
Sepasang suami istri itu masih mengikuti kemana arah parasut itu akan berlabuh. Arumi Masih mencoba mengendalikan parasut yang talinya menempel pada tubuhnya. Ammar membantu satu tangan istrinya. Ammar membantu memegang tali parasut tersebut.
Cukup lama mereka berada di atas udara. Arumi melihat satu villa diantara rimbunnya pepohonan. Ia menarik dan menahan tali parasutnya dan dibantu Ammar. Suami Arumi itu mengikuti apa yang istrinya lakukan. Mereka pun semakin lama semakin rendah dan turun ke sebuah lapangan. Namun saat sudah hampir mendekati vilaa tersebut. Arumi kaget karena tampak satu tali di parasutnya putus. Hembusan angin yang cukup kuat membuat mereka terbawa arus angin ke tempat yajg jauh dari Villa.
"Bantu aku tarik ini kuat-kuat mas. Di hitungan ketiga." ucap Arumi.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Ia tai menyangka bagaimana ia tak begitu lincah lagi. Jika dulu ia bisa menghadapi banyak keadaan daj kejadian di luar prediksi. Kini tubuh yang sedang berbadan dua, membuat tangannya sedikit lemah.
Akhirnya mereka berhenti si salah satu pohon. Arumi pun mau tidak mau memeluk Ammar erat. Begitu pun Ammar. Ia menarik kepala sang istri kedalam pelukannya.
"Sreeeeeghhht" Suara daun da dahan yang patah karena di tabrak oleh sepasang suami istri itu berikut parasut yahg juga sobek karena terseret ranting.
Hingga akhirnya mereka tergantung di atas pohon. Ammar melihat ke arah bawah. Arumi pun melakukan hal yang sama. Ia menatap Ammar.
"Turunlah lebih dulu Mas. Kita tidak mungkin turun bersamaan. Jika tidak sedang hamil, kita akan turun bersama." ucap Arumi.
Ammar melepaskan pengait yang terdapat di depan dada dan pinggangnya. Ia pun terjatuh dengan keadaan miring. Saat Ammar sibuk mencari sesuatu yang ia pikir bisa ia jadikan pijakan untuk menangkap istrinya.
"Tunggu Ar. Aku cari kayu agar sedikit lebih dekat." Ucap Ammar.
Arumi menggeleng.
"Tidak perlu. Sekarang saja." Ucap Arumi
Ammar baru mau melarang namun tangan istrinya yang begitu lincah melepas pengait parasut yang menahannya. Tak berapa lama, Arumi pun terjun ke arah Ammar. Ammar sudah hampir dibuat khawatir. Namun Arumi justru tertawa karena melihat wajah merah Ammar.
"Kamu sudah seperti perempuan Mas. Jangan terlalu khawatir. Istri mu ini biasa hidup di hutan seperti ini. Aku bahkan pernah tinggal di hutan selama satu minggu tanpa dibekali makan dan minum." Ucap Arumi sambil menyandarkan kepalanya pada sang suami. Ammar melihat ke sekeliling.
"Baik. Sekarang kita mau kemana?" Tanya Ammar.
Ammar menurunkan Arumi dari gendongannya. Ia mengeluarkan ponselnya. Namun tak ada satupun sinyal di ponselnya.
"Tak ada sinyal Am." ucap Ammar.
"Kita tinggal ikuti aliran anak sungai ini. Tadi pas diatas aku bisa liat. Sepertinya kalau di lihat dari asap itu. Kita butuh waktu 3 jam kalau berjalan kaki. Semoga medan tidak terjal." Ucap Arumi.
Ammar menggeleng.
"Katakan dimana kamu belajar hal semacam ini? Apakah ketika kamu hidup bersmaa Alek?" Tanya Arumi.
"Kamu cemburu?" tanya Arumi yang mendengar nada bicara Ammar sedikit jutek.
"Kamu pernah seperti tadi bersama lelaki lain?" Tanya Ammar masih dengan nada datar namun penasaran.
__ADS_1
Arumi terkekeh-kekeh melihat mimik wajah Ammar.
"O, Suami ku bisa cemburu juga. Dulu waktu aku masih punya rasa pada Gede mas tidak cemburu." Ucapnya pada sang suami.
"Tapo wajah mu tak sebahagia ini...." Ucap Ammar yang sudah memegang kedua pipi istrinya. Hal itu membuat bibir Arumi mengerucut.
"Hehehe..... Sakit mas..." Ucap Arumi dengan suara khas bibir yang mengerucut karena kedua pipinya di pegang dan ditekan oleh sang suami.
"Ayo naik. Kita kemana, tunjukkan arahnya." Ucap Ammar yang sudah berjongkok.
Arumi menatap punggung Ammar namun ia malah melangkah ke arah yang ia anggap ke arah Villa. Ammar menoleh. Ia cepat mengejar Arumi dan menarik tangannya.
"Arumi. Ini hutan. Pikirkan kondisi janin kita." Ucap Ammar.
"Baiklah.... " Ucap Arumi yang menghela napasnya pelan karena ia baru ingin bernostalgia dengan dunia nya ketika dulu latihan bertahan hidup di alam bebas. Namun sang suami sibuk mengkhawatirkannya.
Arumi segera kearah punggung Ammar. Ia menggelayutkan kedua tanganmu ke arah leher Ammar.
Ammar mengikuti arah yang di tunjuk Arumi. Arumi pun menikmati perjalanan mereka. Ia pun berterus terang pada Ammar tentang siapa dia dulu. Hingga ia bisa bertemu Alek. Ia juga menceritakan jika dulu sebenarnya ia satu tim dengan Ibrahim. Namun karena Mayang begitu menyukai Ibrahim. Ia pun memaksa Arumi untuk bertukar posisi lagi. Dan Arumi mau saja karena ia bisa berdekatan dengan Gede. Hingga terjadi dimana Ia pergi dari pernikahannya. Karena Mayang marah padanya ketika Arumi ingin berterus terang pada Gede. Hingga akhirnya ia harus menjadi korban kecelakaan ketika proses menyelesaikan misi yang harusnya Mayanh yang menyelamatkan.
Namun Mayang yang merasa senang, Ia memakai identitas nya yang sebenarnya ketika mendapatkan misi di Aussie. Dan ia tak menyangka jika Ibrahim sedang menjadi target sapu bersih dari satu divisi yang terganggu karena Ibrahim memiliki bukti dan ia sebagai saksi kunci satu kasus besar. Ia bahkan yang mengerti jika Ibrahim akan dilenyapkan. Ia sibuk mencari cara agar Ibrahim selamat bukan sibuk mencegah ledakan itu di minamilisir. Karena ia lebih memilih menyelamatkan Ibrahim dibandingkan menyelesaikan misi. Ia tak menyangka jika Ibrahim ada disana.
"Apa jangan-jangan lelaki yang disukai Mayang adalah Ibrahim?" Tanya Ammar.
Seketika sepasang suami istri itu pun mencari jawabannya.
"Bukankah Ibrahim saat itu diselamatkan oleh Papa Mu? Bukankah kata Papa mu. Ia menyelamatkan Ibrahim di saat jenazah Mayang di temukan?" Ucap Ammar.
"Aku tidak tahu. Tapi Mayag dulu pernah mengatakan bahwa ia menyukai lelaki yang tampan, dan langka juga aneh. Mr. Zero." Uca Arumi.
Ammar seketika diam. Ia merunut kejadian hilangnya Ibrahim.
"Tapi bisa jadi Ar. Karena Nur pernah bercerita satu malam sebelum kejadian. Ibra ditelpon perempuan." Ucap Ammar.
"Perempuan? Mas tahu apa yang dia ucapkan?" Tanya Arumi penasaran.
"Tidak. Nur tak mendengar percakapan mereka." Ucap Ammar.
Saat mereka tak terasa berjalan hampir satu jam setengah. Arumi justru memaksa Ammar berhenti.
"Berhenti Mas...." Ucap Arumi.
Ammar menghentikan langkahnya. Arumi turun. Istrinya meminta korek api milik samg suami. Ketika Ia mendapatkan apa yang ia mau. Ia menghidupkan korek tersebut ke daun-daun kering. Dan setelah ituia padamkan api dari daun tersebut. Sehingga membuat asap mengepul dari daun-daun kering yang di bakar Arumi. Kedua bola mata Ammar terbuka sempurna. Ia geleng-geleng. Bagaimana istrinya yang cantik bahkan mengenakan pakaian khas orang Arab itu menaiki pohon dengan santainya.Dan ia mengibaskan asap tadi ke arah sarang lebah.
Seketika lebah-lebah yang tak terlalu banyak itu pergi meninggalkan sarangnya. Arumi sebelum turun dari pohon meminta Ammar menangkap sarang lebah yang terdapat madunya. Lalu istri Ammar itu turun dengan lincah san santainya.
Namun saat ia sudah sumringah menatap benda yang ada ditangan suaminya. Satu sentilan namun pelan,mendarat di dahinya.
"Apa sih mas... Sakit...." Keluh Arumi.
__ADS_1
"Kamu lagi hamil Arumi... mau kamu mantan intelegen. Mantap apapun.. Itu diperut kamu ada janin yang harus kamu jaga... Astaghfirullah.... kamu betul-betul bukan Arumi istriku kalau sudah di habitatnya." Protes Ammar.
Arumi pun langsung bermuka cemberut.
"Habitat. Emang aku hewan.... Mas ini ya... masih cemburu yang tadi?" Tanya Arumi.
Ammar hanya diam. Ia mengibas-ngibaskan sarang madu yang ada di depan nya.
"Ini mau diapakan?" Tanya Ammar.
"Mau dimakan. Ini rasanya enaaaakkk banget mas. Lebih enak dari madu yang suka Mama buatin." Ucap Arumi.
Baru saja Arumi mau menggigit sarang madu itu Ammar merebutnya lagi.
"Ih... Mas... apalagi sih. aku sudah hampir tiga tahun tidak makan itu." Ucap Arumi.
"Tidak boleh makan lebah." Ucap Ammar.
Arumi kembali terkekeh-kekeh..
"Oh suami ku tercinta kali ini biar aku yang memberikan pesona ku. Ngajinya Mas kurang jauh... Aku yang jadi sopir Mama berapa bulan kemarin bisa menjawab kegelisahan hati mu wahai suami ku...." Ucap Arumi sambil bergelayut di tubuh sang suami.
"Sombong betul... Coba jelaskan hasil jadi sopir Mama?" Tanya Ammar penasaran.
"Sebentar." Arumi tampak memejamkan kedua matanya. Ingatan dan memorinya menunjukkan ia sedang berada di satu majelis yang dimana Ibu mertuanya yang menjadi pemateri. Arumi tampak memotret catatannya. Ia seperti membaca potret itu. Lalu ia buka kedua matanya.
"Menurut Syekh Nawawi Al Bantani dalam Salah satu kitabnya. Aku lupa. Beliau dawuh 'Apa yang terdapat di dalam sarang lebah, maka awalnya ia adalah telur, kemudian menjadi ulat, kemudian mati dan menjadi lebah yang bias terbang. Pada bentuknya yang awal ia halal, dan pada bentuk yang selanjutnya ia haram sebagaimana telah ditetapkan oleh sebagian ulama.' Maka tak masalah jika istrimu ini makan lebah beserta sarangnya. Karena dia masih bayi," Ucap Arumi.
[Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Sullamunnajat (Surabaya: Al-Hidayah, **), hal. 7, ]
"Tapi pernah aku baca tidak boleh Ar." Ucap Ammar ngotot.
"Suami ku sayang... kalau memakan enthung lebah, itu hukumnya halal jika termakan bersamaan dengan memakan madu atau sarang madu, tetapi kalau dimakan terpisah maka hukumnya haram. Misal anak lebah tadi aku ambil da aku goreng... Itu penjelasan Mama berdasarkan kitab yajg dibahas. aku lupa kitabnya. Nanti tanya Mama ya." Ucap Arumi yang sudah menarik tangan Ammar. Ia kembali duduk dan oa menggigit sedikti sarang lebah itu. Seketika rada haus, lapar pun hilang.
"Aku lapar dan haus mas... ini bisa digunakan untuk bertahan hidup kalau ditempat seperti ini." Uca Arumi.
Ammar duduk mengikuti istrinya.
"Pantas dulu Qiya da Ibrahim itu kalau libur tidak mau pulang. Papa kadang suka protes. Padahal di pondok kalau lagi libur, Ibrahim itu yang tukang ngantar Pakde atau Mbah Uti. Oiya lagi. Dia sibuk akan meminta di beri tugas sebagai pengurus atau santri ndalem. Ini rupanya. Ada Ilmu yang di dapat dari para abdi ndalem tanpa disadari." Ucap Ammar Kagum.
Ia pun menyadari. Jika dirinya sendiri merasakan keberkahan hanya menjadi sopir sang ibu ketika mengisi pengajian-pengajian.Padahal Ia hanya duduk dan merokok mendengarkan tausyiah Mamanya. Tanpa ia sadari, kini semua ilmu yang direkam alam bawah sadarnya betul-betul bermanfaat untuk dirinya dan rumah tangganya.
Saat Arumi sudah dengan aktifitas nya. Ammar kembali menggendong istrinya.
"Aku tidak lapar. Ayo keburu Dzuhur." Ucap Ammar sambil kembali berjongkok. Ammar merasa bahagia. Ia tidak menyesali menikahi istri yang wataknya keras. Ia sadar dulu ia mencintai Arumi karena parasnya. Maka ia pun harus menerima kekurangan pasangannya bukan hanya kelebihannya. Dan kini cintanya, doanya, Allah kabulkan.
"Kamu tahu Ar... Mas dulu saat pertama jatuh hati padamu. Mas tidak menyebut nama mu dalam doa. Mas hanya meminta dipermudah jika berjodoh dengan mu. Mama juga menyarankan segera melamar mu dan menikah. Mama tidak suka jika aku mencintaimu dalam diam. Kini apa yang mama ucapkan benar. Semuanya indah pada waktunya jika kita mengikuti skenario Allah. Kita saja kadang kurang sabar" Uca Ammar yang diakhiri ia mendapatkan satu kecuuupan di pipi kanannya dari sang istri tercinta.
"I love you Mas...." Bisik Arumi yang menempelkan Pipinya pada pipi Ammar.
__ADS_1
[Halo readers. Jangan lupa kirim votenya hari senin untuk The twins ya. Oya aku mau kasih kabar. Buat 10 orang pembaca dengan dukungan tertinggi di karya Ini Pesona the twins, tepat di tanggal 30 bulan ini. Aku akan kasih souvernir. Buruan beri dukungan kalian sebanyak-banyaknya untuk Pesona The Twins. Aku umumkan di tanggal 1 Februari 2023 untuk penerima souvernir nya nanti ya. Jangan lupa berikan Vote kalian setiap senin untuk the twins ya 🤩🤩🤩 Terimakasih buat kalian semua yang sudah dukung aku. Ayo follow akun aku buat yang belum follow}