
Broto tak akan menunggu hasil tes DNA (deoxyribonucleic acid) untuk mengakui bahwa Arumi adalah putrinya. Ia mengakui jika dia adalah putirnya. Karena surat dari ibunya dan hasil pencarian data dari anak buahnya menyatakan bahwa Arumi betul putri Lana.
Pagi itu Broto mengajak Arumi ke dalam kamar dimana biasa Mayang gunakan ketika akan berangkat menjalankan misi atau pulang dari menjalankan misi. Ia, Melisa dan Arumi juga Ifah yang ada di dalam gendongan Arumi duduk dengan tenang. Kedua mata Arumi terpaku menatap satu potret atau gambar dirinya menggunakan baju bak Lara Croft Pemeran di Film Tom Rider sedang mengingit sebilah pisau dengan baju serba hitam.
"Apakah dia Aku?" Tanya Arumi tak percaya menatap gambar itu.
"Dia Putriku. Kalila Mayang Dahayu." Ucap Pak Broto.
Hari itu Arumi mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Ia adalah putri yang terbuang karena keegoisan neneknya. Hari itu takdir mempertemukan dirinya dengan Ayahnya. Arumi hanya menangis melihat potret-potret dirinya.
Ia menangis karena ia tak mampu mengingat apapun.
"Pantas aku merasa seperti memiliki kekuatan. Saat itu aku pernah dikurung 3 hari tidak diberi makan dan minum oleh Alex, aku merasa baik-baik saja." Ucap Arumi.
Broto pun memeluk anaknya yang baru ia temukan itu.
"Mulai sekarang tidak ada yang akan menyakiti kamu. Dan sekarang, kamu adalah putri ku. Jangan pernah pergi kemana-mana. Aku adalah Papa Mu. Dan Melisa, ia memang tak melahirkan kamu. Tetapi dia adalah ibumu. Kemarilah Melisa." Ucap Pak Broto sambil menoleh ke arah Melisa.
Melisa mendekat, Pak Broto meraih pundak Melisa. Lelaki it memeluk dua perempuan beda usia itu.
"Maafkan aku Melisa. Aku tak pernah bersyukur akan rasa cinta mu yang begitu besar. Kamu bahkan bertahan menemani aku yang egois ini. Aku akan mencintaimu sama seperti kamu mencintai aku yang bodoh ini." Ucap Pak Broto sambil mengusap punggung istri yang selama ini hanya menjadi status tanpa menerima haknya untuk di cintai.
Hadirnya Arumi membawa hubungan suami istri yang hambar puluhan tahun itu kini bermekaran rasa cinta dan kasih.
__ADS_1
Setiap yang memiliki cinta akan selalu saling menguatkan. Begitupun Bram, ia melihat istrinya tak sehat. Semalaman istrinya hampir tak beringsut dari sajadahnya. Istrinya baru beranjak dari tempatnya ketika Bram memanggilnya. Ia tahu bahwa sang istri tak ingin mengeluh pada manusia, tetapi Bram pun tak ingin sang istri sakit.
Pagi itu Ia memakaikan sweater pada sang istri.
"Di luar lagi hujan. Mas sudah minta pengacara kita melaporkan pada pihak kepolisia nanti siang. Minumlah dulu" Ucap Bram sambil menyerahkan minuman favorit istrinya, madu hangat.
"Mas Tahu, saat Ammar masih kecil. Ia akan selalu memanggil Ayra. Ia bahkan akan cemburu ketika mas memeluk ku di hadapannya. Kini ia telah dewasa, ia memang punya kehidupan sendiri. Tetapi aku mengenal putra ku Mas. Ammar tak pernah membuat orang tuanya khawatir." Ucap Ayra menatap cangkir yang ada di genggamannya.
"Ammar pasti akan menjaga dirinya agar baik-baik saja dimana pun ia berada." Ucap Bram menenangkan Ayra.
"Tetapi, jika putra mu telah jatuh hati. Ia akan mengorbankan dirinya untuk perempuan yang ia cintai. Ayra khawatir perempuan yang kemarin ia maksud ada hubungannya dengan hilangnya Ammar Mas... " kini air mata seorang ibu itu membasahi kedua pipinya.
Bram sudah meminta bantuan beberapa orang yang biasa menangani pencarian orang. Ayra hanya bisa diam, ia mengingat certia terakhir anaknya tentang perempuan yang membuat dirinya jatuh hati.
Namun di sebuah kamar, Sulung Ayra itu merasa bingung dengan rasa di hatinya.
"Hah... Begini rasanya patah hati." Ucap Marvin sedikti pelan.
Ini kali oertama ia memainkan hatinya hingga ia jatuh hati oada Miss Allyne. Namun Miss Allyne dari kemarin tak ingin berbicara padanya. Bahkan menatap dirinya pun saja tidak sudih.Dua lelaki itu sedang bermonolog dengan diri mereka masing-masing tentang rasa di hati mereka.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka.
Pak Broto muncul dengan beberapa lelaki.
__ADS_1
"Mr Ammar, hari ini anak buah saya akan mengantarkan anda pulang. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Namun demi keselamatan putri saya. Saya terpaksa melakukan ini. Beruntung kemarin orang-orang saya cepat tiba. Jika tidak mungkin Putri saya sudah di bawa oleh kelompok yang mengaku suaminya." Ucap Pak Broto.
Ammar menatap Pak Broto.
"Jadi dia putri Anda?" Tanya Ammar.
"Ya, Saya juga mengucapkan terimakasih atas kebaikan anda menyelamatkan Arumi." Ucap Pak Broto sambil tetap menatap Ammar.
"Jadi dia Arumi bukan Alisha?" Ucap Ammar pelan.
"Ya, aku pastikan dia Arumi bukan Alisha atau Mayang. Mayang adalah kembarannya. Kami terpisah dalam waktu yang lama. Dan karena anda, saya masih bisa bertemu dengan putri saya. Maka dari itu saya mohon maafkan saya atas segala tindakan tidak nyaman ini." Ucap Pak Broto.
Ammar memejamkan matanya. Ia bingung akan senang atau sedih. Ia bingung kenapa cintanya di hinggap rasa kecewa.
"Kenapa Ammar. Kemana rasa cinta mu kemarin..." Ucap Ammar dalam hatinya.
Ammar tidak sadar. Ia bukan membenci Arumi yang tak berhijab, tetapi ia yang terbiasa di didik untuk melindungi perempuan dan menghormati kaum hawa oleh Mamanya. Maka ia justru melindungi Arumi sendiri yang dimana bagi Ammar pertama kali jatuh hat pada Arumi dengan semua yang tertutup. Maka ia hanya ingin semua yang ia pandangi itu halal ia pandangi.
Namun ia berpikir jika ia membenci Arumi.
"Cinta Atau Benci kah aku pada Alisha yang ternyata Arumi?" Ucap Ammar dalam hatinya.
Maka siang itu Ammar, Marvin diantar pulang. Miss Allyne belum diperbolehkan pulang oleh Arumi. Putri Broto itu ingin menjamu perempuan yang telah baik padanya selama dirinya tinggal bersama Miss Allyne di kediaman Miss Allyne.
__ADS_1
Selama perjalanan Pulang, Ammar hanya termenung. Ia memandang ke arah luar jendela mobil. Ia bingung, kemarin ia berharap Alisha masih Gadis atau janda. Kini setelah ia tahu Alisha masih gadis dan ternyata bernama Arumi. Hatinya kecewa kenapa perempuan itu tak berhijab seperti Alisha yang pertama ia kenal.
"Berarti aku tak mencintaimu karena kecantikan mu. Aku mencintaimu karena kecantikan yang kamu tutupi. Aku akan istikharah apakah aku akan melamar mu atau melupakan mu Arumi." Ucap Ammar sambil memejamkan kedua matanya.