
Nur melihat terdapat banyak peralatan intelejen. Dari mulai alat komunikasi, alat pengintai serta satu alat yang biasa digunakan untuk mengirim pesan sandi.
Nur bergegas mengunci pintu kamarnya. Ia pun membuka jilbabnya. Ia tarik gorden jendela kamarnya. Ia masuk kedalam lemari itu sedikit menunduk. Terdapat satu ruangan kecil di dalam lemari itu. Kira-kira berukuran setengah meter lebih. Yang hanya muat untuk satu orang. Nur duduk di depan alat pengirim pesan sandi. Ia sedang mencoba menghubungi satu temannya. Ia berharap bisa meminta bantuan menemukan suaminya.
Kabar dari Ammar jika ada kemungkinan Ibrahim di sembunyikan kelompok tertentu membuat Nur hanya khawatir jika ia ditangkap mereka yang misi nya terendus ketika di gedung tempat dimana suaminya di nyatakan hilang. Nur yang lebih senior dari sang suami di dunia penuh misteri itu. Bukan hal sulit baginya untuk mengirim pesan sandi. Karena ia menguasai ilmu kriptografi alias kode atau sandi rahasia.
Nur mencoba meminta bantuan satu sahabat yang sama-sama bekerja. Ia bahkan tak tahu jika sahabat nya itu siapa karena mereka bertemu di beberapa misi yang sama tapi dari departemen berbeda. Karena mereka diminta saling merahasiakan identitas mereka pada siapapun. Maka cara bersahabat mereka pun tergolong unik. Beberapa kebetulan yang mempertemukan mereka membuat mereka pun memiliki kode sandi sendiri.
Nur berharap jika temannya bisa membantu dirinya. Ia tak mungkin keluar dari rumah, maka Keluarga akan curiga. Maka ia akan bekerja di ruangan kamar suaminya. Ia melihat alat di kamar kecil dalam lemari itu bisa membantu ia berinteraksi dengan sahabat nya.
Saat Nur merasa sedikit berharap dengan usahanya. Pintu kamar di ketuk, terdengar suara kakak iparnya. Nur pun bergegas merapikan isi lemari itu. Ia cepat berlari kearah kamar mandi. Ia membasahi rambutnya. Ketika ia membuka pintu. Ia sedikit menyembulkan kepalanya dan meminta Qiya masuk.
"Maaf Kak aku baru selesai mandi." Ucap Nur yang telah berganti mengenakan Bathrobe.
"Kamu tidak muntah lagi?" Tanya Qiya yang menatap wajah Nur.
"Alhamdulilah sudah tidak. Memang ada rasa mual tapi tak seperti kemarin. Mungkin Mama benar. Aku tak bisa mencium aroma AC." Ucap Nur mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aku ada head dryer, nanti aku ambilkan. Oya, aku pagi ini akan kembali ke wahana internship. "
"Cepat sekali Kak?" Tanya Nur penasaran. Ia melihat kakak iparnya itu belum terlalu sehat walau bibirnya tak terlihat kering.
"Tak enak dengan teman-temannya juga dokter pembimbing. Oya Nur. Jangan sungkan, anggaplah ini rumah mu. Anggaplah Mama bukan mertua mu. Aku titip Mama ya. Aku harap kamu betah disini. Rasanya masih ingin disini lama-lama mengenal kamu tapi mau tidak mau aku harus pergi." Usapan lembut Qiya pada lengan Nur membuat hati perempuan yang yatim piatu sejak bayi itu pun merasa terharu.
__ADS_1
"Boleh peluk Kakak?" Tanya Nur ragu.
Qiya justru memeluk Nur lebih dulu. Ia usap punggung adik iparnya yang sebenarnya usia nya lebih tua dari dirinya. Masih sambil memeluk dan mengusap punggung Nur, Qiya memberi alasan kenapa ia minta dipanggil Kakak.
"Tahu kenapa aku minta dipanggil Kakak?" Tanya Qiya pada Nur.
"Apa Kak?" Tanya Nur.
"Dulu waktu masih kecil Baim memanggil Aku Mbak. Dan Kak Ammar dengan Kakak. Aku ingin sekali dipanggil Kakak. Dulu... Mama pernah hamil.Aku sudah berharap punya adik perempuan dan memanggil ku kakak bukan Mbak. Dan sekarang aku tahu rasanya dipanggil kakak atau mbak sama saja. Karena yang penting itu cinta...." ucap Qiya sambil menitikkan air matanya.
Sebenarnya saat itu ia yang sedang berada di dalam bus yang akan pulang kerumah. Melihat jelas dari arah samping bagaimana ibunya di serempet hingga harus membentur mobil dan berkahir dengan keguguran. Ia bahkan masih mengingat jelas plat mobil itu. Namun karena Bram tak menganggap itu sebuah kesengajaan. Maka ia tak melaporkan ke pihak berwajib. Karena Ayra tidak di tabrak. Melainkan hampir tertabrak.
"Kakak menangis?" Tanya Nur yang masih menikmati usapan pada punggungnya.
"Akan menangis kalau mengingat hal menyakitkan." Ucap Qiya seketika menghapus air matanya dan tersenyum pada sang adik.
Ia pun kembali ke kamarnya dan mengambil beberapa alat yang biasa digunakan perempuan. Ia bisa melihat Pribadi Nur. Sangat mirip Ibrahim. Ia akan sedikit bicara, tidak meminta sesuatu jika bukan kebutuhan mendesak. Dan sama-sama sederhana. Qiya bisa melihat dari pakaian dan kerudung yang dikenakan sang adik.
Pagi itu pun anak kedua Bramantyo kembali ke wahana. Ia diantar oleh sopir di rumahnya. Ammar sebenarnya ingin mengantar Qiya. Akan tetapi Qiya dan Ayra melarang. Kondisi luka yang belum terlalu kering. Saat tiba di kontrakan nya, ia tak menemukan Cita. Suasana kontrakan cukup sepi. Ia pun beristirahat.
Disaat dokter itu belum masuk bertugas, dokter pembimbingnya justru merasa heran. Satu surat dari pimpinan rumah sakit mengutus dirinya mengikuti seminar di luar kota bersama salah satu dokter peserta Isip. Yang membuat ia tak percaya kenapa harus Qiya. Sebenarnya kehadiran Bram kemarin diketahui pimpinan rumah sakit itu. Namun Alan cepat menemui pimpinan rumah sakit tersebut. Ia meminta agar Qiya tetap di perlakukan biasa karena sang anak yang tak ingin orang-orang tahu jika ia adalah putri Bramantyo. Namun pemilik rumah sakit itu malah merasa jika ia harus membuat Qiya bisa menuntut ilmu selama disana.
Kesempatan mengikuti seminar pun diberikan untuk putri Bram itu. Namun dokter Gede malah merasa bingung. Ia pun pergi ke bagian adminstrasi yang biasa mengurus hal ini.
__ADS_1
"Kenapa harus bersama dokter internship?" Ucap Dokter Gede.
"Maaf Dok, kami tidak tahu. Yang kamu tahu ini adalah keputusan pimpinan. Semuanya sudah disiapkan. Dokter besok pagi sudah bisa berangkat." Ucap perawat itu.
Gede pun akhirnya hanya menerima keputusan itu. Ia baru beberapa bulan di rumah sakit itu. Ia pun akhirnya menemui Alam di IGD. Ia menyerahkan surat tugas untuk Qiya. Dan Cita yang mendengar berita bahwa sahabat nya akan pergi selama satu Minggu ke Bali mengikuti seminar begitu histeris dan heboh ketika pulang ke kontrakan sambil membawa surat tugas itu.
"Qiyaaaaaa!" Teriaknya ketika berada di depan ia bisa melihat sepatu sahabat nya telah tersusun di depan.
Qiya pun membuka pintu kamarnya. Ia tak menyangka temannya akan begitu heboh memeluk dirinya.
"Aduh.... ada Apa Cit.. Baru juga satu hari ga ketemu." Keluh Qiya. Ia merasa sakit karena Pipinya di cubit dan ditarik ke kanan dan ke kiri oleh sahabatnya itu.
"Wow. Kamu ini beneran punya Dewi keberuntungan. Lah baru satu bulan disini sudah dapat kesempatan ikut seminar sama dokter Gede lagi Qiy... " Ucap Cita.
Gadis Ayra itu melotot tak percaya mendengar apa yang Cita Ucapkan.
"Nih surat tugasnya. Terus aku cuma pesen, pulangnya bawa oleh-oleh makanan khas Bali ya Qiy..." Ucap Cita sambil merebahkan diri di tempat tidur sambil menggerakkan kaki dan tangannya seperti orang berenang.
Qiya hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun membuka surat itu dan duduk serta membaca surat itu.
"Alhamdulilah.. mudah-mudahan bisa terus mendapatkan ilmu lebih banyak lagi." Ucap Qiya dalam hatinya.
Saat Qiya bersyukur satu lelaki justru merasa khawatir.
__ADS_1
"Ah.... Kenapa harus dokter Qiya sih...." Ucap nya sambil menatap surat tugasnya.