
"Aku berharap kamu bisa ikut. Karena setidaknya disana kita bisa mengenang bagaiamana pertemuan kita dulu pertama Bertemu." Ucap Ammar tersenyum. Ia pun ke tempat favoritnya selama merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sofa yang kini selalu beraroma wangi.
Biasanya sofa itu akan menyengat bau rokok atau keringatnya karena memang semenjak ia menikah, asisten rumah tangga tak ada yang membersihkan. Semua sudah seperti semula. Ammar mengira semau yang berubah adalah karena asisten rumah tangga yang akan mengerjakannya. Tapi Ammar tidak tahu. Dua Minggu saat ia bekerja di kantor, istrinya sedang berusaha memiliki pesona seorang istri. Itu ia dapatkan tanpa ia sadari.
Ayra selama dua Minggu selalu mengajak putrinya ke dalam kegiatannya yang mengisi materi di beberapa kampus, atau organisasi kewanitaan yang meminta dirinya, atau umi Laila juga Siti sebagai pengisi materi. Maka jangan heran jika Ayra selalu meminta sopir-sopirnya untuk ada saja yang dikerjakan sehingga saat akan pergi ia bingung karena tak mampu menyetir mobil sendiri. Dan Arumi, dia bersedia mengantar ibu mertuanya pergi
Flashback On
"Mbok, Pak Jitok kemana?" Tanya Ayra pada asisten rumah tangga saat selesai menyiapkan makan siang.
"Sepertinya tadi nemenin Imah belanja Bu. Soalnya kan jadwal belanja. Ibu semalam sudah kasih catatan ke Imah.Ucap asisten rumah tangga yang paling senior di kediaman Ayra itu.
Ayra tampak sibuk di depan ponselnya. Arumi yang bingung ingin mengerjakan apa. Ia biasa menghabiskan waktu untuk Ifah. Kali ini betul-betul bingung. Ia sudah berkali-kali dilantai atas melakukan olahraga di ruang Gym keluarga Ayra itu. Tubuhnya juga mulai lelah. Ia pun menawarkan diri.
"Mama mau kemana?"
"Mau ke Desa Cilincing. Ada undangan untuk pengajian ibu-ibu. Mama lupa, biasanya Ammar yang antar. Tapi ini dia juga sibuk di kantor." Ucap Ayra.
"Aku bisa mengantarkan Mama." Ucap Arumi.
Ayra pun dengan senang ketika sang menantu mau mengantarkan dirinya ke pengajian. Disana Arumi baru tahu seberapa besar pesona ibu mertuanya itu. Banyaknya ibu-ibu bahkan begitu bersuka ria akan kehadiran sang ibu mertua. Bahkan saat acara selesai banyak yang memuji Arumi.
__ADS_1
Mereka tak menyangka istri Ammar begitu terlihat Sholehah dengan pakaian sangat tertutup.
"Aduh... Umi Ayra mah beruntung. Menantunya alim begini. Mas Ammar bahagia sekali pasti punya istri Sholehah." Ucap salah satu pengurus pengajian tersebut tersenyum pada Arumi.
Seketika wajah Arumi merah. Ia malu, beruntung Niqabnya menutupi aura malu dirinya. Ia malu dianggap wanita Sholehah. Ia malu karena pakaian yang ia kenakan dianggap orang-orang bahwa dirinya begitu Sholehah.
Saat perjalanan pulang Arumi menitikkan airmata. Ia terngiang-ngiang banyak pujian untuk dirinya karena hijabnya. Namun Ayra tak memperhatikan itu karena ia sedang menerima telepon dari seorang panitia untuk acara pernikahan putrinya.
"Wah maaf Ibu, saya tidak bisa. Sungguh saya tidak bisa. Cari yang lain saja. Mohon maaf sebelumnya." Ucap Ayra.
Arumi melirik Ayra. Ayra menunduk dan sedikit menarik napasnya dalam.
"Ada Apa Ma?" Tanya Arumi.
"Lalu kenapa Mama tidak bisa?" Tanya Arumi.
"Temanya diminta tentang Tips Menggapai rumah tangga yang bahagia. Mama tidak mampu memberikan tausiah seperti itu. sedangkan Mama sendiri melihat Mama gagal mendidik anak Mama untuk menggapai rumah tangga bahagia. Bagaimana Mama bisa menasehati anak orang lain tentang hal ini. Mama malu bukan pada manusianya. Pada Allah.. " Ucap Ayra pelan.
Arumi menepikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Ayra. Ia raih tangan Ayra.
"Arumi mohon maaf Ma. Arumi mungkin tidak selembut Mama dan Qiya. Tapi kelembutan hati Mama membuat Aku sadar. Hati ini terlalu keras. Mulai hari ini, bantu Arumi melembutkan hati Arumi, bantu Arumi menemukan Ammar dihati Arumi. Bukan Mama yang tak berhasil mendidik anak Mama. Tapi Arumi yang gagal menjadi menantu dan istri yang baik. Bantu Arumi ma." Ucapan Arumi yang tulus itu menjadi awal dimana ia betul-betul sedang bermetamorfosis menjadi istri yang Sholehah.
__ADS_1
Sejak hari itu ia selalu menjadi sopir Ayra. kemanapun ibu mertuanya itu pergi. Bahkan satu kejadian yang cukup kaget membuat Ayra terheran-heran. Saat di sebuah acara pengajian ibu-ibu di sebuah desa. Ada banyak pedagang yang berjualan makanan. Dan disana terjadi sebuah kebakaran di wajah penjual sosis goreng di pinggir jalan. Arumi yang berada di atas panggung dengan sigap berlari ke arah penjual gorengan itu. Ia basahi sebuah lap dalam ember air penjual bakso lalu ia letakan diatas wajan tersebut. Api pun seketika padam.
Ayra cukup terkesima. Disaat semua rata-rata ibu-ibu panik berlari ingin menyelamatkan diri. Menantunya justru berusaha memadamkan api dengan teknik yang cepat, tepat dan aman.
Saat perjalanan pulang Ayra pun bertanya. Arumi tak mungkin mengatakan jika ia mantan anggota intelejen. Bahkan selama duduk di sisi Ayra mengisi banyak pengajian. Walau tangannya menulis banyak catatan tentang hal-hal yang menjadi point' isi ceramahnya Ibu mertua. Ia justru bisa melihat banyak orang yang mencari kesempatan di acara itu. Dari tukang copet yang sibuk mengikuti para ibu-ibu yang lengah saat membelikan jajan untuk anaknya. Belum lagi Ibu-ibu yang rasan-rasan soal makanan pengajian yang tak sedap juga sampai dirinya yang berpakaian tertutup rapat ikut digosipkan atau disebut Ninja. Sungguh Arumi cuma geleng-geleng kepala akan banyaknya mereka yang hadir di majelis ilmu tapi hati masih belum bisa di bersihkan dari hal-hal yang membuat bocornya pahala.
Arumi hari demi hari mulai menikmati rutinitas nya. Ia bahkan menikmati kalimat demi kalimat Ayra. Bahkan materi tentang Istri Sholehah mampu membuat Arumi menangis saat pulang dari pengajian. Ia bahkan berkali-kali berhenti untuk menenangkan hatinya. Ayra terus menenangkan Arumi. Ia bersyukur dengan Arumi ikut bersamanya, hati menantunya mulai mencair.
Bahkan dirumah pun saat masak Arumi masih menikmati ilmu dari ibu mertuanya.
"Memangnya Mama dulu tidak saling cinta dengan Papa?" Tanya Arumi.
"Kami menikah tanpa saling rasa suka bahkan. Tapi semua itu baru takdir. Dan Mama memilih berjuang untuk takdir yang baik dan indah. Dan Mama tak ingin memilih jalan halal yaitu bercerai. Mama lebih memilih Jalan berjuang agar tidak dibenci Allah. Dan Alhamdulilah pilihan Mama untuk berjuang membuktikan bahwa doa, usaha yang sungguh-sungguh itu begitu ada. Tapi sekarang, Mama justru merasa malu." Ucap Ayra.
"Kenapa Ma?"
"Karena Mama ini egoia jadi hamba. Dulu setiap doa, setiap sujud,puasa doa yang dilakukan untuk sebuah kebahagiaan Mama, dan Papa, lalu sekarang sudah punya anak dan menantu masih meminta agar anak dan menantu... Lalu Allah dimana letaknya. Hati ini betul-betul malu kadang Ar. Tapi Allah selalu memberikan senyum di setiap pilihan dari Mana tadi. Maka ketika semua diwujudkan. Mama tak mau tak melibatkan Allah. Sudah terlalu banyak meminta maka ketika sesuatu dikabulkan harus ada Allah disetiap gerak, setiap kalimat, setiap urusan di rumah tangga Mama." Ucap Ayra.
Maka bertambah hari, rasa cinta dan kagum Arumi pada Ayra bertambah. Bahkan juga pada Ammar. Karena ciri-ciri suami Sholeh begitu nyata ia lihat pada diri suaminya. Ia merindukan bahagia bersama lelaki lain yang belum tentu bisa membahagiakan dirinya. Tapi suaminya nyata-nyata adalah kriteria suami idaman, suami Sholeh masih ia abaikan. Maka bermodal dari sering mengikuti Ayra, ia pun menerapkan dalam kesehariannya.
Rasa malu dan jaim juga kehidupan yang keras ketika masih kecil juga selama di dunia intelejen. Membuat Arumi tidak mudah untuk mengakui perasaannya.
__ADS_1
Ia hanya bisa memberikan baktinya dengan menyiapkan semua kebutuhan Ammar. Tanpa ia menawarkan dirinya untuk Ammar. Namun hal itu sudah mampu menghangatkan hati Ammar.
Flashback off