
Nur duduk di sisi Ibrahim. Lelaki itu meraih tangan Nur. Ia meng3cup punggung tangan istrinya. Lama cukup lama ia menc!umnya. Nur sampai heran. Hampir beberapa bulan ia di Kali Bening. Ia baru kali ini melihat suaminya menyentuh dirinya penuh cinta.
"Terimakasih. Sudah menunggu aku cukup lama. Terimakasih masih setia, dan masih bersabar."
Ibrahim mengelus perut buncit Nur. Perut istirnya itu sudah masuk tubuh bulan. Ia usap dan lalu ia kecup perut istrinya itu. Nur begitu heran. Ia tak tahu apa yang terjadi. Suaminya bersila di hadapannya. Ia menggenggam tangan Nur.
"Nur..."
"Iya Mas...."
"Aku ingin melamar kamu. Aku ingin menjadikan kamu istri ku."
",...."
"Tidak perduli. Cinta atau tidak. Kita akan sama-sama menanam cinta." Lanjut Ibrahim saat istrinya hanya diam.
"Kamu tidak tahu siapa aku."
"Tapi aku tahu ada cinta yang begitu besar di hati mu untuk sang pencipta. Aku ingin anak-anak ku lahir dari rahim ibu seperti mu."
"Tidak. Aku tidak mau dan belum mau menikah."
"Aku sudah menyentuh mu dan aku mengganti bajumu kemarin. Maka izinkan kamu halal untuk ku sentuh."
"Kamu tidak akan menyesal?"
"Insyaallah."
"Nikahilah aku besok pagi. Mas...."
Nur memeluk erat tubuh Ibrahim.
Percakapan dimana Ibrahim melamar dirinya dirumah sakit menandakan bahwa ingatan suaminya telah kembali. Selama ini ia tak berani mendekat. Karena ada jarak yang dibentangkan oleh Ibrahim. Kali ini ia mencium aroma tubuh suami yang baru berapa bulan memanjakannya namun sudah pergi menghilang. Kini Ibrahim telah kembali utuh. Kalimat saat Ibrahim melamar Nur sesaat setelah ia sadar dari pingsannya di rumah sakit pun tak ada yang dilupakan sang suami. Namun suaminya juga menitikkan air mata.
Nur menghapus air mata itu.
"Aku kangen kamu mas. Aku kangen kamu." ucap Nur.
Ia melihat sang istri duduk diatas lantai. Ibrahim menggendong tubuh istrinya ketempat tidur. Nur bertanya Ibrahim.
"Katakan apa yang membuat Mas semalam shalat begitu lama?" Tanya Nur.
Ibrahim memeluk Nur. Ia peluk erat istrinya itu. Perempuan yang ia nikahi bukan karena kecantikannya, bukan karena nasabnya tapi karena sang istri mencintai kalam-kalam Allah.
"Aku khawatir kalau-kalau pagi ini ajal datang pada ku Nur. Sedangkan semalam semua ingatan ku kembali. Aku ingat berapa bulan aku di tidak mengerjakan shalat selama di kediaman orang tua Kak Arumi. Bagaimana nasib ku kalau aku tidur dan ternyata tak bangun lagi sedang amal yang paling utama akan di pertanggungjawaban adalah shalat. Maka itu aku begitu sedih dan khawatir." Ucap Ibrahim pada Nur.
"Mama pasti bahagia sekali Mas kalau tahu mas sudah kembali ingatannya." ucap Nur.
Ibrahim merasa senang ingatannya telah kembali. Namun seketika ia mengecup dahi istrinya sangat lama. Seolah ada kerinduan dan juga rasa bersalah yang menyerukan di dalam hatinya.
"Nur,"
"Iya Mas."
"Mas minta maaf. Saat sebelum ledakan itu terjadi mas terpaksa menyentuh tubuh perempuan lain."
__ADS_1
Dahi Nur berkerut. Ia masih menanti cerita sang suami hingga selesai.
"Nanti saja ceritanya mas..." Ucap Nur.
"Tidak. Mas saat itu harus bersembunyi dengan Mayang di atas plafon yang sangat sempit. Kamu tahu, saat itu yang mas ingat hanya kamu. Tapi, Mayang sudah menyelamatkan Mas." Ucap Ibrahim sambil membelai wajah sang istri, hal yang menjadi favoritnya sedari pertama menikah. Lelaki itu kembali melanjutkan ceritanya.
"Allah memang menyelamatkan Mas. Tapi ada Mayang. Dia menyelamatkan mas saat ledakan itu. Kalau saja dia tidak datang dan mendorong mas kedalam lift mungkin suami mu ini yang diposisi dirinya. Boleh mas ziarah ke makam Mayang besok?" Tanya Ibrahim.
Nur mengangguk.
"Tapi hari ini, mas jangan kemana-mana. Nur kangen Mas..." ucap Nur manja.
Hampir 6 bulan ia tak bisa merengek manja pada sang suami. Kali ini suaminya telah kembali. Ia pun berani bermanja-manja pada Nur. Ibrahim mengingat kejadian selama ia ingatannya belum pulih.
"Mas minta maaf mengabaikan kamu. Mas juga kangen kamu. Boleh mas beri hak mu yang cukup lama kamu nantikan?" Ucap Ibrahim. Nur mengangguk.
Saat Ibrahim merasa bahagia. Ingatannya telah kembali. Gede yang pagi itu pergi ke kota iseng bertanya pada temannya.
"Apa obat-obatan yang aku minum mempengaruhi sp3rm@ ku ya?" Tanya Gede pada temannya yang merupakan dokter yang menjadi tempat konsultasi.
"Wah kurang paham aku Ge. Coba kamu ke ahli kandungan." Ucap dokter Wahyu.
Gede sedikit merasa khawatir. Karena Qiya sepertinya sangat berharap untuk segera hamil. Putri Ayra itu sangat ingin menjadi ibu dan memiliki banyak anak. Ia bukan perempuan yang mencintai karir. Gede pun akhirnya mencari dokter kandungan. Dan sebuah kabar cukup membuat ia bersedih, di sisi lain satu Minggu ini ia sudah tak mengigau. Namun pagi ini ia harus menerima kenyataan jika obat sistem saraf yang ia konsumsi untuk traumanya mempengaruhi kualitas Sp3rm@nya.
"Hhhh... selesai satu masalah ketemu masalah lagi." Ucap Gede.
Sore menjelang malam. Ia menjemput Qiya yang masih di rumah sakit. Istrinya sudah menunggu di lobi. Qiya menjulurkan tangannya.
"Biar Qiya yang menyetir Mas."
Tiba di kediaman mereka. Saat sudah membersihkan tubuh dan istirahat. Qiya yang meletakkan baju kotor sang suami kedalam tempat cucian kotor. Namun saat memeriksa pakaian kalau ada benda yang tertinggal. Qiya melihat sebuah resep. Ia melihat dari psikiater.
Qiya menutup mulutnya dengan ujung jari tangannya. Ia setengah berlari. Gede yang duduk bersandar di head board itupun kaget karena sang istri tiba-tiba naik ke atas tempat tidur dan menc!um tangannya.
"Ada Apa Dek?" Tanya Gede
"Mas, mas ke psikiater?" Tanya Qiya.
Gede meletakkan ponselnya. Ia memandang wajah Qiya dalam.
"Apa aku pernah mengigau mas?" tanya Qiya.
Gede memeluk istrinya.
"Kamu tahu, sebegitu hati-hati kah kamu Dek. Sampai hati mu terluka karena aku menyebut nama perempuan lain pun kamu masih bisa tersenyum." Qiya menangis dalam pelukan sang istri.
"Kapan mas tahu?" Tanya Qiya.
"Tepat ketika resepsi di Bali." Ucap Gede.
Malam itu Gede menceritakan bahwa dirinya pun khawatir tentang kualitas sp3rm@ nya karena obat yang ia minum berapa bulan ini. Qiya pun menangis haru. Ia tak menyangka suami juga begitu sabar dalam diam sang suami juga memberikan kebahagiaan untuk dirinya. Tanpa ia menuntut tetapi sang suami justru berusaha sendiri agar dirinya bisa sehat.
"Nanti sekalian ke kota kita ke dokter kandungan. Sekarang Mas ga usah mikir macam-macam. Mas pikir, kita yang menjadikan sel sp3rm@ dan sel telur bertemu? Itu rahasia Allah. Kita hanya diminta berdoa dan berusaha." Ucap Qiya.
Tiba-tiba ia menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Nah bagaimana kalau berusahanya malam ini?" goda Gede.
Qiya tertawa dan mengangguk.
Malam harinya di kediaman Ayra. Putranya telah tiba dengan Arumi. Ammar yang baru tiba di ibukota langsung membawa Arumi ke dokter. Dan kaki sang istri terlihat melepuh di jari-jarinya. Arumi yang berada di gendongan Ammar membuat Ayra khawatir. Bram yang sedang menikmati kopinya pun sangat khawatir.
"Astaghfirullah... Am. Ada apa dengan Arumi?" Tanya Ayra.
Ammar meletakkan Arumi di atas sofa ruang keluarga.
"Kakinya terkena air panas Mas..." Jawab Ammar.
"Astaghfirullah... Sudah periksa kedokter?" ucap Ayra.
Ammar menjawab sudah.
"Ma, Arumi minta maaf ya. Karena sudah pergi dan tidak memberitahu Mama " Ucap Arumi lirih.
"Kadang untuk menjadi baik kita harus pernah melakukan salah. Tapi kesalahan bisa dijadikan pelajaran agar tak diulangi dimasa depan. Mama selalu memaafkan kamu. Wajar, kalian baru dalam berumahtangga. Masih harus saling mengenal satu sama lain." Ucap Ayra sambil menggenggam tangan menantunya.
Hati Ayra itu sangat bahagia saat ia melihat Ammar menggendong tubuh Arumi dan terlihat Arumi di menyandarkan kepalanya di dada Sulung Ayra itu
"Semoga kalian bahagia Nak..." batin Ayra. Bram pun menggoda sang istri.
"Kamu ingin digendong juga?" Tanya Bram.
"Mas masih kuat?" Tanya Ayra sambil menyeruput air madu hangat miliknya.
"Ayo sini aku gendong." Ucap Bram sambil juga menggendong tubuh sang istri.
Tiba dikamar, Arumi pun semakin menghangat karena perhatian suaminya. Ammar tampak mengolesi salap di kakinya.
"Sakit Ar?" Tanya Ammar masih fokus ke jari-jari kaki Arumi.
"Tidak."
Malam hari itu Ammar dibuat kembali melihat sisi lai istrinya.
"Elus Mas." ucap Arumi pada Ammar yang memeluk dirinya.
Arumi minta di usap punggungnya. Ammar pun tersenyum mendengar istrinya merengek.
"Begini. Nyaman?" Ucap Ammar. Ucap Ammar.
Arumi berdehem dan masih dengan mata terpejam, Ia mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya.
"Puasa dong aku Ar?"
"Nanti di rapel kalau sudah sembuh kakinya." Ucap Arumi pelan dan malu.
Ammar terkekeh dan masih mengusap punggung sang istri.
"Sudah tidurlah." Ucap Ammar masih mengusap punggung sang istri. Ia senang satu hari ini sudah berapa kali sang istri merengek manja.
"Love You Ar."
__ADS_1
"Love U too Mas Am." Ucap Arumi yang sudah bersuara parau karena sangat mengantuk. Aroma keringat suaminya bahkan menjadi candu dirinya. Ia begitu mengantuk dan nyaman tidur berada dalam dekapan sang suami.