Pesona The Twins

Pesona The Twins
94 Kau Telah Memilih Yang Lain


__ADS_3

..."Da hulu kau men cintai ku...


...Da hu lu kau me ngi nginkan aku....


...A ku me nye sal mem buat mu me na ngis...


...dan me milih yang lain."...


Mungkin sepenggal bait dari lirik lagu ini mampu mewakili hati Arumi. Langkah demi langkah ia menyusuri karpet merah di belakang langkah Ayra dan Bram. Iringan Hadroh dari Kali Bening yang menyenandungkan shalawat yang berjudul Al/bi Na/dak. Duet dari Ibrahim dan Qiya yang duduk di singgasana mereka masing-masing bersama pasangan mereka. Dilantunkan shalawat itu untuk mereka sendiri dan sang kakak yang mereka pikir tersenyum bahagia di hari itu.


Tiga hari dari tiga putra dan putri Ayra. Selalu saling menguatkan, saling menyayangi, saling mendoakan di kesempatan kapanpun. Nur yang juga lulusan pesantren bisa meneteskan airmata karena genggaman tangan Ibrahim di tangannya begitu erat. Seolah Lelaki itu begitu menikmati shalawat yang bermakna isi hati seorang yang mencinta dan dicinta dalam hubungan yang halal.


Ibrahim pun dalam senyum nya, ia begitu menghayati shalawat itu. Karena lirik nya begitu indah untuk menyampaikan pada sang kekasih hati. Ia merasakan hatinya begitu bahagia karena Nur juga menggenggam erat tangan suaminya. Bahkan kepala yang ia sandarkan di lengan Ibrahim membuat airmata suami dari Nur Hasanah itu mengalir begitu deras.


"Entah kenapa aku merasakan shalawat ini kamu senandungkan untuk ku dari lubuk hati mu Mas." Ucap Nur sambil tetap tersenyum memandangi Ayra dan Bram yang masih berjalan dia tas karpet merah untuk mengantar Ammar dan istrinya ke singgasana yang masih kosong.


"Masyaallah... Suara mu Dek... Ternyata disetiap kejadian Allah telah tetapkan yang terbaik untuk hambanya." Batin Gede yang mendengar suara merdu istrinya dan juga begitu membuat ia bersyukur mendapatkan istri cantik, cerdas, Sholehah seperti Qiya.


Dulu ia berpikir kenapa cobaan begitu berat. Ia bahkan ditinggalkan di hari pernikahan. Ternyata ia tak berjodoh dengan Qiya. Ia berpikir jodohnya bukan Mayang melainkan Qiya. Maka itulah pernikahan itu tak terjadi. Namun dahulu Gede tak berpikir kesana. Saat hikmah datang, saat itulah manusia akan bisa bersyukur karena mendapatkan musibah. Sebegitu cintanya Arumi pada Gede. Begitupun Gede yang mencintai Mayang yang ternyata adalah Arumi. Tetapi Allah berkehendak lain. Allah menginginkan Gede berjodoh dengan perempuan yang juga gagal menikah.


Arumi masih menunduk. Ammar makin mengeratkan pelukannya. Ia pun berbisik.


"Angkat wajah mu Arumi. Lihatlah di depan. Takdir sedang berbicara padamu. Bahwa Masadepan hanya Allah yang bisa menentukan. Jika kamu masih berpikir akan berbalik ke belakang. Maka kamu adalah orang yang bodoh. Jika kamu ingin melangkah kedepan. Kamu harus mampu menatap dan melewatinya. Lelaki masalalu mu adalah adik ipar ku. Cukup aku dan kamu yang tersakiti. Tidak untuk menambah banyak orang lain. Aku mohon padamu." Ucap Ammar yang menahan air matanya.


Arumi mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar, ia melihat jelas Gede tersenyum bahagia disisi Qiya. Gadis yang ceria, baik, humble. Gadis itu begitu menghormati dirinya walaupun kemarin ia tak mengenakan hijab. Arumi pun menitikkan airmata. Ia merasa sakit sakit hati pada Mayang, ia berandai-andai. Andai dulu tak meninggalkan Gede di hari pernikahan nya. Maka mungkin dialah yang ada sisi Gede.


Tapi melihat senyum bahagia Qiya. Melihat Kehangatan Ayra dalam menyambutnya sebagai menantu, ia pun mengamini apa yang Ammar ucapkan. Ammar merasa langkah Arumi sedikit berhenti. Ammar bisa merasakan jika tubuh istrinya melemah. Arumi memang merasakan tak ada tenaga atau kekuatan untuk menahan tubuhnya. Langkahnya terasa berat. Arumi menangisi lelaki lain di saat ia mengenakan gaun pengantin dan berjalan bersama suaminya.


Bram dan Ayra pun berhenti karena melihat kain yang mereka tarik untuk membimbing putra dan putri mereka terhenti. Bram dan Ayra menoleh. Ammar tak ingin dua orang tuanya curiga.


"Sayang? Masih sakit?" Ucap Ammar.


Arumi tak mampu untuk meladeni Ammar. Ia merasa sesak, lemah tubuhnya untuk melangkah mendekati panggung megah yang menantinya untuk bersanding dengan suami tepat disisi singgasana Gede dan Qiya.

__ADS_1


"Aku gendong ya." Ucap Ammar.


Bram mendelik. Ammar pun menggendong Arumi karena. tak mendengar jawaban dari Arumi. Bram dan Ayra tersenyum. Mereka mengira tangis Arumi tangis haru. Hanya Arumi dan Ammar yang mengerti arti tangis Arumi. Bram bahkan berbisik pada Ayra dan perut CEO MIKEL Group itu di senggol oleh siku Ayra.


"Kamu sepertinya harus memberikan jamu pada menantu mu Ayra. Khawatir ia tak bisa mengimbangi putra ku. Anak itu. sudah tahu hari ini ada acara apa tidak bisa puasa dulu....aduh..." Bram meringis dan kembali tersenyum ke arah depan karena senggolan dari lengan Ayra tanda ia harus fokus kedepan.


"Alhamdulilah ya Allah... Terimakasih telah memberikan aku kebahagiaan dan telah menitipkan tiga orang anak yang betul-betul membuat aku bahagia menjadi ibu mereka. Ridhoi perjalanan rumah tangga putra putri ku Rabb... Aku Ridho untuk semua anak-anak ku. Mudahkanlah semua yang menjadi hajat dan cita-cita anak menantu ku dalam menjalani rumah tangga mereka." Ucap Ayra yang melihat kebahagiaan Dua pasang pengantin yang ada di singgasana mereka.


Arumi hanya terisak menangis. Ia tak mampu menahan rasa sakit itu. Ammar hanya diam. Ia tahu sakitnya karena cinta. Itu ia rasakan tepat di hari pertama ia tercatat sebagai suami Arumi. Tapi ia bukanlah orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Jika dulu ia mencintai Arumi karena kecantikannya. Ia pun harus siap menerima semua kekurangan istrinya di balik kelebihannya.


"Nikmatilah hidangan yang kamu pilih Ammar. Aku akan menanti hati mu Arumi." Ammar begitu menikmati langkahnya dengan Arumi yang berada di pelukannya. Ia bisa menghirup jelas aroma tubuh Arumi. Aroma yang begitu ingin ia rasakan disetiap malam dinginnya. Tiba di singgasana mereka, Arumi pun duduk berdampingan dengan Gede yang juga berada di sebelah singgasana Arumi.


Ia melirik Gede. Lelaki itu tak menoleh Arumi.


"Kamu sudah bahagia Ge. Qiya gadis yang baik. Ia bahkan nyaris sempurna. Pantas jika kamu bahagia. Kamu sudah melupakan aku Ge... "


Pak Subroto tak kalah kaget karena melihat Gede menjadi menantu Pak Bram. Ada rasa malu ketika ia bertemu tatap dengan Gede dan Bu Ratih. Gede hanya tersenyum dan setengah menundukkan kepalanya, tanda hormat pada mantan calon mertuanya. Namun Melisa, ia seketika merasa gelisah dan curiga. Ia bahkan tak henti-henti menatap Arumi.


"Apakah Arumi bercadar karena ia telah mengingatkan semuanya? Apakah Arumi telah mengingat semuanya?" Melisa khawatir, Karena ia adalah salah satu yang tahu kenapa Arumi pergi di hari itu. Kenapa juga Arumi bisa bertukar posisi dengan Mayang. Ia juga tahu jika Arumi mencintai Gede bukan Mayang.


Acara hari itu pun berlangsung begitu lancar dan khidmat. Tiba saat rangkaian acara telah selesai. Waktu sudah hampir pukul 12 siang. Tiga pasang pengantin pun turun dari singgasananya. Saat akan memasuki kamar nya Ammar pun berpesan pada asisten yang bekerja dirumahnya.


"Makan siangnya aku dan Arumi tolong antar ke kamar ya Bik. Istri ku sedang tak sehat." Ucap Ammar.


Saat tiba dikamar. Ammar membelalakkan matanya. Tidak ada sofa di kamarnya.


"Kita punya masalah malam nanti Ar. Kamu lihat, Mama sepertinya menyingkirkan sofa di kamar ku." Ucap Ammar saat melihat kamar yang telah di hiasi begitu romantisnya.


Arumi hanya diam ia tak lagi menangis. Tapi ia seperti mayat hidup. Mati segan hidup tak mau. Hanya ada pundak yang terus bergerak karena hembusan napasnya. Ia seakan menjadi orang bodoh. Ia dulu bahkan di tertawai rekannya. Rekan yang mengatakan kemana kepandaiannya sebagai seorang intelegen karena tidak fokus menjalani misi kala ia masih memikirkan Gede.


Dan kini itu terjadi lagi. Hatinya mengalahkan akal dan pikirannya. Ia seperti orang bodoh. Ruang hatinya hampa. Ammar masih menatap Arumi. Ia tak ingin menganggu istrinya yang sedang menikmati rasa sakit dan kecewa.


"Kadang untuk merasa bahagia, kita harus tahu rasanya menderita Ar. Semoga kamu bisa keluar dari rasa sakit hati dan kecewa mu." Ammar pun berharap istrinya bisa melalui kesengsaraan batin yang sedang dirasakan.

__ADS_1


Saat sepasang suami istri itu tak turun untuk makan siang. Seluruh anggota keluarga bahkan makan bersama. Pak Subroto tampak menghampiri Gede dan Bu Ratih. Melisa hanya diam mengamati.


"Nak Gede, saya minta maaf akan kejadian di masa lalu." Ucap Pak Subroto


"Tidak apa-apa Pak. Hari ini saya tahu hikmahnya. Inilah hikmahnya. Saya bertemu Qiya yang merupakan jodoh saya." Ucap Gede. Pak Subroto pun merasa senang karena terlihat jelas Gede tak menyimpan dendam pada dirinya. Ia malu sekali sebenarnya. Dulu ia begitu keras pada Mayang. Ia tak setuju dengan Gede. Karena baginya Gede terlalu lugu dan polos untuk menjadi suami dari Mayang yang anggota intelegen. Dan itu akan merepotkan kelak.


Ia berharap putrinya mendapatkan jodoh yang juga dari kalangan militer atau intelegen.


Qiya yang penasaran saat tiba dikamar untuk membersihkan diri karena sudah masuk waktu sore.


"Memangnya ada kejadian apa Mas dengan keluarga Kak Arumi?" Tanya Qiya sambil menyusun baju suaminya di lemari.


"Oh... sekarang mentang-mentang sudah jadi suaminya. Ngomongnya sudah berani ga hormat begitu ya. Dulu kalau mau tanya apa-apa pasti menghadap ke Mas. Walau wajahnya nunduk. Lah ini masa' aku di suguhkan Punggung. Apa masih belum boleh melihat wajah dan rambut istri mas ini?" Tanya Gede yang tahu bahwa istrinya itu sedari tadi merasa kikuk berada berdua saja di ruangan itu.


Wajah dan gesture Qiya yang dari tadi sibuk mencari kegiatan. Membuat Gede tahu, istrinya masih malu dan nervous. Ia mendekati Qiya. Qiya pun hanya mengigit bibir bawahnya karena Gede memeluk dirinya dari belakang saat tangannya sedang menyusun baju di lemari.


"Sudah halal Kan Dek? Kenapa harus malu?" Ucap Gede yang menaruh dagunya di pundak istrinya. Qiya merinding seketika. Tangannya gemetar. Gede pun tertawa melihat sikap dan ekspresi Qiya.


"Kamu ini. Seseram itukah Mas mu ini? Aku tidak akan menyakiti kamu Dek. Apa jangan-jangan pikirannya sudah kemana-mana jadi gemetar?" Goda Gede.


Qiya makin menunduk. Tangannya berhenti mengambil baju yang masih tersisa berapa lembar di koper suaminya.


"Hehehe... Sudah nanti saja. Ada yang lebih penting dari nyusun baju. Kita nyusun Masadepan kita." Ucap Gede sambil cepat menggendong Qiya.


"Astaghfirullah... mas...." ucap Qiya.


Ia pun menunduk malu. Ia menyandarkan kepalanya di dada Gede.


"Kamu itu bikin gemes... Memang tidak pernah berdekatan dengan lelaki sampai segini nya jantung mu." Ucap Gede sambil melangkah ke arah tempat tidur karena ia bisa merasakan detak jantung Qiya yang berpacu cepat.


Tiba di kasur. Ia turunkan istrinya. Ia duduk sila diatas lantai. Qiya di atas kasur.


"Dek.... Mas cerita dulu. Mas tidak ingin semua kamu dengar dari orang lain. Mas ingin memiliki kamu utuh dan membuka lembaran baru yang utuh. Tanpa ada masalah karena Masalalu. Mau dengar cerita mas dimasa lalu?" Ucap Gede pada Qiya.

__ADS_1


Qiya mencoba memberanikan menatap kedua mata Gede. Ia pun mengangguk pelan.


"Jadi... begini ceritanya...." Ucap Gede sedikit pelan sambil melirik ke arah langit-langit dan membuang napasnya pelan. Ia sedang memilih darimana akan memulai ceritanya.


__ADS_2