutnya. Sesaat ia menatap Pak Toha. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu bersimpuh tepat di hadapan sang ayah.


"Pa... Maafkan Rendra... maafkan Rendra. Maafkan aku...." ucap Pak Rendra yang menangisi dosa nya di Masalalu.


Kasih orang tua sepanjang masa. Begitu pun Pak Toha. Walau sang anak sudah berkali-kali berbuat salah dan menyakiti dirinya juga sang istri. Ia tak mungkin tak memaafkan sang anak. Ia mengusap kepala Pak Rendra.


"Papa memaafkan kamu. Kamu harus bertaubat Nak. Mohonlah maaf pada manusia yang kamu sudah sakiti, yang kamu renggut haknya. Karena Allah Maha Pengampun. Jika kamu betul-betul bertaubat. Tetapi manusia, sakitnya bisa sembuh dengan permohonan maaf yang tulus dari kamu. Belum terlambat. Meminta maaf tak merendahkan kamu." ucap Pak Toha.


Lelaki itu mengusap air matanya. Saat ia berdiri, Ia memeluk adiknya yang sedang berdiri di belakang kursi roda Pak Toha.


"Maafkan Mas.... Maafkan Mas..." Ucap Pak Rendra yang menangisi kebodohannya.

__ADS_1


Selama ini ia tak pernah mendengarkan nasihat dari saudaranya. Ia selama ini merasa adik dan kakaknya yang jauh dibawah dirinya. Untuk hal ekonomi.


Pak Rendra berpikiran jika saudaranya iri pada kesuksesan dirinya. Padahal ia sedang terlalu angkuh, sombong disaat saudaranya mengingatkan bahwa ia sedang salah jalan. Setelah itu Pak Rendra berjalan ke arah Bram dan istrinya.


Ia menangkupkan tangannya dihadapan Ayra dan Bram.


"Saya mohon Pak Bram. Bu Ayra. Saya mohon maaf. Maafkan semua dosa saya. Saya mengakui semua yang dikatakan Pak Subroto itu benar. Saya berdosa, saya salah. Mohon maafkan saya. Saya menerima jika Ammar tak mendonorkan sumsum tulang belakangnya." ucap Pak Rendra tertunduk malu.


Bram hanya diam. Darah di aliran tubuh suami Ayra itu masih terasa panas. Ia merasa sangat sakit hati akan sikap Pak Rendra. Ia tak berpikir apa yang membuat orang bisa begitu gelap mata dan hatinya. Seolah ketika di dalam kubur semua urusan selesai. Ia yang tak pernah menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain. Merasa sangat sakit karena sikap Pak Rendra.


"Anda harus bertanggung jawab atas semua yang ada perbuat Pak Rendra! Anda tahu, saya hampir kembali kehilangan anak karena ulah anda!" Ucap Bram.


"Insyaallah... saya memaafkan semuanya Pak Rendra... Mohon mengerti perasaan suami saya. Pak Toha betul, Allah Maha Pengampun. Tetapi manusia, amat sulit berurusan dengan hati manusia." Ucap Ayra sebelum mengejar sang suami.


Ammar pun baru ingin meninggalkan tempat itu disertai Pak Subroto. Pak Rendra juga memohon maaf pada dirinya. Pak Subroto masih menatap Pak Rendra dengan tatapan tak suka.


"Saya harap anda mempersiapkan proses hukum yang sebentar lagi akan menghampiri anda. Maaf saya harus lakukan itu. Karena ketika kejadian itu banyak ny@wa yang hilang Pak Rendra. Bukan hanya putri saya." Ucap Pak Subroto.


"Ayo Pa.. " Ajak Ammar pada sang ayah.


Ia mengajak ayah mertuanya ke arah kamar Arumi.

__ADS_1


"Setidaknya kamu sudah berusaha Rendra. Pasrahkan kesembuhan Hilman. Pulanglah ke Indonesia. Temui anak mu yang lainnya. Temui mantan istri mu. Selesaikan urusan mu dengan mereka. Selagi kamu masih ada waktu. Papa akan disini." Ucap Pak Toha.


Pak Rendra semakin lemas, ia merasa sudah tak punya malu. Ia sudah merasa tak punya kekuatan juga harga diri untuk pergi menemui Gede dan ibunya. Ia masih malu.


"Nanti saja Pa. Aku harus menunggu kabar bagaiamana kondisi Hilman. Ibunya sedang tak bisa menemani. Ia sedang terkena Flu berat." Ucap Rendra terduduk lemah di bangku stenlis.


Beberapa hari berlalu. Rendra melarang Pak Toha untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang untuk Hilman.


"Resikonya terlalu besar Pa. Jangan biarkan aku kembali berdosa. Aku masih punya papa, izinkan aku berbakti pada Papa. Biarkan Hilman tetap menunggu pendonor lain." Ucap Rendra dengan wajah sendu. Matanya terlihat cekung. Ia sudah tak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini.


Penampilannya juga kusut. Ia duduk di depan ruangan Hilman. Ia pun hanya diam membisu. Tak ada wajah sombong, wajah penuh angkuh. Hanya ada wajah frustasi, wajah khawatir dari seorang pendiri partai besar itu.


"Mohonlah maaf pada Gede dan ibunya. Bagaiamana pun, dia darah daging mu " Ucap Pak Toha.


"Hhhh... apakah dia dan Ratih akan memaafkan aku." Ucap Pak Rendra pelan.


"Setidaknya kamu ada usaha bertaubat." ucap Pak Toha.


Pak Rendra pun berjalan gontai. Ia ingin meminta maaf pada seseorang. Namun tanpa mereka sadari jika ada sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka.


"Apa? Gede anak kandung Pak Rendra?" Gumam lelaki itu di balik dinding yang tak jauh dari Pak Toha.

__ADS_1


__ADS_2