
Sebuah mobil hitam berhenti di kediaman Ayra saat Qiya dan Gede masih ada disana. Ternyata, istri Furqon yang belum sempat berkunjung Bersama Umi Laila, hari itu istri dari Kyai Rohim ingin melihat cicitnya yang merupakan putri dari Qiya juga bayi kembar Ammar. Ayra yang mengetahui bahwa sang ibu juga ikut datang, ia bergegas keluar dari ruang perpustakaan.
“Bu, ada Umi Laila di bawah Bersama Umi Siti.” Ucap sang asisten rumah tangga.
Ayra bergegas menuju ruang bawah.
“Umi… kenapa tidak bilang mau kesini. Kan biar dijemput.” Ucap Ayra seraya mencium punggung tangan sang ibu.
Umi Laila tampak duduk di kursi roda. Seorang santri kepercayaan Umi Siti dan Umi Laila tampak mendorong kursi roda sang guru.
“Ini tadi dari memenuhi undangan.” Ucap Umi siti.
“Undangan dimana kak?” Tanya Ayra karena melihat pakaian sang ibu dan kakak terlihat santai. Pakaian yang biasa dikenakan Ketika akan memberikan tausiyah.
“Kamu ingat ga dengan Zhafirah? Santri ndalem saat aku bingung santri Ndalem ku sudah menikah, terus Zhafirah menawarkan diri dulu. “ tanya Umi Siti.
Ayra tampa mengerutkan alisnya. Lalu ia tersenyum.
“Ingat, teman curhat kak Siti Ketika awal-awal menikah kan? Hehehe…. Sudah sukses beliau rupanya. Terakhir aku baca di satu artikel, dia mengambil gelar Doktor di Belanda kak. Suaminya pengusaha kabarnya.” Ucap Ayra.
Siti mengamini, kedekatan Ayra dan istri Furqon itu sangat akrab dengan salah satu abdi ndalem yang bernama Zhafirah. Salah satu santri yang tak akan pulang Ketika libur. Seorang santri yang lebih memilih menemani Bu Nyai disaat libur.
“Umi ini loh Ra…. Rindu katanya sama kamu. Terus tak suruh nginep dulu disini. Di pondok ndak pernah mau istirahat.” Keluh Siti karena sang ibu tak mau hanya istirahat. Kadang waktu malam, ia masih ikut duduk mengaji atau menyimak bacaan santri-santri.
“Mana Cicit nya Umi. Cuma lihat dari hp. Ga nyaman.” Ucap Umi Laila yang sudah tak menghiraukan lagi nasehat dari sang menantu.
__ADS_1
Ayra tersenyum. Ia raih gagang kursi roda sang umi. Ia mendorong kursi tersebut. Saat satu asisten dengan sigap meminta agar ia yang mendorong kursi tersebut, Ayra menolaknya. Ia selalu ingin melayani sang ibu disaat masih ada kesempatan. Apapun itu, walau sekedar hanya mednorong kursi roda atau mendengar lantunan hapalan quran sang ibu. Tiba di kamar Qiya, ia mengetuk pintu tersebut.
“Qiy, ada Mbah Uti.” Ucap Ayra.
Qiya yang sedari tadi berusaha memberikan ASI agar buah hatinya tertidur. Akhirnya harus tersenyum dan setengah tertawa Bersama Gede, karena sang putri Kembali membuka kedua matanya saat mendengar ketukan pintu dari Ayra.
“Hehehe… Sepertinya kita memang harus sabar mas ya… usaha jadi orang tua ternyata…” UCap Qiya.
Gede tersenyum, ia pun membuka pintu. Umi Laila melihat Qiya setengah berbaring memberikan ASI untuk putrinya. Sungguh kelembutan hati Umi Laila begitu besar.
“Mbah Uti membangunkan cicit mbah?” Tanya Umi Laila.
Qiya tersenyum manis, jika orang lain mungkin sudah mendengus kesal. Usaha untuk menidurkan buah hati harus gagal karena Kembali di ganggu.
“Ndak Mbah, Malah senang kalau mbah datang… Maaf Qiya belum sempat berkunjung membawa Zahra ke Kali Bening.” Ucap Qiya seraya menyambut Umi Laila.
Hari itu Kembali putri Qiya mendapatkan doa dari orang yang dalam hidupnya menyerahkan umurnya untuk kemanfaatan. Usai berbincang-bincang. Qiya mendapatkan petuah dari Umi Laila.
“Masih sering nderes toh?” Tanya Umi Laila.
“Inggih Mbah. Tapi sibuk sekali ternyata setelah punya anak.” Keluh Qiya.
Umi Laila tampak menahan senyumnya.
“Bocah saiki… alasan repot sering digunakan untuk tidak mengaji atau untuk menjaga hapalannya. Padahal Hal ini dengan membaca Al-Qur'an tetap menjaga tartil, kita ini sudah melakukan gerakan-gerakan yang bisa melatih syaraf lidah yang menghubungkan dengan otak besar. Dan juga melatih otak untuk aktif berpikir. Sehingga kalau sudah lansia seperti Mbah ini, ndak pikun. Insyaallah…” Ucap Umi Laila.
__ADS_1
Qiya pun hanya diam mendengarkan dawuh mbahnya. Ia memang menyadari, jika Umi Laila di usia lansia. Tetapi ia tak lupa akan shalat, bacaan qurannya. Ia yang begitu istikomah dengan bacaan qurannya. Maka di usia yang sudah lansia, membuat ia masih sehat dan tak memiliki penyakit demensia.
Demensia adalah kumpulan penyakit dengan gejala yang mengakibatkan perubahan cara bepikir dan berinteraksi dengan orang lain. Dan ini banyak terjadi pada orang yang berusia lanjut. Disamping itu kebiasaan muda juga menjadi kebiasaan saat lansia. Orang yang terbiasa bekerja. Ia akan hanya ingat waktu untuk bekerja. Sedangkan jika ia suka ke tempat-tempat maksiat. Di masa lansianya, ia juga lebih nyaman dan terbiasa ke tempat lansia.
“Ingat dawuhnya Nyai Hj. Walidah Munawwir. “Seberapa besarnya kamu merawat Al-Qur’an, sama saja hidupmu akan dirawat oleh Allah SWT. Makna merawat Al-Qur’an itu termasuk seperti nderes (tadarus) Al-Qur’an, yang artinya kitab Al-Qur’an-nya dibaca tidak hanya dibuat pajangan.” Lah Mbah kesana kemari nyemangati santri, masa Putunya Mbah sendiri ga Mbah nasehati toh…” Ucap Umi Laila.
Qiya menunduk malu, ia hampir satu minggu ini memang tak terlalu focus lagi untuk mengingat hapalannya. Padahal ia sudah melewati masa nifas.
Jika Qiya butuh istikomah dalam menjaga hapalannya. Ammar justru Kembali mendidik istrinya yang dari tadi belum bisa shalat dzuhur. Zia masih rewel, makai a bergantian dengan Ammar. Saat Ammar Kembali ke kamar, ia pun meminta suaminya menggendong si kecil.
Arumi yang sudah menggunakan mukenah Kembali membuka mukenah nya. Ammar menautkan alisnya. Ia hanya melihat sang istri tampak terburu-buru. Setelah ia keluar dari kamar mandi. Suami Arumi itu sengaja menghalangi jalan sang istri.
“Mas…. Udah jam 1 ini…” Ucap Arumi.
Ammar terkekeh,
“Hehe… trus kenapa ke kamar mandi lagi.” Tanya Ammar seraya menggendong Zia.
“kebelet. Daripada di tahan..” Saat Arumi melangkah. Ammar ikut bergerak ke arah Arumi. Hal itu membuat Arumi memanyunkan bibirnya. Ia sudah sering di ganggu suaminya Ketika sudah wudhu. Suaminya akan mengganggu agar sang istri takut wudhu nya batal karena bersentuhan dengan dirinya.
“Kalau shalat nahan pipis kenapa? Nanti baru lewat.” Ucap Ammar seraya tersenyum simpul.
Arumi pun menarik napas dalam dan menjawab cepa tapa yang diinginkan sang suami.
‘Karena hukumnya makruh shalat sambil kebelet, suami ku sayang… kalau mau menyentuh istri mu ini nanti ya…. Ini keburu Dzuhur lewat jauh…” Ucap Arumi.
__ADS_1
Ammar pun tertawa senang. Ia begitu Bahagia. Karena sang istri sekarang hampir tak pernah memberikan toxic dalam kehidupannya. Sekalipun marah atau merajuk, Arumi selalu menggunakan Bahasa-bahasa lembut.